Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Hadapi Krisis Panggilan Membiara, 29 Tarekat Religius Adakan Seminar “Tantangan Religius di Era Milenial”

“Apakah panggilan hidup bakti dengan menjadi imam, bruder dan suster zaman now masih “laku” di mana komposisi umatnya sebagian besar berasal dari kalangan anak-anak muda kategori Generasi Millenial?

Pertanyaan ini menjadi bahan diskusi dalam rekoleksi kaum religius lintas tarekat di Keuskupan Agung Pontianak pada hari Sabtu, 11 Mei 2019.

Rekoleksi setengah hari ini merupakan salah satu dari ragam rangkaian kegiatan Expo Panggilan dalam rangka menyambut hari Minggu Panggilan sedunia ke-56  di Paroki St. Yosef Katedral Pontianak yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 10-12 Mei 2019.

Menyikapi fenomena menurunnya jumlah panggilan hidup membiara secara global di Indonesia, khususnya di Keuskupan Agung Pontianak yang cukup signifikan saat ini, maka Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK), sebuah forum persaudaraan komunikasi antar kaum religius di Kalbar memiliki inisiatif mengundang narasumber yakni Romo Mateus Mali, CSsR untuk memberikan rekoleksi dengan mengusung tema “Tantangan Religius di Era Milenial”.

Inilah salah satu metode dan terobosan yang terus-menerus dilakukan agar pesona hidup membiara tetap eksis dan menarik bagi generasi milenial. Bagaimana menemukan ‘strategi’ jitu guna membetot atensi generasi zaman now ini agar satu-dua di antara mereka mengikuti ‘jejak’ menjadi pewarta iman sebagai imam, bruder, dan suster.

Dalam bahasan materinya, Imam anggota Kongregasi Imam-imam Sang Penebus yang akrab disapa Romo Mali ini memberi pandangan bahwa tantangan hidup membiara di era milenial ini cukup besar. Terutama ketika berhadapan dengan generasi yang lahir di era tercanggih teknologi dan internet yang semakin masif di mana kaum milenial ini mengganggap bahwa smartphone adalah denyut nadi mereka.

“Kaum milenial ini mulai menggandrungi dunia virtual sebagai sarana berjejaring mereka untuk mengaktualisasikan diri agar diakui,”ungkapnya.

Oleh karena itu berhadapan dengan situasi disaster yang mulai merobek jati diri kaum milenial ini, Imam yang juga seorang Dosen ahli teologi moral di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lalu memaparkan beberapa contoh perilaku dan pola pikir kaum milenial yang merupakan target pasar kaum berjubah ini:

  • Yang cepat yang dipercaya
  • Yang menarik yang diminati
  • Yang eksis yang berpeluang
  • Yang dekat yang diikuti
  • Yang sensasional yang disimak
  • Yang dilarang yang dicari

“Jika ingin tarekat  kita menjadi tarekat yang dipercaya, diminati, diikuti, disimak dan yang dicari oleh kaum milenial, maka kita harus berani juga merombak pola pikir kita yang nyaman/aman dengan pola pikir zaman dulu dan mulai terbuka akan perubahan sesuai kebutuhan zaman, namun tidak lari dari identitas atau semangat tarekat masing-masing,”ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Romo Ellenterius Bon SVD bahwa untuk menjaga nila-nilai luhur yang menjadi kekayaan setiap tarekat agar eksistensinya tetap terpelihara. Maka setiap anggota tarekat berusaha untuk memberikan kesaksian hidup yang baik.

“Setiap tarekat pasti memiliki Mutiara indah. Dan setiap orang yang ingin masuk kongregasi itu pasti ingin mendapatkan Mutiara tersebut. Oleh karena itu mutiara itu harus tetap jernih, tetap terawat agar tidak tergerus oleh arus zaman yang akan menghancurkan identitasnya,”ungkap Romo Ellen.

Dukungan senafas juga disampaikan oleh Vikjen Keuskupan Agung Pontianak, Romo William Chang OFMCap. Imam ordo Kapusin ini mengatakan bahwa sebagai religius yang memiliki kekhasan, kelebihan masing-masing kita mencoba menarik nilai-nilai apa yang perlu ditanamkan untuk menyikapi era milenial ini. “Selain itu perlu juga mengambil sikap bijak dalam menyikapi arus zaman yang bakal menghanyutkan identitas kita sebagai orang-orang yang terpanggil,”ungkapnya.

Sebelum mengakhiri kegiatan rekoleksi ini ketua FKRK, Bruder Rafael MTB dalam sambutannya menyampaikan pesan yang menjadi inti dari seluruh kegiatan Exspo Panggilan ini bahwa meskipun menjadi religius di era milenial, namun kita tetap memiliki kualitas hidup yang baik.

“Hari Minggu Panggilan yang kita rayakan saat ini, bukan hanya sebagai ajang untuk menjaring calon, namun juga sebagai bahan refleksi yakni bagaimana kita memelihara panggilan kita masing-masing,”ungkapnya sekaligus menutup seluruh rangkaian kegiatan rekoleksi.

By. Sr. Maria Seba SFIC