Mon. Nov 18th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Museum: Peninggalan Pendahulu Bruder Maria Tak Bernoda

Peralatan mesin hitung tua yang dipakai oleh para pendahulu Bruder Maria Tak Bernoda (Sumber Foto dari: Bruder Gregorius, MTB)

Menjadi sebuah catatan sejarah penting di Kalimantan Barat dan sejalan dengan itu Singkawang menjadi salah satu Icon sejarah perkembangan dan kedatangan Misionaris dari pendidikan sampai hadirnya pemimpin-pemimpin yang berkualitas.

Mungkin tidak asing lagi didengar oleh telinga tentang Keberadaan Bruder MTB di Keuskupan Agung Pontianak. Para pendahulu yang datang di tanah Kalimantan Barat sejak 1921 sudah masuk dalam catatan sejarah Gereja Katolik.

Banyak peninggalan-peninggalan karya besar oleh para pendahulu Bruder antara lain Sekolah-sekolah dan biara, karya sosial dan masih banyak lagi. Namun, kali ini bukan itu yang dibahas, tetapi peninggalan-peninggalan kecil yang pernah digunakan oleh Bruder pendahulu MTB. Seperti Kamera tua, sepeda, dan masih banyak lagi berkas-berkas lama yang masuk museum Bruder MTB Singkawang.

Mari kita mulai dengan sedikit bertutur indah

Suasana salah satu sisi dari ruang Museum sederhana (Sumber Foto: Br Gregorius, MTB)

Apa yang digunakan saat ini, akan menjadi sebuah sejarah untuk beberapa saat yang akan datang. Mengapa tidak, sejarah terbentuknya suatu peristiwa dimulai dari adanya peristiwa saat ini. yang memungkinkan semua orang untuk melakukan sesuatu yang bersifat membangun, kemudian selaras dengan hal itu, kegiatan ini didasarkan pada apa yang dilakukan saat ini.

Saat ini, kemudian hari esok adalah sebuah untaian dari hari-hari yang dilakukan berdasarkan apa yang hendak dilakukan. Kadang manusia, melakukan sesuatu hal yang tampak biasa saat ini tetapi suatu saat dipandang tidak biasa. “Minimal semangat dan spritualitas yang dilakukan secara konsisten.”

Tepat pada hari jumat, 26 oktober 2018, kebetulan ketemu dengan Br. Gregorius, MTB dalam rangka cek-up kesehatan (kontrol Kesehatan) rutin setiap 12 kali periksa kesehatan, karena ada sakit (siruitis- kedua kaki) jadi pengobatan internsif secara rutin, jadi setiap kontrol kesehatan, saya datang kesini untuk menginap di biara Sepakat MTB, ujarnya.

Musem (tahun 2009) 

Sebenarnya musem ini sudah terpikirkan sebelumnya, tempatnya kurang jelas, tapi pimpinan pernah memikirkan sebuah tempat kecil, untuk memuseumkan peninggalan barang – barang lama yang pernah terpakai oleh pendahulu Bruder MTB. Supaya para bruder-bruder yang baru, tidak kehilangan jejak sejarah (identitas diri) sebagai spritualitas persaudaraan Bruder Maria Tak Bernoda.  Beberapa barang dulu yang pernah dipakai oleh para pendahulu Bruder MTB, misalnya, mesin ketik (belum terlalu tua sekali) tetapi sekarang sudah tidak dipakai lagi. Beberapa telfon yang dulu manual kini tidak dipakai lagi, kemudian kamera-kamera dahulu yang masih manual banyak, katanya.

Sepeda antik peninggalan Bruder pendahulu (Sumber Foto: Br. Gregorius, MTB)

Apalagi, sekarang jaman milenial, sudah banyak yang orang sekarang tidak tahu bahwa dahulu yang orang biasa gunakan menjadi asing di mata sekarang,  contoh beberapa anak SMP dan SMA sekarang sudah tidak tahu bahwa jaman dahulu ada setrika manual (yang menggunakan arang), katanya.

Singkat cerita, karena waktu itu kondisi saya sedang tidak sehat lagi, dan pindah di Singkawang, terus saya diberi tugas dan ditawarkan “bagaimana bruder diberi tugas dengan memulai membuat museum,” tambahnya.

Kami mulai dari ‘0’ (nol) dan menempati rumah pertama kali bruder datang ke Indonesia. Sebenarnya rumah itu berdiri tahun 1921 (waktu itu para bruder masuk ke Singkawang), tapi bangunan diresmikan tercatat pada tahun 1923 (rumah itu sudah resmi digunakan), tuturnya.

Dalam perjalanan merawat itu adakah kendala-kendala  selama ini? 

Alat penimbang dan semacamnya juga dikoleksi sebagai bukti sejarah dan perjalanan misi di tanah Kalimantan Barat (Sumber Foto Br. Gregorius, MTB)

Lumayan banyak juga, salah satu masalahnya adalah kondisi bangunan itu sendiri. Kondisi bangunan yang pertama kali saya masuki, penuh dengan rayap, tingkat kelembaban tinggi. Tempat itu juga pernah dipakai sebagai kantor oleh Bruder Superior terdahulu dan ya memang musuh utamanya adalah rayap karena kelembaban, tutur Br. Gregorius.

Maka pertama kali masuk, saya mulai dengan renovasi dan memperbaiki bangunan itu, dari bongkar total (lantai sampai deknya). Yang kedua, mengumpulkan barang-barang yang sudah jarang, karena selama ini tidak terpikir bahwa kami akan membuat museum. Karena selama ini, melihat barang dan rongsokan selama ini tertumpuk digudang banyak juga yang terbuang.

Dan sekarang mulai terkumpulkan peninggalan Bruder lama dari komunitas ke komunitas. Tidak mesti barang tua yang sudah lama sekali, tetapi pernah dipakai pertama kali dan sekarang tidak terpakai lagi, misalnya komputer-komputer lama dan printer. (tidak terlalu lama juga, tetapi ada unsur sejarahnya), tambahnya.

Apa harapan Bruder Gregorius Boedi Saptonoe Groho, MTB?

Sesuai dengan harapan Kongregasi kami secara umum, sebagai kenangan dan peninggalan berupa barang- barang artefak (yang berbicara masa lalu) untuk kaum muda sekarang yang melihat bahwa dahulu para sentua (bruder MTB) pernah menggunakan barang-barang ini.

Lorong masuk masuk museum dengan dipajang berbagai foto sejarah yang menghiasi sepanjang lorong ini (Sumber foto Br. Gregorius, MTB)

Secara pribadi, saya juga berharap ini bisa berlanjut, dan bukan menjadi monumen sesaat saja. Saya berhadap kedepannya, sesudah saya ada bruder-bruder lain yang bisa terus melanjutkan. Hampir 9 tahun, dari membersikan lemari, membuat lemari, menyusun tempat sendiri bahkan sampai urusan rumah sakit ternyata ada efek (debu karat) yang menjadi salah satu penicu saya sakit, tuturnya.

Keseharian (purnakarya)

Meskipun saya sekarang dikatakan sebagai bruder Purnakarya (pensiunan) tetapi sebagai seorang bruder tidak ada batasan untuk berkarya, karena kontraknya seumur hidup. Dulu saya tenaga pelatih (diklat) sebagai guru non formal (pelatih), di pati dan sering kedaerah-daerah sebagai fasilitator pembinaan kaum muda (asrama) dan kelompok syadaya masyarakat.

Tugas sekarang yaitu dari mengurus museum, mengurus anak beasiswa dibawah asuhan bruder MTB, dan ilmu baru yang saya coba yaitu  (belajar dari bruder pertanian) membuat pupuk organik “untuk isi waktu aja.” Kami ada pegawai rumah, karena tugas pokoknya adalah rumah, maka hanya kadang-kadang saja jika saya minta bantuan untuk membersihkan museum.

Bruder-bruder muda yang sedang praktek juga kadang membantu disana, ada juga orang-orang muda kebetulan sedang libur sekolah (ingin mencari pekerjaan) juga diterima untuk membantu membersihkan, ujarnya.

150-an barang dalam museum

Ada yang jenis sama, ada kondisi yang bisa dipakai, tetapi secara keseluruhan sudah tidak bisa dipakai lagi. Ada juga barang-barang yang masih menumpuk didalam gudang,  dan sekarang masih tahap mendata barang – barang dengan (nama, asal, tahun berapa dipakai dan foto ) kemudian akan dimasukkan dalam komputer, agar terdata dengan baik. Masalahnya sekarang saya agak gabtek, oleh sebab itu, saya meminta bantuan orang lain, tutupnya. –Semz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak