Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Merawat NKRI yang Damai dan Berkeadilan Melalui Budaya Menyanyi

Rabu (31/10/2018) bertempat di Islamic Center – Ambon telah dilangsungkan seminar nasional bertajuk “Dari Maluku untuk Indonesia, Kita Rawat NKRI yang Damai dan Berkeadilan Melalui Budaya Menyanyi”.

 Kegiatan seminar tersebut dimotori oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) sebagai salah satu bagian dari rangkaian kegiatan Pesparani 2018 tingkat nasional yang diselenggarakan di Ambon dari tanggal 26 Oktober 2018  sampai tanggal 2 November 2018.

suasana usai seminar nasional dari Maluku untuk Indonesia – tampak para pembicara mendapatkan ucapan selamat dari panitia penyelenggara

Dalam kegiatan seminar ini, Mgr. Agustinus Agus (Uskup Agung Pontianak) bersama 4 (empat) pembicara lainnya akan mengulas soal budaya bernyanyi dalam konteks untuk merawat NKRI yang damai dan berkeadilan.

Seperti diketahui bersama, suara adalah anugerah tak terhingga dari Sang Pencipta kepada manusia. Dan bernyanyi adalah bentuk seni budaya yang paling asasi dan tertua yang dimiliki oleh semua orang. Oleh karena itu pesta paduan suara gerejani (Pesparani) yang diadakan di Ambon, Maluku pada Oktober 2018, tentunya ingin mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk memperat persaudaraan melalui budaya menyanyi.

Karena sangat diyakini, dengan bernyanyi, bangsa Indonesia dapat mengekspresikan keindahan, kebahagiaan, kedukaan, persatuan, pujian, perdamaian. Bernyanyi mampu membuat orang jatuh cinta, bernyanyi mampu membuat orang mengeluarkan air mata, bernyanyi mampu menggerakkan orang lain untuk menolong, bernyanyi mampu mengurangi penderitaan orang lain.

Oleh karena itu,  Bangsa Indonesia diminta untuk bernyanyi dengan nada-nada indah dan bukan berteriak tanpa nada dan memekakkan telinga orang yang mendengarkan.

Pesparani nasional yang diadakan di Ambon, bukan soal menang atau kalah. Tetapi ini soal gaung persatuan dan persaudaraan berbagai suku dari seluruh penjuru Indonesia. Dan ini bukan hanya kerja Gereja Katolik saja tetapi juga seluruh masyarakat Maluku. Bahkan pesparani ini diselenggarakan di Islamic Center.

Selain itu, Pesparani merupakan kerja besar bukan hanya panitia tetapi juga para peserta lomba. Kekompakan, persatuan, saling menghormati,  saling menerima merupakan sikap yang harus dibawa oleh para kontingen untuk dapat tampil di Ambon. Tanpa sikap-sikap itu sudah pasti, sebuah kelompok paduan suara tidak dapat mempersembahkan suaranya yang terbaik.

Ada 34 propinsi yang berlaga di Ambon. Oleh karena itu, bisa terjadi, jika tiada toleransi, saling menghormati satu sama lain, bukan bernyanyi yang dihasilkan tetapi berteriak dan kegaduhan yang terjadi.

Hakekat menyanyi itu adalah membahagiakan, menyatukan dan memberi kehidupan. Mereka yang tidak suka bernyanyi, ketika berkumpul dengan orang bernyanyi akhirnya ikut terpengaruh juga. Atau juga, ketika mereka yang sama-sama suka bernyanyi bertemu, akan memunculkan kebahagiaan, kebersamaan dan menghilangkan perbedaan.

Gereja Katolik Indonesia membuat sejarah baru dengan pesparani nasional ini. Bertemunya umat Katolik seluruh Indonesia di Ambon dengan thema bernyanyi hendaknya menggerakan seluruh bangsa untuk ikut bernyanyi pula. Membangun perdamaian dan persatuan melalui pertemuan umat dari berbagai suku hendaknya merupakan tujuan dari Pesparani Nasional ini. Semoga! *** PM – Rilis

Kredit Photo : Mgr. Agustinus Agus

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *