Mon. Sep 21st, 2020

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Imam-Imam Diosesan live in di Paroki Pemangkat, Sekaligus Rayakan 110 Tahun Hadirnya Gereja Katolik di Dusun Pelanjau

“Gembala Berbau Domba” demikian tema live in yang berlangsung dari tanggal 10-13 Maret 2020 dan diikuti 14 orang imam, dan 2 orang frater. Kegiatan live in diawali dengan misa pembukaan bersama umat paroki Santo Yosep Pemangkat, sore hari, tanggal 9 Maret 2020. Misa dipimpin oleh Uskup Agustinus Agus.

Usai misa, para imam diosesan mengadakan pertemuan singkat membicarakan kesiapan untuk kegiatan live in besok harinya, tanggal 10 Maret 2020. Para imam diosesan disebar di 9 stasi yang ada di Paroki Santo Yosep Pemangkat selama kurang lebih 3 hari 3 malam. (stasi = istilah kewilayahan dalam Gereja Katolik yang berada dalam Paroki)

Stasi Pelanjau, satu dari Sembilan stasi yang ada di Paroki Santo Yosep Pemangkat, merupakan stasi yang akan menjadi perhatian khusus pada kegiatan live in kali ini. Pasalnya, selain karena Uskup Agustinus Agus, didampingi RD. Alexander Mardalis (Pastor Kepala Paroki Santo Yosep Pemangkat), dan RD. Fransiskus Apololinus (Pastor Rekan Paroki Santo Pius X Bengkayang), selama kegiatan live in, akan tinggal di rumah umat dan bergaul dengan umat di stasi ini, juga karena stasi/dusun Pelanjau yang  terletak di desa Bukit Sigoler, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas ini merupakan daerah misi pertama di Pemangkat yang dikunjungi  misionaris.

Pada tanggal 22 Desember 1879, Pater W.J. Stall, SJ sebagai Pastor Paroki Singkawang telah lama menjajaki Pemangkat sebagai daerah misi dan telah membaptis empat orang umat perdana di Pemangkat. Karena kevakuman tenaga misionaris dari tahun 1896 – 1905, maka tahun 1905 Prefektur Apostolik Borneo resmi berdiri. Sri Paus menyerahkan seluruh pulau Borneo sebagai daerah misi kepada Ordo Kapusin.

Pada tahun 1906, Pemangkat kembali dikunjungi oleh Pastor Beatus, OFMCap dari Singkawang. Kunjungan pertama kali di Pelanjau, tanggal 10 Oktober 1908, oleh Pastor Paroki Pemangkat, Pater Marcellus, OFMCap. Dan pada tahun 1910, dusun Pelanjau dijadikan sebagai stasi dengan ditandai adanya pembangunan sekolah, gereja, dan pastoran. Kemudian Pastor Honoratus, OFMCap sebagai misionaris tinggal menetap dan melayani umat di Pelanjau mulai tahun 1913.

Pada waktu wabah cacar yang menimbulkan banyak korban termasuk Pastor Honoratus, OFMCap. Beliau meninggal, pada hari Minggu 1 September 1918. Tahun 1920, sekolah di Pelanjau ditutup, dan paroki kembali ke Pemangkat.

Inilah yang menguatkan mengapa kegiatan live in para imam diosesan Keuskupan Agung Pontianak tahun 2020 ini puncak acaranya dipusatkan dusun Pelanjau, yaitu sekaligus untuk merayakan 110 tahun hadirnya Gereja Katolik oleh para misionaris di dusun Pelanjau.

Umat Sambut Kehadiran Gembala

Tanggal 10 Maret 2020, pukul 14.30, umat stasi Pelanjau sudah memenuhi kiri-kanan jalan yang berada didekat rumah adat dusun Pelanjau. Barisan umat ini, rupanya menanti kedatangan Uskup Agustinus Agus di dusun mereka.

Penyambutan ini menjadi pertanda bahwa kehadiran Uskup Agustinus Agus dan juga peserta live in di Stasi Pelanjau tidak hanya menjadi tamu umat Katolik di Dusun Pelanjau tetapi juga tamu masyarakat desa Bukit Sigoler.

Tepat pukul 15.00, rombongan Uskup Agustinus Agus tiba di dusun Pelanjau, dan langsung disambut dengan tarian adat setempat. Kemudian Uskup berkenan pula menyalami umat yang memang sudah rindu akan kehadiran sang gembala mereka.

Prosesi penyambutan berangsung hingga pukul 16.30. Sebelum beristirahat, Uskup mengajak umat bersama-sama menyanyikan lagu ”Betapa Hatiku Berterima Kasih Tuhan”.

Selanjutnya, Tim Musik dari Komsos Keuskupan Agung Pontianak mengambil alih acara untuk hiburan rakyat hingga malam hari. Sementara untuk para imam diosesan yang live in di stasi lain, juga disambut dengan sangat antusias oleh umat setempat.

Live-In: Menemukan Benih-Benih Sabda di Tengah Umat

Setelah upacara penyambutan dan penerimaan resmi, peserta diantar menuju tempat live in dan tinggal bersama umat yang tersebar di  9 stasi. Perjalanan menuju stasi-stasi live in ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kondisi jalan yang masih belum diaspal, berlobang, dan bahkan harus menyeberangi sungai, tak menyurut niat para imam-imam diosesan melakukan kegiatan live in bersama umat di kampung-kampung.

Sinyal HP tidak terdeteksi begitu baik, listrik juga tidak maksimal, terkadang juga harus menggunakan mesin ganzet yang setiap beberapa jam harus dicek bahan bakarnya. Setiap peserta mendiami salah satu rumah umat yang telah dipersiapkan dan ditunjuk oleh panitia.

Maksud dari penempatan peserta tinggal di rumah-rumah umat tidak lain agar peserta dapat menggali secara mendalam bagaimana iman kristiani berkembang berdasarkan kehidupan keseharian umat yang berlatar belakang budaya  setempat, sekaligus supaya para imam dapat berinteraksi dengan masyarakat yang berada di sekitarnya.

Selain itu, melalui kegiatan ini umat juga diharapkan untuk semakin mengenal dan memahami situasi kehidupan para imam dengan segala kesulitan, kegembiraan dan tantangannya setiap hari.

Kegiatan para imam diosesan selama di stasi-stasi, antara lain mengadakan misa, memberikan katekese untuk orang dewasa, orang muda, remaja dan anak-anak. Diberi kesempatan juga untuk ibadat tobat dan pengakuan dosa.

Puncak Kegiatan live in

Tanggal 12 Maret 2020 (sore hari) peserta live in dan umat mengikuti prosesi pemberkatan lokasi perencanaan pembangunan patung misionaris (Pater Honoratus OFMCap) oleh Uskup Agustinus Agus di lokasi taman rekreasi yang terdapat di dusun Pelanjau. Perencanaan pendirian patung ini dibuat untuk mengenang misionaris pertama (Pastor Honoratus OFMCap) yang telah meletakkan dasar iman Katolik di dusun Pelanjau, 110 tahun yang silam. Pendirian patung misionaris ini juga sebagai penanda tonggak sejarah berdirinya Gereja Katolik di dusun Pelanjau – Pemangkat.

Usai itu, diadakan penanaman pohon bersama di lokasi gereja, sekolah dan pastoran pertama yang didirikan oleh misionaris. Letak lokasi di seberang sungai yang tidak terlalu jauh dari lokasi rencana pendirian patung misionaris. Kurang lebih 10 menit jarak tempuhnya jika menggunakan long boat (perahu panjang bermotor yang muat cukup banyak penumpang). Lahannya sangat luas, sekitar 16 hektar. Hanya saja belum dimaksimalkan kegunaannya. Oleh itu, Uskup Agus memulai mengajak umat untuk menanam tanaman buah-buahan alsi kampung, seperti : langsat, durian, dll. di lokasi tersebut.

Malam terakhir (tanggal 12 Maret 2020) diadakan hiburan rakyat bersama. Semua peserta live in ditambah perwakilan Bapakat (Bapak-Bapak Katolik) dari 9 stasi berkumpul di stasi Pelanjau. Dalam kesempatan ini, para imam diosesan, Bapakat, Sekami, WKRI, dan OMK menunjukkan kebolehannya dalam bernyanyi, bahkan Mgr. Agustinus Agus pun ikut menyanyikan beberapa lagu. Suasana sangat menghibur dan menyenangkan bagi umat yang selama ini mungkin jarang sekali bisa bersama gembala mereka dikarenakan minimnya tenaga imam.

Tanggal 13 Maret 2020 (pagi hari), sebagai hari puncak kegiatan live in para imam diosesan Keuskupan Agung Pontianak, dan juga puncak perayaan syukur 110 tahun kehadiran Gereja Katolik di dusun Pelanjau, ditutup dengan misa syukur yang dipimpin Uskup Agustinus Agus. Hadir pula dalam misa ini, dua orang imam kapusin, yaitu : Pastor Yordanus Hermanus Ahie, OFM Cap dan Pastor Tadeus Asai, OFMCap.

Akhirnya, setelah seluruh acara selesai para peserta kembali melanjutkan perjalanan ke tempat tugasnya masing-masing.

Terima kasih untuk seluruh bantuan dan partisipasi siapapun juga lewat caranya masing-masing menyukseskan perhelatan ini. Banyak pesan yang terungkap dari kegiatan ini. Para peserta pada umumnya merasa sangat puas karena sungguh mengalami perjumpaan dengan keseharian umat di kampunng-kampung yang sangat memperkaya tugas dan panggilannya sebagai imam. Sementara umat dan masyarakat di stasi-stasi yang dikunjungi para imam, khususnya juga stasi Pelanjau, merasakan kegembiraan yang luar biasa karena penghayatan iman dan budayanya mendapatkan apresiasi yang sungguh luar biasa dari peserta live in.

Berbagai macam pengalaman yang ditemukan peserta live in pada saat tinggal bersama umat semakin diperdalam dengan kegiatan kunjungan ke lokasi bersejarah tempat berdirinya gereja, sekolah, pastoran yang didirikan oleh misionaris pertama, Pastor Honoratus OFMCap, tahun 1910 (110 tahun yang silam) yang terletak di dusun Pelanjau.

Satu pelajaran berharga yang diperoleh dari live in ini, ada begitu banyak hal menyangkut persoalan umat yang masih harus dimaknai oleh Gereja agar iman Kristiani semakin mengakar di Keuskupan Agung Pontianak.

Sampai jumpa pada kegiatan live in imam-imam diosesan Keuskupan Agung Pontianak tahun 2021.

PM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak