14 Simbol Liturgis di Balik Megahnya Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau (1)

Tidak sedikit mata yang telah dimanjakan karena Gereja Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau yang elok dan megah ditambah dengan liuk-liuk tekstur bangunan yang sarat akan makna liturgis. Inilah gereja inkulturasi dimana terkandung berpaduan antara seni, budaya dan nilai gerejawi. Lantas, bangunan yang megah sepeti ini apa artinya jika hanya sekedar indah saja? Tentu dibalik itu ada makna yang mendalam. Berdasarkan buku “Karya Agung Allah di Tengah Umat-Nya. “Hati Kudus Yesus” Katedral Sanggau ditulis oleh P. Severyanus Ferry, Pr. Berikut kami ulas aneka simbol yang melekat pada setiap sudut dan ruangan gedung Katedral yang baru.

  1. Patung Hati Kudus Yesus

Patung Hati Kudus Yesus menjadi ikon utama gereja Katedral Sanggau. Gereja yang mengambil nama pelindung Hati Kudus Yesus ini menenpatkan patung Hati Kudus Yesus pada benteng terdepan bangunan gereja Katedral Sanggau. Hal ini melambangkan Kristus adalah yang pertama dan utama dalam kehidupan umat beriman. Perayaan Hati Kudus Yesus sendiri selalu jatuh pada hari Jumat, minggu II sesudah Pentakosta (19 hari setelah Pentakosta). Melalui peryaan ini, kita diajak untuk menghormati serta mensyukuri cinta dan belas kasih Allah yang tek terbatas. Hati Kudus adalah Kristus sendiri, Sabda yang menjelma menjadi manusia (DKUL.166). Karena hati-Nya yang “lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29), Ia datang ke dunia untuk melakukan karya keselamatandan pengudusan bagi umat manusia. Patung tembaga setinggi 5 meter ini menampilkan Tuhan Yesus yang sedang membuka hati kerahiman-Nya bagi dunia. Melalui patung ini, kita berharap rahmat kerahiman ilahi selalu terbuka bagi kita, sehingga berkat dan perlindungan Tuhan selalu dirasakan oleh seluruh umat manusia.

  1. Warna hijau muda

Gereja Katedral Sanggau mengambil warna hijau muda sebagai warna pelapis dinding bagian luar. Hijau muda adalah warna alam, warna  lingkungan hidup sekaligus warna pucuk daun. Warna hijau muda melambangkan kesegaran, kesuburan dan harmoni kehidupan (go green). Warna ini sengaja diambil karena unik dan belum pernah digunakan untuk mewarnai bangunan gereja pada umumnya.

Dalam liturgi, kita mengenal warna hijau sebagai lambang syukur, yang dapat membangkitkan kebahagiaan serta kegembiraan. Warna hijau digunakan dua periode Masa Biasa yaitu: Masa Biasa pertama dimulai setelah hari raya Penampakan Tuhan (Epipania) hingga hari selasa sebelum Rabu Abu; Masa Biasa kedua dimulai setelah Pentakosta sampai hari sabtu sebelum minggu pertama Masa Adven (PUMR. 346c). Selama Masa Biasa, bacaan Injil mengajak kita untuk merenungkan mukjizat-mukjizat dan ajaran-ajaran Tuhan Yesus Kristus selama 3 tahun karya-Nya. Warna hijau melambangkan kehidupan dan harapan baru, yang tumbuh dan berkembang pada diri kita, setelah kita dicurahi Roh Kudus pada hari raya Pentakosta. Maka, kita semua diajak untuk mengikuti teladan Yesus dalam karya-karya-Nya di tengah dunia. Dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, sering terjadi perdebatan mengenai monopoli warna tertentu. Misalnya, warna hijau yang banyak digunakan pada bangunan mesjid; bukan gereja. Namun tentu warna tersebut tidak dapat dimonopoli. Ada bangunan-bangunan lain yang juga mengambil warna hijau sebagai warna dasarnya, misalnya; bangunan milik TNI. Oleh karena itu, warna hijau gereja Katedral Sanggau mau melambangkan sikap toleransi, harmoni dalam kehidupan sekaligus sarana pewartaan di tengah keberagaman.

  1. Tiga Lonceng Gereja

Gereja Katedral Sanggau memiliki tiga lonceng dengan ukuran yang berbeda. Pada tanggal 27 Juni 2014, bertepatan dengan hari raya Hati Kudus Yesus, (sesuai dengan nama  pelindung gereja Katedral), ketiga lonceng ini mulai dibuat oleh Marinelli; sebuah yayasan pembuat lonceng kepausan di Italia.

Setelah selesai dibuat, pada tanggal 1 Oktober 2014, ketiga lonceng tersebut dibawa ke Vatikan untuk diberkati oleh Bapa Suci Paus Fransiskus. Pada kesempatan yang sama, Sri Paus juga mendoakan umat di Keuskupan Sanggau, agar selalu didampingi Tuhan dalam usaha untuk membangun gereja Katedral Sanggau yang baru. Ketiga lonceng ini kemudian dikemas dan dikirim ke Indonesia.

Lonceng terbesar memiliki berat 220 kilogram dan memiliki nada dasar do. Di lonceng ini terdapat gambar Hati Kudus Yesus dengan tulisan di bawahnya: “Bunyi-Nya mewartakan kemuliaan Tuhan dan kehadiran umat-Nya.” Di bagian tengah lonceng ini terdapat logo Paus Fransiskus dan Logo Uskup Sanggau. Di sampingi kanan terdapat logo Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sekadau. Sedangkan di bagian  kiri terdapat logo Provinsi Kalimantan Barat.

Lonceng medium memiliki berat 115 kilogram dan bernada dasar ini mi. Pada bagian tengah lonceng, kita dapat menemukan gambar Bunda Maria dan gereja Katedral Sanggau. Di bagian bawah terdapat tulisan: “Nosu mpau Akek Penompa minte baek bagas. Tutuh nyak tiop, akal nyak midop.” Selain itu, terdapat juga gambar lampion, tempayan, burung Enggang, perisai dan mandau.

Lonceng terkecil memiliki berat 75 kilogram dengan nada dasar sol. Terdapat gambar St. Gabriel dari Bunda berdukacita. Pada bagian kanan terdapat gambar burung Garuda dan pada bagian kiri terdapat tulisan: A perpetua memoria dell’azione evangellizzatrice e sociale Dei Missionari Passionisti nella Diocesi di Sanggau Indonesia yang berarti: Kenangan kekal akan karya evangelisasi dan sosial misionaris Pasionis di Keuskupan Sanggau, Indonesia.

Ketiga lonceng gereja Katedral kini ditempatkan di benteng sebelah kiri, dipayungi kanopi agar terlindung dari panas dan hujan. Lonceng yang memadukan berbagai unsur budaya dan pemerintahan di Kalimantan Barat ini menjadi tanda persatuan dalam naungan Tuhan. Dengan digerakan oleh mesin elektrik, suara merdunya memanggil semua kaum beriman untuk bersama-sama memuji dan memuliakan Tuhan.

  1. Tiga Pintu Utama

Gereja Katedral Sanggau memiliki 3 pintu masuk utama. Satu pintu bagian tengah depan dan dua pintu masing-masing di bagian kiri dan kanan. Setiap pintu memiliki koridor teras yaitu suatu landasan yang lebih tinggi daripada tanah di sekelilingnya. Secara khusus, koridor berukuran 17×5 meter pada teras tengah depan gereja, memiliki 12 anak tangga yang melambangkan Gereja yang apostolik, dibangun atas dasar para rasul (Ef 2: 20) dan dibimbing oleh Roh Kudus (KGK.857).

Pada bagian depan tiap koridor, kita dapat menemukan tiga frame lengkung. Frame lengkung bagian tengah memiliki lebar 2,2 meter dan tinggi 7 meter. Sedangkan frame lengkung di kiri dan kanan masing-masing memiliki lebar 1,3 meter dan tinggi 5 meter. Kombinasi tiga frame lengkung ini dapat kita temukan juga pada bentuk jendela gereja. Dalam bahasa Latin, bentuk tiga serangkai ini disebut trinus, “rangkap tiga.” Kata ini sering digunakan untuk menyatakan iman Katolik akan Allah Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Berikut masing-masing pintu utama yang ada di gereja Katedral Sanggau:

a. Pintu Apostolik

Daun pintu bagian tengah luar berukiran Yesus yang memberikan kunci kepada santo Petrus. Pintu ini disebut Pintu Apostolik karena mengingatkan kita akan sabda Yesus: “Engkau adalah Petrus dan di atas batukarang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surg dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16: 18-19). Tugas yang diberikan kepada santo Petrus sebagai ketua para rasul ini, kemudian diteruskan oleh para Uskup sebagai Gembala Gereja (KGK. 862).

Pada daun pintu bagian tengah dalam, kita dapat menemukan ukiran Hati Kudus Yesus dan Hati Kudus Maria. Santo Agustinus mengatakan “Kristus adalah pintu. Ia terbuka bagimu ketika lambung-lambung Nya dibuka oleh tombak. Dari lambung-Nya mengalir air yang memurnikan dan darah yang menebus dosa-dosamu (DKUL.168). Misteri Hati Kudus Yesus ini terpadu dengan Hati Kudus Maria. Mulai daru penjelmaan hingga wafat dan kebangkitan-Nya, bahkan sampai turunnya Roh Kudus, Bunda Maria mengiringi karya keselamatan yang dilakukan Putra-Nya. Melalui kedua pintu Hati Kudus ini, umat beriman dapat sampai pada kerahiman, kasih yang tak terbatas, pangkal keselamatan dan pengudusan manusia (DKUL. 166).

b. Pintu Doa

Daun pintu kanan bagian luar berukiran Yesus dan perempuan Kanaan yang percaya (Mat 15: 21-28) dan ukiran Yesus berdia di taman Getsemani (Mat 26:36-46). Pintu ini disebut Pintu Doa, karena mau mengungkapkan begitu dahsyatnya kekuatan doa. Dengan rendah hati wanita Kanaan datang memohon agar Tuhan Yesus memberikan kesembuhan bagi anaknya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Dengan iman yang tahan uji, perempuan Kanaan tersebut tetap percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Yesus pun berdoa. Melalui penyerahan diri secara penuh pada kehendak Allah, Yesus dapat mengatasi ketakutan yang membuat peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah (Yoh 22:44). Melalui doa, Yesus dimampukan untuk menjalani tugas dan penebusan dosa manusia melalui jalan sengsara dan wafat-Nya.

Kemudian, pada daun pintu kanan bagian dalam, kita dapat menemukan ukiran Yesus naik ke surga dan Bunda Maria diangkat ke surga. Kedua ukiran ini mau mengungkapkan iman akan kehidupan kekal di surga. Yesus sebagai yang pertama naik untuk membukakan pintu surga: “Ia memberi harapan kepada anggota-anggota tubuh-Nya, supaya dapat mengikuti Dia ke sana” (KGK.661); “Aku pergi ke situ untuk mempersiapkan tempat bagimu… agar di mana Aku berada, kamupun berada (Yoh 14:2-3). Sesudah menyelesaikan perjalanan hidup-Nya, Bunda Maria diangkay – oleh Allah- memasuki kemuliaan surga. Pengangkatan ini menjadi gambaran bahwa kelak, kita juga akan diangkat dalam kemuliaan surgawi ketika kita hidup seturut kehendak Kristus.

c. Pintu Keluarga Kudus

Pintu Keluarga Kudus terletak di bagian kiri bangunan gereja Katedral Sangga. Pada daun pintu bagian luar, kita dapat menemukan ukiran Keluarga Kudus Nazaret; Maria dan Yusuf sedangk menggendong kanak-kanak Yesus. Dalam Katekismus, keluarga disebut gereja kecil, pintu ini, keluarga-keluarga Katolik diajakuntuk berdoa memohon perlindungan agar dapat membangun keluarga seturut model Keluarga Kudus Nazaret.

Daun pintu bagian dalam berukiran gambar Yesus Gembala yang baik dan Yesus yang menyembuhkan orang buta. Yesus sendiri mengatakan; “Akulah gembala yang baik… Gembala yang baik, memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya” (Yoh 10:11). Belas kasih dan kebaikan hati Yesus, ditunjukan dengan melakukan mukjizat-mukjizat. Mukjizat memelekan mata orang buta merupakan salah satu tanda kenaikan Tuhan Yesus (Mrk 10: 46-52). Kesembuhan yang dianugrahkan bagi Bartimeus akan Ia berikan juga bagi kita. Dia akan membukakan mata kita, agar kita dapat melihat kemuliaan Tuhan.

Pada tiga pintu utama gereja katedral, kita dapat menemukan papan list bermotif Dayak sebagai bingkai ukirannya. Pintu-pintu beserta gagangnya (handle) juga terbuat dari kayu lokal di wilayah Sanggau. Tiga pintu kayu ini melambangkan iman umat Katolik akan Allah Tritunggal Mahakudus, berkembang dalam bingkai budaya Dayak.

Sumber: Berdasarkan Buku Karya Agung Allah di Tengah Umatnya

By. Samuel

Tinggalkan Balasan