Thu. Sep 19th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Tiga Hari Bersama Suku Punan Hovongan _ (Series 2)

Puttusibau-Tanjung Lokang Kamis,Tanggal 29 Agustus 2019

Rekreasi bersama umat Suku Punan Hovongan di Batu Data Opet

Tujuan kedatangan Rombongan sebenarnya ada dua, yaitu untuk rekreasi dan sekaligus kunjungan pastoral kepada umat Stasi Tanjung Lokang yang merupakan ujung kampung dari Ujung Sungai Kapuas. Pada hari kedua, niat rekreasi bersama umat itu tergenapi.

Siap-siap berangkat menuju ke Batu Data Opet

Kring, kring, kring… ternyata alarm saya berbunyi pada pukul 05.30 WIB pagi dan ku lihat disamping sudah bangun dan mandi pagi.

Mgr. Agustinus Agus pagi itu juga sudah selesai mandi. Pukul 06.15 WIB pagi kami disuguhkan kopi manis oleh ibu-ibu dapur sambil menunggu sarapan pagi.

Pukul 07.35 pagi itu dimulai dengan sarapan pagi bersama, hingga pukul 9,30 WIB kami beserta rombongan bersiap-siap menuju lokasi rekreasi.

Dalam rencana menuju ke Batu Data Opet (Lokasi di Hulu Sungai Kapuas) yang jauhnya kira-kira 2 jam 30 menit perjalanan kami. Ternyata diluar perkiraan, yang ikut kami rekreasi kurang lebih sebanyak 40-an umat termasuk anak-anak di dalamnya.

Semantara Mgr. Agus dan Bapak -bapak Katolik diskusi, gambar sebelah kanan Ibu-ibu sedang memasak hasil pancingan

Sementara itu, Uskup Agus sudah duluan menuju ke hulu bersama umat yang menemani Uskup memancing. Hasil dari mancing mereka, dimasak bersama di Batu Data Opet untuk makan bersama.

Satu poin penting dari Mgr. Agus kala itu adalah “saya datang kesini tujuannya untuk menghibur umat saya. Memang saat ini saya Uskup Agung Pontianak (sudah 3 kali Mgr. Agus berkunjung ke Desa Tanjung Lokang semenjak menjadi Uskup Sintang) , tapi bagaimanapun mereka adalah umat saya juga,”Ujarnya.

Pertualangan yang Penuh Berkat

Dari Tanjung Lokang menuju Batu Data Opet, tidak mudah kami lalui. Kami harus melewati perjalanan berbatuan dan menanjak. Selain itu kami pun harus turun beberapa kali untuk melewati riam yang tidak mungkin untuk dilalui. Tapi salut untuk mereka Suku Punan Hovongan.

Riam Katocop, butuh perjuangan untuk melewati riam ini

Tubuh gesit, cepat, dan intusi yang tajam mencerminkan jati diri mereka yang selama ini dikatakan “Manusia Rimba.”

Suku Dayak Hovongan- Tanjung Lokang (dalam kunjungan Mgr. Agustinus Agus tanggal 28-30 Agustus 2019)

Dari yang kecil, perempuan dan laki-laki- sama saja lincah dan gesitnya. Kecepatan dan insting memang harus diakui bahwa sudah terbentuk dan terlatih sedari kecil.

Jadi, bagi orang asing medan seperti itu mungkin mustahil, namun tidak untuk Umat di Tanjung Lokang. Bebatuan yang tajam dan licin serta ganasnya arus, sudah seperti mainan bagi mereka. Sedangkan pendatang, bisa saja ‘copot’ jantungnya, hehe.

Proses perjalanan kami menuju ke Lokasi Batu Data Opet

Perjalanan panjang kami untuk menuju ke Batu Data Opet harus melewati beberapa riam antara lain Riam Longu adalah riam pertama yang kami lewati. Kedua Riam Nalo, Riam Sunge Heng, Riam Bokahnsalah dan Riam Kotocop.

Riam Katocop adalah salah satu riam yang tinggi, dimana ketinggiannya yang kering mencapai satu meter menajak dari bawah dan melewati satu batu tinggi. Disitu terpaksa orang yang naik dalam perahu Cess, harus turun jalan kaki melewati bebatuan tajam dan licin. Supaya Perahu Cess itu bisa naik dan melewatinya.

Pengemudi belakang dan depan harus siap siaga menanjak, sementara itu ditengah persimpangan antara bawah dan atas harus dijaga oleh beberapa orang, supaya cess tidak terbalik kebawah.

Sedikit saja lengah, maka dipastikan perahu cess itu akan terbalik, maka habislah barang bawaan dalam perahu. Untung saja mereka sudah biasa dan semua bisa terlewati dengan lancar.

Makan bersama di Batu Data Opet

Dalam rekreasi siang itu, dihadiri keluarga-keluarga bersama anak-anak mereka

Kira-kira pukul 13.00 WIB, semua hasil pancingan dikumpulkan kemudian dimasak untuk makan siang bersama.

Perlengkapan masak kami, bawa dari Tanjung Lokang menuju Batu Data Opet.

Keberangkatan kami dalam rekreasi hari itu dilengkapi dengan keluarga-keluarga beserta anak-anak mereka.

Sementara itu sesampainya kami di Batu Data Opet, semua gotong royong, ada yang memasak nasi, ada yang memancing, ada yang mencari bambu, ada yang membersihkan sayur, ada juga keluarga yang membawa ayam dari rumah.

Hari itu merupakan hari dimana pancaran semangat gotong royong adalah ciri khas dari orang Punan Hovongan sendiri.

Kemudian sekitar ada satu jam lebih, hasil dari memancing kemudian dimasak oleh Ibu-ibu, sementara anak-anak sedang asik bermain dan mencari buah durian yang jatuh ditepian sungai

Mgr. Agus bersama Kepala Dusun Tanjung Lokang Pak Adrianus Tius disitu ada juga tentara Pak Arman (Prajurit) yang bertugas di daerah Puttusibau.

Siang itu, sambil menunggu masakan ala tradisional selesai dalam diskusi siang di sungai Batu Data Opet, Mgr. Agus mengatakan kekagumannya terhadap hutan yang masih natural. Hutan ini merupakan hutan yang adalah jantung dari dunia. Budaya gotong royong masih boleh dirasakan.

Obrolan di siang itu kamis, tanggal 29 Agustus 2019

“Orang kampung tidak punya uang, tapi punya hati. Semangat rela berkorban dan menghargai masih tinggi. Budaya adat yang masih kental, menjadi salah satu rujukan hidup sosial dimasayakat luas,”ujarnya.

“Memang baru-baru ini ada isu-isu terkait dengan lahan orang Suku Punan Hovongan yang hidup ribuan tahun lebih dulu, menjadi kawasan hutan lindung. Cobalah diurus lagi, adakan mediasi dengan pihak pemerintah terkait isu ini,” kata Uskup Agus ke Pak Tius dan masyarakat.

Makan Siang Bersama

Setelah perbincangan itu, kami tutup dengan makan siang bersama. Hasil pancingan dimasak dengan dua versi. Ada yang memasak menggunakan bambu, ada juga yang membawa kuali dari rumah dan panci untuk masak nasi.

“Supaya semuanya kebagian, ikan itu kita masak dengan kuah,” kata Mgr. Agus.

Karena ditengah hutan dengan keterbatasan piring yang dibawa, maka daun di hutan pun menjadi piring praktis.

Rempah-rempah dari Mgr. Agus,- dengan bumbu khas Dayak, kemudian dikombinasi ala masak Dayak Punan Hovongan.

Nyaris tiga kuali ‘ikan kuah’ ludes, dalam makan bersama siang itu. Siang-siang makan ditengah hutan, terasa begitu nikmat.

Dalam kesempatan itu, Uskup Agus mengatakan untuk kesempatan ini sangat jarang kita lakukan.

Potret siang Kamis 29 Agustus 2019 di Batu Data Opet

“Tujuan saya kemari adalah membawa tamu-tamu saya dari Serawak-Kuching yaitu P. Jerome Juleng (Pastor Paroki Katedral Kuching). Dia ingin mengunjungi kampung-kampung hulu. Saya kenal dengan pastor ini sedari saya masih Pastor Paroki di Sanggau. Jadi hubungan persahabatan kami sudah lama.

Kemudian kenapa saya pilih Desa Tanjung Lokang untuk kunjungan ini? Karena inilah kampung terakhir di Hulu Sungai Kapuas. Tidak ada kampung lagi selain kampung ini, dan desa Tanjung Lokang ini juga sudah dekat dengan Perbatasan Kaltim.

Kemudian kami bersepakat untuk tanggal 28-30 Agustus 2019 dalam pertemuan kami tempo hari di Kuching untuk mengunjungi Desa Tanjung Lokang. Kemudian P. Jerome Juleng mengajak rombongan antara lain Sr. Cathrine Uming Takim, SSFS (Sisters Of St. Francis Of Serawak), Mr. Jin Soi Lai, Ms. Cathrine Demang, Ms. Margeret John Nyugem, Mr. Diye Nyanggun, Mr. Michael Rimong Danggat dan Ms. Awine Jambing untuk ikut juga dalam kunjungan rekreasi sekaligus Kunjungan Pastoral.

Hari yang Cerah

Usai makan siang bersama, kami tutup dengan foto bersama di Sungai Batu Data Opet untuk kenang-kenangan ditahun ini (2019).

Setelah itu kami bergegas untuk pulang ke Desa Tanjung Lokang.

Entah keajaiban atau memang kebetulan, padahal ini adalah musim hujan. Tapi tidak ada satupun tanda-tanda yang menunjukkan hari akan hujan.

Pak Mering umat stasi Desa Tanjung Lokang mengatakan “biasanya, kalau orang mau ke hulu air, pasti hujan. Tapi kali ini, sangat cerah,” ujarnya.

Potret Foto Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak besama- anak Dayak Punan Hovongan Tanjung Lokang -di Batu Data Opet Kamis 29 Agustus 2019

Dalam perbincangan singkat itu Pak Mering (yang dikenal umat,  tahu banyak sejarah dan mitos di Tanjung Lokang khususnya terkait Suku Punan Hovongan) menceritakan sedikit hal-hal yang diluar nalar.

“Biasanya, orang yang datang ke sini dengan niat yang tidak baik, banyak saja halangan yang mereka jumpai. Tapi kalau lurus hatinya, pasti akan dilindungi,” ujarnya.

Kebiasaan hidup masyarakat setempat tidak terlepas dari mitos, dan budaya yang menjaga masyarakat itu sendiri. Bukan hanya Pak Agustinus Mering saja yang menceritakan itu, tetapi orang-orang muda dan beberapa orang tua juga mengatakan hal yang sama.

Potret Foto Dayak Punan Hovongan di Batu Data Opet tanggal 29 Agustus 2019

Tapi yang pastinya, kedatangan kami disana adalah dengan niat dan tujuan yang baik.

Mgr. Agus selalu mengatakan kepada umat bahwa jangan pernah malu untuk mengakui diri kita sebagai orang kampung.

Uskup Agung Pontianak- Mgr. Agustinus Agus

“Saya dari kampung, dan kita sama dari kampung. Mari tunjukkan bahwa orang kampung juga bisa berbuat hal yang hebat. “Saya dalam satu tahun pasti ada pulang kampung, karena saya tahu, tanpa nenek moyang kita_ tidak mungkin kita bisa ada,” katanya. SemzKomsoskap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak