Mon. Sep 21st, 2020

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Kongregasi Bruder MTB: Gerakan Cinta Lingkungan Melalui Tanaman Organik

Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) melalui program  JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation/Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan) mengadakan kegiatan pengenalan lingkungan hidup kepada TK Pelita Hati yang berkunjung ke Pondok Tanaman Organik milik Bruder MTB di Jalan Sepakat 2, Blok P, No. 123, Pontianak.

Lebih dari 20 orang siswa TK Pelita Hati hadir bersama para guru dan orang tua yang turut mendampingi dalam kunjungan tersebut pada hari Jumat, 6 Maret 2020

Kegiatan yang bertujuan untuk semakin mendekatkan diri kepada alam dan lingkungan melalui iman dan perbuatan ini mengusung tema “Gerakan Nurani Ekologi.”

Br. Yunus menjelaskan kepada anak-anak TK Pelita Hati cara menanam sayur di polybag

Perwujudan upaya tersebut dikemas dalam program pendampingan rohani sekaligus workshop lingkungan hidup dalam bentuk retret ekologi, rekoleksi ekologi, dan live in ekologi.

Kepala Sekolah TK Pelita Hati Ibu Yupina mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh TK Pelita Hati sesuai dengan tema yang telah diprogramkan setiap bulan.  

“Harapan kami supaya anak-anak TK Pelita Hati bisa mengenal dan mencintai alam ciptaan serta menjadi pembelajaran yang bukan hanya didapatkan di sekolah saja melainkan juga di Pondok Tanaman Organik ini,” ungkapnya.

Kegiatan Pengenalan Lingkungan Hidup tersebut diawali dengan nyanyian sebuah lagu bertemakan alam yang dibawakan oleh siswa TK Pelita Hati bersama para guru, kemudian disusul dengan perkenalan diri dari Bruder Gerardus MTB dan Bruder Yunus MTB selaku Tim JPIC – Bruder MTB.

Koordinator Tim JPIC Kongregasi Bruder MTB, Bruder Yunus MTB  dalam sambutannya menerangkan bahwa bercocok tanam dengan media organik sangat mudah dan sehat.

“Sayur organik adalah sayur yang sehat. Nanti kita akan mempraktekkan bagaimana menanam sayur di polybag kemudian kita bawa pulang. Saat di rumah, sayur itu dirawat seperti merawat diri sendiri. Kita siram dan beri pupuk,” kata Bruder Yunus MTB seraya memberi contoh sayur organik yang akan mereka tanam bersama.

Sedangkan Bruder Gerardus MTB menyampaikan pesan kepada siswa TK Pelita Hati dan para orang tua mengenai lingkungan hidup agar mereka mengetahui bahwa sampah yang dihasilkan dapat diolah dan dimanfaatkan.

“Sampah dapat menjadi berkat. Banyak yang saya olah dari sampah. Sampah nonorganik seperti plastic kemasan minyak goreng dan deterjen dijadikan wadah untuk menanam sayur. Sampah organik seperti buah-buahan dapat dijadikan pupuk organik. Selain itu, air bekas cucian sayur digunakan untuk menyiram tanaman,”jelas Bruder Gerardus MTB seraya menghimbau untuk mengurangi pemakaian plastik.

Selanjutnya, para bruder mempraktekkan cara menanam sayur kepada siswa TK Pelita Hati. Para siswa terlihat antusias dalam memperhatikan cara-cara tersebut. Sehingga ketika diminta untuk mencoba menanam sayur, mereka secara spontan mengangkat tangan.

Dukungan dan apresiasi atas kegiatan ini datang dari Ibu Naomi. Orang tua murid ini mengungkapkan dukungan positif terhadap kunjungan yang dilakukan oleh TK Pelita Hati sebab mereka selaku orang tua juga belajar banyak hal seperti memanfaatkan kantong minyak goreng untuk wadah menanam atau memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam sayur organik.

“Semoga apa yang hari ini mereka pelajari yakni ajakan untuk mencintai lingkungan, membuang sampah pada tempatnya dan cara bercocok tanam bisa mereka terapkan mulai dari rumah, di sekolah, atau dimanapun. Semoga juga anak-anak kami bisa menjadi berkat bagi orang lain,”harapnya.

Pricilia Grasela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak