Jl. Arif Rahman Hakim No.92 Pontianak email@kap.or.id +62 561 732382

Kamis Putih : Yesus Memberikan Diri Sehabis-Habisnya Untuk Murid-Murid-Nya

Hari ini, Kamis (18/4/2019) umat Katolik se-dunia memasuki Tri Hari Suci. Tak terkecuali juga di Gereja Katolik Paroki Keluarga Kudus Kota Baru Pontianak.

Perayaan digelar dua kali, yaitu misa I  pukul 17.30 WIB dan  misa II pukul 20.00 WIB.

Tri Hari Suci dimulai dengan Perayaan Ekaristi petang (sore hari) pada hari Kamis Putih, Jumat Agung dan memuncak pada Sabtu Suci (perayaan Malam Paskah), dan berakhir pada Ibadat Sore Minggu Paskah.

Pastor Fransiskus Kebry, CM yang memimpin Misa I mengatakan, dalam perayaan  Kamis Putih ini Gereja mengenang Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya.

Pastor Fransiskus Kebry CM melakukan prosesi pembasuhan kaki 12 orang umat meneladani apa yang dilakukan Yesus kepada 12 murid-Nya dalam Perjamuan Malam Terakhir

Menurut Pastor Kebry, perjamuan terakhir Yesus dengan para murid-murid-Nya bukanlah perjamuan keputusasaan, kesedihan, melainkan perjamuan yang penuh keakraban, penuh persaudaraan, penuh makna.

“Perjamuan yang penuh kasih, Tubuh dan Darah-Nya diberikan untuk keselamatan murid-murid-Nya. Itulah Ekaristi,” pungkasnya.

Pastor Kebry mengatakan, pemberian diri Yesus yang sehabis-habisnya itu, dilambangkan pula dalam upacara pembasuhan kaki murid-murid-Nya.

“Dengan tindakan membasuh kaki para rasul, Tuhan hendak memberi teladan bagaimana para muird harus meletakkan dasar kehidupan bersama yang berlandaskan kasih dan pelayanan,” tandasnya.

Pentahtaan Sakramen Maha Kudus dalam Perayaan Kamis Putih Misa I di Gereja Keluarga Kudus Kota Pontianak, Kamis (18/4/2019)

Kepada umat, Pastor Kebry melontarkan sebuah pertanyaan reflektif. Mengapa Yesus harus membasuh kaki murid-murid-Nya?

Kata Pastor Kebry, pada umumnya orang sulit, gengsi, sok jual mahal untuk merendahkan diri seperti hamba di hadapan sesamanya. Sebaliknya kita ini cenderung angkuh, sombong, merasa diri benar, dan mudah meremehkan yang orang lain.

“Pembasuhan Kaki yang dilakukan Yesus kepada  murid-murid-Nya menunjukkan bahwa Yesus ingin kita pun menjadi orang yang merendahkan diri untuk melayani sesama,” ujarnya.

Memang, harus diakui bahwa tindakan untuk saling membasuh kaki tidak mudah. Sebab, kita harus siap dan rela menjadi hamba bagi sesama kita. Namun, kita sadar bahwa Yesus telah memberikan teladan sehingga kita dapat melakukannya.

PM

 

Uskup Agus Pimpin Misa Krisma

Selasa (16/4/2019) merupakan hari istimewa dan khusus bagi para imam, khususnya para imam di Keuskupan Agung Pontianak karena pada hari itu diadakan Misa Krisma yang dihadiri oleh kurang lebih 97 orang imam, dan juga para biarawan-biarawati, para diakon, frater dan segenap umat Katolik.

Sebelum Misa Krisma, terlebih dahulu para imam sudah mengikuti rekoleksi yang dilaksanakan di Rumah Retret Immcaculata Pontianak, pada Senin dan Selasa (15-16/4/2019).

Para imam yang hadir dalam Misa Krisma di Gereja Katedral Pontianak

Misa Krisma digelar di Gereja Katedral Paroki Santo Yosef Pontianak pukul 18.00 WIB. Misa dipimpin langsung oleh Uskup Agustinus Agus didampingi oleh Pastor Hermanus Mayong, OFM Cap ( Minister Provinsial Ordo Kapusin Pontianak), Pastor Nikodemus Jimbun CP (Provinsial Kongregasi Pasionis Indonesia), Pastor William Chang, OFM Cap, dan Pastor Edmund Nantes OP.

Dalam Misa Krisma ini para imam membarui janji imamatnya di depan uskup. Yang penting tentu janji setiap imam di hadapan Uskup bahwa sebagai gembala rohani Gereja, para imam harus selalu setia, loyal, bertanggungjawab atas hidup panggilan rohaninya sebagai imam yang tak lain adalah pembantu uskup.

Para imam membarui janji imamatnya di hadapan Uskup Agus

Selain itu, Uskup juga memberkati tiga jenis minyak. Minyak Pengurapan Orang Sakit (Oleum Infirmorum/ OI), Minyak Katekumen (Oleum Catechumenorum/OC), dan yang terakhir adalah Minyak Krisma (Oleum ad Sanctum Chrisma/ SC).

“Pembaruan janji imamat diucapkan sebagai bukti bahwa kami menyadari kelemahan-kelemahan kami sebagai imam, dan oleh karena itu kami memohon kekuatan dari Tuhan untuk selalu meneguhkan kami,” ujar Uskup Agus

Menurut uskup Agus, melalui Misa Krisma para imam khususnya, disegarkan kembali semangat dan janji imamatnya, sekaligus mengingatkan para imam akan cita-cita dan komitmen mereka sebagai nabi, imam dan raja.

Dikatakan Uskup Agus, memilih hidup sebagai imam berkaitan dengan tugas melayani Tuhan secara total. Artinya, para imam diminta mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kegiatan rohani dan menyingkirkan kepentingan pribadi. Inilah tantangan yang mungkin pada zaman now ini terasa berat.

Uskup Agus mengatakan, perkembangan zaman memperberat tantangan hidup para imam. Tantangan globalisasi memang banyak. Di situlah kesetiaan para imam diuji untuk tetap berpegang teguh pada janji imamat

Untuk itu Uskup Agus berterima kasih kepada para imam yang telah melaksanakan pelayanan dalam penggembalaan umat selama ini.

Para biarawan-biarawati, frater, dan segenap umat yang hadir di Misa Krisma 

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para imam karena telah menerima saya apa adanya dengan segala kekurangannya. Niat saya ingin menjadi gembala yang baik, juga bagi para imam sekalian yang mungkin hal itu belum semua bisa terpenuhi. Tapi dengan dukungan para imam semua tentu saya merasa kuat melaksanakan tugas-tugas saya sebagai gembala,” tandas Uskup Agus.

Uskup Agus juga mengajak para imam untuk saling mendukung satu sama lain. Memberikan perhatian dan peduli satu sama lain. Imam memerlukan para imam.  Imam membutuhkan semangat persudaraan. Dengan demikian tugas pelayanan bisa maksimal sesuai harapan umat dan tentunya untuk kemuliaan Tuhan.

Uskup Agus memberikan contoh sederhana terkait kepedulian dan perhatian antar sesama imam. Misalnya ketika ada imam yang merayakan ulang tahun atau pesta khusus, kehadiran imam lainnya untuk meluangkan waktu untuk hadir merupakan wujud perhatian, kepedulian dan saling mendukung satu sama lain.

Imam adalah orang istimewa. Istimewa karena dipanggil secara khusus untuk melanjutkan karya penyelamatan Tuhan. Menjadi Alter Kristus (serupa dengan Kristus atau menyerupai Kristus).

Oleh karena itu, menutup homilinya, Uskup Agus  meminta umat juga mendoakan para imam.

“Doakanlah kami, para imam yang telah diurapi Roh Kudus agar tetap hidup sebagai orang urapan; setia membawa Tahun Rahmat Tuhan; hidup murah hati dan penuh belas kasih.” pinta Uskup Agus.

Imam adalah orang yang diurapi, maka seorang imam adalah pribadi yang mengingatkan umat akan kasih Allah dan menyemangati umat untuk mencari Allah. Imam adalah pribadi yang memberi semangat pada umat untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah; membawa pertobatan. pembuat damai, pewarta belaskasih.

 Selesai Misa Krisma, Uskup Agus mengajak para imam untuk makan malam bersama sebagai tanda persaudaraan dan ungkapan syukur bersama untuk hari yang istimewa bagi para imam ini.

PM – Semz

 

Jelang Pemilu 17 April 2019, PMKRI Deklarasikan #Kita Indonesia

Menghadapi Pemilu 17 April 2019 mendatang  Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Santo Thomas More Pontianak bekerjasama dengan Pengurus Pusat PMKRI (PP PMKRI) mengelar deklarasi dengan tema #Kita_Indonesia.

Presidium Gerakan Kemasyarakatan Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Rinto Namang, mengatakan PMKRI merupakan organisasi pergerakan mahasiswa yang berdiri sejak 1947 yang, motivasi dan tujuan pendiriannya adalah, terlibat secara langsung dalam perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dan tetap konsisten dalam merawat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Oleh karena itu, gerakan #Kita_Indonesia senafas dengan tujuan pendirian perhimpunan ini yakni berjuang untuk meneguhkan kembali persatuan bangsa di tengah upaya-upaya kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah-belah bangsa ini”, kata Rinto

Deklarasi #Kita Indonesia ini sebagai acara puncak gelaran Seminar Nasional yang bertema : peran kaum millenial dalam menyukseskan pemilu yang jujur, damai dan sejuk di Hotel Garuda, Jalan Pahlawan Pontianak, Jumat (12/04/2019).

Deklarasi ini dimaksudkan mengajak kaum millenial untuk menjaga kebhinekaan di tengah situasi politik yang lebih menonjolkan SARA dalam prakteknya.

Hadir dalam deklarasi itu Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus dan seluruh peserta seminar nasional dari kaum millenial berbagai elemen.

Berikut isi deklarasi #Kita Indonesia :

Kebhinekaan itu realitas kultural keberagaman. Keberagaman itu fakta sejarah. Multikulturalismenya murni warisan.

Pluralitas itu keunikan beragam identitas. Beragam etnis apik dari Barat hingga Timur. Terlukis indah dari Utara hingga Selatan.

Berderet makna dari Sabang sampai Marauke. Bertabur warna dari Miangas sampai Rote.

Hari-hari ini kebhinnekaan itu mulai gamang oleh infiltrasi ideology, radikalisme, hoaks, ujaran kebencian. Pancasila harus dihidupkan, bersaudara dalam perbedaan.

Simpul ikatan ini tidak boleh berlalu dengan berakhirnya masa lalu dan masa sekarang ini, pemimpin boleh silih berganti, datang dan pergi, namun ada yang tetap hidup, yakni warisan sosio-kultural.

Sebab, #Kita_Indonesia!

PM-Semz

 

 

 

Uskup Agus Ingatkan Kaum Millenial Tidak Menggunakan Agama Sebagai Alat Politik

Dalam seminar nasional PMKRI ber-Hastag (#) Kita Indonesia mengambil tema : “peran kaum millenial dalam menyukseskan pemilu yang jujur, damai dan sejuk” di Hotel Garuda Pontianak, Jumat (12/04/2019) lalu, Uskup Agus tampil sebagai pembicara.

“Tiap kali Pemilu ada saja orang datang dengan saya dan menanyakan : “kenapa pastor tidak berani kampanye di gereja? Kenapa pastor atau uskup tidak dukung calon A atau calon B?” ujar Uskup Agus mengawali pembicaraannya.

Kaum Millenial dari berbagai elemen hadir dalam seminar nasional PMKRI di Hotel Garuda, Jumat (12/4/2019)

Uskup Agus mengatakan, agama Katolik masuk ke Kalbar lebih dari 100 tahun yang lalu. Apa yang dibuat? Dibuka sekolah, dibuka rumah sakit, dibangun pertanian. Dan tidak pernah satu sekolah Katolik pun, satu rumah sakit Katolik pun, satu kegiatan sosial Katolik pun, hanya diperuntukkan untuk orang Katolik.

“Sampai detik ini sekolah Katolik terbuka untuk umum, rumah sakit Katolik terbuka untuk umum, tidak pernah mensyaratkan orang masuk rumah sakit itu harus menjadi orang Katolik dulu,” tandas Uskup Agus.

Ini perlu saya tegaskan, lanjut Uskup Agus bahwa Gereja Katolik tidak pernah membenarkan agama dipakai sebagai alat politik.

“Alat politik yang baik pun tidak perlu pakai agama. Karena ada nilai-nilai universal yang bisa kita gunakan untuk memperjuangkan kepentingan orang Katolik dan kepentingan orang banyak,” pungkas Uskup Agus.

Uskup Agus mengatakan, setiap orang Katolik dipanggil untuk membangun dunia yang lebih baik. Yang harus diperjuangkan adalah keadilan dan kedamaian untuk kepentingan orang banyak.

Foto bersama peserta seminar dengan para narasumber

Uskup Agus mengutip pernyataan Mgr. Soegijapranata yang mengatakan : “Jadilah 100 % Katolik dan 100 % Indonesia. Jika kita merasa sebagai orang Kristen yang baik, kita semestinya juga menjadi seorang patriot yang baik. Karenanya, kita merasa bahwa kita 100% patriotik sebab kita juga merasa 100% Katolik. Malahan, menurut perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah, sebagaimana tertulis dalam Katekismus, kita harus mengasihi Gereja Katolik, dan dengan demikian juga mengasihi negara, dengan segenap hati.

Ketua Presedium PMKRI Santo Thomas More Pontianak, Eldidius Dendi Mulya memberikan  plakat kepada Mgr. Agus sebagai tanda ucapan terima kasih telah bersedia menjadi Narasumber dalam seminar

Diakhir pembicaraannya Uskup Agus berharap semangat kebaikan, nilai-nilai luhur, nilai-nilai universal yang baik, yang berani berkorban untuk kepentingan orang banyak, yang berani menghadapi tantangan apapun, yang berani mengedepankan keadilan dan kedamaian untuk kepentingan orang banyak tetap harus ada dihati kaum mellenial.

Terkait Pemilu 17 April 2019 mendatang, Uskup Agus mengajak kaum millenial untuk menggunakan hak pilih dengan bijak, cerdas, tepat dan sesuai dengan hati nurani.

“Kaum millenial ikut bertanggungjawab untuk menentukan masa depan bangsa 5 tahun ke depan,” ujar Uskup Agus.

PM-Semz

 

Seminar Nasional PMKRI, Ajak Kaum Millenial Terlibat Aktif di Tahun Politik

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Santo Thomas More Pontianak menggelar seminar nasional dengan tema peran kaum millenial dalam menyukseskan pemilu yang jujur, damai dan sejuk di Hotel Garuda, Jalan Pahlawan Pontianak, Jumat (12/04/2019).

Sebanyak  347 kaum millenial dari berbagai elemen hadir dalam kegiatan ini. Seminar nasional ini juga dihadiri oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, Ketua Pemuda Katolik RI, Karolin Margret Natasa, Wakapolda Kalbar, Brigjen Pol Sri Handayani, anggota KPU Provinsi Kalbar, Mujiyo, S.Pd, Presidium Gerakan Kemasyarakatan Pengurus Pusat (PP) PMKRI, Rinto Namang sebagai narasumber.

Suasana Seminar Nasional PMKRI di Hotel Garuda, Jumat (12/4/2019)

Ketua Presedium PMKRI Santo Thomas More Pontianak, Eldidius Dendi Mulya mengatakan di tahun politik ini berpotensi menimbulkan konflik horizontal diakar rumput yang disebabkan ekplorasi isu SARA yang tidak terkontrol.

Disamping itu, kata Dendi fenomena baru yang terjadi adalah 40 persen dari suara nasional terdiri kaum millenial.

“Karena melihat fenomena tersebut, PMKRI sebagai organisasi yang anggotanya terdiri dari para kaum millenial melihat penting untuk diadakan sosialisasi dalam bentuk seminar nasional,” ujarnya.

Menurut Dendi, tujuan seminar nasional ialah mengajak sebanyak mungkin kaum millenial untuk dapat terlibat dalam momentum demokrasi dalam rangka memberikan sumbangsih nyata bagi negara.

Salah seorang peserta seminar yang menanggapi pemaparan materi para narasumber

“Tujuan lainnya adalah guna mensosialisasikan gerakan untuk mengawal pemilu yang jujur, adil ,damai dan aman,” katanya

Tujuan akhirnya, kata Dendi, memberikan pemahaman bahwa sebagai kaum millenial, sebagai warga negara Indonesia harus menjaga persatuan walaupun berbeda pilihan.

Sementara itu, Ketua Pemuda Katolik RI, Karolin Margret Natasa menerangkan jika kaum millenial menjadi penting untuk ikut berkompetisi dalam politik.

Terlebih, lanjutnya, kaum millenial menjadi perebutan siapapun kandidat capres-cawapres dan juga perebutan dari parpol selain karena populasinya yang cukup besar.

Para narasumber dalam seminar nasional PMKRI dan tampak sekjen PMKRI cabang Santo Thomas More Pontianak memandu acara seminar

“Kaum millenial juga terkenal dengan cuek terhadap dunia politik tapi juga mereka sangat kritis sehingga tidak mudah bagi parpol maupun peserta pemilu lainnya menarik perhatian generasi millenial. Tantangan kita hari ini adalah agar kaum millenial mempunyai kepedulian dalam bidang politik dan juga mau untuk memberikan suaranya ke TPS dan tidak golput,” katanya.

Bupati Landak ini pun menerangkan jika millenial merupakan elemen bangsa yang penting

“Tinggal bagaimana millenial pada hari H nanti sungguh-sungguh datang ke TPS dan memberikan suaranya untuk bangsa dan negara, “ pungkasnya.

PM-Semz

 

 

Temu Kangen Bapakat Paroki Pemangkat

Tanggal 23 Maret 2019 lalu, bertempat di Gereja Katolik Santo Yosep Pemangkat telah dilangsungkan temu kangen Bapak-bapak Katolik (Bapakat) se- paroki.

Temu kangen ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam rangka Ulang Tahun ke-139 Nama Pelindung Paroki Pemangkat.

Pastor Paroki RD. Alexander Mardalis menyebut temu kangen Bapakat sebagai momentum merajut kebersamaan antar bapak-bapak Katolik se-paroki Pemangkat.

“Penting untuk merajut persatuan dan kebersamaan bagi bapak-bapak Katolik, dalam melaksanakan perutusannya sebagai anggota Gereja guna menunaikan kerasulan mereka baik dalam bidang rohani maupun di bidang duniawi,” singkat RD. Alexander Mardalis.

Yang istimewa dari kegiatan ini adalah Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus berkenan hadir dan memberikan arahan serta menyampaikan berbagai hal terkait program-program keuskupan.

Dalam itu, Uskup Agus mengajak Bapakat untuk menjadi agen perubahan di masyarakat. Bapakat harus memberi cahaya dan rasa bagi lingkungannya.

“Bapak-bapak Katolik adalah sebagai kepala, motor penggerak, dan imam dalam keluarga. Harus bisa berperan sebagai garam dan terang. Memberi rasa dan terang bagi sesama dan lingkungan,” ujar Uskup Agus.

Uskup Agus menyebut kehidupan menggereja harus dimulai dari diri sendiri. Bapak-bapak Katolik menurut Uskup Agus, harus harus yakin dalam menanamkan nilai kebaikan. Bukan hanya sebatas kata-kata, tapi juga perbuatan.

“Temu kangen ini sangat bermanfaat sebagai wadah untuk mengembangkan dan menguatkan iman bersama. Bapak-bapak Katolik harus mampu mengontrol keluarga khususnya anak-anak terutama di dalam pergaulan. Jangan sampai anak-anak kita terjerumus bahaya narkoba karena pergaulan bebas,” ujarnya berpesan.

Kegiatan temu kangen ini dipandu oleh imam muda yang baru saja ditahbiskan dan juga akan bertugas di Paroki Pemangkat, yaitu : RD. Paulius Surip.

Usai kegiatan, Bapak-bapak Katolik di undang untuk santap malam dan ramah-tamah bersama Uskup Agus, Pastor Paroki, dan kedua imam yang baru (RD. Paulius Surip dan RD. Valerius Hilarion Tjhen Hendra.

Tim Musik dari Komsos Keuskupan Agung Pontianak yang juga dihadirkan oleh Uskup Agus malam itu, semakin menambah semaraknya suasana.

PM

 

Pemberkatan dan Peletakkan Batu Pertama Pembangunan Gereja Pangkalan Durian

Jumat (15/3/2019) lalu telah dilakukan pemberkatan dan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Katolik Santo Paulus Pangkalan Durian yang beralamat di Dusun Pangkalan Durian Desa Ngarak Kecamatan Mandor Kabupaten Landak.

Pemberkatan dan peletakan batu pertama pembangunan dilakukan oleh RD. Gregorius Rahmadi sebagai Pastor kepala Paroki Santo Christophorus Sungai Pinyuh – Kabupaten Landak.

Gregorius mengatakan, harus ada semangat yang mendasar dan saling kompak dalam membangun gereja baik secara fisik maupun Gereja dalam artiannya umat itu sendiri.

Bhabinkamtibmas Kepolisian Sektor Mandor Bripka Yakob saat meletakkan batu pertama pembangunan gereja Pangkalan Durian (15/3/2019)

“Masyarakat dan umat di Pangkalan Durian harus terus mampu menjadi komunitas umat Katolik yang cerdas dan menjadi umat Katolik yang militant,” tandasnya.

Hadir dalam acara tersebut Bhabinkamtibmas Kepolisian Sektor Mandor Bripka Yakob mewakili Kapolsek Mandor IPTU Anuar Syarifudin, ketua umat Gereja Katolik Santo Petrus Ngarak, aparat Desa Ngarak, Pengurus Wanita Katolik (WK) Desa Ngarak, segenap umat serta masyarakat Dusun Pangkalan Durian Desa Ngarak Kecamatan Mandor Kabupaten Landak.  (Sumianto – Ngarak)

 

Mgr. Agus : Pilih dengan Bijak, Cerdas, Tepat dan Sesuai Hati Nurani

Keterlibatan dalam bidang politik merupakan salah satu ungkapan yang paling mulia akan kecintaan kita akan masa depan bangsa dan negara kita yang  tercinta ini.

Demikian penegasan Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus dalam Surat Gembala Aksi Puasa Pembangunan tahun 2019.

Menguatkan penegasannya itu, Mgr. Agus mengutip pesan Paus Fransiskus kepada seluruh Pemimpin dunia pada Hari Perdamaian Dunia (1 Januari 2019) lalu, yang menegaskan bahwa politik yang baik adalah pelayanan bagi perdamaian. Bapa Paus juga menegaskan bahwa politik adalah tanggungjawab semua warga negara khususnya mereka yang diberi mandat untuk melindungi dan memerintah.

Oleh karena itu, Mgr. Agus meminta segenap umat Katolik pada tanggal 17 April 2019 mengunakan hak pilih secara bijak, cerdas, tepat dan sesuai dengan hati nurani.

Mgr. Agus mengatakan, pilihlah Presiden dan Wakil Presiden yang sungguh-sungguh merakyat, mau bekerja untuk rakyat, dan memperjuangkan keadilan dan kedamaian demi kesejahteraan rakyatnya.

Mgr, Agus juga meminta umat untuk memilih para wakil rakyat yang punya ahlak mulia, bersedia dan dapat mendengarkan serta menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi rakyat demi kesejahteraan bersama.

Diakhir pernyataannya, Mgr. Agus mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendoakan pemilu yang akan datang, baik Pemilu Presiden dan Wakil Presiden maupun Pemilu Legislatif berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dan penuh dengan kedamaian serta bermartabat.

PM

 

Pertemuan OFS Persaudaraan Conradus Pontianak

Foto bersama usai Pertemuan Lokas Persaudaraan Santo Conradus (OFS Pontianak) di Rumah Sdr. Harsono, OFS

Ada begitu banyak hal yang mungkin bisa kita jadikan pedoman hidup bermasyarakat. Ada yang belajar dari budaya, ada juga yang belajar dari agama, ada yang belajar dari tokoh-tokoh dan masih banyak lagi hal-hal positif yang bisa kita pelajari dari berbagai fenomena yang ada di tengah masyarkat.

Untuk kali ini, dalam Gereja Katolik Roma ada ordo yang disebut dengan Ordo Fransiskan Sekular. Dimana ordo ini sudah ada ratusan tahun yang lalu, yang langsung dibentuk oleh Santo Fransiskus Assisi (salah satu orang suci Katolik).

Karena teladan hidupnya yang uniklah maka banyak sudah banyak pengikutnya di belahan dunia. Ordo Fransiskan Sekuler artinya ordo atau sekelompok orang yang mengikuti cara hidup seturut Injil Yesus Kristus di tengah masyarakat. Jadi mereka boleh menikah alias berkeluarga dan boleh bergabung di Ordo Fransiskan Sekuler.

Sdr. Tuparman, OFS sedang membacarakan anggaran dasar OFS Artikel 76 sampai 77

Cara hidup seperti apa yang mereka maksudkan? Banyak hal yang dilakukan, yang mulai dari hidup doa harian,mengadakan Kunjungan-kunjungan bersifat rohani, memberi penguatan kepada orang-orang yang masuk tahanan. Kemudian ada juga bakti sosial dengan masuk ke daerah-daerah untuk membantu sekaligus membagikan ilmu kepada mereka yang membutuhkan dan tentunya masih banyak hal.

Di Kalimantan Barat sendiri OFS (Ordo Fransiskan Sekuler) ini sudah ada dari tahun 1980-an hingga saat ini. Kebanyakan dari anggota ordo Fransiskan Sekuler ini sudah banyak yang lanjut usia, sekarang hanya ada beberapa orang muda yang ada di Ordo Fransiskan sekuler Kalimantan Barat ini.

Minggu, 7 April 2019 bertempat di rumah Sdr.Harsono, OFS (Seneor OFS di persaudaraan Kobtradus) di Jalan Sulawesi Gang Hajah Sarah No. 2.
Telah mengadakan pertemuan rutin awal bulan persaudaraan lokal OFS Santo Conradus.

Dalam pertemuan OFS ini dihadiri Anggota Kontradus sebanyak 7 orang antara lain Sdr. Harsono, OFS, Sdr. Theodorus, OFS., Sdr. Tuparman, OFS beserta Istri, ada Sdri. Ana, OFS, Sdri. Irene, OFS dan Sdr. Samuel, OFS.

Acara dimulai dengan diskusi Iman yang dipimpin oleh Minister Persaudaraan Contradus Sdr. Tuparman, OFS dan dilanjutkan dengan membacakan buku anggaran dasar OFS pada artikel ke 76-77 halaman 95. Judul IV: Tentang PEMILIHAN DAN BERKARIRNYA MASA JABATAN

Mari sejenak kita melihat isi dari anggaran dasar OFS pada artikel 76-77.

Artikel 76
1. Pemilihan-pemilihan pada berbagai tingkatan dilangsungkan menurut ketentuan-ketentuan hukum Gereja (80) dan Konstitusi. Undangan Hendaknya dikirim paling lambat satu bulan sebelumnya, dengan mencantumkan tempat, hari dan waktu pemilihan.

2. Sidang Pemilihan atau Kapitel, akan dipimpin oleh Minister yang langsung lebih tinggi tingkatannya atau utusannya, yang mengesahkan pemilihan itu. Pimpinan atau utusan tidak dapat memimpin pemilihan dalam Persaudaraan Lokalnya sendiri, juga tidak dalam pemilihan Dewan pada tingkat yang lebih tinggi, karena ia sendiri merupakan anggota Dewan. Pendamping Rohani yang langsung lebih tinggi tingkatannya atau utusannya, harus hadir sebagai saksi atas persekutuan dengan Ordo Pertama dan TOR. Seorang yang mewakili Konfrensi para Minister Jendral Ordo Pertama dan TOR memimpin dan mengesahkan pemilihan Pimpinan Dewan Internasional OFS.

3. Pimpinan Kapitel dan Pendamping Rohani dari tingkat yang lebih tinggi tidak mempunyai hak suara.

4. Pimpinan dari Kapitel menentukan dari antara para anggota kapitel itu, seorang sekretaris dan dua penghitung.

Artikel 77

1. Dalam Persaudaraan Lokal, yang telah berprofesi kekal dari Persaudaraan yang sama itu, mempunyai suara aktif, berarti dapat memilih, dan suara pasif, berarti dapat dipilih. Dan yang berprofesi sementara hanya mempunyai suara aktif.

2. Pada tingkat-tingkat lainnya, yang mempunyai suara aktif adalah sebagai berikut: anggota dewan yang sudah habis masa baktinya, wakil-wakil langsung dari tingkat dibawahnya dan wakil Mudifra yang telah berprofesi. Menjadi tugas Statuta Khusus untuk menentukan norma-norma sebelumnya, dengan memperhatikan dasar pemilihan itu dalam arti yang seluas-luasnya. Para Fransiskan Sekular yang telah berprofesi kekal dari wilayah tersebut mempunyai suara pasif.

3. Baik Statuta Nasional maupun Internasional- untuk daerah-daerahnya masing-masing- dapat menetapkan syarat-syarat kualifikasi obyektif berkenaan dengan siapa yang dapat dipilih untuk menduduki berbagai jabatan itu.

4. Kehadiran lebih dari separo jumlah anggota yang memiliki hak untuk memilih merupakan syarat sahnya pelaksanaan Kapitel Pemilihan. Untuk tingkat lokal, Statuta Nasional dapat menetapkan ketentuan-ketentuan yang berbeda.

Suasana Pertemuan Lokas Ordo Fransiskan Sekuler Persaudaraan Conradus tanggal 7 April 2019

Berikut diatas merupakan salah satu anggaran dasar yang dibuat sudah dari awal terbentuknya OFS di dunia hingga sekarang diajarkan dan dibacakan kepada para pengikutnya.

Dalam pertemuan itu Sra. Tuparman mengatakan bahwa “yang paling penting dalam persaudaraan ini yaitu cara hidup kita. Sudah kah kita benar-benar hidup seturut yang diajarkan? Memang disekeliling kita begitu banyak hal-hal yang membuat kita lemah bahkan minder, ingatlah bahwa sekalipun kita disalahkan, tapi Allah tidak pernah salah dalam menolong umatNya, ” Ujarnya saat diskusi tentang masalah umat.

Dalam kesempatan itu, Sdr. Irene, OFS juga mengatakan hal yang serupa, “biarkanlah mau orang berkata apa dengan kita, yang penting kita tunjukkan bahwa cara hidup yang benar pada akhirnya Tuhan yang menilai. Kita cukup melakukan apa yang menjadi bagian dari cara hidup yang sudah Tuhan Ajarkan kepada kita yaitu tentang “Kasih” Sebab hanya kasih lah yang mampu membuka hati manusia,” tambahnya.-Semz

Rekoleksi Sehari Paroki Gembala Baik Pontianak di Bukit Pelangi

Suasana Foto Bersama Usai Rekoleksi

Dalam masa Prapaskah tentunya merupakan momen yang menjadi kesempatan untuk semua umat katolik kembali merenung dan mawas diri. Kesempatan ini juga tanda bahwa manusia masih diijinkan untuk melihat kembali betapa baiknya Allah yang menyelamatkan. Selaras dengan ini Paroki Gembala Baik Pontianak tepatnya pada hari Rabu, 03 April 2019 yang bertempat di Rumah Pelangi, Jalan Trans Kalimantan KM 65, Sungai Ambawang telah melakukan rekoleksi Prapaskah yang dihadiri kurang lebih 100an umat dari lingkungan Paroki Gembala Baik Pontianak.

Pada kesempatan rekoleksi itu, semua peserta didampingi langsung oleh Pastor Paroki Leo Nojo, OFMCap dan Pastor Amandus Ambot, OFMCap dan Pastor Prasetyo, CDD sebagai narasumber dalam rekolesi Prapaskah tahun ini.

Suasana Misa bersama Pastor Amandus Ambot, OFMCap, Pastor Prasetyo, CDD, dan Pastor Leo Nojo, OFMCap

Panitia sudah mengagendakan sebelumnya terkait dengan rekoleksi ini. Adapun rangkaian kegiatan ini diawali dengan pujian pembukaan dan dilanjutan pada inti acara rekoleksi ada dua sesi.

Sesi pertama, semua peserta diajak untuk membuka Yakobus 4 : 3 berbunyi : Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

“Di sini manusia diberikan pada 2 pilihan kemudian manusia memilih pilihan yang menurut ia bagus, terbaik untuk dirinya. Akan tetapi pilihan apa yang manusia telah pilih (yang menurutnya baik) belum tentu sejalan dengan apa yang Tuhan rencanakan. Namun pada dasarnya Tuhan Allah selalu memberikan pilihan terbaik dan benar untuk manusia,” ungkap Pastor Prasetyo, CDD.

Kemudian Pastor mengulas tentang pertobatan : “Allah itu baik, Tuhan itu baik bahkan Dia menyanyangi kita. Selaras dengan Sabda Allah lewat Yesaya 55 : 8 = Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah Firman Tuhan.”  “Dalam masa prapaskah ini mari kita bertobat, buang semua kejahatan yang ada di dalam diri kita. Karena Tuhan itu sangat baik kepada kita,” imbuhnya.

Pastor Pras, CDD sedang memberikan sesi

Dalam sesi sharing bersama, Pastor Prasetyo, CDD mengajukan pertanyaan kepada peserta rekoleksi, demikian bunyinya, “Apa yang anda buat ketika mengalami dosa? Untuk pertanyaan seperti ini biasa rata-rata setiap orang yang sudah mengalami dosa itu mereka lebih cenderung mencoba untuk dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Kemudian kita sebagai manusia harus selalu berdoa, bersyukur dan memperbaiki diri menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi,”pungkas Pastor.

Lanjut pada Sesi sesi yang kedua, Pastor Pras, mengulas tentang Iman. Tentang iman yang hidup yang dikaitkan pada ayat di Kitab Suci : “Ulangan 23 : 23 berbunyi : Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada Tuhan Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri. dan Kolose 3 : 23 berbunyi : Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Dalam ulasanya, Pastor mengajak semua peserta untuk  seharusnya melakukan segala sesuatu dengan benar dan baik. Sama halnya dalam setiap perilaku tindakan yang sebelumnya kurang baik harus secara perlahan diubah. Sama halnya bahwa kita harus memberikan teladan dan cerminan sikap memiliki iman yang hidup supaya kita juga bisa menjadi contoh untuk banyak orang diluar sana,” ujarnya.

Usai rekoleksi tibalah persiapan untuk Misa penutupan rekoleksi sehari umat Paroki Gembala Baik Pontianak. Usai misa para peserta diajak santap siang dan foto bersama sebagai kenangan indahnya rekoleksi pada masa Prapaskah 2019 dan Sayonara.

Volunteer KomsoskAP – Leonardus Heryanto