Talkshow Sukacita JAMNAS SEKAMI 2018 Hadirkan 3 Uskup Untuk Berbagi Kisah Panggilan

Kampung Nazareth yang belokasi di komplek Persekolahan Suster Pontianak  pagi itu, 5 Juli 2018 yang lalu tampak dikerumuni massa. Massa ini datang dari tiga kampung  besar Nazareth, Betlehem dan Galilea, untuk menghadiri dan mendengar kisah panggilan tiga Uskup dalam acara talkshow.

Lantunan musik  serta lenggak-lenggok para penari tradisional khas adat Dayak ini didapuk untuk memeriahkan seremonial penyambutan tiga tamu  agung yang didaulat sebagai narasumber  acara talkshow.  Tiga Uskup tersebut  adalah Mgr. Agustinus Agus Pr, Mgr. Pius Riana Prapdi Pr dan Mgr. Aloysius Sudarso SCJ. Para penari pun mengiringi perarakan para Uskup  menuju panggung acara. Namun sebelum memasuki gerbang aula,  mereka harus melakukan prosesi ‘tebas kayu/pancung kayu’ simbol penghormatan kepada tamu agung yang ‘dituakan’

Lantunan musik serta lenggak-lenggok para penari tradisional khas adat Dayak ini didapuk untuk memeriahkan seremonial penyambutan tiga tamu agung yang didaulat sebagai narasumber acara talkshow.

Kisah kolaborasi tiga Uskup ini mengusung tema “Tindakan Pastoral Pemimpin Gereja dalam Lingkungan Kebhinekaan”. Berikut paparan kisah menarik para Uskup bagaimana partisipasi mereka guna mewujudkan sukacita Injili dalam reksa pastoral di kancah hirarki gereja.

Prosesi ‘tebas kayu/pancung kayu’ oleh Mgr. Agustinus Agus Pr, Mgr. Pius Riana Prapdi Pr dan Mgr. Aloysius Sudarso SCJ. simbol penghormatan kepada tamu agung yang ‘dituakan’.

Mgr. Pius Riana Prapdi Pr membagikan pengalamannya selama menjadi Uskup. Ia mengungkapkan bahwa ada 332 stasi di Ketapang yang  sudah ia kunjungi. “Pengalaman berkunjung ke stasi di pedalaman menjadi pengalaman yang sungguh bermakna bagi saya dalam mewujudnyatakan kasih Kristus ditengah umat yang beraneka ragam suku, bahasa dan budayanya,”ungkap Uskup Keuskupan Ketapang.

“Pengalaman berkunjung ke stasi di pedalaman menjadi pengalaman yang sungguh bermakna bagi saya dalam mewujudnyatakan kasih Kristus ditengah umat yang beraneka ragam suku, bahasa dan budayanya,”ungkap Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi Pr.

Hembusan nafas  bermuatan keberagaman juga terlontar dari kisah Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Palembang. “Kebinekaan adalah karya Tuhan yang luar biasa, karena kita diciptakan dalam keberagaman dengan berbagai macam suku bangsa. Oleh karena itu, kita yang berasal dari berbagai macam Keuskupan harus bersyukur dan bersatu. Kita semua mewakilkan nama seluruh keuskupan di Indonesia, bukan hanya nama keuskupan daerah kita saja,”ungkapnya.

“Kebinekaan adalah karya Tuhan yang luar biasa, karena kita diciptakan dalam keberagaman dengan berbagai macam suku bangsa,”ungkap Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Palembang.

Dialog kemudian berlanjut dengan sesi tanya jawab para peserta.Wihelmina Layan peserta dari Merauke bertanya  bagaimana solusi tentang kasus umat di gereja Papua yang umatnya tergiur dengan iming-iming diberi sembako setiap hari, asal saja mereka mau ikut pindah gereja. Kemudian Suster Sari PI melengkapi keterangan dan membenarkan situasi yang menimpa umat di Papua.”Memang dulu saya pernah  bertugas di sana dan kejadian seperti itu cukup memprihatikan,”ungkapnya. Suster dari Kongregasi Penyelenggaraan Ilahi (PI) ini juga mengatakan bahwa di tempat itu memang tidak ada katekis atau pembina agama,  sehingga terbuka lebar peluang umat untuk dipengaruhi.

Menanggapi permasalahan yang menimpa saudara/saudari kita di Papua tersebut, Mgr. Agustinus Agus  angkat bicara. “Saya sangat prihatin dengan kejadian ini. Karena di sisi lain umat yang berkekurangan juga membutuhkan bantuan sembako, tentunya juga ingin merasakan hidup berkecukupan, sehingga mereka mudah dipengaruhi,”ungkapnya.

Mgr Agustinus Agus berpesan kepada anak dan remaja SEKAMI untuk menyadari perannya sebagai misionaris cilik yang siap, sigap membantu sesamanya.

Lanjutnya lagi, “Salah satu solusinya adalah meningkatkan iman mereka dengan cara pembinaan dari orang tua. Jangan mudah percaya iming-iming harta yang diberikan,”ungkap Uskup Agus.

Selain menjawab pertanyaan dari peserta, Mgr Agustinus Agus berpesan kepada anak dan remaja SEKAMI untuk menyadari perannya sebagai misionaris cilik yang siap, sigap membantu sesamanya. “Dengan adanya dialog sukacita ini diharapkan dapat meningkatkan semangat Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian  (2D2K). Anak- anak yang dahulu hanya berjuang dengan 5 orang sekarang akan berjuang dengan 1200 orang. Memperjuangkan sebuah kebaikan harus bersama-sama, tidak cukup dengan satu dua orang saja. Semoga anak-anak dapat saling menguatkan dalam iman satu dengan yang  lainnya,”kata Mgr Agustinus Agus.

Kredit Photo: Panitia JAMNAS SEKAMI 2018

By: Sinta

 

 

Tinggalkan Balasan