Gua Maria Anjongan KAP Berhias Diri dengan Hadirnya Bunda Patung Maria Ratu Pencinta Damai 12 Meter Bawa Pesan Misi Perdamaian

Seruan cinta damai, anti kekerasan dan anti teror tengah berhembus kencang diserukan oleh semua elemen masyarakat Indonesia saat ini. Kepedulian serta kerinduan untuk kembali ke akar persatuan bangsa yang telah termeterai dalam deklarasi sumpah pemuda puluhan tahun silam mendapat dukungan penuh, baik dari aparat keamanan,pemerintah maupun lembaga keagamaan. Dalam situasi yang cukup memprihatinkan saat ini bangsa Indonesia sungguh membutuhkan percikan perdamaian.

Hembusan angin segar perdamaian datang dari bumi Borneo tepatnya di sebuah kecamatan kecil bernama Anjongan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Indonesia. Tempat ziarah dengan jarak tempuh perjalanan darat kurang lebih 2 (dua) jam  dari pusat kota Pontianak ini telah berdiri kokoh Patung Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD). Patung Maria Ratu Pencinta Damai multi etnik setinggi 12meter ini merupakan Simbol perdamaian, simbol kebhinekaan bagi seluruh bangsa.

Menurut Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup Agung Pontianak sekaligus pengagas pembangunan patung MRPD ini mengatakan bahwa pembangunan Patung MRPD seberat 3 (tiga) ton berawal dari kerinduannya untuk menampilkan wajah gereja yang sejatinya pembawa damai khususnya di tengah situasi bangsa Indonesia saat ini yang membutuhkan damai. Pesan damai ditampilkan dalam yang simbol-simbol sarat makna melalui patung Bunda Maria Ratu Pencinta Damai sebagai berikut:

  • Di atas mahkota Maria ada 12 bintang yang mengacu pada dasar biblis dari kitab Wahyu 11:19-12:6
  • Di dada Maria ada tulisan dalam bahasa Mandarin yang berarti perdamaian
  • Di bawah mantel berdiri aneka anak bangsa dari berbagai suku, budaya dan bahasa.
  • Sapu lidi melambangkan persatuan. Penyatuan visi dan misi dalam bingkai kebhinekaan.
  • Patung Maria Ratu Pencinta Damai ditampilkan dalam busana suku Dayak, hal ini mau menunjukkan bahwa inilah bumi kalimantan.

Dalam pengantarnya dihadapan ribuan umat yang hadir, Mgr. Agus menyampaikan bahwa peresmian atau pemberkatan patung Bunda Maria Ratu Pencinta Damai ini sengaja dilangsungkan dalam seremonial misa pada 27 Mei 2018 sembari merayakan juga 160 tahun penampakan Maria di Lourdes. Selain itu Uskup Agus juga mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh umat dan para donatur yang memberikan sumbangsih sehingga pembangunan patung MRPD bisa selesai pada waktunya.

“Saya bangga kepada seluruh umat serta donatur yang telah membantu proses pembangunan dan saya juga terharu bahwa umat yang non katolik juga turut ambil bagian membantu mengangkat patung yang cukup berat ini. Inilah bukti kerjasama yang baik sebagai simbol kerukunan, persaudaraan antar umat beragama yang perlu kita rawat, kita jaga dan kita pupuk,” ungkapnya.

Dalam homilinya Uskup Agus mengajak seluruh umat yang hadir untuk mencintai perbedaan sebagai anugerah yang indah dari Tuhan. “Kita diciptakan oleh Tuhan sama tanpa perbedaan. Entah dia katolik atau non katolik mereka juga ciptaan Tuhan. Multi etnis keanekaragaman itu tampak dalam diri Yesus yang lahir dari Bunda Maria Ratu Pencinta Damai yang  kita hormati, mengajak kita juga menjadi pewarta damai untuk semua suku dan bangsa, supaya semua orangmemperoleh keselamatan.,” pungkasnya.

Pesan untuk memelihara suasana damai khususnya di Kalbar juga disampaikan oleh Wakapolda Kalbar, Brigjen Pol Dra Sri Handayani. Dalam sambutannya Jenderal bintang satu yang telah menerima serah terima jabatan (sertijab) sebagai Wakapolri Kalbar pada 21 Maret 2018 yang lalu ini menghimbau kepada umat atau masyarakat yang hadir untuk bersama-sama menjaga situasi yang kondusif aman dan damai. “Keamanan, perdamaian adalah hak dan milik semua orang, oleh karena itu mari kita saling mendukung, bekerjasama menentang penyebaran ideologi radikal yang akhir-akhir ini gencar dilakukan oleh pihak-pihak yang anti perdamaian,” ungkapnya.

Prosesi pemberkatan patung MRPD berlangsung meriah dan lancar, meskipun cuaca mendung dan terjadi sedikit insident kecil pada saat misa berlangsung, yaitu seorang pemuda tiba-tiba pingsan dan dipapah oleh salah satu donatur, Pak Budi asal Jakarta. Kejadian tersebut menuai pujian dan acungan jempol dari salah seorang umat yang hadir, yaitu Ibu Rosiana. Ia katakana bahwa sungguh kebaikan hati seorang donatur kini tampak jelas dalam tindakan nyata, spontan dan tanggap.

Setelah berkat penutup Mgr. Agus, para imam, para donatur serta perwakilan dari pihak pemerintahan diundang maju ke depan altar guna bersama-sama mengikuti prosesi  lepas 12 balon berbentuk merpati simbol dari ke-12 rasul yang merantau keseluruh dunia untuk mewartakan damai bagi setiap orang. Dan balon-balon berbentuk butir-butir Rosario simbol kepercayaan kepada Bunda Maria Ratu Pencinta Damai.

By Sr. Maria Seba SFIC

Kredit Photo dan sumber: Vincent Dimas

 

Tinggalkan Balasan