Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau Dalam Sejarah; Benih yang Kecil itu Kini Menjadi Besar

Benih-benih yang kini menjadi pohon besar dan berdiri kokoh dimana setiap insan bisa bernaung dibawahnya, menimba kesejukan dan dimana begitu banyak jiwa-jiwa dihantar kepada keselamatan, ternyata pada awalnya adalah sebuah benih yang kecil. Dari kecil menjadi besar, demikian digambarkan sejarah gereja katedral yang megah, kokoh di Keuskupan Sanggau. Kini gedung gereja yang merupakan sintesis perpaduan antara budaya dan nilai gerejawi ini sudah menjadi sejarah baru di dunia, terlebih di Kalimantan Barat. Gereja yang mencerminkan pluralitas kebhinekaan ini ternyata menyimpan sejuta sejarah dibalik kemegahannya.

Kemolekan ornamen gedung gereja Katedral Hati Kudus Yesus yang baru diberkati pada Selasa, 11 September 2018 yang lalu ini tidak terlepas dari penyelenggaraan Ilahi. Maka benarlah perkataan Si Pemazmur berikut “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mazmur 127:1). Mari Sejenak kita simak cuplikan sejarah singkat Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau yang telah dirintis oleh para misionaris Belanda.

Stasi Sanggau didirikan pada tanggal 22 Desember 1912. Pada waktu itu, Sanggau masih termasuk dalam wilayah Prefektur Apostolik Kalimantan yang berpusat di Pontianak. Walaupun belum ada pastor yang menetap, secara berkala stasi ini dilayani oleh imam-imam Ordo Kapusin dari Belanda. Melihat keperluan yang ada pada saat itu, pada tahun 1925, Pastor Kanisius, OFMCap diangkat menjadi pastor Sanggau yang pertama. Gereja paroki Sanggau yang pertama pun mulai dibangun pada tahun 1928. Selain membangun gereja, dibangun juga pastoran sebagai tempat tinggal para pastor.

Gereja paroki sanggau yang pertama pada awalnya dibangun seadanya karena keterbatasan biaya sehingga tidak tahan lama. Maka pada tahun 1931, dibangun gereja paroki yang kedua; yang lebih baik dan representatif. Sejak tahun 1925 hingga masa pendudukan Jepang (sekitar 1942), jumlah umat Katolik di Sanggau baru sekitar 1.000 orang. Untuk mengimbangi jumlah umat tersebut, para pastor Kapusin mulai menetap di Pastoran Sanggau, agar pelayanan Pastoral dapat dilaksanakan secara lebih efektif. Selama masa pendudukan Jepang, jumlah umat Katolik di Sanggau tidak mengalami, perkembangan. Hal ini disebabkan karena para pastor yang semuanya berasal dari Belanda, dibuang ke kamp interniran di Kuching (Sarawak). Para misionaris baru dapat kembali ke Indonesia setelah Jepang kalah perang pada tahun 1945.

Sekembalinya para misionaris ke Indonesia, semangat dan kepercayaan diri orang Dayak mulai bangkit. Kesadaran akan pentingnya pendidikan mulai tumbuh. Kesadaran ini muncul sebagai buah dari Konggres Persatuan Dayak (1948) yang diprakasai oleh para murid sekolah Katolik dan eks-seminaris. Pada tahun 1950, Mgr. Tarcisius van Valenberg, OFMCap (Administrator Apostolik Pontianak), mendatangkan berbagai kongregasi pastor, bruder dan suster untuk berkarya di wilayah Prefektur Apostolik Pontianak. Dengan bertambahnya tenaga misionaris, dibangunlah sekolah-sekolah, gedung gereja dan stasi-stasi  mulai dimekarkan; Sekadau (1950), Jangkang Benua dan Pusat Damai (1952), Jemongko (1956) dan Batang Tarang (1958).

Gereja Katedral yang lama sebelum pembongkaran oleh bapak Uskup Mgr. Giulio Mencuccini CP, Uskup Sanggau. Gereja yang telah berdiri selama lebih dari 40 tahun ini akan diganti dengan gereja Katedral yang baru.

Sejak tahun 1960, pelayanan di Paroki Sanggau diserahkan kepada misionaris Kapusin dari negara Swiss. Pada waktu itu ada enam misionaris dari negara Swiss yang berkarya di Sanggau yaitu, P. Ewald Beck, OFMCap, P. Franz Xaver Brantschen, OFMCap, P. Matthau, OFMCap, P. Rene Roscy, OFMCap, P. Lazarus, OFMCap dan P. Agatho Elsender, OFMCap.

Karena perkembangan umat yang pesat, pada tahun 1967, dibangun gereja yang ketiga di Sanggau. Gereja yang lebih besar dengan kerangka besi yang didatangkan dari Belanda. Seiring dengan perkembangan umat, pada tanggal 10 Juli 1982, diumumkan Surat Keputusan Pendirian Keuskupan Sanggau. Keuskupan baru ini kemudian diresmikan pada tanggal 5 Desember 1982. Gereja yang pada awalnya didirikan sebagai gereja paroki berubah status menjadi gereja Katedral, bangunan Gereja Induk, tempat kediaman Uskup.

Pada hari Minggu, 8 Mei 2011, diadakan misa terakhir dan pembongkaran gereja Katedral Sanggau oleh bapak Uskup Mgr. Giulio Mencuccini CP, Uskup Sanggau. Gereja yang telah berdiri selama lebih dari 40 tahun ini akan diganti dengan gereja Katedral yang baru. Banyak kenangan yang tersimpan di gereja Katedral yang lama. Sampailah, pada hari ini umat sanggau boleh menikmati hasil jerih payah dan mencetak kenangan baru yaitu dengan berdirinya Gereja Katolik Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau yang didedikasikan oleh Bupati Sanggau Bapak Paulus Hadi dan Bupati Sekadau Bapak Ropinus pada hari Selasa, 11 September 2018 kemudian di berkati oleh Mgr. Ignatius Suharyo Pr didampingi oleh Mgr. Giulio Mencuccini bersama 15 Uskup se-Indonesia dan puluhan Imam konselebran.

Sumber : Buku- Karya Agung Alla di Tengah Umat-Nya/ Gereja “Hati Kudus Yesus” Katedral Sanggau, Oleh: P. Severyanus Ferry, Pr.

By. Samuel

Tinggalkan Balasan