Tularkan ‘Virus’ Anti Korupsi, Ehem!KWI-Yayasan Bumiksara Gelar Workshop Untuk Kongregasi Suster SFIC Pontianak

Gaung semangat menggelora gerakan pemberantasan korupsi yang kian masif saat ini datang dari berbagai organisasi atau lembaga pendidikan, aparat negara, media  dan sebagainya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  yang menjadi pusat penggagas dari gerakan anti korupsi ini memang terlihat aktif merangkul sejumlah organisasi untuk menjadi co-worker dalam membentuk barisan yang kuat, yaitu gerakan moral bersama guna memberantas korupsi di Indonesia. Salah satunya adalah Tim Ehem!KWI-Yayasan Bhumiksara. Yayasan Bhumiksara dalam pelayanannya mengusung motto sebagai garam dunia berasal dari bahasa Sansekerta yakni ‘ksara’ dan ‘bhumi’. Yayasan mulai berdiri sejak 12 April 1988 ini sejak awal memiliki visi yaitu menjadi organisasi yang menghasilkan kader bangsa yang berintegritas, cakap, profesional, dan tanggap terhadap yang terpinggirkan.

Antusiasme para suster maju ke depan untuk menuliskan apa makna korupsi bagi pribadi masing-masing dan menempelkannya di mading.

Gagasan Pastor Jesuit Filipina

Gerakan Ehem yang pada awalnya digagas oleh seorang pastor Jesuit asal Filipina yaitu Pastor Albert Alejo SJ ini memiliki program gerakan anti korupsi yang bertujuan untuk mengembangkan kepekaan (sensitivitas) dan kepedulian terhadap masalah korupsi serta meningkatkan keterlibatan dalam upaya pemberantasannya, baik secara pribadi, kelompok maupun kelembagaan (institusi). Ehem! Sendiri adalah sinyal suara mulut yang lazim dilakukan oleh semua orang manakala ingin menegur atau mengingatkan seseorang ketika hendak melakukan perbuatan yang salah.

Pada Modul kedua para suster diajak masuk dalam diskusi kelompok untuk dapat menganalisis secara mendalam sebab dan akibat dari tindakan korupsi.

Tim Ehem!KWI-Yayasan Bhumiksara dengan Program Kepemimpinan Berintegritas Anti-Korupsi sudah beberapa kali diberikan kepada komunitas baik yang heterogen (masayarakat umum) maupun homogen (seperti tarekat religius) yang tersebar dibeberapa kota dan Keuskupan di Indonesia.”Lokakarya ini terbuka untuk semua kalangan. Tidak hanya diberikan kepada masyarakat yang beragama katolik saja, namun bagi yang non Katolik juga kesempatan untuk mengikuti workshop ini terbuka lebar,” ungkap Royani Lim tim fasilitator Ehem.

Mendehem! Di Pontianak

Berawal dari bincang-bincang tim Ehem!KWI-Yayasan Bhumiksara bersama Sr. Irene, Provinsial SFIC untuk memberikan lokakarya/rekoleksi anti korupsi ini kepada para suster SFIC Pontianak, seusai memberikan lokakarya kepada para kepala desa di Melawi Keuskupan Sintang. Tawaran ini disambut dengan baik oleh suster provinsial mengingat begitu pentingnya bagi para suster yang bertugas di medan karya, untuk mengetahui definisi korupsi serta kondisi terkini korupsi di Indonesia. Selain itu untuk berpartisipasi aktif mendukung gerakan Stop Korupsi di Indonesia.

Masih dalam diskusi kelompok, para suster dituntun untuk dapat mengidentifikasi peran dan keterlibatan pribadi masing-masing dalam tindakan korupsi maupun peran dan partisipasinya dalam upaya mencegah tindak korupsi.

Maka atas restu beliau segera dibentuk panitia kecil untuk menyelenggarakan kegiatan yang sederhana namun punya nilai luar biasanya ini.Undangan panitia disambut dengan antusias oleh para suster. Hal ini dibuktikan dengan jumlah peserta yang cukup besar yaitu 42 suster. Mereka datang dari berbagai komunitas biara yang ada di daerah maupun di wilayah Pontianak dan sekitarnya. Peserta yang hadir untuk mengikuti lokakarya/ rekoleksi ini berasal dari lintas angkatan yaitu para Postulan, Novis, Yunior, Medior dan Senior.

Lokakarya/Rekoleksi anti korupsi ini dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2018 yang lalu di Wisma Immaculata Pontianak bersama tim fasilitator Ehem!KWI-Yayasan Bhumiksara, Ibu Royani Lim, Pak Al Nurbandana dan Pak Wisnu Rosariastoko. Menurut paparan Ibu Royani Lim, lokakarya ini mencakup empat modul yang diadaptasi dari Modul EHEM dengan metode Ignatian. Modul tersebut dilakukan berkesinambungan, diawali dengan pengalaman, analisis, refleksi, dan diakhiri dengan aksi. Para peserta wajib mengikuti keseluruhan rangkaian Modul hingga akhir.

Biara Tidak Imun Terhadap Korupsi

Ketebalan dan tingginya tembok Biara ternyata tidak mampu menjamin bebasnya tindak penyelewengan itu untuk merembes masuk ke lingkungan biara khususnya medan karya dimana para suster diutus. Virus korupsi ini sungguh dasyat, jika tidak waspada dan membentengi diri iman yang kokoh,  maka cepat atau lambat akan mulai menyentuh sendi-sendi vital gereja, khususnya kaum religius (klerus, bruder dan suster). Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan pada organisasi nirlaba saat ini dirasa sangat penting dan menjadi perhatian penuh baik gereja maupun tarekat religius lainnya agar tidak tersedia celah terjadinya penyelewengan.

Presentasi hasil diskusi kelompok untuk merumuskan rencana tindakan/aksi serta keikutsertaan dalam upaya pemberantasan korupsi. Sr. Laura SFIC bersama kelompok mempresentasikan hasil diskusi.

Berdasarkan sharing pengalaman terjun di medan karya, ternyata cukup banyak tindakan korupsi yang terjadi dan dialami oleh para suster SFIC  ini tanpa disengaja ataupun tidak. Salah satunya adalah sharing  dari suster pengurus rumah retret yang tidak mau disebut namanya. Ia mengaku pernah disodorkan sebuah cek kosong untuk ditandatangani, ketika si pengguna jasa hendak membayar jasa pemakaian rumah retret. Namun dengan berani ditolak oleh Suster. Sharing pengalaman semakin ‘memanas’ ketika fasilitator mengajak para suster untuk masuk ke modul- modul berikutnya. Ada empat modul yang diberikan Ehem! Dalam lokakarya ini yaitu:

  1. Menggali pengalaman dan pemahaman mengenai permasalahan korupsi di Indonesia.
  2. Menganalisis sebab dan akibat korupsi di Indonesia, serta merekomendasikan solusi untuk mengatasi akar masalah.
  3. Keterbukaan untuk berefleksi atas tindak korupsi dari perspektif budaya, termasuk agama.
  4. Merumuskan rencana tindakan/aksi serta keikutsertaan dalam upaya pemberantasan korupsi.
Suster novis bersharing pada misa peneguhan lokakarya/rekoleksi Anti Korupsi yang dipimpin oleh Romo Astanto CM, di Kapel Wisma Immaculata Pontianak.

Lokakarya/rekoleksi ditutup dengan misa peneguhan yang dipimpin oleh Romo Astanto CM. Dalam liturgi persiapan persembahan, para suster maju ke depan altar untuk mempersembahkan niat, komitmen serta harapan kepada Tuhan. Kemudian acara dilanjutkan dengan santap malam bersama di refter wisma Immaculata Pontianak.

By. Sr. Maria Seba SFIC

 

Tinggalkan Balasan