Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Jelang Pemilu 17 April 2019, PMKRI Deklarasikan #Kita Indonesia

Menghadapi Pemilu 17 April 2019 mendatang  Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Santo Thomas More Pontianak bekerjasama dengan Pengurus Pusat PMKRI (PP PMKRI) mengelar deklarasi dengan tema #Kita_Indonesia.

Presidium Gerakan Kemasyarakatan Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Rinto Namang, mengatakan PMKRI merupakan organisasi pergerakan mahasiswa yang berdiri sejak 1947 yang, motivasi dan tujuan pendiriannya adalah, terlibat secara langsung dalam perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dan tetap konsisten dalam merawat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Oleh karena itu, gerakan #Kita_Indonesia senafas dengan tujuan pendirian perhimpunan ini yakni berjuang untuk meneguhkan kembali persatuan bangsa di tengah upaya-upaya kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah-belah bangsa ini”, kata Rinto

Deklarasi #Kita Indonesia ini sebagai acara puncak gelaran Seminar Nasional yang bertema : peran kaum millenial dalam menyukseskan pemilu yang jujur, damai dan sejuk di Hotel Garuda, Jalan Pahlawan Pontianak, Jumat (12/04/2019).

Deklarasi ini dimaksudkan mengajak kaum millenial untuk menjaga kebhinekaan di tengah situasi politik yang lebih menonjolkan SARA dalam prakteknya.

Hadir dalam deklarasi itu Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus dan seluruh peserta seminar nasional dari kaum millenial berbagai elemen.

Berikut isi deklarasi #Kita Indonesia :

Kebhinekaan itu realitas kultural keberagaman. Keberagaman itu fakta sejarah. Multikulturalismenya murni warisan.

Pluralitas itu keunikan beragam identitas. Beragam etnis apik dari Barat hingga Timur. Terlukis indah dari Utara hingga Selatan.

Berderet makna dari Sabang sampai Marauke. Bertabur warna dari Miangas sampai Rote.

Hari-hari ini kebhinnekaan itu mulai gamang oleh infiltrasi ideology, radikalisme, hoaks, ujaran kebencian. Pancasila harus dihidupkan, bersaudara dalam perbedaan.

Simpul ikatan ini tidak boleh berlalu dengan berakhirnya masa lalu dan masa sekarang ini, pemimpin boleh silih berganti, datang dan pergi, namun ada yang tetap hidup, yakni warisan sosio-kultural.

Sebab, #Kita_Indonesia!

PM-Semz

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *