Jl. Arif Rahman Hakim No.92 Pontianak email@kap.or.id +62 561 732382

Adat ‘Ngampar Bide’ Pekan Gawai Dayak Ke-34

Suasana Upacara Adat pembukaan Pekan Gawai Dayak XXXIV di Pontianak

Minggu, 19/05/19 merupakan Acara Adat Ngampar Bide Pekan Gawai Dayak ke-34 bertempat di Rumah Radakng Jl. Sutan Syahrir Pontianak. Acara ini dihadiri oleh seluruh masyarakat Dayak Kalimantan Barat khususnya masyarakat Dayak di Kota Pontianak. Acara Adat ini di awali dengan Nyangahant (doa ungkapan syukur orang Dayak kepada Jubata/Tuhan.)

Dalam sambutan pembukaan Bapak Joseph Odilo Undun mengatakan; “Bahwa di pekan Gawai Dayak yang ke-34 ini masyarakat diharapkan mampu untuk memperkenalkan budaya Dayak hingga ke Mancanegara. Masyarakat juga duharapkan menjaga dan melestarikan budaya Dayak di Kalimantan Barat, jangan sampai hilang,”katanya.

“Karena banyak yang ingin memperkenalkan Budaya Dayak, tapi bukan orang Dayak itu sendiri. Hal ini secara tidak langsung menghilangkanciri khas orang Dayak itu sendiri. Jadi sebagai orang Dayak kita harus mampu dan berani mengangkat Adat dan Budaya Kita. Jangan malu mengaku sebagai orang Dayak. Karna diluarsana banyak yang bukan orang Dayak tapi mengaku Dayak,” Pungkasnya.

Tak lepas dari Adat Ngampar Bide, Bapak Sekundus selaku Ketua Pekan Gawai Dayak ke-34 juga menyampaikan harapan dalam kata sambutannya; “Perlu saya ingatkan dan saya tekankan kepada kita semua, bahwa di Kalimantan Barat ini tidak hanya orang Dayak saja yang tinggal disini. Tetapi juga Suku Bangsa yang lainya,”katanya.

Suasana Pembukaan dengan Memegang Tempayan sebagai Simbol Persatuan

“Tetapi perlu kita ingat, bahwa orang Dayak itu tidak mau disakiti, nah..karena kita tidak mau disakiti, maka kita juga tidak boleh menyakiti orang lain. Kita harus patuh terhadap aturan, takut terhadap Adat dan menjaga Sopan Santun kita. Jangan mengaku orang Dayak, kalau kita tidak tau aturan,” ujarnya.

“Kita bukan orang yang berani tapi kita juga bukan orang yang takut dalam mempertahankan kebenaran. Kita menjaga sopan santun dan Adat Istiadat kita, untuk itu kita takutnya kepada Adat karna kita menghormati Adat kita orang dayak. Jadi, pesan saya untuk kita semua ; Supaya kita jangan membuat keributan selama Gawai Dayak ini berlangsung, jangan membuat hal-hal yang merugikan kita, kita bersama-sama menjaga keamanan dan menghargai Suku dan budaya yang lainnya,” tambah Bapak Sekundus.

Gawai Dayak ke-34 ini akan berlangsung dari tanggal 20-26 Mei 2019. Dengan Adat Ngampar Bide ini, maka Pekan Gawai Dayak resmi di buka.

Selama Adat Ngampar Bide palangok Kilah (Panglima Kilah) juga menjelaskan unsur-unsur Adat yang terkandung dalam proses Ngampar Bide ini. “Saya mohon ijin untuk menyampaikan Adat Istiadat kita, yaitu Adat ‘Karimawant Sakayuk’ (Bangkule Rajakng) yang dikenal dengan Dayak Mempawah. Sebelum kita mengatakan ‘Ngampar Bide, kita harus matik dulu (menyampaikan ijin ke leluhur Kita)kemarin diadakan di bukit rel di batu layang dan sekaligus menanam ‘pantak baharu’ disitu. Nama ‘pantak’ nya adalah ‘pantak binuah’ (satu darah Dayak Sekalimantan Barat) setelah itu kita lanjut di Rumah Radakng,”ujarnya.

“Adat Ngampar Bide ini dilakukan di teras Rumah Radakng lengkap dengan lauk pauk hasil peliharaan masyarakat Dayak selama bercocok tanam ‘padi’, lengkap dengan darah Babi, dan ‘Tampayant Satangah’ (Kendi berisi Tuak/minuman khas Dayak). Adat ini bukan merupakan penyembahan berhala, karna ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan. Jangan pernah bilang orang Dayak menyembah berhala, karna sebelum ada Agama, orang Dayak sudah tau cara menyembah Tuhan. Yaitu dengan cara Adat Ungkapan Syukur kepada Tuhan. Ini tidak berbeda dengan yang kita lakukan di rumah ibadat, hanya cara nya saja yang berbeda, tetapi tujuan kita tetap sama, yaitu; Bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan atas hasil panen padi,” Jelas panglima Kilah.

Cessi Carmelin Volunteer KOmsos KAP

Presiden Dayak dan Uskup Agung Menanggapi Pekan Gawai Dayak Ke-34

Uskup Agung Pontianak (Mgr. Agustinus Agus) Memberkati Simbol Hasil Panen Bagi Orang Dayak

Tepat pada tanggal 18/05/19, telah berlangsungnya Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak ke-34 yang bertempat di Rumah Radakng, Jl. Sutan Syahrir, Pontianak. Misa berlangsung pukul 17.00 WIB yang pimpin langsung oleh Mrg. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dan didampingi oleh 7 orang Imam. Misa ini juga dihadiri oleh segenap umat katolik dari 9 Paroki di Keuskupan Agung Pontianak, dan seluruh masyarakat Dayak yang berdomisili Pontianak maupun yang sudah datang dari luar kota.

Suasana Umat yang menghadiri misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak yang Ke XXXIV

Dalam Misa Pembukaan Gawai Dayak ini Mrg. Agustinus Agus dalam khotbah nya mengatakan ” Misa ini merupakan ungkapan syukur Kepada Tuhan, atas hasil panen padi. Sebenarnya Misa ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur, atas kelimpahan berkat dan rahmat melalui rezeki yang telah diperoleh dari hasil menanam padi masyarakat Dayak,” kata Mgr. Agus.

Dalam Misa pembukaan Gawai Dayak ini dikemas dengan kemasan yang tidak biasa bagi masyarakat umumnya. Kali ini Misa pun dirangkai dengan nuansa  adat seperti nyangahant (doa syukur orang Dayak Kanayant kepada Jubata alias Tuhan), lagu-lagu berbahasa Dayak, dan tarian adat dayak.

“Bagi saya, selama dalam perayaan Misa Pembukaan ini tidak merubah inti dari Misa itu sendiri, ya..tidak masalah. Inikan bentuk ungkapan syukur, selama lagu-lagunya baik dan adat istiadat yang dilakukan juga sama tujuannya yaitu Mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan, semuanya tidak apa-apa. Lagian inikan misa khusus pembukaan Gawai Dayak, ya..memang tidak semua Misa boleh seperti ini. Tapi untuk sekarang, karna hal ini baik dan tidak mengubah Inti misa itu sendiri, tidak apa-apa.” ungkap Mrg. Agustinus Agus menanggapi Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak Ini.

Suasana Tarian Persembahan

Setelah selesai Perayaan Misa Pembukaan, diadakan acara ramah-tamah. Uniknya, makanan yang dihidangkan adalah makanan khas daerah. Masing-masing Paroki yang ada di Keuskupan Agung Pontianak kompak menghidangkan makanan dari berbagai daerah di Kalimantan Barat khususnya makanan daerah Sekadau, Sintang, Menjalin, Kapuas Hulu yang ciri khas nya adalah kerupuk basah, Ambawang, Pahauman juga menyediakan makanan khas yaitu Siga, dan Bengkayang. Seluruh umat dari berbagai daerah khususnya masyarakat dayak di Pontianak, turut mencicipi makanan ini. Makanan khas masyarakat dayak ini sudah jarang dimasak dan dihidangkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya pada acara-acara tertentu saja seperti Gawai Dayak ini.

Suasana Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak yang ke XXXIV

Misa pembukaan ini juga turut dihadiri oleh Presiden Dayak Drs. Cornelis. “Harapan saya, untuk masyarakat Dayak kususnya orang muda Dayak adalah supaya mampu menjadi generasi yang cerdas, pintar, dan berani! Orang Muda Dayak juga harus mampu bersaing dengan memanfaatkan kreatifitasnya,”ujarnya.

“Jangan hanya menjadi orang yang konsumtif tetapi juga harus mampu menjadi produsen yang menciptakan dan memberikan produk melalui kreatifitas yang baik. Banyak yang bisa dilakukan dalam bidang seni dan budaya ini. Bagi yang bisa memahat, buat karya kemudian jual hasil pahatan kalian, bagi yang bisa merajut kembangkan. Semua memiliki harga jual, apa pun bisa di jual tergantung bagaimana kita memanfaatkan peluang yang ada. Itulah yang harus kita wujudkan dalam diri Orang Muda Dayak,” ujar  Cornelis sebagai Presiden Dayak.

Cessi Carmelin (Volunteers Komsos KAP)

Turne : Karya Nyata Pelayanan OMK Paroki Pahauman

Suasana Turne dalam masa Paskah di Wilayah Paroki Pahauman

Masa Paskah merupakan masa yang dimulai dari Hari Raya Minggu Paskah sampai Hari Raya Pentakosta dalam kalender liturgi Gereja Katolik.

Pada masa ini, umat Kristen merayakan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus yang rela wafat demi menebus dosa umat manusia dengan penuh rasa syukur dan sukacita.

Rasa syukur tersebut diwujudkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Yohanes Pemandi Pahauman dalam karya nyata pelayanan kepada umat atau turne di seluruh lingkungan, stasi dan wilayah yang ada di Paroki Pahauman, pada hari Minggu, 19 Mei 2019.

Berikut merupakan Gambaran Perjalanan Saat Berturne di Wilayah Paroki Pahauman yang begitu luas dan jauh

OMK Paroki Pahauman merupakan salah satu organisasi orang muda dengan jumlah yang besar, sebab mereka berasal dari 177 stasi yang kemudian tergabung dalam 13 wilayah yang ada di Paroki Pahauman.

Dalam pelaksanaan turne, OMK dibagi menjadi 119 kelompok turne. Tiap kelompok beranggotakan 4 atau 5 OMK yang didampingi oleh pembina. Masing-masing anggota kelompok menjadi petugas liturgi, seperti pemimpin ibadat, lektor, pemazmur, dan pembawa kotbah.

Sebelum melaksanakan turne, OMK sudah mempersiapkan diri melalui latihan sebanyak 2 kali, pada hari Kamis dan Sabtu bersama pembina OMK. Latihan ini bertujuan agar OMK dapat menjalankan tugas turne dengan baik.

“Bentuk latihan yang kami lakukan adalah membaca dan mempraktikkan tata perayaan ibadat dibuku panduan turne. Setelah itu, pembina memberi saran guna memperbaiki hal yang kurang benar,” kata Yogo, anggota kelompok turne di stasi Tonang.

Rute perjalanan yang jauh dan banyak stasi yang memiliki akses jalan yang kurang baik bukan penghalang bagi mereka untuk menjalankan tugas pelayanan tersebut. Mereka siap ditugaskan di seluruh stasi di Paroki Pahauman dengan penuh semangat. Sejak pagi, mereka semua telah berkumpul di halaman Gereja untuk berdoa bersama, memohon berkat Tuhan atas kelancaran turne. Setelah itu, masing-masing kelompok pergi ke setiap stasi yang telah ditentukan.

Suasana Minggu tanggal 19 Mei 2019 Usai Ibadat Bersama Umat

Ibu Yuyun, selaku koordinator pembina OMK Paroki Pahauman mengaku pelaksanaan turne hari ini bertujuan untuk mengaktifkan dan melatih banyak OMK agar memberikan diri kepada Tuhan melalui karya pelayanan.

“Harapan saya setelah dilaksanakannya turne, semoga semakin banyak OMK yang aktif dan menjaga kekompakan bersama segenap pembina,” ungkapnya.

Keterlibatan diri dalam tugas pelayanan ini mendapat respon yang baik dari Echa, OMK Wilayah Tumahe yang bertugas sebagai pemazmur di Gereja Santo Agustinus, wilayah Senakin. Echa merasa senang karena telah mengambil bagian dalam perayaan ibadat sabda bersama umat. Apalagi kelompok turnenya disambut dengan sangat baik oleh umat disana.

“Melalui turne, saya dapat bersosialisasi dengan umat, terutama mengenai program OMK. Selain itu, saya dapat melihat bagaimana umat di gereja wilayah atau stasi yang ada di Paroki Pahauman. Umat disini sangat ramah. Pada bagian salam damai, mereka bersalaman satu sama lain, kemudian saling mengucapkan selamat hari minggu setelah misa selesai” jelas Echa.

Kesan manis menjadi petugas liturgi juga disampaikan oleh Wulan, OMK Wilayah Sidas yang telah menjalankan tugasnya di Wilayah Saham.

“Saya merasa senang bisa memberikan pelayanan kepada umat, apalagi di tempat dan suasana yang baru sebab saya dapat berkenalan dengan umat sekaligus menambah relasi,” kata Wulan.

Kegiatan turne ini telah menjadi program tahunan OMK Paroki Pahauman yang selalu diadakan 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Mei dan November. Semoga turne selalu menjadi wadah bagi OMK Paroki Pahauman dalam mewujudkan pelayanan kepada umat.

Pricilia Grasela-Volunteers Komsos KAP

Antusisas Masyarakat Menyambut Gawai; Berbagai Stand di Rumah Radakng

Suasana Salah satu stand yang sudah dibuka di Pekan Gawai Dayak (18 Mei 2019)

Perhelatan Pekan Gawai Dayak ke-34 yang akan berlangsung mulai tanggal 20 sampai 26 Mei 2019 di Rumah Radakng Jalan Sutan Syahrir Pontianak, mendapat antusias dari masyarakat Kalimantan Barat.

Terlihat pada pelaksanaan misa pembukaan acara tersebut pada hari Sabtu, 18 Mei 2019, stand-stand jualan mulai dipersiapkan oleh masyarakat yang berjualan dan sebagian stand tersebut dikunjungi oleh masyarakat.

Lokasi Stand Lain yang sudah dibuka

Mulai dari stand jajanan, baju, peralatan devosi, maupun benda kerajinan. Selain itu, mereka juga menawarkan jasa pembuatan tato. Adapun yang laris dikunjungi pembeli ketika misa pembukaan telah selesai, yaitu stand benda-benda kerajinan.

Stepanus Agung, salah satu pemilik stand benda kerajinan yang merupakan anggota Orang Muda Katolik (OMK) Sambas dan pernah bergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Sungai Raya, Pontianak, mengatakan bahwa benda kerajinan tersebut dibuat oleh para perajin benda kerajinan yang berasal dari daerah di Kalimantan. Tetapi, banyak kerajinan yang terbuat dari bahan fiber dan telah dimodifikasi. Biasanya kerajinan dari bahan fiber diambil dari luar pulau Kalimantan.

Suasana Malam Minggu tanggal 18 Mei 2019 di Rumah Radakng

“Banyak kerajinan yang terbuat dari bahan bukan bersumber alam dan telah dimodifikasi. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan, karena pembuatan benda kerajinan harus ramah terhadap lingkungan. Ramah lingkungan yang dimaksud adalah melestarikan bahan baku dari alam. Jadi, penggunaan bahan bukan bersumber dari alam membantu mengurangi pemakaian bahan baku alam yang sudah mulai langka,” jelas Stepanus Agung.

Agung juga menambahkan bahwa benda-benda kerajinan mengandung nilai-nilai kebudayaan, terutama nilai spiritual kebersamaan orang Dayak. “Walaupun telah dimodifikasi dengan cara mengubah bentuk agar lebih menarik, tetapi tidak mengurangi nilai-nilai kebudayaan yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.

Para pemilik stand berjualan dengan sistem kerjasama dengan teman sejawat. Mereka membagi tugas untuk menjaga stand sesuai jadwal yang telah ditentukan bersama. Untuk menyewa tempat berjualan, mereka mendaftarkan diri kepada panitia sebelum pelaksanaan Pekan Gawai Dayak tersebut.

 

Pricilia Grasela

Volunteer Komsos KAP

Rekoleksi SD Bruder Melati; Pelajaran Spritualitas dan Budi Pekerti

Bruder Agustinus, MTB sedang mambawakan kata pengantar dan materi singkat kepada Siswa SD Bruder Melati (17 Mei 2019)

Pontianak, tanggal 17-18 Mei 2019 bertempat di Aula Bonaventura Sepakat Biara Bruder Maria Tak Bernoda telah dilangsungkan kegiatan rekoleksi khusus bagi anak kelas VI (6) SD Bruder Melati. Dalam acara tersebut semua siswa diwajibkan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua hari satu malam itu.

Rekoleksi kali ini didampingi oleh 13 orang guru dimentori oleh Ibu Magdalena Sajumiati, S.Ag alias Ibu Emi dan didampingi oleh Bruder Dismas, MTB (Johanes Babtis Sarjono, S.Ag) sebagai kepala Sekolah SD Bruder Melati.

Keseruan Rekoleksi dan Perpisahan (Lokasi: Aula Bonaventura Bruder Sepakat II)

Rangkaian kegiatan dibuka dengan rekoleksi yang dibawa oleh Bruder Agustinus, MTB bersama tim.  Materi yang dibawakan untuk anak kelas VI SD ini merupakan materi yang bertujuan untuk memotivasi para murid untuk lebih semangat dan tambah tekun dalam sekolah setelah lulus ini dan masuk ke jenjang selanjutnya.

Rekoleksi ini diadakan sebagai tanda syukur atas kebersamaan mereka selama 6 tahun bersekolah di SD Bruder Melati dan sekaligus Rekoleksi Perpisahan bagi mereka dengan sahabatnya dan para guru-guru yang mengajar mereka.

Bruder Dasmas, MTB (Kepala Sekolah SD Bruder Melati)

Dalam membuka materi, Bruder Agustinus, MTB mengatakan bahwa “yang paling penting bukanlah hal hebat, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita mengubah sesuatu yang sederhana dan melakukannya dengan cara yang luar biasa,” ujarnya.

Pada tanggal 17 Mei 2019 dibuka dengan dua sesi rekoleksi dari Bruder Agus, MTB dan dilanjutkan pada tanggal 18 Mei 2019 adalah kegiatan lapangan yaitu Outbon untuk siswa dan siswi  SD Bruder Melati dengan jumlah siswa sebanyak 134 anak.

Dalam kesempatan yang sama sebagai Kepala Sekolah SD Bruder Melati, Bruder Dismas, MTB berharap “ semoga siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ini bisa bertambah dewasa apalagi dalam memilih jenjang yang lebih tinggi dalam persiapan mereka masuk kelas 7 (VII) dimanapun mereka berada,” ujar Bruder Dismas, MTB.

Dari 2006 sampai sekarang Ibu Magdalena Sajumiati, S.Ag atau yang akrab disapa Ibu Emi mengatakan bahwa memang sudah setiap tahun acara perpisahan ini dilakukan untuk mereka yang yang akan menempuh pendidikan selanjutnya yaitu ke jenjang Sekola Menengah Pertama (SMP).

Pengarahan dari Ibu Emi dan Bruder Agus, MTB

“Dari pertama kali (tahun 2006) saya mengajar, memang mereka khususnya kelas 6 ini selalu diberi rekoleksi dan acara perpisahan. Biasannya acara rekoleksi sekaligus perpisahan ini kami lakukan berbeda-beda, tapi untuk kali ini, dua acara ini kami gabungkan menjadi satu. Pasalnya, kalau acara dipisahkan maka akan memakan waktu dan biaya, maka jalan tengah dan kami sepakat bahwa acara ini digabungkan menjadi satu sekaligus yaitu acara rekoleksi dan perpisahan dari tanggal 17-19 Mei 2019,” katanya.

“Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk memperteguh iman, budipekerti dan spritualitas bagi mereka dalam mempersiapkan diri ke jenjang SMP dimanapun mereka berada. Kami pikir bahwa kegiatan ini merupakan tahapan pelatihan sikap dan etika positif sekaligus dengan peneguhan iman yang harusnya dimulai dari dini,” tambahnya.

“Selama mengajar, tentulah sangat banyak suka dan duka yang kami alami sebagai guru-guru yang mendampigi perkembangan intelektual dan budipekerti mereka. Sekarang mereka masih mudah untuk dibentuk menjadi apapun kedepannya, asal benar-benar diperhatikan pekembangan Iman, Spritualitas dan Budi Pekerti yang selama ini menjadi dasar dari nilai kehidupan. Jadi, harapannya semoga mereka menjadi orang yang sukses dan tentunya semakin berprestasi dalam aktivitas sosial dimanapun mereka berada. Dan yang paling penting adalah yang mereka dapatkan disini bukan hanya sebatas ilmu saja, tetapi melainkan juga belajar untuk hidup. Amin,” imbuhnya.- Semz

Perayaan Misa Paskah Mahasiswa se-Kota Pontianak

Suasana dalam perayaan Paskah Bersama di Gereja Katedral Pontianak yang dipimpin langsung Oleh Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak

“Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Pontianak, 100% Katolik, 100% Indonesia, Hidup Mahasiswa!” Seruan yang digaungkan tersebut berhasil membakar semangat para mahasiswa yang mengikuti kegiatan Paskah Mahasiswa se-Kotamadya Pontianak di Gereja Katedral Paroki Santo Yoseph Pontianak pada hari Sabtu, 11 Mei 2019.

Kegiatan Paskah yang diawali dengan Perayaan Ekaristi tersebut dihadiri oleh para mahasiswa sebanyak kurang lebih 2200an orang dari seluruh perguruan tinggi di Kota Pontianak. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus didampingi oleh Imam Pendamping Pastoral Mahasiswa serta para Imam dari berbagai paroki, yang dimulai dengan perarakan dari luar gereja menuju altar oleh perwakilan mahasiswa yang membawa bendera sebagai lambang dari himpunan katolik yang ada di masing-masing perguruan tinggi diikuti oleh petugas liturgi, Bapa Uskup dan para lmam dengan iringan lagu pembukaan yang dibawakan oleh koor mahasiswa.

Suasana Outdoor para perayaan Paskah Bersama Mahasiswa se-Kota Pontianak

Dalam kotbahnya, Bapa Uskup berusaha menguatkan iman dan keyakinan para mahasiswa untuk tetap selalu percaya bahwa Yesus Kristus akan selalu menyertai dan memberi pertolongan kepada umat-Nya dalam situasi apapun, bahkan dalam situasi tersulit sekalipun. Mahasiswa pasti pernah merasakan kesedihan, penderitaan atau berada dalam posisi tersulit, tetapi situasi tersebut jangan menjadi alasan untuk berputus asa, melainkan tetap menggantungkan harapan dan keyakinan pada Yesus Kristus.

Koor gabungan mahasiswa yang bertugas saat paskah bersama di Gereja Katedral Pontianak

Hal yang paling menarik dari Perayaan Ekaristi sore ini adalah doa umat yang dibacakan dengan menggunakan bahasa daerah, seperti Bahasa Melayu, Bahasa Dayak, Bahasa Flores, Bahasa Batak, Bahasa Jawa, dan Bahasa Tionghoa oleh perwakilan mahasiswa dari setiap perguruan tinggi. Selain itu, ritus persembahan juga diiringi dengan tarian persembahan dari percampuran 3 Suku, yaitu Suku Dayak, Suku Melayu, dan Suku Tionghoa.

Setelah Perayaan Ekaristi selesai, seluruh mahasiswa diajak untuk berbaur dalam pentas seni di lapangan SMA Santo Paulus Pontianak. Wajah ceria penuh semangat para mahasiswa terpancar ketika mereka menyaksikan penampilan dari berbagai himpunan mahasiswa Katolik berupa tarian dan pertunjukan alat musik sape.

Dukungan dari kaum biarawan-biarawati, khususnya Bapa Uskup dan para Imam pendamping Pastoral Mahasiswa juga nampak dari melalui kehadiran mereka mulai dari memimpin perayaan ekaristi sampai mengikuti acara pentas seni. Selain itu, mereka juga menyediakan konsumsi untuk santap malam bersama.

Selain itu, acara hiburan ini dimeriahkan oleh Olga Lidya, seorang model sekaligus pembawa acara dan aktris Indonesia. Dia memotivasi para mahasiswa untuk memupuk rasa percaya diri melalui pengalamannya serta melalui berbagai kegiatan yang diadakan di Kampus.

Kesan manis dalam mengikuti kegiatan ini disampaikan oleh Gio, mahasiswa anggota Imasika, yaitu perhimpunan mahasiswa Katolik Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura. “Saya merasa senang sekali karena dalam kegiatan ini, kita mahasiswa dari berbagai daerah, dari berbagai kampus dipersatukan dan harapan saya ke depan, semoga kegiatan seperti ini tetap dilaksanakan untuk memupuk semangat mahasiswa dalam mengikutinya,” kata Gio.

Kesan manis juga disampaikan oleh beberapa mahasiswi yang sedang menyaksikan tarian dance dari salah satu himpunan mahasiswa Katolik, “Kami mengetahui informasi mengenai kegiatan ini ketika mengikuti misa dan kegiatan ini sungguh luar biasa,” ucap mereka.

Semangat mereka semakin bertambah lagi ketika diadakan sesi tanya jawab seputar pengetahuan Katolik dengan hadiah menarik berupa laptop, kipas angin, flashdisk, tas bagi para mahasiswa yang berhasil menjawab pertanyaan dari pembawa acara. Mereka berlomba untuk maju ke atas pentas supaya dapat menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat.

Setelah sesi tanya jawab selesai, para mahasiswa berjoget bersama dengan Bapa Uskup, para Imam dan panitia yang diiringi dengan senandung lagu daerah dari Bapa Uskup. Kegiatan ini berakhir pukul 00.00 WIB atau tepatnya tengah malam, tetapi kegembiraan para mahasiswa tidak berkurang sebab dalam kegiatan ini, mereka dapat berjumpa dan semakin mempererat tali persaudaraan antar mahasiswa Katolik yang bersama mengenyam pendidikan di Kota Pontianak.

-Pricilia Grasela – Volunteer Komsos KAP

Paskahan Bersama Segenap Guru dan Karyawan Sekolah Katolik di Keuskupan Agung Pontianak

Suasana Perayaan Misa Paskah Bersama

SEKITAR 400-an guru dan karyawan sekolah-sekolah Katolik yang tergabung dalam MPK (Majelas Pendidikan Katolik) Keuskupan Agung Pontianak merayakan Paskah bersama di komplek Persekolahan Gembala Baik Pontianak, Rabu, 1 Mei 2019.

Paskah bersama ini diawali dengan Perayaan Ekaristi pada pukul 08.00 pagi  di Gereja Paroki Santa Cesilia Sui Raya Pontianak. Lokasi gereja ini   tidak jauh dari komplek Persekolahan Gembala Baik Pontianak.

Misa Kudus   dipimpin  oleh Pastor  William Chang OFMCap, Vikjen KA Pontianak  sebagai selebran utama, dengan konselebran para pastor yang menjabat sebagai pengurus yayasan–yayasan  Sekolah  Katolik di KAP.

Foto Bersama usai perayaan misa

Para pengurus yayasan yakni para pastor, bruder, suster berikut   guru dan karyawan itu datang dari  Pontianak,  Kubu Raya, Singkawang,  Landak,  Nyarumkop, Sambas, Pemangkat, dan Bengkayang.

Guru sebagai pembawa terang

Dalam kotbahnya, Pastor William Chang OFMCap menekankan pentingnya peran seorang guru dalam proses pendidikan.

Dicontohkan bagaimana Kaisar Hirohito membangun kembali Jepang paska negara itu hancur dan terpuruk akibat dijatuhi bom di Hirosima dan Nagasaki pada akhir Perang Dunia II. Yang dia lakukan adalah memprioritaskan pendidikan, memberi perhatian khusus kepada guru-guru hingga kemudian  Jepang kemudian menjadi negara yang kuat. Bangsa Jepang tahu bahwa mereka belajar agar mampu bangkit dan maju.

Pastor mengutip  salah satu ayat dalam Injil yang dibacakan dalam Perayaan Ekaristi tersebut: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan” (Yoh. 3:19).

Tenda di luar Gereja

Pastor William Chang OFMCap menegaskan kembali bahwa mengikuti teladan Sang Guru Sejati, maka seorang guru dipanggil untuk  berperan sebagai ‘terang’. Menjadi terang dalam arti bahwa kehadirannya menyelamatkan  bukan menghancurkan.

“Terang berarti membawa keselamatan, sedangkan kegelapan menyebarkan, kekawatiran, ketakutan dan  kejahatan- kejahatan,” jelasnya.

Menghadapi zaman yang selalu berubah, lebih–lebih pada era Revolusi Industri 4.0 dengan kemajuan yang mengarah melupakan nilai-nilai kemanusiaan, maka pastor mengajak agar guru-guru Katolik berani mengemban tugas dan  tanggungjawab  dengan tetap mempertahankan hal-hal berikut ini:

  • ‘Budaya cinta kasih’ terus  hidup dalam proses pendidikan;
  • Menghargai martabat anak sebagai sesama manusia;
  • Membawa harapan dalam setiap perjumpaan dengan peserta didik.

Menutup kotbahnya, Pastor William melontarkan beberapa pertanyaan sebagai bahan refleksi diri para guru:

  • Benarkah dunia pendidikan sungguh membawa terang ?
  • Benarkah budaya cinta kasih dalam diri kita sudah muncul dalam bentuk persaudaraan-iman Kristiani?
  • Apakah pendidikan katolik telah memerdekakan kita sehingga kita menjadi yakin, mampu serta tabah dan kuat dalam mengemban misi pendidikan Katolik?

    Suasana koor saat mengiringi Misa

Menampakkan wajah Gereja Katolik

Sekolah-sekolah Katolik di Keuskupan Agung Pontianak rata-rata merupakan karya kerasulan tarekat, selain milik Keuskupan Agung Pontianak. Tarekat religius yang menangani sekolah adalah SFIC, KFS, SMFA, OSA, MTB, CP,  CDD, OFMCap, dan SVD.

Beberapa sekolah dikelola oleh  awan seperti Yayasan Pancur Kasih, Yayasan Santa Monika. Sekolah-sekolah itu tersebar  di seluruh wilayah keuskupan dan beberapa  tarekat  memiliki sekolah-sekolah di wilayah keuskupan lain.

Pastor William Chang,OFMCap

Dalam kata sambutannya, Br. YM Vianney MTB –Ketua MPK Keuskupan Agung Pontianak–   mengatakan bahwa di wilayah Keuskupan Agung Pontianak inni  ada 10 Yayasan Pendidikan Katolik yang telah  bergabung di MPK, dengan 70 sekolah katolik.

Meskipun setiap yayasan milik  tarekat memiliki spiritualitas pendiri yang menjadi ciri khas masing-masing sekolah, namun kerjasama perlu dibangun agar tantangan-tantangan peningkatan sumber daya manusia, tatakelola, manajemen, penguatan pendidikan karakter dan  reksa pastoral  dalam   menghadapi zaman milenial dapat ditanggung bersama.

Dalam hal tersebut,  Br. Vianney MTB mengajak yayasan–yayasan yang telah bergabung dalam MPK dapat bekerjasama dengan mengatakan bahwa MPK (Majelis Pendidikan Katolik) Keuskupan Agung Pontianak itu merupakan wadah dari yayasan-yayasan pendidikan katolik.

Ia juga  mengajak  bergerak bersama, maju bersama demi kemajuan dunia pendidikan.

“Kehadiran MPK bukan mengintervensi LPK-Yayasan,  melainkan menjadi wadah LPK  untuk dapat berbicara bersama, bersatu mewujudkan visi misi Gereja agar  ‘wajah’ Gereja semakin tampak dalam sekolah-sekolah katolik,” demikian harapnya.

Setia sebagai guru Katolik

Perayaan Ekaristi Paskah Bersama para guru sekolah Katolik Keuskupan Agung Pontianak pagi itu dimeriahkan oleh kelompok koor dari para guru dan karyawan dari Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak.

Sebelum berkat penutup, Pastor William Chang OFMCap  menekankan kembali bahwa kerjasama antara LPK dengan MPK itu akan berdampak positif terhadap LPK-Sekolah Katolik  baik secara bersama ataupun  pada masing-masing sekolah.

Ditawarkan “4S”  agar kerjasama ini dapat memperoleh hasil maksimal yaitu Strategi, Struktur, Skill, dan Speed Target (baca: ketepatan sasaran).

Poin-poin pokoknya ialah bahwa MPK perlu memikirkan secara matang dan benar hal-hal yang berkaitan dengan, rencana, gagasan serta pelaksanaannya. Perlu juga  membangun jaringan baik secara daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan).

MPK juga perlu mengembangkan dan mengasah  keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama. Lalu, ebagai Lembaga Pendidikan Katolik, MPK harus mempunyai komitmen bersama sebagai ‘pembawa terang’.

Perayaan Paskah bersama ini ditutup dengan makan siang  bersama di halaman persekolahan Gembala Baik Pontianak.

Sr. Petronela CP, Kepala  SD Gembala baik, terkesan dengan acara Paskah bersama ini, namun kesempatan terlalu singkat untuk saling mengenal.

”Acara ini akan lebih berkesanm jika setiap LPK  ada kesempatan untuk saling memperkenalkan dirim”celetuknya.

Sementara P. Paulus Toni OFMCap, Ketua Yayasan Pendidikan Gembala Baik, mengucapkan terimakasih karena telah dipercaya sebagai tempat terselenggaranya acara ini.  Ia berharap kerjasama antar Lembaga Pendidikan Katolik ini semakin mantap.

“Kerjasama ini akan berhasil jika masing-masing dari kita tetap setia dan memiliki komitmen kuat sebagai guru Katolik,” pesannya.

-Br. B. Sukasta, MTB

RD. Alex : Panitia Siap Gelar Expo Panggilan, Berbagai Atraksi Seru Akan Ditampilkan, Termasuk Hadirnya Olga Lidya Sebagai Pemandu Acara

Senin, 6 Mei 2019 bertempat di ruang serbaguna Bina Remaja Komplek Persekolahan Santo Paulus Pontianak Panitia Expo Panggilan 2019 mengadakan rapat kesiapan pemantapan akhir masing-masing seksi.

Rapat pemantapan akhir dari masing-masing seksi, Senin (6/5/2019) di gedung Serbaguna Bina Remaja Santo Paulus Pontianak

“Rapat  pemantapan ini dirasa perlu untuk melihat sejauhmana kesiapan masing-masing seksi dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepada seksinya,” tandas RD. Alexius Alex selaku penanggungjawab untuk keseluruhan kinerja panitia.

Menurut RD. Alex,  panitia sudah siap melaksanakan kegiatan Expo Panggilan yang akan berlangsung dari tanggal 10 – 12 Mei 2019.

“Seksi-seksi sudah menyempurnakan program-program yang akan dilaksanakan pada hari H nantinya, bahkan ada juga seksi yang sudah bekerja sejak panitia dibentuk.” ujarnya.

Kata RD. Alex, hari pertama, tanggal 10 Mei 2019, usai acara pembukaan pada pukul 15.00 WIB, akan ada sharing dari Bapak Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agsutnus Agus dengan Kaum Muda Katolik.

Tanggal 11 Mei 2019, pada pukul 08.00 WIB, lanjut RD. Alex, kurang lebih tiga ratusan orang biarawan-biarawati akan mengikuti seminar bersama narasumber : Pastor Matius Mali, CSsR (dosen Ahli Teologi Moral di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta). Kegiatan ini akan berlangsung di gedung Pasifikus,.

Dalam waktu yang bersamaan pula, ujar RD. Alex, para Orang Muda Katolik akan berkumpul di gedung Bina Remaja Komplek Persekolahan Santo Paulus Pontianak, untuk mengikuti “Talk Show” dari perwakilan para Pastor, Suster, Bruder, dan Frater terkait promo panggilan.

Alex mengatakan, kegiatan Expo Panggilan tahun 2019 ini terasa akan lebih semarak karena dirangkaikan juga dengan kegiatan Paskah Mahasiswa se-Kotamadya Pontianak, yang akan dilangsungkan pada Sabtu, 11 Mei 2019 dengan Perayaan Ekaristi, dimulai pukul 17.00 WIB di Gereja Katedral Paroki Santo Yosef Pontianak.

Menariknya lagi, tambah RD. Alex, setelah Perayaan Ekaristi, akan ada Pentas Seni. Di sinilah berbagai atraksi seni akan ditampilkan, mulai dari para mahasiswa, biarawan-biarawati sampai artis nasional.

“Dan serunya lagi, acara ini akan dipandu oleh Olga Lidya, seorang model sekaligus pembawa acara dan aktris Indonesia. Kegiatan Pentas Seni ini akan digelar di halaman Persekolahan Santo Paulus Pontianak,” ujar RD. Alex.

Kata RD. Alex, ada 29 Tarekat yang akan ikut ambil bagian dalam kegiatan Expo Panggilan tahun 2019 ini dan akan menghadirkan kurang lebih dua ribuan mahasiswa Katolik.

Dengan kegiatan ini, RD. Alex berharap para kaum biarawan-biarawati semakin menyadari akan pentingnya merayakan dan memaknai Hari Minggu Panggilan.

“Tak banyak umat yang mengetahui bagaimana seluk-beluk hidup membiara. Barangkali inilah yang menyebabkan berkurangnya calon imam di tarekat-tarekat ataupun seminari-seminari.,” tandas RD. Alex.

Fenomena ini bukanlah disebabkan tidak adanya panggilan, lanjut RD. Aex. Pertama-tama karena banyak umat yang tidak tahu-menahu kehidupan membiara. Atau kalaupun ada yang mengetahui, masih sebatas pada bagian luarnya saja.

“Disinilah kaum biarawan-biarawati harus mempromosikan tarekatnya masing-masing lewat cara hidup dan karya-karyanya yang sudah dihasilkan atau dibuat,” harap RD. Alex.

PM – Kredit Photo : Sr. Maria Seba, SFIC

 

Seminar Teologi STKIP Pamane Talino

Moderator dan Pembicara, masih dalam Dies Natalis 8 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PAMANE TALINO

Jumat, 3 Mei 2019

Spiritualitas Santa Katarina Siena

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pamane Talino mengadakan seminar Teologi bertemakan “Spiritualitas Santa Katarina dari Siena” dengan pembicara Pastor Mingdry Hanafi, OP dan Pastor Dr. Johanes Robini Marianto, OP.

Suasana Peserta Seminar

Masih dalam rangkaian acara Dies Natalis 8 STKIP Pamane Talino, seminar ini diadakan untuk merayakan Pesta Santa Katarina Siena, pelindung Biara Dominikan di Ngabang sekaligus pelindung Kring Santa Katarina di BTN Bali Permai Jalur II Ngabang yang merupakan lokasi gedung STKIP Pamane Talino.

Adapun seminar ini dihadiri oleh warga Kring Santa Katarina dari Siena, suster, frater, dan perwakilan umat dari Paroki Mater Dolorosa Jelimpo, dan seluruh sivitas akademika STKIP Pamane Talino.

 

Sesi pertama adalah penyampaian biografi tentang Santa Katarina Siena dari Pastor Mingdry Hanafi, OP. Santa Katarina dari Siena lahir pada tanggal 25 maret 1347 di Siena. Ia wafat pada 29 april 1380 di usia yang ke 33 tahun.
Katarina Siena merupakan anak ke 24 dari 25 bersaudara. Namun saudara kembar Katarina, yang adalah anak ke 23 meninggal pada saar dilahirkan.

Pribadi Santa Katarina adalah ceria dan tidak mau diam. Tetapi saat berjumpa dgn pastor Dominikan, Katarina terpesona dengan penampilan para pastor dengan jubahnya. Katarina mengatakan suatu hari ia ingin menjadi seorang Dominikan. Katarina belajar untuk berkontemplasi dan berdoa setiap saat. Pada usia 16 tahun ia menderita demam yang berat. Lalu saat itu ia berkata “Bila saya diijinkan untuk menerima kaul (bergabung dengan dominikan awam) Tuhan pasti memberikan kesembuhan.”

Sesi Pastor Rubini, OP

Lalu ibunya mengijinkannya masuk menjadi anggota Ordo Dominikan Awam.
Santa Katarina merupakan seorang wanita yang buta huruf. Namun kegigihannya dalam belajar, berkontemplasi, dan berdoa membuatnya menjadi doctor dan pujangga gereja. Pada sekitar tahun 1366 ia mengalami apa yang digambarkan dalam suratnya sebagai “pernikahan mistik” dengan Kristus. Santa Katarina menerima penglihatan mistik akan penampakan cincin “pernikahan mistik.”

Mahasiswa Peserta Seminar

Santa Katarina mempunyai koresponden mendetail dengan Paus Gregorius XI. Dalam suratnya ia meminta untuk perdamaian antara republic dan prinsipalitas Italia dan untuk kembalinya kepausan dari Avignon ke Roma. Perjalanan hidup yang luar biasa inilah yang membuat santa Katarina menjadi pelindung kota Italia dan pelindung benua Eropa bersama 6 santo dan santa lainnya pada 1 oktober 1999.

Sesi kedua disampaikan oleh Pastor Johanes Robini Marianto, OP. Dalam pemaparannya Pastor Robini mengatakan bahwa peran Santa Katarina yang berhasil membuat Paus berpindah dari Perancis ke Roma merupakan terobosan yang luar biasa untuk wanita pada jaman itu. Santa Katarina mengajarkan pada kita untuk menyadari siapakah kita di hadapan Tuhan. “Banyak orang yang tidak tahu diri di hadapan Tuhan,” tegasnya.

Untuk menyadari diri kita di hadapan Tuhan kita perlu merendahkan diri untuk merefleksi diri kita. Sering kali kita melakukan sesuatu untuk membuktikan pada orang lain siapa diri kita.

“Kebahagiaan kita terletak pada penemuan diri bahwa kita siapa. Kita ini punya arti bagi Tuhan maka cinta diri menjadi hal yang penting. Cinta diri yang dimaksud adalah kuasa,”tambahnya.

Sebagai penutup sesinya, Pastor Robini mengajak peserta seminar untuk meneladan Santa Katarina yang selalu mengamalkan ketujuh karunia yang telah kita terima pada saat pembaptisan. Seminar teologi ini kemudian ditutup dengan Misa Kudus untuk merayakan Pesta Santa Katarina dari Siena.

Penulis : Monika

WS Foto : Antonius, Hawi

 

STKIP Pamane Talino Ngabang; Gelar Dies Natalis VIII

Foto Bersama Bupati Landak dengan Pimpinan Yayasan Landak Bersatu dan STKIP Pamane Talino SertaTamu Undangan
Studium Generale sesi Bapak Alexander K. Taslim

Ngabang-2 Mei 2019-Dalam rangka Dies Natalis VIII STKIP Pamane Talino Kabupaten Landak mengadakan beberapa agenda kegiatan. Bertempat di Aula Paroki Salib Suci Ngabang acara ini dihadiri oleh Bupati Kabupaten Landak, Sekretaris Daerah Kabupaten Landak, Perwakilan Danyon Armed, Perwakilan Polres Landak, Pastor Paroki Salib Suci Ngabang, jajaran Pengurus Yayasan Landak Bersatu, serta seluruh sivitas akademika STKIP Pamane Talino. Adapun agenda pertama adalah pelantikan Bapak Dr. Albert Rufinus, MA sebagai Ketua definitif STKIP Pamane Talino.

“Kita akan terus kita lakukan segala perbaikan dan pembenahan manajemen, kurikulum, dan lainnya untuk meningkatkan mutu STKIP Pamane Talino agar mendapatkan akreditasi minimal B” tegas Bapak Albert Rufinus dalam sambutannya.

Pastor Dr. J. Robini Marianto, OP bersama, Bapak Susanto Onie, Bapak Alexander K. Taslim, dan Bapak Dr.Albert Rufinus (ketua definitif)

Dalam kesempatan ini, Bupati Landak, dr Karolin Margret Natasha berharap semoga STKIP Pamane Talino senantiasa berkontribusi pada pendidikan di Kabupaten Landak.

“Keberadaan STKIP Pamane Talino ini agak istimewa bagi saya karena kampus ini berdiri di salah satu kabupaten termiskin di Kalimantan Barat sehingga menjadi tantangan bersama untuk berkontribusi dlm pendidikan di kabupaten Landak. Kami akan membuat MoU dengan STKIP Pamane Talino yang bertujuan memberikan beasiswa pada siswa kurang mampu,” ujar Karolin.

Suasana Pengambilan Sumpah

Bupati juga berharap agar lulusan STKIP Pamane Talino ini juga banyak yang lulus tes CPNS.

Agenda kedua adalah Studium Generale yang dipandu oleh Bapak Mustika Aji, MA. Narasumber untuk workshop ini adalah Bapak Susanto Onie, M.Kom. Dalam paparannya, Bapak Susanto menjelaskan perkembangan teknologi mulai dari 1.0 hingga 4.0.

“Teknologi sudah masuk dalam kehidupan kita semua dan semuanya saling terkoneksi. Guru adalah salah satu profesi yang terkena dampak perkembangan era digital 4.0. Untuk itu baik guru maupun dosen harus mampu membuat materi berbasis aplikasi dalam proses pembelajaran,” imbuh Bapak Susanto.

Studium Generale Sesi Bapak Susanto Onie, M.Kom

Selain itu Studium Generale ini juga menghadirkan narasumber Bapak Alexander K. Taslim, pendiri Bimbingan belajar Sempoa SIP. Dalam presentasinya Bapak Alex menekankan pada kreatifitas lulusan sekolah keguruan untuk menciptakan lapangan pekerja untuk mengurangi pengangguran. Bapak Alex menyoroti system pendidikan di Indonesia yang belum mengoptimalkan otak anak.

“Sebelum seorang anak berusia 12 tahun, ia harus dibiasakan untuk mengembangkan pikiran atau otaknya. Dan guru lah yang memiliki peran yang penting dalam mengembangkan potensi anak,”ujarnya.

Puncak acara Studium Generale ini ditutup dengan pemberian cendera mata pada kedua narasumber yang sudah ambil bagian dalam perayaan ini.

 

Oleh : Monika – WS-STKIP Pamane Talino