FKRK Menyikapi Pentingnya Spiritualitas Tarekat dalam Kebhinekaan

Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK) kembali mengadakan sidang pleno selama tiga hari mulai dari tanggal 13 – 15 April 2018 di Wisma Immaculata Pontianak dengan tema “Semakin Membumikan Spiritualitas Tarekat Hidup Bakti dalam Kebhinekaan”.

 

Pertemuan pada tahun ini dihadiri oleh 25 tarekat religius yang ada di Kalimantan Barat dengan jumlah peserta sebanyak 92 orang yang terdiri dari 11 orang panitia, 5 orang pengurus, dan 76 orang perwakilan tarekat/kongregasi/ordo.

Pertemuan tiga hari ini membahas secara rinci berkenaan dengan tema sekaligus pemilihan pengurus FKRK periode 2018-2021. Misa pembukaan pertemuan FKRK tahun 2018 ini dipimpin P. William Chang, OFMCap didampingi P. Elen Bar, SVD dan P. Jaques, OMI.

Di hari pertama sidang pleno, pengurus FKRK periode 2015-2018 membacakan laporan pertanggungjawaban. Pembacaan laporan tersebut dijabarkan secara rinci dan jujur di hadapan para peserta sidang pleno FKRK.

Pemateri dalam sidang pleno FKRK tahun 2018 adalah Uskup Keuskupan Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap dengan pemandu diskusi oleh P. Julius Lingga, OFMCap.

Mgr. Samuel menegaskan bahwa meskipun spiritualitas ordo/tarekat/kongregasi bhinneka, namun ada hal yang berlaku untuk semua yakni bahwa relasi dengan yang Ilahi terintegrasi dengan hidup sehari-hari. Hidup sehari-hari seorang religius adalah spiritual.

“Belajar dari fase kehidupan St. Fransiskus Asisi sebagai salah satu contoh, membagikan refleksinya perihal Fase Kehidupan Orang Beriman”, ujar Mgr. Samuel.

Refleksi akan fase kehidupan orang beriman tersebut menurut Mgr. Samuel dapat dijabarkan dalam 5 (lima) fase. Pertama, fase pencarian kehendak Allah sebagai proses pemurnian tujuan yang akan dicapai dan yang akan semakin dibumikan. Kedua,  fase penemuan dan pertobatan yang menuntun seorang religius sampai pada keyakinan iman bahwa “Allah adalah segalanya” dan pertobatan untuk membangun relasi vertikal yang mantap.

Fase yang ketiga, lanjut Uskup Sintang adalah penentuan arah dan wujud konkrit pengabdian yang menjawab seruan jaman. Inilah fase membumikan spiritualitas. Relasi vertikal mewujud dalam relasi horizontal.

“Karena itu kedua relasi ini berjalan bersama. Saling keterhubungan antara saya, Tuhan, dan sesama itu seperti segitiga sama sisi”, tandasnya.

Hidup dalam kesucian merupakan fase keempat. Untuk dapat hidup dalam kesucian, menurut Mgr. Samuel  seorang religius dituntut untuk setia pada kaul-kaul religius  (murni, miskin, dan taat) yang ditopang oleh hidup doa, cara kerja, dan hidup rohani yang menyatu dengan hidup sehari-hari.

Fase terakhir adalah konklusif, yaitu : fase penyempurnaan dengan memulai sekali lagi berbenah hingga mencapai titik penyerahan diri secara total kepada Allah yang adalah  harta satu-satunya dan segalanya.

Dalam sidang pleno FKRK tersebut, terjadi pula diskusi yang melahirkan berbagai buah pikiran mengenai kehidupan spiritualitas yang perlu dikembangkan melalui pembatinan nilai-nilai religius.

Pertama, seorang religius harus memiliki kesadaran diri sebagai religius. Seorang religius memiliki watak religius (behavior, attitude) dengan menghidupi spiritualitas kongregasi menurut cita-cita dasar kongregasi dengan meneladani Yesus Kristus sebagai model hidup religius. “Allah menjadi segalanya dalam hidupku.” Kekhasan/ keunikan kita sebagai religius tampak dalam hidup sehari-hari. Spiritualitas adalah isi hidup sehari-hari.

Kedua, seorang religus harus mampu merawat dan memelihara hidup religiusnya. Proses perawatan dan pemeliharaan hidup religius disokong oleh doa yang tak kunjung padam dan relasi personal dengan Tuhan yang diungkapkan dalam kasih persaudaraan sejati, saling mengingatkan dalam cinta kasih, saling mendukung, dan bina lanjut. Berusaha dengan tulus, jujur, dan setia menghidupi ketiga kaul religius. Bijaksana dalam menggunakan medsos (“pisau bermata ganda”) sambil memperhatikan dokumen-dokumen resmi Gereja tentang komunikasi (Inter mirifica 3-4: “Menjiwai media komunikasi dengan semangat manusiawi dan kristen supaya menanggapi sepenuhnya harapan besar  masyarakat dan maksud Allah… mengetahui norma-norma moral… mempraktekkannya dengan setia.”). Proses ini sangat perlu ditopang oleh semangat petobatan terus-menerus (Mrk 1:15).

Ketiga, mewujudnyatakan dengan memberikan kesaksian di tengah dunia. Keadaan Gereja sekarang menuntut keteladanan dalam hidup injili antara lain dengan mengusahakan keseimbangan hidup doa dan karya (aktif dan kontemplatif).

Langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan oleh para religius melalui FKRK dapat dilaksanakan baik ke dalam maupun ke luar. Ke dalam dapat dilakukan hal-hal konkret sebagai berikut: (1) Aktifkan dan tingkatkan kerja sama pengurus FKRK, (2) Pertemuan berkala untuk yuniores, mediores, dan seniores. (3) Dalam pemindahan anggota tarekat hendaknya diperhatikan kepentingan FKRK (BPA yang hangat didiskusikan), (4) Hidupkan kembali BPA, KGN dalam konteks FKRK, (5) Bentuk BPH (Bina Panggilan Hidup), (5) Promosi panggilan, (6) Rekoleksi, pendalaman, pertemuan bersama tentang isu-isu relevan dengan mengundang narasumber berkompeten. Sementara ke luar dapat dilakukan aksi konkret sebagai berikut: (1) Bangun jejaring kelompok kerja JPIC, (2) Kunjungan pastoral keluarga (live in), (3) Katekese umat (liturgi, sakramen), (4) Pendidikan iman umat yang teguh untuk melahirkan murid (discipulus) Yesus yang ‘tahan banting’.

Untuk melaksanakan hal konkret tersebut melalui FKRK, bukan berarti dapat berjalan dengan mulus tanpa hambatan dan tantangan. Beberapa di antaranya adalah penghayatan ketiga kaul religius dengan setia,  keberanian untuk setia, tekun dan disiplin dalam menjalani hidup religius, pemeliharaan dan peningkatan hidup rohani yang mendalam (doa dan hidup sehari-hari), maniak kerja, manajemen arsip untuk dokumen FKRK, semangat kerja sama sebagai religius, pergantian kepemimpinan tarekat. Selain itu, tantangan eksternal lainnya seperti menentukan langkah atau cara agar bisa keluar dari zona aman dalam koridor hidup  religius, serta menyikapi dengan bijaksana mengenai gaya hidup hedonis, konsumerisme, individual, dan instan.

(Sdr. Fransesco Agnes Ranubaya, OFS, narasumber: Br. Agus, MTB dan Sr. M. Olympia, KFS)

 

Tarekat-tarekat yang hadir dalam sidang pleno FKRK:

OFMCap, MTB, SFIC, SMFA, KFS, OSA, OSM, PRR, OSCCap Singkawang, OSCCap Sarikan, OSCCAP Bejabang, CDD,OMI, SVD, CSE, PIJ, PKarm, SDC, CM, SFD, ALMA, OFM, CP (Suster), PK, CP (Pastor).

 

Pengurus FKRK Periode  2015-2018:

 

Ketua                     P. Amandus Ambot, OFM. Cap

Sekretaris           Br. Gabriel Robun Tukan, MTB

Bendahara         Sr. Kristina Unau, SMFA

Anggota              Sr. Irene, SFIC

Sr. Elisa, KFS

Sr. Ignatia, OSA

 

Pengurus FKRK Periode 2018-2022:

Ketua                    P. Herman Mayong, OFM. Cap

Sekretaris           Br. Rafael, MTB

Bendahara          Sr. Irene, SMFA

Anggota               Sr. Kristina Unau, SMFA

Sr. Elisa, KFS

Sr. Ignatia, OSA

Tinggalkan Balasan