Mengapa Membaca Kitab Suci?

Bulan September didedikasikan sebagai Bulan Kitab Suci. Banyak manfaat yang dapat kita petik dari membaca kitab suci: untuk diri kita sendiri, masyarakat, dan kehidupan iman kita.

Pertama, untuk pemenuhan kehausan/kelaparan hidup spiritual kita.  Membaca Kitab Suci adalah salah satu cara memperoleh kepuasan akan mendengarkan sabda Allah, yang Tuhan sendiri telah letakkan dalam jiwa manusia.

Kedua, untuk belajar kebijaksanaan yang membawa kepada keselamatan.  Manusia mencintai kebijaksanaan. Kita ingin tahu perbedaan antara realitas dan ilusi, baik dan buruk, benar dan salah. Ada kebijaksanaan duniawi yang membantu kita hanya sekedar melewati hidup di dunia ini, dan ada kebijaksanaan ilahi yang mengantar hidup kita pada yang kekal. Inilah kebijaksanaan yang mengantar pada keselamatan.

Ketiga, untuk mempelajari rahasia sukses dalam hidup. Hidup adalah suatu hadiah dari Tuhan. Adalah kehendak Tuhan bahwa hidup itu sukses dan bukan kegagalan. Sabda Allah mengajarkan kita bagaimana kita bertindak sehingga Tuhanlah yang dimuliakan. Sabda Tuhan menerangi kemanusiaan dalam perjalanan hidup.

Keempat, belajar bertumbuh dalam iman. Kitab suci adalah buku kisah Cinta Tuhan pada manusia. Kitab suci adaslah sarana bagi umat kristiani, yang telah percaya untuk memperdalam imannya.

Kelima, belajar bagaimana mengatasi dosa dan hidup dalam Tuhan: banyak orang kristen terus menerus berjuang melawan akar-akar dosa dan kedosaannya dalam hidup. Kerapkali menghadapi dilemma moral.

Keenam, belajar mempertahankan kebenaran dan menyangkal kesesatan: banyak ajaran yang bertentangan beredar dalam berbagai aspek kehidupan kita. Kesetiaan pada jalan yang benar menuntut bahwa kita diperlengkapi dengan kemampuan membedakan yang benar dan salah. Mengerti isi kitab suci atau pengetahuan akan kitab suci membantu kita mengetahui kebenaran itu sendiri. Misalnya orang yahudi tidak mengakui kebenaran ajaran Yesus karena mereka mengabaikan injil/ warta gembira. Markus 12:24: Yesus berkata, kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.

Ketujuh, untuk belajar memberi kesaksian tentang Kristus.  Sharing iman dengan yang lain merupakan satu satu dari kewajiban iman kita. Ada banyak cara untuk memberi kesaksian. Tetapi di dalam setiap cara memberi kesaksian itu kita akan menemukan bahwa pengetahuan akan Kitab Suci seperti dikatakan dalam 2.Timotius 3: 16: segala tulisan yang diilhamkan oleh Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Banyak orang Kristen tahu apa yang benar dan adil tetapi tidak tahu bagaimana membagi keyakinan itu dengan yang lain. Memiliki Pengetahuan akan kitab suci, seseorang akan berani dan tahu bagaimana berbagi iman dengan yang lain. Tetapi bagaimana kita tahu kitab suci kalau kita tidak membacanya dan mempelajarinya?

Tahun ini, Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) memfokuskan diri pada kemajemukan alias bagaimana mewartakan Kabar Gembira dalam atau di tengah kemajemukan. Sebuah tema yang amat relevan, signifikan, dan kontekstual dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Kitab suci adalah buku iman, sumber iman yang tidak akan mengering. Semakin diperdalam dan direfleksikan semakin memberikan inspirasi, pegangan dan pedoman hidup beriman kita.

Kitab suci akan tetap jadi ayat-ayat yang beku kalau tidak dihidupi. Semoga semakin diperdalam semakin membantu kita menghayati kehidupan iman kita di tengah kemajemukan sosial dan budaya Indonesia, dan pada akhirnya kitalah yang menjadi ayat-ayat yang hidup sebagai sebuah kesaksian hidup di mana pun kita berada. — PM

 

Tinggalkan Balasan