Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Stasi Raba: Mgr. Agus Mengurapi Minyak Krisma ke 250 Krismawan-krismawati

Menjalin- tepatnya di Desa Raba stasi Santo Yohanes Maria Vianney Raba tanggal 4 Agustus 2019, Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus telah memberikan sakramen Krisma kepada 250 umat stasi Raba.

Dalam perayaan sakramen krisma itu dimulai dengan perarakan para Imam dari Gereja lama ke gereja yang baru diresmikan dan diberkati tanggal 3 Agustus 2019 kemarin. Adapun imam yang mendampingi Mgr. Agus dalam perayaan Misa Krisma yaitu RD. Alexius Alex, RD. Yoseph Maswardi, RD. Herbertus Hermes Abet, P. Yanto, OFMCap, P. Fransiskus Kebry, CM, P. John Wahyudi, OFMCap, dan P. Dedi, OFMCap.

Suasana saat penerimaan Sakramen Krisma oleh Mgr. Agustinus Agus

Sesampainya didepan gereja baru, kemudian rombongan disambut dengan tarian tradisional oleh OMK Stasi Raba.

Dalam sambutan pembuka misa krisma, Uskup Agus menjelaskan secara singkat terkait krisma dan maksud dari penerimaan krisma itu sendiri.

“Sakramen adalah simbol dari simbol itu sendiri memiliki makna yang lebih besar. Ibaratkan saya memberikan saput tangan kepada seseorang yang saya sukai. Meskipun harga saput tangan itu murah, tetapi maknanya besar. Demikianlah simbol ilahi yang kita dapat dari makna krisma. Maka nanti dalam krisma saya akan menampar anda-anda semua untuk mengingatkan bahwa kita, hei kalian ini sudah dewasa,” ujarnya.

Suasana Foto Bersama Usai Misa Krisma

“Kadang-kadang kita juga harus ingat akan Tuhan, hanya dengan mengingat Tuhanlah hidup kita lebih tertuju pada kebenaran. Dengan menerima krisma agar Tuhan membantu kita dan agar iman ke-Allah-an kita semakin diperkuat,”tambahnya.

Suasana dalam gereja dipenuhi dengan nuansa putih-putih yang membuat dalam gereja penuh sampai empat tenda diluarpun dipenuhi dengan umat stasi.

Selaras dengan itu uskup Agus dalam homilinya juga mengatakan bahwa krisma merupakan sebuah ungkapan kedewasaan iman yang harus kita lalu. “Kenapa kita ada harus mendewasakan iman kita? Karena kita harus menyadari bahwa kita ini hidup hanya sementara. Kita ini semua hanya ‘camat’ alias calon mati semua. Saat ini kita datang ke sini (gereja) setiap minggu tujuannya untuk mengingatkan bahwa setelah kematian kita di bumi ada hidup kekal,” katanya.

“Dalam rumusan iman Katolik kita tahu bahwa ada kalimat yang mengatakan ‘aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan Para Kudus, Pengampunan Dosa, Kebangkitan Badan dan Kehidupan Kekal, Amin.’ Dasar iman inilah yang harus selalu menjadi pondasi kekuatan kita untuk lebih dewasa dalam keimanan Ilahi dengan Allah,” tambahnya.

Usai homili Mgr. Agustinus Agus melanjutkan dengan acara penerimaan sakramen krisma yang didahului dengan pemberkatan wali krisma oleh uskup dan dilanjutkan dengan Pemberian krisma kepada 250 krismawan dan krismawati.

Gereja Tampak dari luar, Stasi Raba Maria Vianney

Dalam sambutan RD.Herbertus Hermes Abet sebagai pastor paroki Menjalin. Ia mengucapkan selamat kepada umat yang sudah menerima krisma. “Ingat bahwa kita hari ini Katolik, besok Katolik, sampai matipun kita harus Katolik,” katanya.

Dari 250 umat yang mengikuti penerimaan sakramen Krisma umur yang paling tua dalam acara ini adalah berumur 56 tahun.

Sebagai peserta yang mengikuti krisma Hildegardis Filisia Della umur 14 tahun ini mengaku bahagia karena kini ia boleh menerima sakramen krisma ini. “Harapannya setelah saya mengikuti sakramen krisma ini tentunya saya akan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam hidup iman dan masyarakat. Tidak hanya terbatas dari 2 bulan kami mendapat materi tentang krisma dan iman tetapi terus berlanjut,” ujarnya.

Maksimus Kuswanto umur 27 tahun juga merasa bahwa momen ini adalah momen yang begitu luar bisa. “Puas dan senang karena mengetahui sakramen maha kudus dan iman lebih dewasa. Harapannya kedepan saya bagi kami yang menerima sakramen krisma ini bisa semakin aktif dalam kegiatan menggereja,” katanya.

Usai perayaan misa krisma, dalam rangka perayaan ulang tahun 87 tahun stasi St. Yohanes Maria Vianney Raba, umat menyediakan kue ulang tahun dan pemotongan kue oleh Uskup dan Para Imam, kemudian semua krismawan-krismawati diajak untuk foto bersama dan sekaligus untuk dokumentasi. (Samuel_KomsosKAP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *