“Suster Rakyat” Berkarya di Paroki Serimbu

Sebutan “suster rakyat” sangat lekat dengan konggregasi Suster Misi Fransiskan Santo Antonius atau SMFA.

Kenapa disebut “suster rakyat”? Karena Bapak pendirinya, yaitu Pastor Gerardus van Schijndel menginginkan para suster SMFA selalu bersemangat misioner.

Tahun ini, di bulan Agustus 2018, Konggregasi SMFA telah memulai karyanya di Paroki Serimbu. Pengembangan karya ini merupakan jawaban atas ajakan dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik Keuskupan Agung Pontianak.

Ajakan untuk berkarya di Serimbu sudah pernah digaungkan tahun 2005 silam oleh Mgr. Hieronymus Bumbun, OFMCap. Saat itu Konggregasi SMFA belum memberi jawaban. Sepuluh tahun kemudian, tahun 2015, Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak kembali menawarkan Konggregasi SMFA untuk berkarya di Paroki Serimbu.

Para suster SMFA melepas perutusan 2 (dua) suster SMFA ke Paroki Serimbu untuk memulai karyanya di sana

Merespon ajakan itu, maka tanggal 3-7 April 2016 lalu Sr. Kristina SMFA dan Sr. Martina SMFA didampingi RD. John Rustam melihat kondisi lapangan umat di Paroki Serimbu. Hasil kunjungan lapangan ini kemudian diselipkan dalam pembicaraan internal Konggregasi SMFA pertengahan tahun 2016 lalu tentang karya baru di Serimbu.

Keputusan akhirnya diambil saat Kapitel Konggregasi SMFA pada Juni 2018 lalu, yang memutuskan bahwa Konggregasi SMFA akan memulai karya barunya di Paroki Serimbu pada Agustus 2018.

Karya yang dikembangkan adalah sekolah, asrama puteri dan tentunya menjalankan reksa pastoral. Sr. Alfonsa SMFA dan Sr. Martina SMFA dengan tulus ikhlas menerima perutusan sebagai perintis karya baru di Serimbu.

Sr. Alfonsa SMFA dan Sr. Martina SMFA siap diutus ke Serimbu

Selamat bertugas untuk 2 (dua) orang Suster SMFA ini. Mereka berani menawarkan diri untuk sebuah karya di tempat yang baru, yang jauh dari keramaian kota, jauh dari pengaruh gadget karena di sana sulit menemukan sinyal, daerah terpencil yang serba terbatas sarana dan prasarana, akses jalan menuju ke lokasi pun sangat berat, kalau hujan jalanan menjadi kubangan “bubur lumpur”, dan kalau kemarau, jalanan berdebu.

PM – Sumber : Sr. Kresentia Yati SMFA dan Sr. Muthia SMFA

 

 

Tinggalkan Balasan