Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan

Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2018 ini mengambil tema “Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan.” Seperti sudah dikatakan sebelumnya, selama empat tahun (2017-2020) BKSN akan merenungkan “Mewartakan Injil di tengah Arus Zaman” sebagai tema besar.

“Mewartakan Injil” menjadi fokus utama, sementara untuk tahun 2018 ini, kekhasannya terletak pada kata “kemajemukan.” Dengan demikian, tema BKSN 2018 ini sungguh sesuai dengan situasi Gereja Indonesia yang di satu pihak, tetap dipanggil dan didorong untuk mewartakan Kabar Sukacita; tetapi di lain pihak, hidup dalam kemajemukan, sebuah situasi yang menuntut perhatian khusus.

Masyarakat kita adalah masyarakat majemuk dalam budaya. Perbedaan budaya, menimbulkan perbedaan dalam pola pikir, pola pandang, cita rasa, sikap dan perilakunya. Juga pastilah berpengaruh pada kebersamaan hidup bermasyarakat.

Kenyataan adanya kemajemukan budaya dalam masyarakat, menjadi konteks konkret Gereja dalam mewartakan Kabar Gembira. Kekayaan budaya Indonesia sungguh mengagumkan. Di banyak tempat, sudah ada upaya memanfaatkannya untuk penyebaran dan perkembangan iman umat. Kontekstualisasi, inkulturasi di berbagai tempat, melewati tahap-tahap yang berbeda.

Di beberapa tempat, masalah inkulturasi ini berada pada ranah liturgi: bagaimana kekayaan budaya, seperti lagu-lagu, tata busana serta tarian yang merupakan ekspresi batin budaya tertentu, bisa menyumbang bagi ibadat Gereja.

Di tempat lain, mulai dicari dan dipikirkan juga titik temu antara gagasan dan pengharapan yang terungkap dalam aneka ungkapan dan simbol yang terdapat dalam budaya setempat dengan pengharapan yang ditawarkan oleh kekristenan.

Upaya pewartaan Kabar Gembira mesti memperhatikan konteks budaya masyarakatnya. Dalam kebersamaan hidup Gereja di tengah masyarakat akan muncul sikap meniru, menyesuaikan diri, mengambil alih, mengangkat, mengubah, bahkan menyempurnakan unsur-unsur budaya yang ada.

Di tempat lain upaya mewartakan Kabar Gembira di tengah kemajemukan budaya, pastilah beraneka modelnya. Model-model ini dapat terkait pada unsur-unsur budayanya, seperti sistem religi, sistem sosial kemasyarakatan (kelahiran, perkawinan dan kematian), sistem pengetahuan, bahasa, kesenian (seni lukis, seni pahat, seni tari, seni drama dan lain-lainnya), mata pencaharian (pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan lainnya), dan sistem teknologi peralatan. Seturut dinamika misteri inkarnasi, Firman yang menjadi manusia, Gereja mesti memperhatikan unsur-unsur budaya sebagai konteks pewartaan Kabar Gembira.

Dengan demikian, kontekstualisasi merupakan proses kontinyu agar nilai-nilai kristianitas terungkap dalam segi-segi kehidupan masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai kristianitas berdampak (mengangkat dan mengubah, menyempurnakan dan memuliakan) dalam kehidupan masyarakat di segala seginya, secara nyata dan paripurna.

Setiap upaya pewartaan Kabar Gembira seharusnya mendekatkan relasi Firman dengan konteks kehidupan manusia, di sini dan sekarang. Dalam konteks ini menjadi nyatalah penegasan Paus St. Yohanes Paulus II dalam anjuran apostoliknya, Catechesi Tradendae (16 Oktober 1979): “… kekuatan Injil di mana pun juga menimbulkan perubahan dan kelahiran baru. Bila kekuatan itu merasuki kebudayaan, tidak mengherankan bahwa banyak unsur kebudayaan itu dijernihkan atau diluruskan olehnya.” (CT 53)

Ada banyak umat yang sudah mencoba mengintegrasikan pengalaman iman kristianinya dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya yang dikenal dengan istilah “konteksualisasi” atau “inkulturasi”. Lewat unsur-unsur budaya (sistem religi, sistem sosial, sistem pengetahuan, sistem bahasa, kesenian, mata pencaharian dan peralatan) pengalaman keselamatan diungkap dan diwujudnyatakan. Peristiwa inkarnasi, peristiwa Allah masuk dalam budaya manusia, menjadi prinsip upaya kontekstualisasi pewartaan Kabar Gembira. Dengan demikian, pengalaman hidup berbudaya menjadi pengalaman iman, pengalaman pergaulan dengan Allah dalam situasi sosial budaya yang nyata.

PM – Sumber : Buku Pegangan BKSN 2018

Tinggalkan Balasan