Tue. Nov 19th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Tiga Hari Bersama Suku Punan Hovongan _ (Series 1)

“Orang Suci adalah orang yang membawa kebahagiaan untuk setiap orang yang ia jumpai”- Mgr. Agustinus Agus

Puttusibau-Tanjung Lokang Rabu, Tanggal 28 Agustus 2019

Dewasa ini kita banyak dihadapkan dengan berbagai perkembangan teknologi yang kian berubah dengan begitu cepat. Perubahan gaya hidup ini tentu membuat gaya hidup masyarakat juga semakin berubah seturut dengan perkembangan zaman yang dibutuhkan. Hal itu selaras dengan kebutuhan pastoral juga “mau atau tidak harus mampu untuk mengikuti perkembangan zaman tersebut.” 

Namun tahukah anda? Bahwa di Kalimantan Barat saat ini terjadi ketimpangan gaya hidup antara moderen dan masih tradisional. Itulah yang dihadapi orang Katolik sekarang. Dilain sisi harus menyesuaikan dengan perkembangan gaya hidup masyarakat, namun disisi lain harus  memajukan orang-orang yang sedang mengalami ketertinggalan.  

Potret tanjakan Riam Rabu 28 Agustus 2019 menuju Tanjung Lokang Hulu Sungai Kapuas. Semakin ke Hulu, semakin tinggi dan sempit

Narasi diatas ini mengawali kunjungan Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus dalam kunjungannya yang ke 4 kalinya di Tanjung Lokang. Dalam kunjungan keempat ini, Mgr. Agus juga mengajak P. Jerum Juleng (Pastor Paroki Katedral Kuching), Sr. Cathrine Uming Takim , SSFS (bersama tamu-tamu) dari Kuching.

Hari Pertama menuju ke Desa Punan -Tanjung Lokang (tanggal 28 Agustus 2019)

Sehari sebelumnya rombongan dari Serawak-Kuching sebanyak 8 orang yang antara lain adalah P. Jerome Juleng Tamben (Pastor Paroki Katedral Kuching), Sr. Cathrine Uming Takim, SSFS (Sisters Of St. Francis Of Serawak), Mr. Jin Soi Lai, Ms. Cathrine Demang, Ms. Margeret John Nyugem, Mr. Diye Nyanggun, Mr. Michael Rimong Danggat, Ms. Awine Jambing dan  Mgr. Agustinus Agus bersama tim Komsoskap menyusul pada tanggal 28 Agustus 2019.

Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus bersama Rombongan dari Serawak- Kuching

Cerita ini kami mulai dari Puttusibau, keberangkatan kami dari Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Putussibau kurang lebih pada pukul 11.30 dengan melewati beberapa kampung antaranya Biara Deosoli, Suai, Melapi, Ingkotambe, Siut, Lunsa, Pulau Sara, Nanga Enap dan Nanga Erak.

Kurang Lebih ada 1 jam perjalanan menuju ke pelabuhan keberangkatan kami ke Tanjung Lokang (Hulu Sungai Kapuas Pedalaman Puttusibau) saat itu kami diantar dengan 4 mobil untuk mengangkut rombongan yang akan berkunjung ke Tanjung Lokang.

Sesampainya kami ke Kampung ujung yaitu kampung dimana kami mulai perjalanan menggunakan dua Sampan besar. Perjalanan kami dimulai dari Nanga Balag, Matalunai, Nanga Lapung, Nanga Bungan dan sampai Tanjung Lokang.

Pastor Jerome Juleng Tamben (Pastor Paroki Katedral Kuching) bersama Rombongan

Total perjalanan kami memakan waktu 6 jam perjalanan sungai dan dipertengahan jalan kamipun diguyur oleh hujan deras sampai Tanjung Lokang.

Dipertengahan jalan masuk ke Nanga Bungan dan Tanjung Lokang, kami mesti pindah ke perahu yang lebih kecil yaitu Cess kata orang Punan Hovongan (ketinting kata orang laut) karena sungai semakin ke hulu semakin kecil dan menanjak. Sekitar pukul 18.45 WIB kami sampai di Tanjung Lokang.

Nginap di Rumah Pak Luhat dan Aula Serba Guna (Gereja Lama Stasi Tanjung Lokang)

Mgr. Agustinus Agus dan rombongan dari Serawak menginap di Rumah Pak Luhat dan sebagian menginap di Gedung Serbagua yang dulunya adalah Gereja Lama dari Stasi Tanjung Lokang. Kemundian kami dijamu dengan makanan khas hasil berburu dari umat yang melayani kami.

Hari kedatangan pertama tanggal 28 Agustus 2019, kami tutup dengan mengobrol bersama dengan KADUS Pak Adrianus Tius atau Pak Tius (Kepala Dusun Tanjung Lokang). Pada malam pertama itu, Pastor Jerome Juleng Tamben mengaku baru pertama kalinya ia mengalami pertualangannya sampai ke hulu Sungai Kapuas.

Ini pertama kalinya saya mengikuti adventure (pertualangan) seperti ini. Dalam sepanjang perjalanan saya sungguh merasa puas dan menikmati gelombang riam-riam dan keindahan alam yang masih natural

ujarnya dalam logat Melayu Serawak

“Perjalanan ini adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan sekaligus menegangkan bagi saya pribadi. Saya pernah mengunjungi tempat pelayanan pastoral yang begitu jauh, tapi tidak seperti perjalanan Tanjung Lokang.

Karena Kuatnya deras arus sungai menuju ke hulu, maka setiap riam rombongan terpaksa harus turun dan melewati bebatuan licin dan tajam. Tapi sekali lagi bagi Suku Dayak Punan Hovongan hal ini sudah biasa Justru Kami yang kewalahan

Menuju ke sini saja, kita harus duduk berjam-jam dalam perahu, ditambah dengan hujan. Hadeh’ memang pertualangan yang saya alami,”tambahnya sambil berbaring meluruskan pinggangnya.

Dalam obrolan malam itu (28 Agustus 2019), Mgr. Agustinus Agus mengatakan bahwa untuk keempat kalinya saya mengunjungi Desa Tanjung Lokang. “Kenapa saya pilih tempat ini untuk menjamu tamu-tamu saya? Karena, inilah Desa terakhir di Ujung Sungai Kapuas. Saya sudah ke empat kalinya mengunjungi desa Tanjung Lokang ini,” katanya.

Potret Uskup Agus saat berhenti berjalan kaki melewati Riam

“Medan yang jauh dan menantang, jalan bebatuan yang licin dan tajam, bagi orang suku Punan Hovongan bukanlah sebuah hal yang sulit lagi. Mereka sudah terlatih dari kecil untuk melewati riam-riam dan berjalan lincah di bebatuan sungai-sungai,” ujarnya.

“Kita dihadapan Tuhan semua adalah sama. Meskipun sekarang saya Uskup Agung, tapi gaya saya dari dulu tetap sama. Aku datang kesini bukan untuk tidur, tetapi aku datang ke sini untuk menghibur umat ku,” katanya.

By. Mgr. Agustinus Agus (Uskup Agung Pontianak)
Potret Penjemputan Rombongan (Orang Suku Punan Hovongan)

“Bagi saya, orang suci bukanlah orang yang pandai dalam berdoa saja, tetapi orang suci yang saya hayati adalah dimanapun Ia berada, mampu memberikan kebahagiaan dan sukacita bagi orang yang dikunjungi dan dilayaninya,” tambahnya.

Series 1_- Semz_Komsoskap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak