Thu. Sep 19th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Renungan / Evangelium

HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH

(Bil. 6: 22-27; Maz 67: 2-3,5,6,8; Gal. 4: 4-7; Luk 2: 16-21)
1 Januari 2019

THEOTOKOS

Fr. Antonius Bulau, CP *)

Selalu ada kegembiraan, kebahagian dan sukacita di setiap kali kita mengakhiri sesuatu yang lama dan memulai yang baru. Begitu pula ketika menyambut tahun baru, setiap wajah melukiskan kegembiraan.

Ungkapan kegembiraan itu bisa bermacam-macam. Ada yang hanya sekedar berkumpul dengan keluarga, ada yang dengan berpesta, ada yang dengan berdoa bersama, dan ada pula yang dengan menyaksikan keindahan kembang api tahun baru.

Di setiap kali memulai tahun baru setiap orang seakan-akan melupakan adanya persoalan-persoalan yang mungkin akan dihadapi. Di tahun yang baru hanya ada harapan dan rasa optimis yang memenuhi hati setiap orang.

Bertepatan dengan setiap kali awal tahun, umat Katolik merayakan hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Kiranya iman akan Maria sebagai Bunda Allah juga memiliki persoalan-peroalan, namun umat Katolik tetap menaruh harapan pada perayaan iman ini.

Sejak awal kelahiran Sang Penyelamat, yaitu Yesus Kristus dari atau melalui perawan Maria, telah melahirkan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu ialah mengenai gelar yang sesuai dan pantas untuk dikenakan kepada Bunda Maria ibu-Nya. Misalnya saja permasalahan mengenai gelar Theotokos atau Bunda Allah.

Gelar ini adalah gelar yang dibenarkan Konsili Ekumenis-Efesus untuk menegaskan ajaran Gereja, bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah. Sebutan inilah yang ditentang oleh Uskup Agung Nestorius, yang mengatakan bahwa Maria hanya boleh disebut bunda manusia Yesus.

Dengan kata lain Maria hanya boleh diberi gelar Kristotokos yaitu gelar bunda manusia Yesus. Dengan demikian menurut Nestorius Maria hanya melahirkan kemanusiaan Yesus dan bukan ke-Allah-an Yesus. Ke-Allah-an Yesus hanya ditempelkan pada kemanusiaan Yesus yang dilahirkan oleh Maria. Berbeda dari Nestorius, para pengikutnya yang lebih dikenal dengan Nestorianisme berpendapat bahwa gelar Antropotokos adalah gelar yang pantas untuk Bunda Maria.

Konsep Theotokos dalam Konsili Efesus telah memperlihatkan problematika teologis mengenai Mariologi sekaligus juga memperlihatkan permasalahan Kristologi. Para Bapa konsili secara tegas mengatakan bahwa Maria adalah Theotokos. Ini bukan berarti bahwa hanya keilahian Yesus yang ditekankan tetapi juga kemanusiaan-Nya yang bersatu dalam diri Yesus Kristus, sehingga hanya ada satu Yesus Kristus yang adalah Putra Allah.

Hal ini dapat dipahami dan terjadi karena Sabda yang adalah Tuhan, telah berinkarnasi dalam daging sejak dikandung oleh Bunda Maria, yang kemudian lahir menurut daging serta menerima kelahiran menurut daging pula.

Bunda Maria tidak dikatakan sebagai Theotokos dan sekaligus Kristotokos, meskipun kemanusiaan Yesus yang dilahirkan oleh Maria tidak disangkal. Ini dilakukan untuk menghindari dualisme dalam diri Maria, karena sebenarnya dengan menyebut Maria sebagi Theotokos secara kesatuan juga mengarahkannya sebagi Kristotokos.

 Terlepas dari perdebatan para bapa konsili, Alkitab sendiri telah membri kesaksian bahwa Maria adalah wanita yang pantas dihormati. Problem mengenai gelar yang sesuai dan pantas untuk dikenakan kepada Bunda Maria sebagi bentuk penghormatan padanya memang akan selalu ada.

Oleh karena itu, menjadi tugas kita untuk melihat kebenaran dibalik gelar-gelar yang diberikan kepada Bunda Maria.

*) Penulis adalah Frater tingkat II Kongregasi Pasionis 

 

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

(Yes. 60: 1-6; Mzm. 72: 1-2.7-8.10-11.12-13; Ef. 3: 2-3a.5-6; Mat. 2: 1-12)
6 Januari 2019

RESPON TERHADAP KELAHIRAN KRISTUS

Fr. Awan Botan *)

Kita baru saja merayakan hari raya natal. Apa yang kita rasakan? Ketika mendengar kata natal, reaksi apa yang langsung muncul dalam diri kita? Tentu beragam.

Dalam injil yang kita dengar hari ini, ada dua respon yang muncul ketika natal (Kristus lahir). Respon ini diwakili oleh dua karakter manusia. Herodes dan para majus dari timur.

Herodes Agung terkejut ketika mendengar bahwa raja orang Yahudi telah lahir. Ia terkejut karena orang yang ia anggap mengancam tahtanya telah lahir. Karena itu ia memanggil imam kepala dan ahli taurat Bangsa Yahudi untuk mencari informasi kemudian ia berbohong kepada orang majus dengan berpura-pura ingin menyembah sang raja tetapi sesungguhnya ia ingin membunuh.

Respon Herodes terhadap natal mengingatkan kita bahwa ternyata ada orang yang tidak sungguh-sungguh menerima kelahiran Kristus. Dan ia tidak menerima setiap orang yang Tuhan pakai untuk mengarahkan dia pada Kristus.

Orang-orang masa kini juga ada yang memiliki semangat seperti Herodes. Tak sedikit orang ingin mengatur hidupnya sesuai dengan yang ia mau, menolak kebenaran yang Kristus tawarkan. Bahkan berpura-pura ingin menyembah Kristus namun memiliki maksud jahat.

Para majus dari timur katika mendengar kelahiran Kristus pergi lalu mencari bayi Yesus. Dikisahkan bahwa mereka menemukan Kristus dengan tuntunan bintang. Dan ketika telah menemukan Kristus mereka menyembah dan memberikan persembahan.

Respon yang diberikan para majus menunjukkan bahwa ada orang yang menyambut natal dengan sukacita. Menjalankan apa saja yang baik sesuai tuntunan Allah supaya dapat sampai pada Kristus. Para majus mencari Kristus yang lahir.

Para saudaraku yang terkasih dalam Kristus. Kita tidak memiliki kerajaan untuk diatur sebagaimana Herodes. Namun kita memiliki hati untuk diatur.

Mari kita mengatur hati kita agar tidak bersikap seperti Herodes yang hidup dalam situasi berpura-pura hanya demi memenuhi hasrat pribadi yang tidak baik.

Mari kita merespon kelahiran Kristus dengan hidup secara pantas. Bersukacitalah dan datanglah kepada Kristus. Berikan hidup yang baik sebagai persembahan yang paling indah untuk Kristus.

Semoga Penampakan Tuhan yang kita rayakan hari ini memberikan semangat untuk kita agar orientasi hidup kita hanya bermuara pada Kristus. Amin.

*) Penulis adalah Frater tingkat II Projo Keuskupan Sintang 

 

PESTA PEMBAPTISAN TUHAN

Yes 40:1-5.9-11; Tit 2:11-14; 3:4-7; Luk 3:15-16.21-22

13 Januari 2019

CINTA DAN KASIH ALLAH DALAM DIRI SANG PUTERA
Fr. Bernadimus Wiro, OFMCap *)

Hari ini gereja merayakan pesta pembaptisan Tuhan, sekaligus mengakhiri masa natal dan memulai masa biasa pada penanggalan liturgi. Umat beriman diajak untuk merenungkan karya kasih Allah dalam diri Yesus Kristus, Sang Mesias.

Bacaan-bacaan hari ini melukiskan kasih dan cinta Allah yang begitu mendalam bagi manusia. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Bahkan Ia pun tak henti-hentinya untuk selalu memberi penghiburan, sekalipun manusia kerapkali berbuat kesalahan. Ia tetap mengasihi manusia dan senantiasa menanti untuk kembali kepada-Nya melalui tobat.

Bapa-ibu, saudara/i yang dicintai Tuhan. Pembaptisan Tuhan yang kita rayakan hari ini merupakan puncak dari makna kelahiran Yesus di dunia. Yesus tidak hanya lahir tetapi juga menyamakan diri-Nya dengan manusia melalui pembaptisan Yohanes.

Pembaptisan yang diterima oleh Yesus mengawali pemberitaan warta keselamatan kepada umat manusia. Pembaptisan Yesus sangat berbeda dengan baptisan yang diberikan Yohanes kepada setiap orang yang ingin bertobat dan kembali kepada Allah. Perbedaan tersebut adalah tampak dari pernyataan Allah tentang Yesus sebagai “Putera yang dikasihi, Engkau berkenan dihati-Ku”.

Hal ini menandakan bahwa Allah yang begitu Ilahi mau hidup bersama dengan manusia dan menjadi bagian utuh dari manusia itu sendiri. Allah yang dirasa jauh, kini begitu dekat dengan manusia, bahkan menjadi manusia untuk solider dalam kemiskinan duniawi.

Yesus Kristus merupakan ungkapan konkrit cinta Allah kepada manusia. Cinta itu sendiri perlu pengorbanan dan pengorbanan Allah kepada manusia ialah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah-tengah manusia.

Nabi Yesaya menubuatkan akan Allah yang Ilahi menghibur umat-Nya. Dengan kekuatan dan tangan-Nya yang bekuasa menghimpun seluruh kawanan gembalaan-Nya.

Seluruh apa yang dikerjakan Allah terhadapat manusia tidak pernah lepas dari ketulusan-Nya untuk mengasihi dan mencintai seluruh umat manusia. Karena manusia merupakan ciptaan yang paling sempurna dari ciptaan-Nya yang lain. Maka manusia sendiri disadarkan untuk lebih mendekatkan diri dan setia dalam kasih kepada Allah yang Maharahim itu.

Bapa-ibu, saudara/i yang dicintai Tuhan. Ungkapan cinta dan kasih Allah sangat tegas dikatakan dalam bacaan kedua. Rasul Paulus menuliskan surat-nya kepada Titus hendak mengatakan bahwa rahmat Allah yang begitu besar mengajak umat-Nya untuk meneladani Sang Putera. Sang Putera, yakni Yesus Kristus mengajarkan cinta dan kasih dalam Roh Kudus tidak hanya melalui perkataan saja tetapi juga melalui perbuatan nyata. Hal ini bertujuan agar sebagai umat Allah manusia pada akhirnya diselamatkan.

Pada pesta pembaptisan Tuhan, kita kembali diajak untuk merefleksikan perjalanan hidup rohani kita. Pembaptisan yang telah kita terima dalam Gereja Katolik mengarahkan kita akan cinta kasih Allah yang mesti diwujudkan dalam perbuatan dan tindakan kita.

Inilah tanggapan kita atas kasih Allah itu bahwa umat beriman kristiani tidak hanya merasa cukup dengan menerima baptisan saja tetapi mesti mengikutsertakan apa yang telah diimani dengan tindakan dan perbuatan yang nyata. Surat Yakobus mengatakan “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati”.

Semoga permenungan kita atas pesta pembaptisan Tuhan menggerakkan hati dan budi untuk menjadi lebih baik dalam hidup di lingkungan masyarakat maupun dalam lingkungan keluarga kita.

Baptisan yang telah kita terima dan menjadikan kita anggota tubuh Kristus dalam Gereja-Nya tidak hanya sebagai ungkapan identitas diri saja tetapi menjadi ungkapan iman yang dapat dijadikan teladan oleh setiap orang yang kita jumpai dimanapun berada. Semoga demikian. Amin

*) Penulis adalah Frater tingkat II Ordo Kapusin Provinsi Pontianak

 

HARI MINGGU BIASA II

Yes. 62:1-5; Mzm. 96:1-2a. 2b-3. 7-8a. 9-10ac; 1 Kor. 12: 4-11; Yoh. 2: 1-11

20 Januari 2019

KECEWA MENJADI TAWA

Fr. Damaskus Damas, CP *)

“Perkawinan di Kana” demikianlah judul perikop Injil Yohanes 2: 1-11 ditulis. Membaca perikop injil ini, saya teringat akan pengalaman singkat yang hampir sama dengan kisah perkawinan di Kana.

Ceritanya demikian, saat itu kami mengadakan perayaan syukur natal bersama komunitas. Perayaan ini sudah kami persiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Petugas litugi, koor, akomodasi untuk beberapa undangan, tidak terkecuali makanan juga sudah sangat mantap kami persiapkan. Hari terus berganti, akhirnya sampailah pada perayaan tersebut.

Pada saat hendak memulai Perayaan Ekaristi salah satu teman bagian konsumsi terlihat mulai agak gelisah. Persoalannya, ia melihat mungkin akan terjadi kekurangan konsumsi. Ia mulai panik dan terus  mengkalkulasikan orang-orang yang datang dan konsumsi yang telah disiapkan. Sebab, sesaat Perayaan Ekaristi berlangsung ternyata masih ada orang yang datang.

Ringkas cerita, setelah selesai Perayaan Ekaristi dan dilanjutkan dengan ramah tamah bersama, dugaan sangat dimungkinkan terjadi. Kami mulai panik, tetapi sambil menampilkan wajah ramah seolah tidak terjadi apa-apa. Dalam keadaan demikian, bendahara cepat-cepat mengambil kendaraan dan bergegas membeli nasi di restoran luar. Ia pun kembali membawa nasi yang dibelinya dan ramah tamah pun terus berlanjut, seolah-olah tidak ada hal yang terjadi. Acara tetap dalam suasana gembira.

Dalam injil kita mendengar bagaimana peristiwa perkawinan di Kana hampir mengalami kekecewaan. Persoalanya, si tuan pesta kehabisan persediaan anggur. Dapat dibayangkan apa yang akan dialami jika hal tersebut tidak segera diatasi. Malu, itu pasti!!!!. Lantas, bagaimana solusinya???

Dalam peristiwa ini, Yesus hadir sebagai penyelamat. Kehadirannya sungguh membawa berkat bagi banyak orang. Meskipun di dalam injil masih diceritakan adanya dialog antara Yesus dan Maria soal waktu untuk Yesus melakukan mukjizat. Karya Yesus tetap tak dapat disangkal dan hal tersebut tergenapi pula dalam peristiwa di Kana.

Pesta perkawinan di Kana adalah gambaran perayaan hidup kita. Perayaan hidup yang penuh sukacita, kegembiraan dan sorak sorai mungkin saja selalu ingin kita tampilkan dan lakukan dalam hidup. Tetapi ingat pula, bahwa apa yang kita rencanakan dalam hidup, halnya tidak selamanya selaras dengan kenyataan yang terjadi.

Hal-hal sulit, derita atau kekurangan mungkin dan kapan pun bisa terjadi. Oleh karena itu, penyerahan diri kepada Yesus adalah hal yang mutlak. Tidak mungkin hal tersebut kita tinggalkan. Hanya Yesus yang mampu memenuhi kebutuhan hidup kita. Segalanya, dapat ditanggung di dalam Yesus. Yakin dan percaya. Ikuti perintahnya demikian Maria mengatakan kepada para pelayan (ay 5).

Penyerahan diri kepada Yesus dapat kita ikuti melalui teladan Bunda Maria. Cinta, perhatian dan kepekaannya saat persediaan anggur habis mengajarkan kita untuk mau peduli kepada sesama. Begitulah hati seorang ibu. Dalam kesulitan sesama, mungkin kita tidak dapat membantunya secara langsung, sebagaimana Yesus lakukan. Tetapi dengan teladan atau cara Bunda Maria kita dapat membantu sesama.

Di sinilah kita memaknai karunia-karunia yang telah kita terima dari Allah (1Kor. 12: 4-11). Dengan demikian kita akan disebut “yang berkenan kepada-Ku” (Yes. 62:4).

Akhirnya, apa yang hendak dikatakan dalam pesan bacaan Minggu ini ialah tugas hidup kita adalah berserah kepada Allah. Persoalan-persoalan hidup kita adalah milik kita dan bersama Allah kita mampu melewatinya. Pengalaman pernikahan di Kana mengajarkan bersama Yesus KECEWA dapat diubah menjadi TERTAWA (sukacita).

*) Penulis adalah Frater tingkat II Kongregasi Pasionis

 

HARI MINGGU BIASA III

Lukas 1:1-4; 4:14-21

27 Januari 2019

PEWARTAAN IMAN YANG MENEGUHKAN

Fr. Firminus, OFMCap *)

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi menjadikan hidup begitu kompleks. Sekarang ini kita di banjiri dengan berbagai informasi dari seluruh dunia lewat internet dan media sosial lainnya.

Banyak informasi baik menjadikan kita semakin kaya dan berguna bagi kehidupan dan kemajuan pengetahuan kita. Namun, jaringan internet dan alat komunikasi modern juga memberikan informasi yang tidak baik seperti menebarkan berita hoax.

Situasi yang terjadi pada zaman ini, sebenarnya sudah pernah terjadi pada zaman para Rasul dan Jemaat perdana. Banyak sekali berita-berita palsu tentang kesaksian iman yang menimbulkan kebinggungan kepada jemaat perdana terutama Teofilus.

Untuk itu, injil Lukas 1:1-4 berusaha meneguhkan iman Teofilus supaya tidak mempercayai kesaksian iman yang palsu dengan tidak diketahui latar belakang penulisan berita tentang beriman kepada Yesus. Maka santo Lukas mengumpulkan segala data, menyelidikitnya berita yang benar dengan saksama, kemudian membukukannya secara teratur bagi Teofilus agar dia dapat mengetahui bahawa “segala sesuatu yang diajarkan kepadanya sungguh benar”.

Buku ini menjadi seperti kontrol dari segala bertia yang diterima oleh Teofilus dan kita yang beriman kepada Yesus Kritus sekarang ini.

Setelah menunjukkan berita yang benar kepada Teofilus, lukas melanjutkannya dengan peristiwa kisah hidup Tuhan Yesus Kristus yang sedang kembali dari Yehuda dan berada di Galilea untuk mengajar.

Seluruh karya perutusan Tuhan Yesus adalah dorongan Roh Kudus. Karena Yesus memang penuh dengan Roh Kudus. Karya yang di dasari oleh Roh Kudus merupakan karya pewartaan yang bertujuan untuk menyelamatkan semua orang yang tersesat karena ketidaktahuan akan kebohongan dari informasi yang salah.

Oleh sebab itu, tidak jarang bila karya seseorang yang bukan berasal dari dorongan Roh Kudus akan memgalami kegagalan serta tidak menghasilkan buah apa-apa darinya, tetapi malah petaka yang di perolehnya.

Peristiwa pengajaran Yesus di Galilea diawali-Nya dengan membacakan Alkitab di rumah ibadat, dia menemukan nas Yes 61:1-2a. Nas ini pada intinya berbicara tentang perutusan seorang nabi dalam perjanjian lama. Nabi itu mengatakan bahwa Roh Tuhan ada padanya.

Hal ini menegaskan kepada mereka bahwa Yesus datang berasal dari Roh Tuhan dan Tuhan sendiri tinggal dalam diri-Nya. Karena itu Yesus datang untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, tertindas, menyembukan orang sakit, membangkitkan orang mati dan membebaskan orang-orang tawanan.

Apa arti semuanya ini? Ini menyatakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang dan mereka tidak boleh lagi menderita serta tidak boleh lagi murung karena berita duka dari kekejaman hidup.

Ahkir dari peristiwa ini digambarkan bahwa Yesus menutupi Alkitab yang ia baca. Namun hal yang sedikit mencuri perhatian ialah semua mata jemaat tertuju kepada Yesus. semua orang seperti sudah menanti apa yang akan di sampaikan oleh Yesus. Yesus tidak mau mengecewakan harapan pendengar-Nya. Dengan tegas dan singkat Yesus lalu mengatakan bahwa bacaan yang barusan mereka dengar “mulai hari ini akan terpenuhi”.

Yesus menerima segala tugas yang dikatakan oleh para nabi itu tentang diri-Nya. Karena Dialah nabi yang sejati yang diutus oleh Tuhan kepada orang yang tertindas, miskin, tertawan dan buta. Dia diutus bukan hanya untuk menyampaikan berita pembebasan, malainkan pula untuk melaksanakanya.

Sabda Tuhan pada hari ini memberikan contoh bagimana kita menjadi pewarta iman yang meneguhkan iman orang lain dengan cara dan kesaksian kita beriman kepada Tuhan Yesus.

Injil ditulis untuk kita supaya kita menggenapkan apa tertulis. Setiap kali kita membaca atau mendengarkan injil, setiap kali pula kita ditantang untuk menerima, mengamini dan melaksanakan apa yang kita dengar. Hanya dengan demikan kita akan melihat bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi dahulu akan terus terjadi kembali.

Kitab suci adalah buku yang membangkitkan dan meneguhkan iman serta sekaligus mengundang tindakan. Sabda hari ini mengundang kita untuk mengambil bagian dalam suatu peristiwa keselamatan.

*) Penulis adalah Frater tingkat II Ordo Kapusin Provinsi Pontianak

 

HARI MINGGU BIASA IV

Yer 1:4-5.17-19; 1 Kor 12:31-13:4-13; Luk 4:21-30

3 Februari 2019

PASTI / BERHARAP?

Fr. Yakobus Joko, OFMCap *)

Banyak dari kita berpikir bahwa waktu kematian itu pasti, tetapi kita tidak sadar kematian itu sendiri yang pasti bukan waktunya. Waktu selalu bergantung kepada Dia yang menciptanya dan Dia yang merencanakannya.

Dalam hal ini, kita mesti berjaga dan waspada sebab memang waktunya Tuhan beda dengan waktu manusia. Nabi Yeremia melukiskan waktu Tuhan yang sudah dimulai sejak manusia diciptakan “Aku mengenal engkau sejak dari kandungan ibu mu”, dengan kata lain, Yeremia hendak menegaskan bahwa segala sesuatu adalah hasil dari rancangan Tuhan, dan manusia harus sadar tentang hal itu.

Lantas apa yang harus dilakukan manusia, apakah ia pasrah saja, sebab segala sesuatunya sudah diatur oleh Tuhan, termasuk hidup dan mati manusia? Kiranya pertanyaan ini dijawab oleh rasul Paulus kepada umat di Korintus.

Paulus menekankan bahwa seorang yang percaya kepada Tuhan yang adalah Yesus Kristus, hendaknya memiliki keutamaan teologal, keutamaan-keutamaan yang dicurahkan atau diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk dikembangkan, apa itu? Yakni Iman, Harap, dan Kasih.

Dengan memikiki keutamaan ini, orang kristen yang percaya, tidak hanya berharap, beriman, dan mengasihi sesama secara hampa, tetapi sungguh diwujudkan dalam hidup sehari-hari, tindakkan kongkrit, nyata.

Seperti nyata juga Yesus yang bangkit dalam sejarah manusi 2000 tahun yang lewat (dalam Injil). Oleh sebab itu, rasul Paulus mengibaratkan iman, harap, dan kasih itu harus nyata dengan tidak cemburu, tidak memegahkan diri (pongah), melakukan yang tidak sopan, dan mencari kepentingan sendiri sekaligus tidak pemarah.

Bagi Paulus kasih kepada Tuhan itu harus sanggup diwujudkan dalam kebenaran, sikap saling percaya, sabar, dan tak berkesudahan dalam mencintai sesama.

Dalam perwujudan kasih itu sendiri, Yesus sebenarnya sudah memulainya dalam misi pertamanya dengan mengunjungi kampung halaman-Nya Nazaret. Setelah melalui puasa empat puluh hari empat puluh malam dan dicobai oleh iblis di padang gurun, Ia dengan terbuka dan terus terang datang di tengah-tengah mereka (dunia), bukan semata-mata menampilkan siapa diri-Nya “Ia anak Yosef” tetapi sungguh menghadirkan Orang yang sudah lama dinubutakan atau yang ditunggu-tunggu oleh bangsa Israel sendiri yakni Mesias.

Namun masalahnya adalah status Yesus, yang kurang dianggap cocok dengan kriteria Mesias yang mereka idamkan dan bayangkan, yang lahir dari keluarga kaya atau dari keluarga kerajaan atau dia yang sanggup memimpin warga Israel untuk membangun dinasti baru di Yerusalem.

Konsep yang salah kaprah inilah yang melahirakn penolakan dalam diri orang-orang Israel kepada Yesus. Yesus hendak mereka permalukan atau binasakan. Meskipun pada saatnya, kesempatan itu mereka miliki yakni dengan menghukum dan menyalibkan Yesus, dengan tuduhan palsu, alasan politik, dan kekuasaan.

Kematian itu pasti, tetapi watunya tidak pasti. Dalam tatanan hidup, kita sering memiliki pengharapan yang salah yakni menginginkan yang buruk atau malapetaka terjadi kepada  orang lain, terutama mereka yang telah membuat kita sakit dan menderita.

Pengharapan ini negatif dan jauh dari sikap orang kristen. Pegharapan yang sebenarnya adalah pengharapan yang mendatangkan keselamatan, kebahagiaan, kesukaan dan suka cita bagai orang lain dan diri sendiri. Harapan itu jugalah yang diinginkan Yesus terjadi di kampung halaman-Nya, yakni kedatangan-Nya menghadirkan perdamian dan bukan permusuhan. Namun orang di sekeliningnya menolak perdamain itu sendiri.

Jadi apa sebenarnya yang hendak disampaikan kepada kita melalui bacaan minggu ini? Pertama, kita harus sadar bahwa hidup kita sungguh-sungguh bergantung kepada Tuhan (itu pasti). Apapun yang ada pada diri kita adalah semuanya titipan Tuhan, hanya saja Tuhan hendak memakai kita dengan segala yang ada, yang kita miliki untuk berbagi kasih kepada sesama manusia. Ingat bahwa Tuhan sudah menggenal kita sebelum dan sejak bumi diciptakan.

Kedua, jika memang kita percaya pada penyelengaraan Tuhan dalam kehidupan kita, maka mengapa kita harus bersikap curang, marah, dengki, iri hati dan menolak kebenaran, padalahal semuanya itu mendatangkan ketidakbahagiaan dalam hidup kita. Apa salahnya kita hidup baik, jujur, mengatakan yang sebenarnya dan bersikap ramah seorang kepada yang lain. Adakah hal itu membuat kita rugi? Sekali-kali tidak, sebab itulah penggilan kita sebagai orang kristen (itu pengharapan).

Memang benar itu tidak mudah, tetapi di sanalah kita memiliki pengharapan dan kesempatan untuk melatih diri untuk sabar menanggung segala sesuatu dan percaya segala sesuatu kepada kasih Tuhan.

Ketiga, pengalaman ditolak karena alasan status kita yang rendah dan tidak berpengaruh di tengah-tengah masyarakat, hendaknya menjadi batu loncatan untuk kita terus berkembang dan berjuang.

Yesus, seandainya Dia berhenti berkarya di tempat kelahiranya karena merasa ditolak dan dianggap gampangan oleh orang sekampung-Nya, maka warta kedamaian dan keselamatan tidak akan samapai pada kita saat ini.

Warta gembira terhenti di Nazaret. Tetapi Yesus yakin bahwa apa yang benar harus dikatakan dan yang salah ditolak. Ingat! manusia hanya dapat membunuh badan, namun tidak dapat membinasakan Roh.

Roh kebenaran datang dari Allah dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus, dan Roh yang sama telah dicurahkan kepada kita, sehingga kita sanggup berharap bahwa keselamatan akan datang dari Tuhan Yesus Kristus yang menjanjikan perdamian dan kebahagiaan itu sendiri. Inilah pengharapan yang pasti. Pace e Bene

*) Penulis adalah Frater tingkat II Ordo Kapusin Provinsi Pontianak

 

HARI MINGGU BIASA V

Yes 6: 1-2a.3-8; Mzm 138: 1-2a.2bc-3.4-5.7c-8; Luk 5:1-11
10 Februari 2019

KARYA TUHAN DALAM HIDUP MANUSIA

Fr. Anselmus Dodi, OFMCap *)

Seorang bapak hendak pergi ke sebuah sungai dekat kampungnya untuk mencari ikan. Seperti biasa ia memiliki harapan setelah mendapat beberapa ikan, ia segera pulang dan menjual ikan tersebut untuk membeli beras supaya dapat dimasak oleh isterinya.

Entah kenapa hari itu merupakan hari sial, kurang beruntung bagi dirinya karena usahanya untuk menangkap ikan selalu gagal dan ia tidak mendapatkan seekorpun ikan. Pada hari-hari sebelumnya ia biasanya mendapat banyak ikan di sungai tersebut. Tetapi ia merasa heran dan binggung, kali ini ia tidak bisa berhasil mendapatkan se-ekorpun ikan untuk ditangkap.

Bapak tersebut merasa takut untuk pulang ke rumah karena ia tahu bahwa istrinya akan marah besar kepadanya dan anaknya terancam tidak bisa makan pada hari itu. Ia berdoa dalam hatinya “ Tuhan tolonglah, berikanlah rejeki kepadaku dan kepada keluargaku; Tuhan berilah aku jalan supaya segera mendapatkan ikan”.

Bapak itu berniat memutuskan untuk tidak pulang, sebelum ia mendapatkan ikan hasil tangkapannya untuk kepentingan dan kebutuhan bagi istri dan anaknya.

Tiba-tiba terdengar gesekan kaki disela-sela dedaunan kering yang jatuh pada pepohonan disekitar tempat itu. Ia melihat seorang kakek tua sedang berjalan menyusurui tepi sungai dan memikul sebuah karung berwarna putih. Ia heran dan penasaran pada seorang kakek tua yang dilihatnya, terutama isi di dalam karung yang dibawanya. Ia pura-pura mengarahkan pandangannya ke arah sungai, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari kakek tua itu.

Namun, setelah perhatiannya fokus ke arah sungai, sosok seorang kakek tua itu menghilang dan tak tampak kelihatan lagi ditempat semula. Ia merasa takut karena kakek tua itu meninggalkan karung berwarna putih dekat sebatang pohon yang dibawanya tadi.

Ia memcoba mendekati barang bawaan kakek itu walaupun ada perasaan takut bercampur penasaran akan apa isi dalam karung tersebut. Ia memberanikan diri untuk membuka ikatan yang ada dimulut karung itu, dan ia terkejut ketika melihat di dalamnya yang berisi banyak ikan dan lebih lagi yang membuat ia hampir shok adalah ada secarik kertas yang berisi tulisan “hari ini adalah giliran kamu yang mendapat hadiah dari Tuhan”.

Saudara/I yang terkasih. Tuhan selalu berkarya dalam hidup manusia. Sekecil dan sebesar apapun rencana Tuhan untuk mencintai manusia, itu tak sanggup dipikirkan oleh siapapun. Tuhan memiliki cara tersendiri untuk membuat manusia bergembira dan bersukacita dalam hidup ini. Tuhan secara nyata hadir dalam hidup setiap orang dengan menyapa hati dan budi sekaligus mengajak semua orang melihat kemuliaan-Nya.

Pengalaman yang di alami Simon Petrus mengajak kita untuk merefleksikan sekaligus merenungkan tentang suatu pilihan yang kita ambil secara sadar.Yesus menawarkan dengan memberi suatu pilihan kepada Simon Petrus. Pilihan untuk berbahagia sesaat dan pilihan untuk berbahagia selamanya (hidup kekal) dengan mengikuti-Nya. Menjadi Penjala Ikan dan Penjala Manusia.

Saudara/I yang terkasih. Dalam Injil dikisahkan bahwa Simon Petrus dan nelayan lainnya sedang membereskan jalanya. Mereka dikenal sebagai nelayan-nelayan profesional ditempat itu, yang semalaman bekerja menjala ikan, tetapi tidak mendapatkan hasil.

Pada saat mereka hampir mau pulang dan di tengah kesibukan membereskan jala mereka, datanglah Yesus menghampiri mereka dan memberi harapan besar. Yesus menawarkan kepada Simon Petrus dan nelayan lainnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala mereka.

Bisa saja Simon Petrus memilih untuk tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus dan memilih pulang ke rumah. Namun, Petrus dan teman-temannya mau membuka hati dan budi mereka untuk mendengarkan kata-kata Yesus sehingga menerima undangan Yesus.

Setelah mereka menebarkan jala dan mengikuti arahan Yesus, hasilnya sungguh diluar dugaan, mereka mendapat banyak ikan bahkan jala mereka nyaris koyak.

Dialog Yesus dengan Simon Petrus menarik simpati orang-orang yang berada di sekitar tempat itu, tentang apa yang mereka alami dan rasakan hari ini.

Saudara/I yang terkasih. Sejauhmana rahmat Tuhan bekerja dalam diri kita saat ini? Kita perlu belajar untuk mengetahui rahmat Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup.

Pengalaman para murid dapat dijadikan contoh yang sangat baik untuk kita menyadari karya rahmat Tuhan di dalam hidup kita. Hendaknya kita juga membuka hati dan budi kita, bersikap rendah hati menerima orang lain. Dengan demikian maka rahmat Allah mempunyai ruang dan karya Allah bisa tersalurkan dalam diri kita serta memampukan kita untuk menjadi “penjala manusia”, dan tampil sebagai saksi-saksi Kristus yang setia. Amin

“Tuhan Memberkati Kita Semua”

*) Penulis adalah Frater tingkat II Ordo Kapusin Provinsi Pontianak

 

HARI MINGGU BIASA VI

Yer 17: 5-8; 1Kor 15: 12. 16-20; Luk 6: 17. 20-26
17 Februari 2019

JADI ORANG BAHAGIA

Fr. Athanasius Nandung, OFMCap *)

Saudara-saudari terkasih. Ada ungkapan begini, “Orang pintar, orang kaya, orang sukses itu banyak, tetapi orang bahagia itu sedikit”. Siapakah orang yang berbahagia itu?

Dalam Sabda Bahagia, Yesus memuji orang miskin. “Berbahagialah kamu, orang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Dalam Sabda Bahagia orang miskin dipuji oleh Yesus sendiri.

Dengan Sabda Bahagia ini Yesus tampak terang-terangan berpihak pada orang miskin. Kalau Yesus berpihak pada orang miskin, apakah Yesus tidak berpihak pada orang kaya dan anti kekayaan?

Saudara-saudari terkasih. Guna memahami Sabda Bahagia dari Yesus dalam bacaan Minggu ini, sekilas kita harus tahu sedikit tentang pandangan orang Yahudi semasa Yesus hidup mengenai kekayaan dan kemiskinan.

Menurut pandangan orang Yahudi, semua bentuk kemiskinan, penderitaan dan kemalangan dipandang sebagai hukuman dari Tuhan akibat dosa yang diperbuat. Adapun kekayaan dan kemakmuran dilihat sebagai berkat atas hidup yang suci dan takwa.

Oleh karena itu pada saat itu orang miskin dipandang rendah, hina, terkutuk dan dalam masyarakat mereka tidak berhak berbicara. Sedangkan orang kaya dihormati, sanjung-sanjung dan dalam masyarakat diberi hak untuk tampil di depan dan berbicara.

Saudara-saudari terkasih. Melalui Sabda Bahagia itu Yesus melawan pandangan yang umum tersebut. Menurut Yesus yang membuat manusia bahagia dan mulia bukan barang duniawi, melainkan hubungan yang baik dengan Allah dan selalu mencari kehendak Allah. Orang yang bahagia adalah mereka yang bersandar pada Tuhan, menaruh kepercayaan dan berharap pada Tuhan.

Pada saat itu orang kaya memang lebih mengandalkan kekayaan, martabat dan status. Mereka lupa bersyukur, berbagi dan memandang rendah orang yang miskin dan tidak memiliki apa-apa. Sebaliknya orang miskin menggantungkan hidupnya pada Allah, tidak pernah membanggakan diri. Rupanya sikap dari orang miskin itu berkenan pada Tuhan.

Saudara-saudari terkasih. Pada zaman sekarang Sabda Bahagia Yesus ini masih tetap relevan. Tapi perlu hati-hati berbicara terutama tentang topik kekayaan dan kemiskinan dalam hubungannya dengan hidup seseorang. Kenapa kita mesti hati-hati?

Karena kekayaan dan kemiskinan bersifat netral. Artinya kekayaan menjadi berbahaya kalau orang tidak pernah merasa cukup dalam hidupnya dan tidak pernah bersyukur. Sebaliknya bila kekayaan itu digunakan semestinya dan orang tidak melekat pada harta bendanya, orang kaya itupun dipuji oleh Tuhan.

Begitu juga dengan kemiskinan bila dijadikan kesempatan untuk malas-malasan dan tidak mau berusaha, tentu itu bukan sikap yang dipuji Tuhan.

Saudara-saudari terkasih. Mengenai Sabda Bahagia Yesus ini jangan kita anggap berat sebelah dan tidak memihak semua orang. Yesus selalu berharap dan menginginkan kita bahagia dengan keadaan hidup kita.

Intinya hidup kita di dunia ini jangan dibeban dan membebani. Sikap kita yang penting soal hidup entah kaya entah miskin adalah selalu berharap pada Tuhan. Sebab Tuhanlah jaminan hidup kita. Amin

*) Penulis adalah Frater tingkat II Ordo Kapusin Provinsi Pontianak

 

HARI MINGGU BIASA VII

1 Sam. 26:2.7-9.12-13.22-23; Mzm. 103:1-2.3-4.8.10.12-13; 1 Kor. 15:45-49; Luk. 6:27-38
24 Februari 2019

“KASIHILAH MUSUHMU”

Fr. Diego Viktorianus, OFMCap *)

Saudara-saudari terkasih. Setiap kali orang beriman mengalami sukacita dalam hidup, pertama-tama yang muncul dalam hati kecilnya adalah ucapan syukur dan terima kasih kepada Sang Pemberi sukacita yakni Tuhan.

Mengapa? Karena dengan imannya ia percaya bahwa begitu besar kasih setia Tuhan kepadanya, sehingga Dia sanggup menganugerahkan rahmat tak berhingga kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Demikian halnya, ketika orang beriman berhadapan dengan peristiwa sulit dalam hidupnya, pertama-tama yang muncul dalam hati kecilnya adalah sikap pasrah penuh harap bahwa Tuhanlah yang telah merencanakan segala sesuatu kepadanya dengan kepastian bahwa segala sesuatu yang terjadi pada waktunya adalah indah adanya, seturut rencana dan kehendak-Nya.

Kedua sikap di atas, erat kaitannya dengan relasi yang intim antara orang beriman dengan Tuhan-Nya berhadapan dengan berbagai peristiwa hidup sehari-hari.

Pertanyaan berikut yang tak kalah penting ialah bagaimana sikap seorang beriman ketika berhadapan dengan sesama. Bukankah sesama yang ada di sekitarnya (yang mengasihi dan membencinya) juga memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari?

Bukankah melalui sesama, setiap orang beriman bisa menemukan dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Bukankah setiap kali juga setiap orang beriman membutuhkan kehadiran dan perhatian dari sesama di sekitarnya?

Pada umumnya, setiap orang beriman akan menyadari hal ini ketika dia sendiri mengalami kehilangan salah seorang dari sesama yang paling dikasihi dan mengasihinya.

Saudara-saudariku yang terkasih. Tuhan Yesus, melalui Injil-Nya pada hari ini mengingatkan kita tentang pentingnya memperbaiki relasi yang rusak dengan sesama, terlebih mereka yang dianggap dalam lingkup musuh atau orang-orang yang membenci kita.

Dalam hal ini, kita dapat belajar dari Daud. Meskipun Saul sangat membenci Daud, karena kehadiran Daud dianggap ancaman bagi kelangsungan kariernya sebagai seorang raja. Ia mengejar Daud dan berniat untuk membunuhnya. Dalam sebuah kesempatan, Daudlah yang justru berkesempatan untuk membunuh Saul. Namun, Daud tak sampai hati dan membiarkannya terus hidup dan mengampuninya.

Apa yang dilakukan oleh Daud adalah juga bagian dari perintah Yesus sendiri, yakni: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu;…Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka…

Saudara-saudari yang terkasih. Apa pesan yang dapat kita petik dari bacaan-bacaan pada hari ini. Pertama, setiap orang yang kita anggap sebagai sesama kita adalah pemberian Cuma-Cuma (gratis /gratia) dari Allah sendiri. Allah memberikan mereka kepada kita agar kita mengasihi dan mencintai mereka sebagaimana Allah sendiri telah mengasihi dan mencintai kita, sekalipun mereka adalah orang-orang yang membenci dan menganggap kita sebagai musuh.

Di hadapan Allah, kita semua adalah sama atau setara, anak-anak Allah yang diangkat oleh Allah menjadi ahli waris kerajaan kekal, kehidupan Ilahi dalam Kristus Yesus.

Kedua, hukum tertinggi yang telah kita terima sebagai penuntun langkah-laku kita sebagai orang beriman ialah Cinta Kasih. Dan ukuran yang dipakai oleh Cinta Kasih ketika berhadapan dengan Allah dan sesama ialah melakukan tindakan Cinta Kasih tanpa ukuran.

Oleh karena itu, setiap orang beriman hendaknya berlaku sebagai orang-orang yang mencinta dan mengasihi tanpa batas, tanpa ukuran. Semoga, Amin.

*) Penulis adalah Frater tingkat II Ordo Kapusin Provinsi Pontianak

 

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak