Rakor Pembinaan Gereja Katolik Perkuat Kemitraan dengan Pemerintah dalam Upaya Membangun Kedamaian dan Ketentraman di Masyarakat

Bertempat di Grand Kartika Hotel Pontianak, telah dilangsungkan kegiatan Rapat Koordinasi (rakor) Pembinaan Gereja Katolik Se-Kalimantan Barat tahun 2018, Kamis-Jumat (12-13/4) lalu.

Tema yang diusung adalah “Upaya Membangun Kedamaian dan Ketentraman di Masyarakat”. Hadir dalam kegiatan tersebut para imam, biarawan-biarawati, serta awam perwakilan dari setiap paroki dan komunitas keagamaan yang ada di Kalbar.

Rapat Koordinasi Pembinaan Gereja Katolik Se-Kalbar ini merupakan salah satu program kerjasama antara pemerintah dan lembaga keagamaan. Diharapkan setelah mengikuti kegiatan rakor ini para peserta dapat  memberikan pelayanan, pengetahuan rohani, motivasi dan sekaligus bimbingan keteladanan kepada para umat yang menjadi wilayah binaannya.

    Pj. Gubernur Kalbar – Doddy Riyadmadji

Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat, Doddy Riyadmadji  saat acara pembukaan mengajak para peserta rakor untuk menjadi lakor /pelaku  dalam upaya atasi berbagai macam persoalan yang kerap muncul dalam kehidupan masyarakat.

Doddy berpesan kiranya pertemuan ini mampu meneguhkan dan  memaksimalkan tujuan hidup menggereja, terutama untuk pengembangan pendidikan, sosial serta pengembangan ekonomi kerakyatan.

“Rakor ini harus menjadi terobosan utama dan strategis bagi peningkatan kualitas partisipasi Gereja Katolik, sekaligus semakin memperkuat kemitraan dengan pemerintah melalui program pembangunan di Provinsi Kalbar,” tandasnya.

       RD. John Rustam

“Semangat kerjasama antar sesama umat beragama, sesuai dengan pengembangan kesadaran akan kemajemukan masyarakat dalam semangat Bhinneka Tunggal  Ika, serta bagaimana upaya-upaya mendorong dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Kristiani menuju pola hidup yang lebih sejahtera dan berbakti kepada Nusa dan Bangsa,” ujarnya.

Semnetara itu, RD. John Rustam yang mewakili pihak Keuskupan Agung Pontianak sangat meng-apresiasi inisiatif Pemda Provinsi mengadakan kegiatan Rapat Koordinasi (rakor) Pembinaan Gereja Katolik.

“Hasil dari kegiatan ini tentunya akan menjadi masukan bagi Gereja Katolik guna mengupayakan kehidupan damai di tengah kemajemukan dan keberagaman masyarakat Indonesia, khusus di Kalbar. ”, tegasnya.

Kerukunan menjadi kekuatan sebuah negara

Kegiatan rakor menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu : Drs. Ignatius Lyong, P. Julius Lingga, OFMCap, dan AKBP Yohanes Andis, APP, SH., MH.

Drs. Ignatius Lyong, dalam pemaparannya kembali menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang besar dimana keberagaman budaya, suku, dan Agama bercampur aduk menjadi satu wadah yaitu di Indonesia. Atas latar belakang inilah pentingnya merajut kebersamaan hidup toleransi beragama dalam hidup bermasyarkat.

Menurutnya, merajut bisa diibaratkan seperti merangkai bunga, dari satu tangkai digabungkan sehingga menjadi sebuah bunga yang indah untuk dipandang. Sama halnya dengan sebuah negara yang kental akan kekayaan budaya dan agama, hidup penuh toleransilah yang menjadi pelopor kerukunan dan keamanan, ulas Ignatius Aliong di sesi pertama.

   Para suster yang ikut dalam kegiatan rakor

Diakhir paparannya, Ignatius Lyong menyampaikan enam rumusan hidup beragama terkait dengan  Etika Kerukunan Antar Umat Beragama.

Enam rumusan dimaksud yaitu: Pertama, setiap pemeluk agama memandang pemeluk agama lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan dan saudara sebangsa. Kedua,  setiap pemeluk agama memperlakukan pemeluk agama lain dengan niat dan sikap baik, empati, penuh kasih sayang, dan sikap saling menghormati. Ketiga, setiap pemeluk agama bersama pemeluk agama lain mengembangkan dialog dan kerjasama kemanusiaan untuk kemajuan bangsa.

Rumusan keempat, lanjut Ignatius Lyong, setiap pemeluk agama tidak memandang agama orang lain dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mencampuri urusan internal agama lain. Kelima, setiap pemeluk agama menerima dan menghormati persamaan dan perbedaan masing-masing agama dan tidak mencampuri wilayah doktrin/akidah/keyakinan dan praktik peribadatan agama lain.

Dan yang rumusan terakhir bahwa setiap pemeluk agama berkomitmen bahwa kerukunan antar umat beragama tidak menghalangi penyiaran agama, dan penyiaran agama tidak menggangu kerukunan antar umat beragama.

Sementara P. Julius Lingga, OFMCap menegaskan bahwa sebagai orang yang beriman tujuan yang harus diwujudkan adalah hidup damai dengan sesama manusia. Mencintai sesama, alam semesta dan terutama adalah Allah sendiri.

“Barang siapa merong-rong yang baik adanya maka ia melawan Allah,” ungkap Pastor Julius Lingga, OFM.Cap.

Setiap orang mempunyai Kodratnya, untuk ambil bagian dalam pemilihan Pilgub serentak, pesanya.

Pada sesi terakhir AKBP Yohanes Andis, APP, SH., MH memaparkan tentang Upaya dan Tantangan Porli Menciptakan Kedamaian dan Ketentraman serta PAM PILKADA Tahun 2018.

    Kelompok umat peserta rakor

AKBP Yohanes Andis mengatakan berbagai persiapan sudah dilakukan oleh Polda Kalbar diantaranya merangkul tokoh-tokoh masyarakat, agama, pemuda, partai politik dan unsur-unsur lain untuk berkontribusi sukseskan pilkada. Sinergisitas antara pihak penyelenggara pemilu juga sudah dibangun sebagai rangkaian kegiatan cipta kondisi.

AKBP Yohanes Andis menyebutkan Kalbar punya jumlah penduduk beragam baik suku dan agama atau dikenal multikultur dengan komposisi cukup seimbang. Kondisi ini menjadi tantangan. Karena ini terkait politik identitas, politik yang menggiring identitas Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Tantangan yang lain, lanjut AKBP Yohanes Andis  adalah melihat penggunaan media sosial yang tidak sehat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, dimana pesan-pesan ujaran kebencian cukup luar biasa berseliweran.

Oleh karena itu, terkait dengan tantangan-tantangan di atas,  AKBP Yohanes Andis berharap semua harus berupaya mewujudkan pemilu damai.

“Untuk itu diperlukan jaminan agar Pilkada yang berlangsung adalah pilkada berkualitas. Pilkada harus berjalan sesuai standar prinsip yang diterima secara universal”, harap AKBP Yohanes Andis.

Paul-Semz_Komsos KAP

Tinggalkan Balasan