Mon. Sep 21st, 2020

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Mgr. Agustinus Agus: Setiap Peristiwa ada Cerita, dari Cerita itu saya Bersaksi

Hal itu Mgr. Agustinus Agus ungkapkan dalam pesta perayaan tahbisan Episkopat 20 di Paroki Gereja Santo Fransiskus Assisi Singkawang, Jalan P, DIpenogoro No. 1, Pasiran, Singkawang Bar., Kota Singkawang, Kalimantan Barat 79123, (15/02/2020).

Acara dimulai mulai pukul 16.00 WIB dan dibuka dengan tarian pembukaan oleh OMK Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang.

Dalam acara penyambutan Mgr.Agustinus Agus didampingi langsung oleh Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang, P. Gatot, OFM.Cap, dihadiri oleh wali kota Singkawang dalam hal ini diwakili oleh Bpk. Libertus, M.Si ( staf ahli bidang hukum, politik dan pemerintahan) dan acara tersebut dihadiri ratusan umat bersama dengan Ketua DPRD Bengkayang, Bpk. Fransiskus, M.Pd, Bpk. Bong Cin Nen (Anggota DPRD Provinsi Kalbar Dapil Singkawang), dan Drs. Ahyadi, M.Si (Kominfo Singkawang ).

Kota Singkawang atau dalam bahasa Hakka – San Khew Jong adalah sebuah kota di Kalimantan Barat, Indonesia. Dimana kota ini terletak sekitar 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. 

Belum lama ini, tepatnya pada tanggal 6 Februari 2020, merupakan pesta tahbisan Episkopat Mgr.Agustinus Agus sekaligus launching buku kedua tentang rekam jejak pastoral Mgr.Agustinus Agus dengan Judul buku “Dengarkanlah Uskupmu.”

Dalam sambutan Mgr. Agustinus Agus, ia sedikit menceritakan cuplikan perjuangan dan tantangan pastoral yang ia hadapi dari kecil sampai menjadi Uskup Agung Pontianak.  “Memang dalam setiap peristiwa ada cerita, dan dari cerita itu saya bersaksi. Sewaktu saya masih pastor muda, setelah melesaikan sekolah di New York, saya ke Roma. Singkat cerita, saya bertemu dengan Paus Paulus II tahun 1985 berjabat tangan dan makan satu meja dengan beliau,” ujarnya, (15/02/2020).

“Tugas saya adalah menggembalakan umat dan umat yang saya gembalakan bukan hanya dari katolik saja, sebab sebagai tokoh tentunya saya harus memberikan contoh untuk setiap masyarakat yang saya temui,” ujarnya.

“Semua hal yang sudah saya lalui adalah karena adanya campur tangan Tuhan dan kebaikan Tuhan. Saya dari kampung menjadi Uskup Agung bukanlah perjalanan yang singkat dan itu merupakan sebuah momen yang saya pikir sudah Tuhan rencanakan,” tandasnya.

“Tuhan itu baik bah, dari pertemuan- pertemuan saya dengan Paus Yohanes Paulus II, Paus  Benediktus ke XVI dan Paus Fransiskus, saya merasa itu salah satu jalan yang menguatkan panggilan saya sebagai gembala. Sebagaimana Yesus datang ke dunia sebagai Tuhan, guru dan gembala, maka saya sebagai pengikutnya harus meneladaninya,” katanya.

Wakil ketua Panitia Bpk.Ambrosius Kingking, SH, mengucapkan banyak terima kasih kepada Mgr. Agustinus Agus sebagai uskup Agung Pontianak, karena sudah memilih tempat Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang menjadi tempat perayaan ulang tahun Episkopat 20 bersama umat.

“Dalam acara ini kami tampilkan seni budaya sebagai hiburan, laopran pembiayaan berasal dari Paroki, umat dan donatur. Terima kasih juga kepada Mgr. Agustinus Agus yang telah mempercayakan kami menjadi Tuan Rumah perayaan ulang tahun Episkopat yang ke-20,” ujarnya, (15/02/2020).

“Selamat pesta Mgr. Agustinus Agus atas ulang tahun tahbisan Episkopat yang ke 20. Terima kasih banyak untuk teladan dan semangat pelayanan yang luar biasa. Terima kasih atas motivasinya kepada umat, dengan teladan itu telah membangkitkan semangat umat  Keberagaman di paroki Singkawang,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama itu, Sambutan Perwakilan dari Walikota Singkawang dalam hal ini diwakili oleh Bpk. Libertus, M.Si ( staf ahli bidang hukum, politik dan pemerintahan) mengatakan;

 “Setiap orang berhak untuk menjalankan kewajiban Agama, dan pemerintah berkewajiban dan tugas pemerintah untuk membimbing dan merukunkan umat beragama ditengah masyarakat,” ujarnya.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri,  pihak pemerintah juga dalam menjalankan tugas membutuhkan kerjasama antara masyarakat dan umat beragama. Pancasila menjadi harga mati, sebab itu terlahir dari perjuangan yang berat dan penuh dengan perjuangan darah. Maka dari itu mari kita sama-sama bersatu untuk menjaga keindahan keberagaman dalam hidup bermasyarakat dan hidup beragama. Sebab agama yang paling penting adalah harus mengedepankan konteks moral,” tandasnya. – Semz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak