Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

STT Pastor Bonus & STAV, 20 Tahun Jadi Denyut Nadi Gereja Katolik Bumi Borneo

Lahirnya seminari, tempat pendidikan bagi calon imam di Kalimantan khususnya berawal dari upaya untuk mempersiapkan tenaga imam yang handal, sesuai dengan harapan Gereja di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk dengan segala dinamikanya. Tuntutan standar pembinaan bagi calon imam ini kemudian menjadi cikal bakal berdirinya  Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pastor Bonus dan Seminari Tinggi Interdeosesan Antonio Ventimiglia (STAV) yang terletak di jantung bumi Borneo, Kalimantan Barat.Pada tahun awal berdirinya, STT Pastor Bonus merupakan lembaga pendidikan seminari tinggi yang hanya didedikasikan khusus untuk para frater calon imam Praja Regio Kalimantan yang akan melanjutkan studi teologi jenjang S-2. Namun seiring bergulirnya waktu, ‘Pabrik’ calon imam ini mengalami proses pembenahan terus-menerus baik dari segi fisik bangunan maupun metode pembinaan. Gerakan pembenahan model pembinaan yang dilakukan yakni membuka pintu lebar-lebar, menjalin kerjasama dengan para pimpinan Ordo Kapusin dan Kongergasi Pasionis, CJD, MSA dll, yang berkarya di Tanah Borneo untuk mengirim para fraternya bergabung menempuh pendidikan di STT Pastor Bonus.

Dari kiri-kanan: Romo Laurensius Sutadi Pr, Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap, Mgr. Agustinus Agus Pr, Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF, Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF dan Romo Kristanto Pr.

Kehadiran para frater lintas Ordo dan Kongregasi dirasa memberi warna tersendiri dalam proses pendidikan. Bertambahnya  jumlah para calon imam yang dididik di seminari tinggi ini turut mempengaruhi upaya pembenahan dan perkembangan model pembinaan tersebut. “Sungguh kehadiran para frater dari tarekat lain memperkaya kami khususnya dalam menjalin ikatan persaudaraan, kebersamaan untuk saling mendukung dan memahami satu sama lain, dan ikatan persaudaraan itu masih terjalin hingga saat ini,”ungkap Romo John Rustam. Imam Projo KAP angkatan ketiga ini mengenang kisah manisnya 18 tahun yang lalu, ketika dia dan beberapa frater dari Keuskupan lain harus berjuang di tengah segala keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang masih sangat sederhana. Namun ia merasa sangat bersyukur dan memberi apresiasi kepada alma mater-nya ini yang telah menempanya sehingga kini ia boleh menjadi imam.

Vikjen KAP, Romo William Chang OFMCap.

Menurut Vikjen KAP, Romo William Chang OFMCap, dalam sambutannya mengatakan bahwa kiprah perjalanan STT Pastor Bonus dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, telah berhasil mendidik 264 calon imam dan 177 lulusan imam yang tersebar di 8 Keuskupan regio Kalimantan. Yakni, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Ketapang, Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Samarinda, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Palangkaraya, dan Keuskupan Tanjung Selor.

Rektor STT Pastor Bonus ini juga mengibaratkan perjalanan Seminari Tinggi ini seperti sebuah parit yang memiliki bentuk tidak selalu lurus dan berkelok-kelok.Tonggak sejarah perjalanan STT Pastor Bonus dan STAV dalam perkembangannya juga mengalami benturan, hantaman dan pergolakan jatuh bangun menjadi bagian yang turut mewarnai dinamika pembinaan tersebut.  Meskipun demikian,  layaknya parit/selokan yang berkelok-kelok itu, terdapat prinsip yang esensial yakni unsur air di dalamnya yang selalu mengalir sampai ke tempat tujuan dan dengan hakekatnya memberikan kehidupan bagi setiap makhluk di sekitarnya.

Prosesi tiup lilin dan pemotongan kue Ulang Tahun STT Pastor Bonus dan STAV ke-20.

Filosofi ini mau menggambarkan peran maha penting sebuah seminari  sebagai “urat nadi Gereja” yang memberi hidup sebagai satu-satunya unsur hierarki Gereja yang menjadi pemersatu, penggembala, pengajar dan pengudus bagi umatnya. “Oleh karena itu wadah formatio dalam upaya mempersiapkan kader calon-calon imam dengan segala dinamikanya, perlu mendapat perhatian dari semua pihak agar tetap berdiri kokoh meskipun kadangkala diterpa begitu banyak tantangan dan hambatan,”ungkapnya.

Syukur atas dedikasi pelayanan STT Pastor Bonus dan STAV ke-20 pada 18 Oktober    2018 ini dirayakan dengan meriah dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh para Uskup Regio Kalimantan yakni, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Pr, Uskup Sintang Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap, Uskup Agung Samarinda Mgr.Yustinus Harjosusanto MSF, Uskup Palangkaraya Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF. Hadir pula di altar Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari (KomSem) KWI Romo Joseph Kristanto Suratman Pr dan Vikjen Keuskupan Ketapang Romo Laurensius Sutadi Pr, berserta puluhan imam lainnya.

Hadir  juga memenuhi undangan HUT STT Pastor Bonur dan STAV ke-20, Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Kalbar Dr. Samsul Hidayat MA, Gubernur Kalbar Sutarmidji yang diwakili oleh Asisten III Administrasi dan Umum Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Kalbar, Ibu Marlina, Anggota DPR RI, Michael Jeno, Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Yakobus Kumis, para Bupati dan Wakil Bupati, GOTAUS KAP, para biarawan/biarawati yang berkarya di KAP.Uskup KAP Mgr. Agustinus Agus dalam homilinya mengatakan bahwa kehadiran STT Pastor Bonus dan STAV ini merupakan jawaban atas kebutuhan akan tenaga imam sungguh-sungguh nyata saat ini. “Kekurangan tenaga imam di wilayah KAP maupun di Keuskupan lain menjadi keprihatinan pastoral yang patut diberi perhatian lebih,”ungkap Uskup. Hal ini diungkapkannya mengingat jumlah umat Katolik di Keuskupan Agung Pontianak maupun di Keuskupan lain semakin bertambah setiap tahunnya, sementara jumlah imam yang melayani di paroki tidak sebanding. Diantara kesukaran-kesukaran pokok yang menimpa Gereja zaman sekarang, hampir di mana-mana yang paling penting ialah sedikitnya panggilan imam. “Jumlah imam baik di daerah-daerah katolik, maupun di daerah-daerah misi, kebanyakan tidak mencukupi untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan yang bertubi-tubi,”ungkapnya.

Ketua Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari (GOTAUS) sebagai mitra kerja KomSem KWI yang turut mendukung pendidikan para imam deosesan, Gunawan Hadibrata.

Menyikapi kemelut tantangan pastoral zaman ini, Mgr. Agus ingin bahwa STT Pastor Bonus dan STAV ini perlu dibenahi dengan memperhatikan dua aspek penting yakni menyediakan gedung dengan fasilitas yang baik bagi para calon imam serta staf pengajar/ pembina yang kompeten agar para frater ini bisa belajar dengan baik dan  kelak bisa menjadi imam yang sesuai dengan harapan. “Saya ingin menjadi bapak yang baik, agar anak-anakku ini bisa belajar dengan baik, sehingga mereka sungguh menyadari, bahwa merekalah yang menjadi tumpuan harapan gereja serta keselamatan sesama. Oleh karena itu semua aspek pembinaan, rohani, intelektual dan disipliner, hendaknya secara terpadu diarahkan kepada tujuan pembinaan ini,”ungkap Uskup.

Mgr. Agustinus Agus dalam mengatakan bahwa semua aspek pembinaan yang mencakup pembinaan rohani, intelektual dan disipliner, hendaknya secara terpadu diarahkan kepada tujuan pembinaan tersebut.

Harapan senada juga diungkapkan oleh Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari (KomSem) KWI Romo Joseph Kristanto Suratman Pr. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa berada di komunitas interdeosesan dari 8 Keuskupan bergabung di satu tempat pendidikan, bisa hidup bersama, mengakui kekayaan budaya yang dimiliki oleh masing-masing calon imam itu sungguh-sungguh akan memperkaya pribadi imam tersebut. “Ini adalah dasar yang menjadi inti dari spiritual pastoral sebagai daya pegas dalam pelayanan untuk menjadi imam yang siap diutus di medan karya khususnya medan karya di Kalimantan yang berat penuh lumpur dan batu,”ungkapnya.

Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari (KomSem) KWI Romo Joseph Kristanto Suratman Pr.

Dalam sambutannya Romo Joseph mengatakan bahwa jumlah imam diosesan di 37 Keuskupan saat ini berdasarkan data Unio Indonesia yaitu 2.242, dengan jumlah imam diosesan terbanyak berada di Keuskupan Agung Semarang dengan jumlah 222 imam. Jumlah ini jika dibagi secara kasar  akan menghasilakan jumlah yang berbanding terbalik dengan jumlah umat yang harus dilayani. Oleh karena itu Seminari sebagai wadah pembinaan para calon imam sangat perlu mendapat perhatian khusus dan dukungan penuh baik dari Keuskupan maupun seluruh umat. Dalam kesempatan ini Imam yang pernah menjadi rektor Seminari Tinggi Kentungan ini juga memuji komitmen gerakan komunitas kaum awam yang tergabung dalam Gerakan Orang Tua Asuh  Untuk Seminari (GOTAUS) sebagai mitra kerja KomSem KWI yang turut mendukung pendidikan para imam deosesan.

Penampilan dari Sanggar Dara Rinyuangk.

Setelah berkat penutup dilakukan prosesi tiup lilin  dan pemotongan kue Ulang Tahun STT Pastor Bonus dan STAV ke-20 oleh Mgr. Agus. Kemudian acara berlanjut dengan santap siang bersama dan hiburan.

By. Sr. Maria Seba SFIC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *