Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Dies Natalis ke-23 : GaMasKa Universitas Tanjungpura Tonjolkan Persaudaraan dalam Kristus

GaMasKa (keluarGa Mahasiswa Katolik) gelar acara rutin tahunan yang disebut Dies Natalis. Acara ini merupakan peringatan hari lahir sebagai peristiwa penting yang menandai awal perjalanan GaMasKa menjadi wadah mahasiswa untuk berkumpul dan menjalin persaudaraan. Kaum muda yang penuh semangat dalam iman katolik menjadi bekal bagi masa depan gereja.

Oleh karenanya, semangat tersebut perlu dibina baik secara pribadi maupun dalam organisasi, agar menjadi identitas dalam diri setiap kaum muda. GaMasKa sendiri merupakan organisasi mahasiswa katolik di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura Pontianak. Melalui binaan dalam organisasi ini, mereka benar-benar menyadari pentingnya kebersamaan dan persaudaraan satu sama lain untuk saling meneguhkan.

Satu dalam Kristus

Dies Natalis ke-23 tahun 2019 dirayakan melalui berbagai acara dengan jadwal yang berbeda-beda. Menurut Yoga ketua panitia Dies Natalis GaMasKa, hal ini dilakukan agar tidak menganggu proses belajar di kampus.

Suasana Kegiatan GAMASIKA di STT Pastor Bonus

“Ada beberapa rangkaian acara yaitu ibadah pembukaan pada tanggal 4 Mei 2019 dan permainan rakyat tanggal 19 Mei 2019. Selain itu, diadakan juga kunjungan sosial tanggal 25 Mei 2019, lomba kerohanian tanggal 20 Juni 2019, katekese kerohanian tanggal 21 Juni 2019, serta acara puncak pada tanggal 22 Juni 2019,” jelas Yoga.

            Tema yang diusung oleh panitia kali ini adalah “Aku Kamu Kita Satu dalam Kristus”

            “Tema ini diangkat untuk kembali mengingatkan bahwa GaMasKa bukan sekadar kelompok, tetapi lebih mengikatkan diri pada persatuan yang lebih dalam yaitu sebuah keluarga yang bersatu dalam kristus. Kalau tanpa persatuan, tidak mungkin sebuah keluarga itu akan bertahan dengan baik dan terjaga keharmonisan di dalamnya,” tegas Frater Fransiskus Peran, pembina Gamaska.

            Frater Peran juga mengharapkan kesempatan Dies Natalis menguatkan iman katolik setiap anggota, agar tidak mudah goyah menghadapi tantangan zaman dan tidak mudah tertarik untuk pindah ke agama lain

Oleh karenanya, seluruh acara yang disusun oleh panitia diharapkan dapat membangun ikatan persaudaraan yang kokoh antara anggota GaMasKa.

Lomba Kerohanian

Pada hari Kamis, 20 Juni 2019 diadakan lomba kerohanian di STT Pastor Bonus Pontianak. Lomba kerohanian merupakan program baru yang tidak pernah dilaksanakan pada acara Dies Natalis tahun-tahun sebelumnya.

            “Kami mengadakan lomba kerohanian sesuai dengan saran pastor moderator, sebab suatu kegiatan katolik seharusnya lebih menonjolkan acara yang bersifat kerohanian,” ungkap Frater Peran.

Lomba kerohanian terdiri dari lomba menyanyi solo, lomba mazmur, dan lomba kotbah. Tetapi, peserta yang mengikuti lomba kotbah tidak mencukupi, maka lomba tersebut ditiadakan. Menurut data registrasi, ada 11 peserta dari perwakilan organisasi katolik lainnya. 8 orang yang mengikuti lomba menyanyi solo dan 3 orang untuk lomba mazmur.

Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIB dibuka dengan doa pembukaan, kemudian kata sambutan dari beberapa pihak.

“Bernyanyi dengan baik, itu sama berarti berdoa dua kali. Teman-teman, bernyanyilah dengan baik serta bernyanyi dengan segenap kemampuan dan segenap hati, karena bernyanyi dengan baik maka kita sama saja berdoa dua kali,” ajakan tersebut diungkapkan oleh Frater Antonius Toto Iswanto dalam sambutannya.

Secara khusus dalam lomba menyanyi solo, para peserta ditantang untuk menyanyikan lagu wajib dan lagu pilihan yang telah ditentukan oleh panitia. Para penyanyi muda ini, baik pria dan wanita, menyanyi sesuai dengan dunia dan gaya orang muda dengan sangat baik.

Kesan manis dalam mengikuti acara diungkapkan oleh Rita, salah satu peserta lomba menyanyi solo. “Saya merasa senang mengikuti lomba kerohanian sebab acara ini menjadi wadah bagi saya untuk menyalurkan hobi dalam menyanyi,” katanya. Selesai acara, dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan pengumuman pemenang dari masing-masing perlombaan.

Walaupun beberapa peserta tidak menjadi pemenang, mereka tetap bergembira dan tidak berkecil hati, sebab mereka mengikuti acara tersebut untuk mengasah kemampuan sekaligus menjalin persaudaraan tanpa memprioritaskan diri untuk menjadi juara.

  • Pricillia Grasela (VKomsosKAP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *