MISA KRISMA KEUSKUPAN AGUNG PONTIANAK

Misa Krisma Keuskupan Agung Pontianak kembali dilaksanakan tahun ini, yaitu pada hari Rabu, 28 Maret 2018 di gereja Katedral Paroki Santo Yoseph   Pontianak.

Persiapan yang dilakukan oleh para imam sebelum pembaruan Janji Imamat dalam Misa Krisma adalah rekoleksi para imam dan Uskup yang dilakukan pada Selasa, 27 Maret 2018 di rumah retret Immaculata komplek susteran SFIC.

Paduan Suara menyemarakan suasana misa krisma

Misa Krisma dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus dan dihadiri oleh seluruh imam yang berkarya di Keuskupan Agung Pontianak, kaum biarawati dan segenap umat lainnya.

Misa Krisma ini diharapkan menjadi contoh pelaksanaan liturgi yang baik, benar, indah dan berbuah, khususnya di Keuskupan Agung Pontianak.

Melalui Misa Krisma para imam khususnya, disegarkan kembali semangat dan janji imamatnya, sekaligus mengingatkan para imam akan cita-cita dan komitmen mereka sebagai nabi, imam dan raja.

umat hadir mendukung dan mendoakan para imam agar tetap setia pada janji imamatnya

Memilih hidup sebagai imam berkaitan dengan tugas melayani Tuhan secara total. Artinya, para imam diminta mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kegiatan rohani dan menyingkirkan kepentingan pribadi. Inilah tantangan yang mungkin pada zaman now ini terasa berat.

Perkembangan zaman memperberat tantangan hidup para imam. Tantangan globalisasi memang banyak, hedonisme dan segala hal yang didapat secara mudah. Di situlah kesetiaan para imam diuji untuk tetap berpegang teguh pada janji imamat.

Tanda kesetiaan para imam kepada Uskup 

Dalam setiap Misa Krisma selalu disinggung tentang kolegialitas para uskup. Meski istilah “kolegialitas” ini lebih melekat pada jabatan uskup, namun karena para imam sejatinya adalah para “pembantu” uskup dalam hal pengajaran iman Katolik, maka istilah itu pun juga menjadi relevan untuk jabatan imamat.

Ekaristi atau misa menjadi sumber darimana kolegialitas para imam kepada Uskup dibangun dan pelihara secara berkesinambungan. Pada Misa Krisma inilah, kolegialitas para imam kepada Uskup diungkapkan dan diperbaharui.

Para imam diminta memperbaharui janji imamat mereka di hadapan uskup. Yang penting tentu janji setiap imam di hadapan Uskup bahwa sebagai gembala rohani Gereja, para imam harus selalu setia, loyal, bertanggungjawab atas hidup panggilan rohaninya sebagai imam yang tak lain adalah pembantu uskup.

Setelah itu Uskup meminta umat untuk mendoakan para imam dan juga dirinya.

para imam berfoto bersama usai misa

Selanjutnya Uskup memberkati minyak. Minyak  yang diberkati adalah Minyak Pengurapan Orang Sakit (Oleum Infirmorum/ OI), Minyak Katekumen (Oleum Catechumenorum/OC), dan yang terakhir adalah Minyak Krisma (Oleum ad Sanctum Chrisma/ SC).

Konsekrasi Minyak Krisma menjadi puncak dari ritual ini.

umat mengikuti misa krisma dengan khimad

Menutup homilinya, Mgr. Agus mengatakan : “Doakanlah kami, para imam yang telah diurapi Roh Kudus agar tetap hidup sebagai orang urapan; setia membawa Tahun Rahmat Tuhan; hidup murah hati dan penuh belas kasih.”

Imam adalah orang yang diurapi, maka seorang imam adalah pribadi yang mengingatkan umat akan kasih Allah dan menyemangati umat untuk mencari Allah. Imam adalah pribadi yang memberi semangat pada umat untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah; membawa pertobatan. pembuat damai, pewarta belaskasih.

Semz/paul _Komsos KAP

 

Tinggalkan Balasan