Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Perayaan 70 Tahun Misi Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) di Keuskupan Ketapang

Bertempat di Kapel Biara Induk Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) berlangsung perayaan Ekaristi untuk mengenang kiprah perjalanan Karya Misi OSA di Indonesia yang ke-70 tahun.

Perayaan Ekaristi meriah bersama ratusan peserta parade keliling ini berlangsung sederhana, namun tetap saja meriah. Murid-murid sekolah asuhan para suster OSA mengisi program liturgi sebagai anggota koor.

Pastor  Jose Seidel OSA dari Filipina yang sebentar lagi akan berkarya sebagai Pastor Rekan di Paroki Sukadana –setelah serah terima dari Kongregasi Imam Passionis—memimpin Perayaan Ekaristi ini bersama tiga imam Ordo OSA lainnya yaitu Pastor Viktor Fernandes Gonzaga OSA, Pastor John Richard Yempormase OSA, dan Pastor Jan Pieter Fatem OSA.

Sesuai tema besar perayaan 70 tahun Karya Misi OSA di Indonesia yakni “Duc in Altum”, Pastor Jose menyitir spirit para perintis misi OSA ke Indonesia yang dia sebut sebagai tindakan berani yang penuh risiko. “Namun toh, mereka itu berani ambil risiko dengan tetap bersemangat pergi ke Indonesia,” papar pastor.

Perayaan syukur dalam rangka mengenang 70 Th Misi Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) ini diawali dengan Parade Doa Rosario keliling kota pada Jumat tanggal 9 Agustus 2019. Keramaian mengisi setiap sudut halaman Augustinian Spiritual Center (ASC). Di halaman samping persis di depan pintu ASC sudah berkerumun ratusan orang.

Puluhan suster OSA, tua-muda, mengisi sayap kiri persis di depan Gua Maria. Sementar, ratusan murid SMP Santo Augustinus Ketapang plus ratusan murid lainnya dari SMA-SMK St. Petrus Ketapang memenuhi semua sudut di sayap kanan. Rimbunan pohon beringin menjadi  naungan istimewa bagi kerumunan orang yang tidak ingin kejatuhan terik panas matahari.

Di ujung depan tengah, sebuah mobil pick-up sudah parker mengisi ruang utama yang menjadi akses utama menuju halaman depan Gua Maria. Di bagian belakang minivan ini bertengger dua patung yakni Bunda Maria dan Santo Augustinus.

Kedua patung ini akan diarak dalam sebuah kegiatan parade keliling kota  Ketapang. Sembari berparade, semua rombonga peserta sudah membawa bersama mereka untaian tasbih untuk mendaraskan Doa Rosario.

Parade itu sendiri berupa kegiatan jalan kaki melintasi beberapa sudut kota –sejauh sekitaran 1,5 km—sembari berdoa Rosario di bawah tatapan banyak orang.

Para murid sekolah asuhan para suster OSA plus puluhan suster biarawati OSA bergabung dalam barisan parade doa Rosario ini. Juga para imam OSA yang datang secara khusus dari Cebu, Filipina.

Suster Dionne Appelman (79) yang pernah berkarya di Ketapang kurun waktu tahun 1979-2003 menyediakan diri datang dari Nederland bersama Myriam untuk mengikuti prosesi ini. Juga ikut hadir dan bergabung dalam barisan adalah Pastor Jan Pieter Fatem OSA –Pemimpin Ordo Imam OSA Indonesia—yang berbasis di Sorong, Papua Barat.

Lalu mengapa parade keliling kota sembari berdoa Rosario di tengah tempaan terik matahari itu tetap dilakukan?

Tiada lain untuk mengenang spirit kelima suster misionaris OSA yang di akhir tahun 1949 memulai karya monumental mereka di Ketapang. Ke-5 suster perintis karya misi OSA di Indonesia –tepatnya di Ketapang—ini adalah Sr. Euphrasia Laan OSA, Sr.Mathea Bakker OSA, Sr. Maria Paolo Admiraal OSA, Sr. Prudentia OSA, dan Sr. Desideria OSA.

Kelima suster muda OSA itu dengan antusiasme tinggi rela meninggalkan Nederland untuk pergi ke “Tanah Misi” yakni Nederland-Indië yang waktu itu sungguh tak mereka pahami apa dan bagaimana “wajah” Indonesia dan terutama Ketapang.

Mereka sungguh sadar diri dan tahu, sekali berangkat ke Tanah Misi maka kemungkinan besar mereka takkan bisa kembali lagi pulang “mudik” ke Nederland. Entah karena sakit terkena virus penyakit khas wilayah tropis –malaria dan typhus—atau mengalami kecelakaan atau masalah lain.

Tapi ya itulah cinta besar kepada Gereja melalui Kongregasi OSA dan semangat muda ingin menjadi misionaris  yang akhirnya membawa mereka datang tiba di Ketapang di akhir tahun 1949.

Mereka datang dengan bekal “berkat” Allah, demikian pernyataan Sr. Euphrasia Laan OSA dalam sebuah wawancara di Negeri Belanda tahun 2005 silam.

Kelima suster perintis karya misi Kongregasi OSA ke Indonesia ini sudah lama meninggal dunia. Kisah-kisah heroik mereka dan utamanya spirit mereka untuk berkarya dengan semangat “tahan banting” itulah yang di hari Jumat yang sangat panas itu ingin diperingati kembali.

Kali ini, para suster OSA generasi zaman now, umat Katolik Ketapang dan ratusan murid sekolah menengah didikan para suster OSA merayakannya dengan parade berkeliling kota sembari berdoa Rosario. Sungguh, terik panas matahari yang membakar kulit  tak jadi halangan. Utamanya, ketika para suster OSA zaman now ini ingin mengenang karya besar yang telah dirintis oleh kelima suster misionaris OSA di Ketapang.

By. Sr. Maria Seba SFIC

Artikel diolah kembali dari www.sesawinet.net