Jl. Arif Rahman Hakim No.92 Pontianak email@kap.or.id +62 561 732382

17.000-an Data Umat Masuk, Uskup Agus Support Pastor Paroki Dalam Mendata Umatnya Untuk Program BIDUK

Di akhir kegiatan rekoleksi para imam se-Keuskupan Agung Pontianak sebelum mengikuti Misa Krisma, Selasa (16/4/2019) lalu di Wisma Immaculata SFIC Pontianak, para imam khususnya para pastor paroki disuguhkan informasi terkini tentang kemajuan data umat yang sudah masuk dalam sistem BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan).

Informasi tersebut disampaikan oleh Ibu Suli, selaku instruktur training bagi para admin paroki. Dalam paparannya, Ibu Suli mengemukakan sudah melakukan training secara meraton ke dekenat-dekenat yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak.

Data Umat dari 29 Paroki di Wilayah Keuskupan Agung Pontianak yang sudah masuk dalam sistem BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan)

“Hasil pengamatan dari kurang lebih 6 kali training yang saya lakukan, saya optimis program BIDUK bisa berjalan,” tandas Bu Suli.

Menurut Bu Suli, para admin yang dikirim oleh paroki-paroki cukup bersemangat, berusaha keras untuk bisa memahami sistem operasi dari program BIDUK ini. Semangat dan usaha keras ini mampu mengalahkan kendala-kendala yang ada.

“Memang di tahap awal masih kerapkali terjadi kesalahan-kesalahan saat meng-entri data, tapi semangat untuk berusaha memperbaiki kesalahan itu, sangat saya apresiasi. Ini yang membuat saya optimis. Saya bahkan menargetkan dalam satu tahun, data umat dari paroki-paroki sudah bisa terselesaikan,” ujar Bu Suli.

Tapi, lanjut Bu Suli, ini semua perlu dukungan dari para pastor paroki.

“Saya sangat apresiasi bagi beberapa paroki yang proses pendataan umatnya menunjukkan progres (kemajuan) yang luar biasa. Contohnya, pendataan umat di paroki Santo Agustinus Sungai Raya. Data yang sudah masuk ke sistem BIDUK boleh dikatakan yang paling banyak dari paroki-paroki lainnya, yakni sekitar 4000-an jiwa,” ujar Bu Suli.

Oleh karena itu, Bu Suli pada kesempatan pertemuan itu memotivasi lagi paroki-paroki yang terbilang agak lambat proses pendataannya. Pastor Paroki diajak untuk lebih semangat.

“Jangan takut dengan kendala yang ditemui di lapangan. Optimis saja. Dan data yang diinput ke BIDUK jangan tunggu sudah lengkap, seberapa yang sudah ada masukan saja dulu, nanti baru dillengkapi dan disempurnakan,” kata Bu Suli menyemangati para pastor paroki.

Bu Suli berharap pula, paroki yang sudah lebih lancar dalam menginput data umat, bisa juga membantu paroki lain.

“Kita saling bantu dan dukung, deh. Ini kan programnya keuskupan, tentunya harus kita garap bersama-sama,” harap Bu Suli.

Pastor Yulianus Astanto Adi, CM penanggungjawab BIDUK Keuskupan Agung Pontianak

Secara keseluruhan, lanjut Bu Suli, dari 29 paroki yang ada di wilayah Keuskupan Agung Pontianak, data yang sudah masuk ke dalam sistem BIDUK sampai awal bulan April 2019, sekitar 17.500-an jiwa.

“Ini suatu progress yang luar biasa menurut saya. Dalam kurun waktu kurang lebih 5 bulan, sejak Desember 2018, bisa ter-input data sebanyak itu. Awalnya, saya tidak mengira sudah bisa ter-input sebanyak ini,” ujar Bu Suli.

Bu Suli memahami terkait kendala geografis dan kebutuhan tenaga volunteer lapangan yang dialami beberapa paroki, khususnya paroki-paroki di pedalaman dalam menghimpun data umat.

“Tapi kita jangan mudah menyerah pada keadaan. Sekali lagi, kendala-kendala yang ada kita hadapi bersama,” kata Bu Suli menyemangati.

Senada dengan Bu Suli, Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus meminta pastor paroki tetap bersemangat dalam menghimpun data umat.

“Ibu Suli saja dengan ikhlas membantu kita, tanpa meminta bayaran. Bahkan operasional selama ini, ditanggung dengan biayanya sendiri. Ini program kita, untuk keuskupan kita, demi pelayanan maksimal ke umat yang berbasis data. Mestinya, kita lebih bersemangat dari Bu Suli,” kata Uskup Agus kepada para pastor paroki.

Bu Suli dan Pastor Paroki Santo Agustinus Sungai Raya, Pastor Laurentius Prasetyo CDD ( Paroki yang data umatnya paling banyak sudah terinput ke sistem BIDUK)

Uskup Agus memahami kendala, hambatan, tantangan, dan kesulitan yang ditemui oleh para pastor paroki, seperti : sulitnya merekrut tenaga volunteer yang akan menghimpun data umat, terkait sumber daya admin yang belum maksimal dan belum sepenuhnya paham cara meng-input data ke sistem BIDUK, kondisi geografis, kendala internet, dan kesibukan-kesibukan harian sebagai pastor paroki.

Namun, Uskup Agus meminta para pastor paroki tidak berdiam diri saja. Tidak bergerak karena kendala-kendala itu.

“Pandai-pandailah menyikap kendala-kendala itu. Kan tidak mesti harus pastor paroki yang melakukan semuanya. Pastor paroki bisa saja menunjuk orang yang bisa dan mampu untuk itu. Atau bisa minta pendapat atau saran bahkan bantuan dari paroki lain yang sudah berjalan. Yang terpenting pastor paroki mau terbuka dengan kesulitan yang dihadapinya. Jangan di diamkan,” pinta Uskup Agus.

Kata Uskup Agus, pihak keuskupan sangat men-support, membuka diri dan siap membantu para pastor yang membutuhkan bantuan.

Mgr. Agustinus Agus (Uskup Agung Pontianak) saat memberikan arahan terkait BIDUK

“Kalau kendala keuangan, bisa bicara dengan Ekonom Keuskupan, Pastor Adreas Kurniawan, OP, untuk dicarikan solusinya. Atau kalau masalah yang berkaitan dengan sistem BIDUK dan sumber daya manusianya, bisa bicara dengan Pastor Yulianus Astanto Adi, CM selaku penanggungjawab BIDUK ini. Atau bisa juga ke Bu Suli,”ujar Uskup Agus.

Di akhir arahannya, Uskup Agus sekali lagi meminta seluruh pastor, khususnya pastor paroki untuk tetap bersemangat dan mendorong terus umatnya untuk secara aktif membantu petugas yang sudah ditunjuk paroki untuk mendata.

“Saya berharap umat secara aktif membantu petugas yang sudah ditunjuk secara khusus oleh Gereja dengan cara mau menyampaikan/memberikan data atau mengisi form/formulir pendataan yang diberikan nantinya,” pinta Mgr. Agus.

Kata Uskup Agus, ini semua dilakukan untuk terselenggaranya sebuah pelayanan pastoral yang maksimal bagi umat dengan berbasis pada data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

PM

 

Basis Integrasi Data Umat Keuskupan Agung Pontianak Mempermudah Pelayanan Pastoral

Suasana Saat Para Imam Keuskupan Agung Pontianak tengah Foto Bersama (2 April 2019) di Wisma Immaculata Keuskupan Agung Pontianak (Foto: Panitia)

Belum lama ini, Keuskupan Agung Pontianak telah meluncurkan Program Basis Integritas Data Umat Keuskupan Agung Pontianak alias BIDUK KAP yang tertanggal 22 November 2018 tahun lalu pas bertepatan pada peristiwa ulang tahun Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak yang ke-69 di Persekolahan Katolik Nyarumkop.

Mungkin terlebih khususnya Umat Keuskupan Agung Pontianak masih binggung atau bahkan tidak tahu apasih Program BIDUK KAP itu sendiri?

Perlu diketahui bahwa BIDUK KAP adalah kepanjangan dari Basis Integrasi Data Umat Keuskupan Agung Pontianak yang bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan Keuskupan Agung Jakarta.

Data Integration atau integrasi data merupakan proses menggabungkan atau menyatukan dua atau lebih sebuah data dari berbagai sumber database yang berbeda ke dalam sebuah penyimpanan seperti gudang data (data warehouse).

Dalam hal ini, semua umat yang mengisi data yang dibagikan oleh petugas paroki dalam pengumpulan data umat merupakan bentuk jalannya program BIDUK KAP. Dengan berjalan suksesnya program ini, tentunya pihak Keuskupan Agung Pontianak baik itu dari Paroki-paroki dan pihak Keuskupan sendiri akan dipermudah untuk mencari data terkait berapa jumlah umat yang ada di stasi di wilayah paroki tertentu.

Mgr. Agustinus Agus mengatakan bahwa, dengan suksesnya progam ini, ia menyampaikan akan “banyak kemudahan yang kita dapat terutama untuk Keuskupan Agung Pontianak dalam tugas pelayanan Pastoral,”ujarnya.

Mgr. Agustinus Agus tengah memberikan pengarahan sekaligus penguatan untuk semangat penggalakan program BIDUK KAP (Foto: Paul Komsos KAP)

“Misalnya, Keuskupan Agung Pontianak, akan mengadakan pertemuan Orang Muda Katolik khusus remaja yang berusia 17-25 tahun yang akan diadakan di wilayah Kubu Raya, maka dengan Basis Data yang ada, pihak Keuskupan Agung Pontianak bisa mengestimasi banyaknya jumlah orang muda Katolik remaja ada berkisar berapa orang,” ujar Uskup Agus (2 April 2019).

“Kalau ada yang sedang sakit dan membutuhkan donor darah golongan A, misalnya; pihak Keuskupan dapat membantu mencarikan donor darah yang sama dengan data yang tersedia di Basis Integritas Data Umat Keuskupan (BIDUK KAP) yang sudah direkap,”tambah Uskup.

Mengapa ada Program BIDUK KAP ini?  

Adapun alasan diperlukannya integrasi data Keuskupan Agung Pontianak karena beberapa keuntungan yang bisa kita dapatkan yaitu, Mempermudah dalam proses menganalisa untuk pengambilan keputusan. Contohnya, Keuskupan akan mengembangkan paroki, maka dari data yang terkumpul akan mempermudah pihak Keuskupan mengambil keputusan. Selain itu, pengambilan keputusan ini tidak melulu hanya bersifat umum saja, tetapi juga bisa secara detail informasi yang didapatkan.

Kedua, akan mempermudah berbagi data antar lingkungan paroki dengan paroki lain  dan dapat mengetahui perkembangan data umat secara jelas dan terukur. Keuntungan selanjutnya yaitu dengan adanya Program BIDUK KAP ini, maka pihak Keuskupan maupun paroki akan kemungkinan besar terhindar dari adanya duplikat data, sebab data yang masuk sudah tersimpan secara aman.

Nama Panggilannya Ibu Suli, Beliau tinggal di Jerman dan datang kesekian kalinya untuk melatih Admin Paroki terkait pengumpulan data Umat lewat Program BIDUK KAP (Foto- Paul Komsos KAP)

Tepat pada tanggal 30-31 Maret 2019 di Pontianak, Ibu Suli dari Jerman langsung datang untuk mengajarkan bagaimana mengelola Admin BIDUK KAP dengan para utusan dari masing-masing paroki. Ini diajarkan pada mereka karena lantaran Paroki menyadari bahwa mereka tidak bisa bekerja sendiri, dan merekalah perpanjangan tangan untuk membantu menyukseskan program BIDUK KAP.

“Memang perjuangan untuk menyukseskan Program BIDUK KAP ini adalah sebuah hal yang baru untuk Keuskupan Agung Pontianak. Sekarang kita sudah memasuki dunia modern dengan berbagai kecanggihan dan kemudahan data beserta informasi yang bisa kita peroleh. Saya pikir tidaklah terlalu sulit kalau tujuannya untuk memajukan Keuskupan dalam lewat Program BIDUK KAP ini,” ujar Ibu Suli saat ditanya Komsos KAP.

“Data umat yang sudah terinput akan berguna dan sangatlah membantu khususnya Keuskupan Agung Pontianak dalam memastikan data-data yang ada di umat paroki maupun secara keseluruhan jumlah jiwa umat yang ada di Keuskupan Agung Pontianak. Kecepatan Akses satu tahap ini akan mempercepat kerja pastoral tahap yang lain,” tambahnya (2 April 2019).

Pastor Astanto, CM dan Ibu Suli, memulai diskusi terkait Basis Integritas Data Umat Keuskupan (BIDUK KAP)- Foto: Paul KomsosKAP

Sekarang, Program BIDUK KAP sudah berjalan, “Pastikan Anda Terdata” dalam pendataan yang dilakukan dalam target kurang lebih 2 tahun ini.

Dalam momen yang sama, Mgr. Agus kembali mengingatkan para pastor paroki juga terlibat penuh dalam program yang diluncurkan oleh Keuskupan Agung Pontiank. “Ini merupakan program Keuskupan Agung Pontianak, dan sudah menjadi tanggung jawab kita untuk terlibat penuh dalam menyukseskan program ini. Mengapa ini dilakukan? Karena kemudahan dalam akses jaringan yang aman inilah warisan yang mempermudah para para imam generasi baru nanti terkait data umat yang ada. Selain itu dengan adanya data terintegrasi ini, maka kita juga terbantu banyak dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.

“Ini Ibu Suli tinggal di Jerman, rela bolak-balik untuk melatih kita terkait admin dan prosesnya. Karena mendengar Ibu Suli datang sendiri dengan biayanya pribadi, maka yang ini saya bantu. Semangat inilah yang mesti kita bangkitkan juga untuk suksesnya Program BIDUK KAP ini. Saya sendiri berani punya target program ini selesai sekitar 3 tahun, tapi setelah saya tanya dengan Ibu Suli, ia lebih optimis dengan  2 tahun selesainya program BIDUK KAP ini,” katanya.

Semz

“Bunda Maria, Contoh Ideal Bagaimana Menghidupi Iman dan Memperjuangkan Kehendak Allah.”

Hal itu dikatakan Pastor Fransiskus Kebry, CM kepada tim Komsos Keuskupan Agung Pontianak, usai memimpin Misa Pembukaan bulan Maria di Gereja Katolik Paroki Keluarga Kudus Kota Baru Pontianak, Rabu (1/5/2019).

“Banyak hal sebenarnya yang dapat kita gali dari kehidupan Bunda Maria. Namun yang terpenting dalam penghormatan kepada Bunda Maria adalah, sejauh mana kita mengikuti contoh hidupnya,” ujar Pastor Kebry

Bunda Maria, lanjut Pastor Kebry, adalah contoh yang ideal, bagaimana menghidupi iman dan memperjuangkan kehendak Allah di atas segala keegoisan pribadi dan mimpi-mimpi kita.

Pastor Fransiskus Kebry, CM berfoto bersama dengan sebagian anggota Legio Maria Paroki Keluarga Kudus Kota Baru Pontianak

Menurut Pastor Kebry, totalitas, kerendahan hati, kesederhanaan dalam hidup yang tersembunyi, dan kemurnian Bunda Maria adalah model bagi kita untuk hidup, bersikap dan bertindak menghadapi misteri Panggilan Allah.

Kata-kata Bunda Maria, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu,” adalah ekspresi iman yang sangat dalam dan kepercayaan yang  sehabis-habisnya kepada rencana Allah, yang sesungguhnya masih diliputi  oleh “kegelapan malam,”pungkas Pastor Kebry.

Dengan kata lain, lanjutnya, Bunda Maria masih belum mengerti sepenuhnya  dengan apa yang terjadi dengan dirinya, termasuk segala konsekuensi yang akan ia hadapi sebagai orang yang dipanggil dan dipilih Allah.

“Namun Bunda Maria berani mendahulukan kehendak Allah. Ia berani  melupakan dirinya dan dengan segala mimpi-mimpinya dan membiarkan dirinya masuk ke dalam  misteri yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya,” tandas Pastor Kebry.

Dikatakan Pastor Kebry, poin penting disini bagi kita, berjalan dalam iman tidak selalu menemukan terang. Kegelapan dalam situasi tertentu merupakan  jalan  yang perlu, karena dengan demikian  kita  bisa  merasakan betapa berharganya terang itu bagi kita.

“Imannya Bunda Maria melewati kegelapan dan misteri yang paling dalam, lebih gelap dari gulitanya gelap malam dan penuh dengan resiko. Namun  Bunda Maria melewatinya! Hingga akhirnya, wajahnya ditimpa terang, yakni Allah sendiri,” tandas Pastor Kebry.

Hidup kita pastilah akan melewati lorong-lorong gelap. Maka, berjalanlah bersama Bunda Maria. Mengapa? Karena Bunda Maria sudah tahu dimana  terang  itu. Karena  Bunda Maria sudah mengalami sendiri bagaimana harus bersikap terhadap kegelapan dan misteri  kehidupan.

Sebagian anggota dari Legio Maria Paroki Keluarga Kudus Kota Baru Pontianak berfoto bersama usai Misa Pembukaan Bulan Maria

Menurut Pastor Kebry, ada 4 keutamaan yang sangat penting dan utama, terdapat dalam diri Bunda Maria, yaitu ; teladan dalam mendengarkan Sabda Allah, pribadi sekaligus hamba Allah yang setia, abdi Roh Kudus, dan Bunda Maria adalah seorang yang tegar hati.

Seperti diketahui, menurut Tradisi Gereja Katolik, bulan Mei dikhususkan atau didedikasikan untuk menghormati Bunda Maria. Oleh karena itu, biasanya di seluruh Gereja Katolik, di hari pertama memasuki bulan Mei diadakan Misa Pembukaan bulan Maria atau kalau di lingkungan-lingkungan diadakan ibadat doa Rosario untuk pembukaan bulan Maria.

Sebenarnya Praktek mendedikasikan bulan Mei sebagai bulan Bunda Maria dipopulerkan pertama kali oleh “Ensiklik Rosario” yang dikeluarkan oleh Paus Leo XII pada awal tahun 1883 dan diakhiri tahun 1889, dimana pada saat itu Bapa Paus menulis 12 ensiklik tentang rosario, dan 5 surat apostolik tentang rosario.

Pada tanggal 1 Mei 1965 Paus Paulus VI dengan ensiklik Mense Maio (Bulan Mei) menegaskan kembali tradisi kesalehan ini. Beliau menyatakan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan “kebiasaan yang amat bernilai”. Maka, umat beriman perlu memberikan tempat khusus kepada Bunda Maria, terutama karena Bunda Maria adalah bunda kita semua. Dia selalu memperhatikan kita dan berdoa untuk kita semua.

PM

 

“Damai Sejahtera Bagi Kamu,” Paskah Bersama Ordo Fransiskan Sekular (OFS)

Suasana Misa Paskah Bersama di Biara San Lorenzo jalan 28 Oktober Siantan yang dipimpin oleh P. Paulus Toni OFMCap dan P. Astono Aji OFMCap

Masih dalam perayaan yang sama, setelah satu Minggu merayakan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang dimana dalam Gereja Katolik yaitu ditandai dengan hari Paskah (Kebangkitan Isa Almasih/ Yesus Kristus). Tepat pada tanggal 28 April 2019 Ordo Fransiskan Sekular Legio Kalimantan Barat telah merayakan Paskah bersama yang diikuti sebanyak 40-an anggota OFS dan ditambah dengan mereka anggota OFS yang membawa keluarganya pada perayaan Paskah bersama minggu itu.

Dalam perayaan Paskah bersama kala itu juga dihadiri beberapa kongregasi lain juga antara lain, Bruder  Maria Tak Bernoda (MTB), Suster SFIC, Suster SFD, Bruder OFMCap (Kapusin), Frater OFMCap, dan Imam OFMCap, dan acara tersebut dirayakan di Biara Kapusin Pontianak yaitu Biara San Lorenzo di Jalan 28 Oktober Siantan, (28 April 2019).

Para perayaan paskah bersama OFS ini, misa dipimpin oleh P. Paulus Toni, OFMCap yang akrab disapa Pastor Toni dan P. Astono Aji, OFMCap yang sering disapa Pastor Aji. Misa dimulai pada pukul 10.00 WIB sampai selesai.

Dalam homili Pastor Aji, OFMCap mengatakan bahwa dalam satu persaudaraan yang paling utama adalah kebersaamaan yang menjadi inspirasi untuk semua orang.

Suasana Foto Bersama dalam momen Paskah Bersama Ordo Fransiskan Sekular Legio Kalimantan Barat

“Saudara-saudari Fransiskan-Fransiskanes, Peristiwa Paskah merupakan Cikal bakal dan inti dari perayaan Ekaristi yang kita rayakan. Kenyataan ini digarisbawahi dengan jelas oleh DUA bacaan pada hari ini. Bacaan pertama menyebutkan “himpunan orang-orang yang mengimani Yesus itu sehati-sejiwa. Mereka berkumpul di serambi salomon dalam persekutuan yang erat. Makin hari, makin bertambahlah orang yang percaya dengan Tuhan. Banyak orang sakit dibawa kepada mereka dan disembuhkan,” katanya.

“Sementara itu bacaan Injil juga mencatat hal yang senada. “Pada hari minggu Paskah murid-murid Yesus berkumpul di sebuah rumah. Yesus datang ditengah-tengah mereka. Dan Yesus menyapa mereka: damai sejahtera bagi kamu.”

Minister Legio Kalimantan, Sdr. Herman Yosef Anem, OFS

Menjadi jelas bagi kita bahwa kedua bacaan hari ini berbicara tentang perhimpunan para murid. Dan dalam perhimpunan itu mereka mengalami Tuhan yang hadri. Kehadiran Tuhan Yesus ini mendesak mereka untuk menjalin tali kasih, bersama orang lain. Inilah inti dari Pernyataan Ekaristi yang juga merupakan sukacita paskah.bahwa Kristus tidak mati, tetapi ia hidup dan sungguh hadir di tengah-tangah kita. Kehadiran-Nya juga mengundang kita untuk menjalin kebersamaan dan persaudaraan, dalam Fransiskan-fransiskanes,” ujarnya.

Suasana saat Makan bersama dalam momen Paskah bersama OFS Legio Kalimantan

“Saudara-saudari, Setelah mendengar bahwa Yesus telah bangkit, timbulah ketidakpercayaan diantara para murid Yesus. Adakah orang bangkit dari mati? Bagaimana mungkin orang yang sudah dikubur bisa hidup kembali ? Ah… semua ini omong kosong. Sama sekali tidak masuk akal. Bagi mereka paskah sungguh merupakan peristiwa yang menghebohkan, peristiwa di luar jangkauan pemikiran manusia. Omong kosong.

Kita bisa memahami ketidakpercayaan mereka bila kita tarik kembali apa sebenarnya harapan mereka yang mereka  gantungkan pada pribadi Yesus. Dari kesaksian Injil kita mengetahui bahwa pada waktu itu bangsa istrael sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Sebagai bangsa yang tertindas dengan segala penderitaannya para muridnya tentu mengharapkan hadirnya seorang pembebas. Dalam diri mereka senantiasa berkobar ramalan para nabi tentang hadirnya seorang Mesias dan sangat berharap bahwa nubuat itu segera terpenuhi. Ketika mereka berjumpa dengan Yesus harapan mereka itu seolah menemukan jawabannya,”imbuhnya.

“Inilah dia titisan raja Daud yang akan memulihkan kebali kejayaan kerajaan Israel dahulu kala. Maka tidak heran bahwa anak-anak Zebedeus meminta tempat duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan-Nya kelak (Mrk 10:37). Atau Petrus yang menegur dan menarik Yesus ke samping ketika kepadanya diberitahukan ramalan tentang Mesias yang menderita (Mrk 8:32). Dia tidak setuju atas nubuat tentang Mesias yang menderita.

Suasana Misa dalam perayaan Paskah bersama

Berulangkali Yesus memberitahukan bahwa Anak Manusia harus menderita. Bahkan Ia akan dibunuh, tetapi pada hari ketiga Ia akan bangkit. Tetapi para murid tidak juga mengerti atau bahkan tidak mau mengerti sebab bagi mereka tidak boleh terjadi; seorang Mesias harus menderita.

Dan terjadila peristiwa Golgota yang membuat mereka Shock, yang menggoncangkan harapan mereka. Tuhan mereka dibunuh atas cara yang amat nista. Bahkan disejajarkan dengan seorang penyamun lewat hukuman salib. Betapa hancur hati mereka,”

“Punahlah sudah harapan mereka akan Mesias yang jaya. Dan di tengah suasana ketakutan dan keputusasaan itu mereka mendengar berita bahwa Yesus bangkit dari mati. Kebohongan apa apa lagi yang sedang terjadi. Para murid bimbang dan tidak lekas percaya akan berita paskah yang dibawa oleh para perempuan. Sangat menarik meperhatikan reaksi pada murid Tuhan. Petrus yang segera berlarike makamdan menemukan makam koson bertanya-tanyadalam hatinya apa yang kiranya sedang terjadi (Luk 24:12).

Dia tidak percaya bahwa Kristus telah bangkit seperti sudah dinubuatkan sebelumnya. Juga dua murid Emaus sangat skeptis atas berita Paskah. Begitu mendengar berita dari perempuan bahwa Yesus telah bangkit mereka malah segera pulang kembali ke kampung halamannya, Emaus (Luk 24:22). Mereka putus asa dan ingin kembali pada cara hidupnya yang lama. Ketidakpercayaan para murid ini memuncak dalam diri Thomas yang kita dengar kisahnya minggu ini (28 April 2019),”ujarnya.

“Ketika para murid lain memberitahu bahwa mereka melihat Tuhan, denga nada tidak percaya Thomas menjawab: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangannya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mecucukkan tangan ku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya,” (Yoh 20:25). Thomas menuntut bukti nyata. Dia meminta tanda akan kehadiran Tuhan.

Saudara-saudari Keluarga besar Fransiskan, bila kita sejajarkan kisah Thomasini kita menemukan padanannya dengan diri kita. Kalau Thomas mengalami kehadiran Tuhan, hal yang sama pun kita alami setiap kali merayakan Ekaristi.

Pose Bruder Agustinus, MTB dalam suasana Makan bersama

Dia mendengar salam dari Kristus yang bangkit “damai sejahtera bagi kamu.” Begitu juga kita mendengar salam yang sama. Benar bahwa kita tidak melihat Kristus secara fisik dan kita tidak dapat menyentuh-Nya, tetapi sungguh kita mengalami kehadiran-Nya melalui pembagian sabda dan sakramen. Bacaan-bacaan  yang kita dengar hari ini adalah sabda Tuhan sendiri dan Ekaristi yang akan kita terima adalah tubuh Kristus sendiri. Fransiskus dalam suratnya kepada pra Imam, meneguhkan kita; hanya dalam tubuh dan darah yang dikonsekrasikan oleh para Imam kita melihat tanda Yesus yang paling nyata hadir di dunia ini,”tambahnya.

“Di sisi lain patut kita renungkan bahwa kehadiran Kristus yang bangkit membawa konsekrasi bagi tugas perutusan untuk para murid. “Damai sejahtera bagi kamu. Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu.” Tugas perutusan inijuga berlaku untuk kita. Apa tugas kita terima dari Tuhan? Pertemuan kita dengan Tuhan dalam Ekaristi yang membuahkan damai mewajibkan kita untuk lebih memperdalam relasi kita, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama. Setiap kali merayakan Ekaristi kita berkumpul untuk merayakan sabda dan pemecahan roti. Di dalamnya kita mengalamikasih dan persaudaraan. Akan tetapi kita bukan hanya berkumpul atas dasar kesatuan hati dan perasaan, tetapi uga atas dasar keperluan hidup sebagaimana kita dengar dalam bacaan I.

Para rasul mengadakan banyak tanda dan mukjizat. Tanda kasih dari Allah yang sungguh diperlukan oleh orang pada waktu itu. Sehingga semakin banyak orang percaya dan menggabungkan diri dengan mereka. Kita dipanggil untuk berbagi kasih dan kegembiraan dengan orang lain, terutama dengan tindakan nyat meringankan beban penderitaan orang yang susah dan menderita,” katanya.

Suasana dalam ramah tamah perayaan Paskah Bersama OFS Legio Kalimantan

“Sejalan dengan misi Fransiskus Assisi kita dipanggil membawa damai kepada siapa saja. Bahkan sebagai seorang ibu amat mengasihi anak-anaknya, kita juga bagaikan ibu rohani mengasihi siapa saja, terutama mereka yang menderita dan kecil. Maka marilah kita terlebih dahulu dalam OFS (Ordo Fransiskan Sekular) ini mendahulukan untuk membawa damai satu kepada yang lain. OFS bukan sekedar pertemuan rapat, habis rapat pulang, tetapi seperti murid-murid Yesus perdana hidup sehati dan sejiwa, dalam persekutuan yang erat, demikian kita para OFS menemukan Yesus dalam persaudaraan kita yang hidup saling memperhatikan dan peduli satu terhadap yang lain.

Saling memaafkan, Minggu ini (28 April 2019) merupakan minggu Kerahiman Ilah, Yesus telah memaafkan kita, maka kita juga harus memaafkan siapa saja, pun mereka yang pernah melukai kita.

Yesus bangkit, Yesus hidup, ia tinggal dalam persaudaraan kita yang saling mengasihi, Terpujilah Tuhan kini dan sepanjang segala masa. Selamat Paskah,”pesan Pastor Aji, OFMCap dalam homilinya.

Perwakilan dari Suster SFIC yang hadir dalam perayaan Paskah Bersama OFS di Biara San Lorenzo Siantan

Dalam kesempatan yang sama, Sdr. Herman Yosef Anem, OFS (Minister Legio Kalimantan Barat) mengucapkan selamat Paskah bagi semua persaudaraan Ordo Fransiskan Sekular Se-Kalimantan. “Semoga Kasih dan Pengampunan Tuhan selalu beserta kita semua, dan menjadi berkat untuk kita semua,” ujarnya.

Usai misa, sebelum melanjutkan acara dengan santap siang bersama, momen yang berbahagia ini digunakan sekaligus merayakan acara ulang tahun bagi saudara-saudari yang berulang tahun pada bulan Maret dan April, tepat dalam perayaan itu, ada Pastor Paulus Toni, OFMCap dan Pastor Astono Aji. Dimana Pastor Toni berulang tahun yang ke 55 dan Pastor Aji berulang tahun yang ke 54.

Usai makan bersama, kemudian semua OFS dan tamu undangan diajak untuk foto bersama sebagai dokumentasi OFS dan sekaligus untuk kenangan saat acara Paskah bersama Ordo Fransiskan Sekular pada tahun 2019 di Biara San Lorenzo Jalan 28 Oktober Siantan.

– Semz

Kebangkitan Kristus Membuktikan Pengampunan Allah dari Dosa Manusia

RD. Alexius Alex Pastor Paroki Gereja Santo Yoseph Katedral Pontianak

Minggu pada tanggal 28 April 2019 merupakan hari minggu yang dalam gereja Katolik ditandai dengan hari pengampunan atau dalam bahasa lain disebut dengan dengan perayaan Pengampunan Ilahi. Karena kematian Tuhan Yesus membuktikan bahwa Ia mati tidak dengan sia-sia, untuk itu Tuhan Yesus kembali bangkit sebagai bukti kehariman Allah atas manusia.

Sore pada minggu itu, tepatnya pada misa ke 4 pada pukul 16.30-18.00 yang dipimpin oleh RD. Alexius Alex yang dihadiri kurang lebih sebanyak 2000an umat. Sebab jika ditinjau dari isi Gedung Gereja Katedral dari lantai bawah sampai dengan lantai yang atas sudah terisi dengan full alias penuh.

Artikel ini merupakan isi dari apa yang RD. Alexius Alex kotbahkan pada misa minggu tanggal 28 April 2019. Mari sejenak kita mendengarkan isi renungan yang diulas oleh Pastor pada perayaan minggu Kerahiman Ilahi minggu itu.

“Saudara saudari terkasih, salah satu ciri jemaat perdana, jemaat awal yakni bentuk berupa rasul diajak, dibimbing, dipelihara dalam persekutuan hidup dalam persekutuan membangun kebersamaan. Persekutuan yang kemudian diterjemahkan dalam kehidupan Jemaat dengan tujuan hidup dan sasaran yang diinginkan sesuai dengan ajaran kasih yang sudah ditinggalkan.

Dalam perayaan Ekaristi, komuni itu juga mau mengingatkan tentang persekutuan dalam peribadatan, menjadi hal yang penting bagi segenap umat, karena dalam persekutuan terdapat sikap-sikap solidaritas, saling melayani, saling memperhatikan, membangun kesetiaan, termasuk juga menerima pengajaran, yang kuat membantu yang lemah, yang lemah dikuatkan oleh mereka yang kuat dalam kehidupan bersama dalam persekutuan.

Setiap orang diperhatikan dan memperoleh bagian di dalamnya. Apa yang tadi kita dengar dalam bacaan yang pertama, kesaksiaan jemaat perdana, cara hidup mereka telah mengagungkan banyak orang, meskipun jumlahnya sedikit tetapi dari kehidupannya membuat orang terkagum-kagum. Banyak pemerintas seorang Kristen dari dulu hingga sekarang demikian dikagumi karena cara hidupnya berbeda karena mereka meyakini suatu ajaran yang benar, mereka tidak mau ikut-ikutan kebiasaan orang banyak atau yang lain. Mereka tampil beda karena sungguh-sungguh mau menghayati iman mereka.

Kalau kita dengar berita di Sri Langka, orang Kristen umat Katolik khususnya, meskipun jumlah mereka itu 10% dari seluruh penduduk yang ada, tetapi keberadaan mereka dikagumi. Mereka menjadi kelompok pemersatu dari sekian banyak kelompok suku yang ada. Mereka tidak membeda-bedakan status sosial. Mereka tidak membeda-bedakan agama, suku, semua ada. Mereka dihormati karena menjadi pemersatu di negara itu, meskipun kita dengar beberapa waktu yang lalu mereka menjadi korban bom bunuh diri pada hari raya dimana umat Kristiani merayakan imannya dengan sungguh-sungguh agung.

Suasana dilihat dari sudut atas yang diambil oleh Tim Komsos Keuskupan Agung Pontianak

Semoga mereka mati dan bangkit bersama dengan Kristus. Persekutuan itu harus menjadi kekuatan orang Kristen. Kalau sudah tidak menghendaki persekutuan, siap-siaplah untuk kemudian tercerai-berai, siap pula untuk tidak mampu menghadapi berbagai kesulitan, berbagai tantangan. Tetapi kalau kita membawa persekutuan dalam kebersamaan, segala bentuk tantangan, kesulitan, godaan itu akan bisa diatasi. Bangsa Indonesia sedang diuji kesatuannya, kita tahu bahwa dalam keragaman bangsa kita banyak orang memanfaatkan untuk kemudian memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Orang Kristen, Gereja, kita berada diposisi mendukung kesatuan, 100% Indonesia, 100% Katolik. Yang kini tampak juga dan terwujud dalam cara berpikir kita, termasuk cara berpikir dalam politis bahwa kita membangun kebersamaan, bersama dengan yang lain, kita terlibat dalam kehidupan bersama untuk kesejahteraan bersama. Ketika kita menggunakan hak pilih kita, kita memilih orang yang benar, orang yang peduli, orang berpikir untuk kebaikan kesejahteraan orang banyak, orang yang berperilaku baik dan seterusnya, itu adalah pilihan kita karena kita menghendaki supaya dalam kebersamaan semua orang mengalami kebahagiaan kesejahteraan tanpa pandang bulu.

Saudara saudariku yang terkasih, dalam bacaan yang kedua, kita mendengar tentang kesaksian Yohanes dalam penglihatan. ia melihat bahwa anak manusia yang sebelumnya menderita kemudian wafat, bangkit ia dimuliakan. Ini merupakan penglihatan bagaimana putra Allah yang menjadi pedoman bagi para pengikut-Nya. Ia membangun rasa keyakinan para pengikut-Nya, dilihat sudah mengalami pengkhianatan, Ia adalah Kristus sendiri menjadi dasar iman kepercayaan kita. Wafat, namun kemudian bangkit, dimuliakan, itulah Mesias.

Dia datang menyelamatkan, Dia yang datang untuk memperkenalkan tentang Allah yang penuh belas kasih, Allah yang maha rahim, Allah yang peduli akan nasib manusia yang berdosa, Allah yang tetap membangun persekutuan bagi manusia, ciptaan-Nya. Meskipun manusia tidak setia, Tuhan tetap setia dan dengan demikian persekutuan tetap terjalin. Saudara saudariku terkasih, kebangkitan Kristus semakin membuka dengan jelas maksud Allah tentang kehidupan manusia.

Manusia yang tidak berdaya memperoleh kekuatannya karena percaya akan Kristus yang bangkit. Apa yang kita dengar dalam bacaan Injil, dalam persekutuan para murid, mereka yang berkumpul di situ Yesus hadir. Damai sejahtera bagimu, itu perkataan yang berkali-kali diucapkan Yesus kepada para murid, supaya damai sungguh-sunggh nyata, sejahtera itu sungguh-sungguh nyata, itu diucapkan sebagai sabda yang berbahagia bagi para pengikut Kristus. Dan yesus menebus mereka dengan roh kudus supaya dengan kekuatan roh kudus para murid mampu melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan, membawa damai. kita diutus utk membawa damai, kita diutus utk membawa kabar sukacita, kita diutus utk memberi pengharapan, kita diutus utk menyampaikan berita2 benar, itulah tugas kita. Tugas ini kita peroleh, kita dapatkan setelah kita menerima sakramen pembaptisan.

Dalam sakramen pembaptisan kita terangi roh kudus, roh kudus itulah yang memampukan kita utk memberi kesaksian, jangan takut karena Tuhan menyertai kita. roh kudus menaungi kita maka meskipun kita disakiti, meskipun kita dianiaya, meskipun kita dibenci, meskipun gereja kita dibakar, dibom, meskipun banyak diantara kita yang menderita kemudian dibunuh. roh kudus bekerja, roh kudus tidak pergi meninggalkan kita, roh kudus tidak tertidur ketika kita berjuang, roh kudus ada hadir di dalam hidup kita karena pembaptisan yang telah kita terima dan membuat kita ambil bagian dalam persekutuan.

Maka saudara saudari yang terkasih kehadiran Allah yang kita rayakan pada hari ini menjadi bagian dalam pelayanan iman kita , terkait dgn pengampunan sejatinya ketika Tuhan mengampuni kita maka kita juga mau mengampuni orang yg bersalah kepada kita. ketika tuhan memberikan kepada kita kabar2 sukacita hendaknya kita juga melakukan hal yang sama. apa yang telah dilakukan oleh yesus berasal dari bapaknya kemudian disampaikan kepada kita utk dilakukan, lakukanlah itu. maka dengan demikian dari dulu sampai sekarang , alpa dan omega, tetap sama siapa yang mewartakannya, kita, kita sekalian.

Demikianlah bunyi homili dari RD. Alexius Alex pada misa minggu Kerahiman Ilahi tertanggal 28 April 2019 di Paroki Gereja Santo Yoseph Katedral Pontianak. Semoga dengan renungan yang telah diulas tadi, iman kita semakin menjadi kuat dan semakin percaya bahwa pengampunan selalu membawa kebenaran.

-S_Komsos KAP

Paskah bersama Sekolah Menengah Se-Pontianak Utara di hadiri ratusan pelajar

Suasana dalam Acara Paskah Bersama

Nuanasa yang hangat masih boleh dirasakan oleh semua orang, khususnya dalam masa Paskah ini. Paskah adalah sebuah peristiwa besar dalam gereja Katolik sedunia, dimana Tuhan mengalahkan dosa apapun lewat kebangkitan setelah kematian.

Masih dalam suasana paskah, Jumat (26/04/2019) para pelajar sekolah menengah di kecamatan Pontianak Utara merayakan paskah bersama dengan semangat dan suka cita. Acara tersebut bertempat di Gereja Paroki Stella Maris Siantan.

Tak hanya siswa siswi berbagai smp, sma/smk dari sekolah negeri maupun swasta, acara ini juga di hadiri oleh anggota Dewan Legislatif kota Pontianak ibu Emiliana TB.SH.,M.SI, beberapa pengawas pendidikan agama Katolik, para guru yang beragama Katolik, serta Kepala Sekolah Negeri yang beragama Katolik.

Suasana misa saat perayaan Paskah bersama

Acara tersebut disambut dengan perarakan tarian daerah oleh penari gabungan dari beberapa SMP di kecamatan Pontianak Utara. Kegiatan ini dimulai dengan Misa bersama yang di pimpin oleh Pastor Kornelius Kuli Keban Msc dan di meriahkan oleh Paduan Suara gabungan dari SMA Negeri 5 Pontianak dan SMK Negeri 8 Pontianak yang telah berpartisipasi sebagai petugas koor.

Setelah misa, acara diisi dengan beberapa kata sambutan dari ketua Panitia, pengawas pendidikan dan seorang anggota dewan legislatif.

“Rencananya pada tahun berikutnya kita bisa melibatkan pelajar dari Tingkat SD sampai tingkat menengah atas dan tidak hanya dari kecamatan ini saja, semoga kita bisa bergabung dengan kecamatan lain yang ada di kota Pontianak.” tutur dari bapak Julius Jamin selaku Pengawas Pendidikan yang menghadiri acara tersebut.

Kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan makan bersama di lingkungan Gereja Stella Maris. Acara semakin meriah dengan hiburan drama musikalisasi dari SMK Negeri 8 dan penampilan band SMA Negeri 5 yang tak kalah memukau hadirin.

Monika Yessi Volunteer KOmsos KAP

Pastor John Rustam : “Perayaan Paskah Inkulturasi, Bukti Gereja Katolik Sangat Menghargai Budaya”

“Saya senang, inilah Misa Inkultutasi Jawa yang kita harapkan. Kemarin mungkin ada yang protes, kenapa tidak ditulis misa berbahasa Jawa. Itu Cuma bahasanya. Tapi hari ini Misa Inkulturasi Jawa, dari musik, bahasa, pakaian imam, hiasan altar, semuanya menunjukkan budaya Jawa. Inilah inkulturasi namanya,”

Pastor John Rustam , Pr (Pastor Paroki MRPD)

Demikian diungkapkan oleh Pastor John Rustam, Pr saat memberikan sambutan dalam acara Perayaan Paskah Inkullturasi Jawa di Gereja Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pontianak, Minggu (28/4/2019).

Saya harap, lanjut Pastor John,  apa yang telah kita buat ditempat ini menjadi bukti

bahwa Gereja Katolik sangat menyadari dan menghormati budaya yang memang sudah kita miliki sejak lahir.

Aneka suku dalam balutan pakaian membawakan persembahan dalam Misa Perayaan Paskah Inkulturasi di gereja MRPD, Minggu (28/4/2019)

Menurut Pastor John, dengan Misa inkulturasi bisa menjadi pengingat akan nilai positif dalam budaya kita masing-masing. Dan Gereja sampai saat ini terus berusaha melestarikan budaya yang sesuai dengan nilai Injil.

Karena itu, lanjut Pastor John Rustam, di Paroki MRPD selalu siap mendukung segala kegiatan yang sifatnya inkulturasi. Salah satunya yang dilakukan adalah dengan mengadakan Misa syukur Perayaan Imlek bagi umat Katolik etnis Tionghoa.

“Selain itu, saya sebagai Pastor Paroki MRPD juga siap melayani Misa syukur, seperti kegiatan naik Dango, tanggal 26 April lalu di Ngabang dan Gawai Dayak yang sebentar lagi akan digelar,” ujar Pastor John Rustam.

Hampir senada dengan Pastor John Rustam, Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Pius Barces, CP yang mewakili Uskup Agung Pontianak, saat memberikan sambutan mengatakan:

“Kita disatukan di sini untuk bersama-sama merayakan iman dalam budaya. Budaya yang akan ditampilkan itu mewakili penerimaan umat dalam iman akan Kristus. Oleh karena itu, Bapak Uskup menyetujui pakaian yang digunakan oleh para imam hari ini yang berbalut budaya, tampil berbeda dari biasanya.

Pastor Pius Barces, CP (Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak)

“Inilah wujud nyata penghargaan Bapak Uskup terhadap  budaya yang hidup di tengah-tengah umat,” ujar Pastor Barces

Kata Pastor Pius Barces, dalam perayaan Paskah ini, Iman dalam budaya, memang itu yang seharusnya terjadi. Kristus juga datang, hadir dan menerima serta masuk dalam budaya Yahudi.

“Inilah Allah kita yang membumi, yang hadir dalam kehidupan kita manusia, berinkulturasi,” ujar Pastor Pius Barces

Menurut Pastor Pius Barces, saat ini memnag kita merayakan Paskah dalam inkulturasi Jawa, tetapi kita juga dapat menghayati perayaan ini dalam budaya kita masing-masing.

“Selamat Paskah dan selamat melanjutkan perjalanan iman kita dalam penghayatan budaya kita masing-masing,” ucap Pastor Pius Barces menutup sambutannya.

PM

 

Mgr. Pius Riana Prapdi : “Cara Mewartakan Kebangkitan Kristus adalah Menjadi Pribadi Yang Mudah Mengampuni “

Hal itu dikatakan Mgr. Pius Riana Prapdi (Uskup Keuskupan Ketapang) dalam renungannya pada Perayaan Paskah Inkulturasi di Gereja Katolik Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila Pontianak, Minggu (28/4/2019).

Mgr. Pius mengatakan, Yesus menghendaki kita menjadi pribadi yang tidak menyimpan kejelekan orang lain. Pribadi yang tidak membicarakan kejelekan orang lain.

Prosesi penyambutan Uskup, para imam, dan petugas liturgi lainnya  dengan tarian adat Dayak oleh Sanggar Pamaraya

Lihatlah contoh, lanjut Mgr. Pius. Yesus tidak menyalahkan atau marah ketika murid-murid yang meninggalkan diri-Nya, lari tunggang langgang saat Dirinya memanggul salib dengan penuh siksaan dan hinaan, mulai dari Yerusalem sampai bukit Golgota.

Dikatakan oleh Mgr. Pius, Yesus juga tidak marah ketika Thomas menyatakan ketidakpercayaannya akan kebangkitan-Nya. Malahan, kata pertama yang diucapkan Yesus ketika berjumpa dengan murid-murid-Nya adalah: “Damai sejahtera bagi kamu”

Tarian Tionghoa oleh siswa SD juga ikut dalam prosesi penyambutan

Kata Mgr. Pius, Yesus tidak mengingat-ingat kesalahan dan kejelekan para murid-Nya. Yang berlalu, sudahlah biarlah berlalu, tidak usah dingat-ingat lagi.

“Itulah kehebatan hati Yesus yang tidak dendam tetapi penuh kasih pengampunan,” tandas Mgr. Pius.

Oleh karena itu, lanjutnya, para rasul diutus mewartakan berita kebangkitan Kristus dengan cara menjadi pribadi yang pengampun. Kita pun saat ini sebagai pengikut Kristus diminta untuk mewartakan berita kebangkitan-Nya dengan cara yang sama.

Dalam keberagaman budaya dipersatukan dalam perayaan iman

Misalnya, ujar Mgr. Pius memberi contoh, isteri gampang memaafkan suaminya, suami gampang pula memaafkan isterinya. Orang tua mudah mengampuni anak-anaknya, anak-anak juga mudah mengampuni orang tuanya. Uskup mudah mengampuni imam-imamnya, dan juga imam-imam mudah mengampuni Uskupnya. Imam mudah mengampuni umatnya, dan umat pun mudah mengampuni imamnya.

Koor gabungan dari berbagai paroki di Pontianak menyemarakan Perayaan Paskah Inkulturasi dalam Budaya Jawa

Menurut Mgr. Pius, Yesus tidak saja mengajarkan bagaimana kita harus saling mengampuni, tetapi Dia sendiri mempraktekkan apa yang Dia ajarkan.

“Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Pungkas Mgr. Pius mengutip perikop Injil Yohanes.

Silahkan sekarang menghitung, ucap Mgr. Pius kepada segenap umat yang hadir. Lebih banyak membicarakan kejelekan orang atau lebih banyak memberi ampun dan melupakan kejelekan orang lain.

Musik Karawitan Wijaya Laras yang mengiringi Perayaan Paskah Inkulturasi

Mgr. Pius menegaskan, tidak perlu menghitung harus berapa banyak kita memberi ampun kepada orang lain, karena kita semua sudah diampuni oleh Tuhan, bahkan tidak terhitung. Bukankah dalam Doa Bapa Kami, kita selalu berjanji kepada Tuhan : Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.

umat yang hadir dalam Perayaan Paskah Inkulturasi

Ini kan janji? Tanya Mgr. Pius. Doa ini mau mengatakan kepada Tuhan : kalau saya tidak mengampuni saudara-saudara saya yang bersalah kepada saya, jangan ampuni saya, Tuhan. Itu kan artinya? Tanya Mgr. Pius lagi kepada segenap umat.

Kita berjanji mengampuni orang lain , seperti Tuhan sudah mengampuni kita. Itulah Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus, dan kita doakan setiap hari. Sekali lagi, berapa kali kita sudah mengampuni sesama kita setiap hari?

Kehadiran kita sebagai pengikut Kristus, kata Mgr. Pius, hendaknya menampakkan belas kasih Allah baik melalui keluarga, paroki, komunitas, kelompok asosiasi dan gerakan lainnya.

 persembahan yang dibawakan oleh umat dengan balutan busana dari berbagai suku

Menurut Mgr. Pius, hidup penuh belas kasih Allah adalah hidup tanpa menyimpan dosa orang lain. Tidak menyimpan kejelekan orang lain, apalagi membicarakannya dengan orang lain.

“Hidup penuh belas kasih Allah adalah hidup tanpa menyimpan iri hati dan dendam. Hidup penuh belas kasih adalah tutur kata, perbuatan dan sikap yang menunjukkan memberi perasaan damai, bukan kata-kata yang mengancam, bukan kata-kata yang membuat resah dan gelisah orang lain,” tandasnya.

Dalam misa yang berbalut budaya Jawa ini, Mgr. Pius Riana Prapdi didampingi oleh Pastor John Rustam, Pr (Pastor Paroki MRPD), Pastor Pius Barces, CP (Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak), Pastor Yustinus Andijatmiko, Pr (Pastor rekan Paroki Menjalin), Pastor Rusellapides, OAR (Pastor yang dipersiapkan untuk Paroki Ledo), dan Pastor Ellentarius Bon, SVD (Pastor rekan Paroki Bunda Maria Jeruju Pontianak).

Pastor John Rustam, Pr saat membagikan komuni 

Saat memasuki halaman gereja, Uskup, para imam, dan petugas liturgi lainnya diarak dengan tarian adat Dayak persembahan dari Sanggar Pamaraya dan tarian adat Tionghoa. Dan ketika masuk di dalam gereja, rombongan disambut dengan lagu pembukaan oleh koor gabungan dari berbagai paroki di kota Pontianak dengan iringan musik nuansa Jawa, karawitan Wijaya Laras pimpinan Kanjeng Raden Tumenggung Erwan Suparlan Adiningrat S.Sn.,M.Pd yang sudah kerapkali mengiringi Perayaan Paskah Inkulturasi budaya Jawa di Pontianak.

Perayaan Paskah Inkulturasi budaya Jawa ini tidak hanya dihadiri oleh umat yang berasal dari suku Jawa saja. Banyak juga umat dari suku-suku lain yang hadir, seperti : Dayak, Batak, Flores, Tionghoa, dll. Semuanya dipersatukan dalam perayaan iman.

Usai Misa, seluruh umat yang hadir diajak untuk santap siang bersama. Makanan yang disajikan pun juga khas Jawa. Tampak umat sangat menikmati makanan yang disajikan sembari diiringi oleh musik dari karawitan Wijaya Laras.

Sugeng Paskah – Selamat Paskah!

PM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Paroki Katedral Pontianak, Tuan Rumah Penyelenggaraan Expo Panggilan 2019

Sejak tahun 1963, Gereja merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia  yang tiap tahunnya jatuh pada  Hari Minggu Paskah IV (hari Minggu Gembala Yang Baik).

Tahun ini, Hari Minggu Panggilan dirayakan untuk yang ke-56 yang jatuh pada tanggal 12 Mei 2019. Dalam konteks ini Keuskupan Agung Pontianak telah membentuk Panitia untuk kegiatan tersebut.

Paroki Santo Yosef Katedral Pontianak ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Perayaan Hari Panggilan untuk tingkat Keuskupan Agung Pontianak.

Suasana Aksi Panggilan Tahun 2018 lalu di Paroki Keluarga Kudus sebagai Tuan Rumah Penyelenggata

Adapun tema yang diusung : ” BUKAN KAMU YANG MEMILIH AKU, TETAPI AKULAH YANG MEMILIH KAMU” (Yoh. 15 : 16 ).

Dari data yang terhimpun dari Panitia Penyelenggara, ada 27 tarekat yang akan ambil bagian dalam kegiatan ini. Masing-masing tarekat nantinya akan diberi stand bazar dan pameran untuk memamerkan dan mempromosikan karya-karya yang sudah, sedang dan akan dijalankan.

Lokasi pameran untuk stand-stand itu akan ditempatkan di basement gereja Katedral Pontianak, mulai tanggal 10-12 Mei 2019.

Selain bazar dan pameran, juga akan ada sharing tanya jawab dengan Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2019 usai acara pembukaan dan ibadat singkat pukul 15.00 WIB sampai selesai.

Orang Muda Katoik yang datang menghadiri kegiatan Aksi Panggilan tahun 2018 lalu

Tanggal 11 Mei 2019 akan ada seminar religius yang dimulai pukul 08.00 – 13.00 WIB. Dilanjutkan dengan sharing OMK bersama Pastor Matius Mali, CSsR (dosen Ahli Teologi Moral di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sore hari (pukul 17.00 – 18.30) akan dirangkaikan dengan Perayaan Paskah Mahasiswa se-Kotamadya Pontianak. Usai itu, akan ada pentas seni/hiburan yang dipersembahkan oleh artis ibukota dan mahasiswa.

Tanggal 12 Mei 2019 diadakan Misa Penutupan Hari Minggu Panggilan pukul 08.30 – selesai, dilanjutkan dengan ramah tamah bersama Uskup dan umat.

Hari Minggu Panggilan merupakan hari doa untuk mohon pertumbuhan  panggilan khusus untuk menjadi imam, bruder dan suster.

“Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mempertaruhkan nyawa bagi Tuhan! Jangan tuli terhadap panggilan Tuhan”.

Demikian diungkapkan Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Pesannya pada Hari Minggu Panggilan Se-Dunia tahun 2019.

Paus Fransiskus mengatakan, panggilan Tuhan menjadikan kita pembawa janji, dan pada saat yang sama, meminta kita untuk berani ambil risiko, bersama-Nya dan bagi-Nya.

Pastor dan Frater yang memberi kesaksian pada Aksi Panggilan tahun 2018 lalu di Paroki Keluarga Kudus Pontianak

Kata Paus Fransiskus, panggilan Tuhan bukanlah gangguan dari Tuhan dalam kebebasan kita; panggilan itu bukan “sangkar” atau beban untuk dipikul. Sebaliknya, panggilan adalah inisiatif cinta dengan mana Tuhan menjumpai kita dan mengundang kita untuk menjadi bagian dari suatu pekerjaan besar,” kata Paus.

Setiap manusia memiliki panggilan hidup masing-masing, tetapi semua panggilan itu adalah bukti cinta Tuhan kepada kita dan bila Tuhan menghendaki Ia akan memanggil kita dengan cara yang ajaib.

Tak banyak umat yang mengetahui bagaimana seluk-beluk hidup membiara. Barangkali inilah yang menyebabkan berkurangnya calon imam di tarekat-tarekat ataupun seminari-seminari. Fenomena ini bukanlah disebabkan tidak adanya panggilan. Pertama-tama karena banyak umat yang tidak tahu-menahu kehidupan membiara. Atau kalaupun ada yang mengetahui, masih sebatas pada bagian luarnya saja.

Oleh karena itu, ayo datang dan hadiri kegiatan Hari Minggu Panggilan 2019 tingkat Keuskupan Agung Pontianak.

PM

 

“Sebaran Guru Agama Katolik di Kalbar Tidak Merata”

Hal itu dikatakan Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Yosef di acara Diskusi yang digelar oleh Harian Rakyat Kalbar, Jumat (5/4/2019) lalu di Graha Pena Kalbar Jalan Arteleri Supadio, Kabupaten Kubu Raya.

Menurut Yosef, persoalan sebaran tenaga guru memang tak pernah tuntas. Selalu saja kurang, termasuk kebutuhan tenaga guru agama Katolik. Bahkan, ada guru yang mengajar tidak sesuai disiplin ilmu.

Menurut data Bimas Katolik, lanjutnya Yosef, jumlah guru agama Katolik untuk sekolah menengah atas (SMA) berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) hanya berkisar 1.390 orang.

Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Prov. Kalbar – Drs. Yosef

Dikatakan Yosef, jumlah tersebut dinilai belum cukup menjangkau semua sekolah yang tersebar di 14 kabupaten/kota. Akibatnya, tak sedikit siswa beragama Katolik yang sampai hari ini tidak mendapat pengajaran agama.

“Kalau dilihat dari kebutuhan di lapangan, jumlah itu hanya bisa menutupi separuh kebutuhan saja,” tegas Yosef,

Dikatakan Yosef, rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) khusus formasi guru Katolik, baik di Kemenag maupun di Dinas Pendidikan, memang tak pernah banyak. Termasuk rekrutmnen 2018 yang dibuka pemerintah, baru-baru ini. Hanya dapat 50 dari 200 formasi yang diajukan.

Yosef mengatakan, pengajuan formasi tersebut merupakan kewenangan pemerintah daerah. Sedangkan Kanwil Kemenag, hanya memiliki tanggungjawab pembinaan saja. Dan sebagai Pembina, selama ini Bimas Katolik telah menerima banyak keluhan. Terkait sebaran guru agama Katolik yang tidak merata. Laporan itu sudah dikoordinasikan dengan pemerintah daerah. Untuk mendorong agar sebaran tenaga guru agama bisa merata.

Hanya saja, lanjut Yosef, pemerintah daerah pun belum bisa memberikan solusi yang efektif dalam pemenuhan guru agama Katolik. “Sebab, pemerintah daerah juga terkedala anggaran,” katanya.

Yosef berpendapat, pemenuhan guru agama Katolik sangat penting bagi siswa. Sebab, pelajaran agama adalah dasar pembentukan karakter. Karena itu, mestinya pemenuhan kebutuhan guru agama Katolik juga menjadi prioritas. Sama seperti pemenuhan guru-guru pelajaran umum lainnya.

“Menurut saya untuk mengatasi persoalan ini, memang kita semua perlu duduk bersama. Di Katolik itu ada namanya lembaga Gereja. Nah, mungkin tenaga-tenaga di situ bisa menjadi solusi untuk menutupi kekurangan guru. Tetapi, itu tadi, harus kita bahas secara bersama-sama,” ujar Yosef.

PM – sumber : Andi R/RK