Mon. Nov 11th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Mgr. Agustinus Agus Rayakan Paskah Bersama anak-anak di Gereja St Yoseph Katedral Pontianak

Suasana Mgr. Agustinus Agus sedang memberkati Semua anak-anak yang berbaris kedepan, setelah itu mereka mendapatkan hadiah yang disiapkan oleh pembina SEKAMI

Pagi itu tertanggal 21 April 2019 dan tepat pada pukul 08.30 pagi dimana hari itu adalah hari Perayaan besar Katolik yaitu hari Paskah 2019. Mgr.Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak memimpin misa perayaan paskah dalam rangka perayaan Paskah bersama ribuan anak-anak. Minggu Spesial ini merupakan hari yang penuh dengan sukacita yang begitu dalam yang boleh dirasakan anak-anak dari yang belum dibabtis sampai dengan yang sudah menerima komuni pertama.

Nuansa misa juga dibuka dengan cara yang unik pula. Hal yang unik itu dimulai ketika perarakan masuk Mgr. Agustinus Agus dan dua Imam yang mendampingi Uskup Agung Pontianak saat perayaan itu. Saat itu Mgr. Agustinus Agus didampingi oleh Pastor Paroki Gereja Santor Yoseph Pontianak RD. Alexius Alex dan Pastor Dominador Mercado Jr, OAR.

Suasana Tarian Pembukaan (Perarakan menuju Altar) yang dibawakan oleh 10 penari cilik

Tampak 10 penari ‘imut’ alias penari cilik yang mengiringi perarakan pembukaan menuju depan Altar dengan Instrumen musik Sape’ (Alat musik Tradisional Petik Dayak) ditambah ‘kemasan’ tarian yang lembut dengan tangan yang seperti daun yang melambai-lambai, membuat suasana pembukaan misa semakin menarik.

Dari lantai satu sampai lantai atas sudah terisi full oleh umat, bahkan kursi yang disediakan bagi mereka yang terlambat nyaris tidak cukup sampai puluhan umat rela berdiri dari awal sampai selesai dalam misa Paskah pagi itu.

Dalam kesempatan itu, Mgr. Agus menyampaikan sebuah cerita yang unik saat memimpin misa Paskah bersama dengan anak-anak pada perayaan minggu itu. Sekaligus Uskup Agus mau berpesan kepada semua umat yang ada kala itu. Uskup Agus menyampaikan pesan penting bagi semua umat yaitu harus ada keterbukaan hati untuk mampu berubah dan bangkit dari keterpurukan dan itulah Paskah Konkret yang nyata manusia bisa perjuangkan. Berikut lanjutan homili Mgr. Agustinus dalam perayaan besar itu;

“Saya ingin tanya disini, apakah kalian lahir ke dunia ini maunya kalian sendiri?,” tanya Uskup kepada semua umat.

Suasana saat pembagian Komuni oleh Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak

“Kalau aku boleh pilih, saya mau lahir sebagai orang yang tinggi ditambah 20 cm lagi, lalu kulit saya putih sedikit, hidung agak mancung biar ganteng,”guraunya.

“Tapi lahir sudah dengan begini 150,160,165 ya sudah. Apa maunya orang tua? Tidak!!! Saya ini anak no 2, abang saya laki-laki, pasti juga orang tua mau anak perempuan. Kami tujuh laki-laki semua, no 8 baru perempuan. Untung no 8 itu perempuan, kalau laki-laki, jangan-jangan 9 lagi,” ujarnya tambah suasana semakin ngakak.

“Itukan artinya, bukanlah maunya orang tua. Kita lahir ke dunia ini maunya Tuhan. Makanya rumus iman yang pertama adalah pencipta langit dan bumi. Makanya tadi dalam bacaan kisah penciptaan itu ditampilkan dan terakhir yang diciptakan adalah manusia,”katanya.

“Tuhan tidak mau kita ini mati terus dan sebetulnya dari iman kita percaya bahwa manusia pertama hidup bahagia di taman Firdaus. Tetapi gara-gara Adam dan Hawa berdosa maka kebahagiaan itu dirampas dan sejak itu gelap masa depan manusia dengan kata lain dia akan mati dan baru kegelapan itu mendapat titik terang ketika Yesus lahir ke dunia ini agar kita yang hidup dalam kegelapan, agar kita yang mati karena dosa Adam dan Hawa terbuka kesempatan untuk memperoleh keselamatan,” ujarnya.

Usai diberkati Oleh Uskup Agung Pontianak, kemudian hadiahpun dibagikan sebagai hadiah Paskah

“Itulah kenapa kita merayakan hari kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, sebab kita menghayati tanpa kehadiran Yesus ke dunia ini, manusia itu tetap akan mati dan tidak punya masa depan. Jadi ini yang kita rayakan artinya bahwa saat kita hidup sebetulnya kita ini sudah mati kalau Tuhan tidak menyertai kita,”imbuhnya.

“Kemudian Yesus lahir ke dunia mengambil rupa orang yang paling miskin secara jasmani, tapi pada kamis malam dan dalam perjumpaan terakhir, di situ Yesus tampil sebagai hamba bagi orang yang tidak punya arti apa-apa. Namun harus membasuh kaki orang yang paling hina. Apa maksudnya?” tanya Uskup.

Suasana barisan menuju pemberkatan oleh Mgr. Agus

“Ini menandakan bahwa setiap orang tidak luput dari perhatian Tuhan, dari orang yang paling miskin dan orang paling hina secara sosial, dan lain sebagainya. Padahal selama hidupnya, Tuhan Yesus itu orang yang hebat. Dimana Ia menyembuhkan orang sakit, orang mati dibangkitkan, betul seorang tokoh sehingga kelompok-kelompok orang Yahudi mau Yesus menjadi Raja,” katanya.

“Tetapi Yesus tidak mau untuk mengatakan saya ini mau jadi raja ? maka saya lahir pada orang miskin, saya meninggalkan dunia ini sebagai seorang hamba yang paling hina,”ujarnya.

“Jadi ini kurang lebih arti perayaan Paskah ini adala tidak ada orang di dunia ini tidak mati. Di kampung selalu saya katakan kita ini ‘camat’ semua alias calon mati. Selanjutnya memang yang harus menuntun kita ini, percaya tidak kita akan mati,”pungkas Mgr. Agus.

“Percaya tidak akan kehidupan kekal, Itu kuncinya. Kalau tidak ada kehidupan kekal, maka rugi saya jadi Pastor,” candanya.

Suasana Misa di Lantai Bawah, dan masih banyak umat tua yang lain berdiri karena padat dan ramainya yang hadir dalam misa Paskah tanggal 21 April 2019 di Gereja Santo Yoseph Katedral

Di tengah hikmatnya suasana misa persembahan diantarkan dengan tarian yang dibawakan oleh anak-anak. Dengan nuansa etnik campuran, dua gadis cilik menggunakan berbusana Tionghua, dua gadis cilik lain menggunakan busana Batak kemudian satu laki-laki menggunakan busana Tradisional Dayak.

Tambah menarik pula ketika yang menantarkan persembahan juga semua adalah anak-anak, termasuk bacaan sabda, doa umat dan mazmur juga anak-anak. Intinya, semua dipersiapkan dengan nuansa Paskah yang biasa alias sangat berbeda apalagi dalam momen besar ini.

Tarian Persembahan dengan nuansa Keberagaman Budaya dan diikuti oleh pembawa persembahan dari belakang
Suasana Foto saat para penari tengah duduk di bangung deretan ketiga dari depan

Usai homili, Mgr. Agus membagikan komuni sekaligus memberkati ribuan anak-anak yang berbaris untuk siap diberkatinya. Dalam pemberkatan itu juga, sekaligus pembina SEKAMI Gereja St. Yoseph Katedral bersama-sama Ibu Eliy, Suster dan dibantu Misdinar turut sibuk membagikan hadiah yang disiapkan sebanyak 1200 buah.

Dalam perayaan Paskah yang bahagia itu juga, ternyata tidak hanya anak-anak yang diberikan hadiah, namun semua umat yang hadir disana juga mendapatkan hadiah yaitu telur Paskah yang sudah diberkati, dimana petugas yang membagikan telur paskah itu dari dua kelompok doa yang pertama dari Komunitas Perduki dan dari Komunitas Mother Prayers (MP).-Semz_KomsosKAP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak