Tue. Nov 19th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Tiga Hari Bersama Suku Punan Hovongan _ (Series 4)

Puttusibau-Tanjung Lokang Jumat,Tanggal 30 Agustus 2019 –Misa pagi dan Sayonara Suku Dayak Punan Hovongan

Misa Pagi Bersama Umat

“Anak cacat itu didampingi Ibunya, spontan datang ke Mgr. Agus mengatakan sesuatu hal yang kurang jelas terdengar, namun pertemuannya dengan Uskup Agus pagi itu begitu ‘hangat'”

Pagi itu, tepat pada pukul 06.30 WIB, seperti biasa- aktivitas dipagi hari selalu kami mulai dengan mengopi ‘bareng,’ sambil ngobrol. Banyak deh, cerita- pagi bersama Uskup Agus, banyak hal-hal yang lucu dan unik yang diceritakan oleh Uskup Koboy kita (Mgr. Agus).

Cerita dari Ia menjadi Uskup Sintang sampai menjadi Uskup Agung Pontianak. Bercerita gaya Pastoral, sampai semua kampung-kampung terpencil yang ia kunjungi, dan salah satu desa itu adalah Desa Tanjung Lokang.

Selama dua hari kami berada di Desa Tanjung Lokang, setiap pagi Ibu-ibu selalu melakukan aktivitas yang sama, yaitu melayani kami dengan penuh tanggungjawab.

Masak di Pagi Hari

Satu poin penting dalam semangat mereka yaitu memiliki semangat melayani dan rendah hati.

Usai masak-pun, mereka urutan paling terakhir dalam antrian mengambil makanan. Sifat itu mencerminkan budaya asli mereka yang selama ini dikenal oleh masyarakat luas yaitu ‘ramah, baik hati dan rela berkorban. Ya, memang begitu kenyataannya.

Mulai misa pada hari itu, kurang lebih sekitar pukul 09.15 WIB. Mungkin karena hari kerja, jadi yang menghadiri misa di gereja Stasi Tanjung Lokang tidak terlalu ramai. Kurang lebih 50-an umat, termasuk didalamnya anak-anak.

Namanya juga pedalaman, jika orgen khusus untuk gereja itu jangan harap bisa didengar. Di Gereja itu hanya ada dua gitar tua yang berjasa mengiringi suasana misa di Stasi Tanjung Lokang.

Namun, dilain sisi- ternyata misa dikampung itu sungguh luar biasa ‘hikmatnya.’ Suasana sunyi ditambah suara jangkrik pagi hari membuat suasana gereja itu semakin hidup. Ya, begitulah keadaan suasana dikampung, (Mengapa tidak? Kan ini hulu Kampung ujung Sungai Kapuas, hehe).

Katekese Singkat, Gaya Koboy Versi Mgr. Agus

Sebenarnya, rencana kami mulai misa dimulai pada pukul 80.00 WIB, karena Mgr. Agus melihat umat yang datang masih sedikit, dan kebetulan gereja sudah banyak anak-anak yang datang.

Kondisi spontan, Uskup Agus mengambil gitar dan mulai memainkan lagu “Dalam Yesus Kita Bersaudara.”

Sedikit unik cara Mgr. Agus mengajak mereka bernyanyi. Kita tahu bahwa orang ‘hulu’ apalagi anak-anak, memang mereka baik hati. Tapi, luar biasa pemalu.

Dengan gaya sedikit koboy, Mgr. Agus- memainkan lagu “Dalam Yesus Kita Bersaudara” yang awalnya anak-anak tidak mau nyanyi, lalu akhirnya juga luluh. Kira-kira ada 5 kali mengulang lagu itu, suara anak-anak lebih besar dari suara Uskup Agus.

Lagu Yesus Pokok bersama Uskup Agus dan Sr. Catherine Uming Takim, SSFS

Setelah semangat ‘api’ karena lagu pertama yang dibawakan Mgr. Agus telah membakar mereka, ternyata tidak cukup sampai disitu. Uskup Agus juga memanggil mereka untuk maju kedepan, dengan lagu “Yesus Pokok,”-

“Ayo kedepan, kita nyanyi sambil olah raga,”ujar Uskup Agus.

Kesempatan kedua nyanyi sambil memperagakan lagu itu, ditemani oleh Sr. Catherine Uming Takim, SSFS. Jadi suasana tambah cair. Tapi, yang paling ‘kece’ (cool) kala itu, semua gaya lagu ‘Yesus Pokok’ berasal dari Mgr. Agus.

Hahaha, Pokoknya pagi itu sangat seru….

Pesan Uskup Agus untuk Umat Stasi Tanjung Lokang

Melihat suasana umat yang asik menonton pertunjukan katekese oleh Mgr. Agus dan Sr. Catherine, SSFS, sembari umat yang ditunggupun sudah tidak ada yang datang, maka misa pada pagi itupun dimulai.

Misa saat itu dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus dan didampingi oleh tamunya dari Pastor Paroki Kuching- Sarawak yaitu P. Jerome Juleng, yang kala itu dihadiri oleh kurang lebih 50-an umat (anak-anak diantaranya).

Misa pembukaan dimulai dengan petikan dawai gitar yang dimainkan oleh Saudari Siti (Guru Agama Katolik di TK Negeri Pembina Puttusibau Utara) yang adalah asli dari Desa Tanjung Lokang Keuskupan Sintang, turut hadir mendampigi tamu Uskup Agus (sekalian pulang kampung).

Dalam misa tersebut, Uskup Agus menyampaikan perasaan bahagianya karena bisa berkunjung di Desa Tanjung Lokang ini lagi.

“Saya kalau ada waktu, saya akan berusaha untuk mengagendakan kunjungan saya ke Desa Tanjung Lokang ini. Sebab, ini merupakan salah satu kampung yang memiliki medan sulit dan jarang dikunjungi oleh orang-orang luar,” ujarnya.

“Baru-baru ini, saya dengar ada sedikit masalah terkait dengan lahan hutan lindung. Dan ini salah satu destinasi hutan lindung yang dipatok oleh pemerintah. Bagaimanapun hidup orang disini, sudah terbiasa dengan cara-cara hidup tradisional. Memang tidak mudah untuk mengganti kebiasaan hidup seperti ini, itu sangatlah sulit,” Ujarnya.

Begitu juga dalam homilinya, Mgr. Agustinus Agus juga memberikan semangat kepada umat-umat stasi Tanjung Lokang untuk tetap bekerja dan berdoa. Namun yang paling penting dari semua itu adalah punya harapan.

“Dalam hidup ini memang begitu banyak cobaan dan tantangan yang membuat kita hampir kehilangan arah. Tantangan dan hambatan itu terkadang membuat kita kehilangan arah untuk melakukan budaya baik yang nenek moyang kita ajarkan,” katanya.

“Sekarang kita percaya dengan Tuhan Yesus Kristus yang adalah sumber kebenaran dan itulah iman kita. Oleh sebab itu, gunakanlah waktu kita sepenuhnya bekerja dalam nama-Nya,” katanya.

  • “Apapun yang kita kerjakan hendaknya kita kerjakan dengan sebaik mungkin. Sehebat dan sekaya apapun kita tidak terlepas apa yang disebut kematian. Kita ini adalah “Camat” alias calon mati,” ujarnya.

Uskup Agus dimana saja ia berada, selalu mengingatkan umatnya untuk percaya dengan adanya ‘kehidupan kekal’ setelah kita meninggalkan dunia ini. Mgr. Agus hanya mau mengatakan kepada umatnya, agar “tidak berputus asa, tetaplah berpegang teguh pada iman dan memiliki niat hati baik dan tulus akan apa yang dikerjakan,” ulasnya.

Pastor Jerome Juleng (Pastor Paroki Katedral Kuching)

“Potret di Gereja Stasi Tanjung Lokang- Jumat 30 Agustus 2019”

Dalam kesempatan yang sama pula, Pastor Jerome Juleng juga menyampaikan rasa bahagianya karena boleh berkunjung di Desa Tanjung Lokang ini. Ia berharap, semoga kedatangannya ini tidak sampai disini saja dan semoga iman umat di Stasi Lokang ini semakin berbuah yang melimpah.

“Adalah sebuah kebahagiaan kami rombongan dari Sarawak, boleh berkunjung di Desa Tanjung Lokang ini. Meskipun waktu yang terbilang singkat ini, namun kami sungguh boleh merasakan aventure (pertualangan) singkat dari keberangkatan kami disini dan sampai kami rekreasi di Batu Data Opet. Sekali lagi terima kasih kepada masyarkaat disini, karena mengijinkan kami dan menyambut kami dengan luar biasa,” ujarnya (dalam logat Melayu Sarawak).

Sumbangan Uang dalam bentuk Ringgit diserahkan oleh Sr. Catherine Uming Takim, SSFS kepada perwakilan Umat Stasi Tanjung Lokang (Pak Herybertus Nyuk)

“Sebagai tanda kenangan, ada sebuah kenangan kecil dari kami yaitu sedikit sumbangan untuk gereja stasi Tanjung Lokang dan sebuah rosario yang akan diberkati oleh Mgr. Agus dan kami bagikan selesai misa. Semoga dengan ole-ole ini, persaudaraan dan iman kita semakin dikuatkan,”ujarnya (dalam logat Melayu Sarawak).

Berkat dan Foto Bersama

Usai pembagian komuni, anak-anak yang belum menerima komuni pertama diberkati oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus.

Dengan raut wajah yang masih polos, mereka berbaris dan dipandu oleh Mariana Long (orang Dayak Bukat) yang ikut juga menemani rombongan Ibu-ibu dari Sarawak.

Uskup Agus memberkati Anak-anak, dan disamping Sr. Catherine, SSFS membagikan uang Rp.20.000 untuk anak-anak

Setelah membentuk dua barisan untuk mendapat berkat dari tangan Uskup Agus. Ternyata Uskup Agus sudah menyiapkan “Angpao” alias kado (dalam bahasa chinese, artinya kado, saku dan banyak lagi pengertian lainnya), yang dibantu oleh Sr. Catherine Uming Takim, SSFS.

Sejalan dengan itu, kemudian misa ditutup dengan berkat Uskup untuk Masyarakat Tanjung Lokang dan untuk Desa Tanjung Lokang. Setelah itu, pembagian rosario oleh P. Jerome Juleng dan Sr. Catherine, SSFS yang dikalungkan langsung kepada semua umat dan anak-anak.

Pembagian Rosario oleh Pastor dan Suster

Akhirnya semua umat diajak untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan, kunjugan Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus dan tamunya Rombongan dari Kuching – Sarawak P. Jerome Juleng (Pastor Paroki Katedral Kuching), Sr. Catherine Uming Takim, SSFS (Sisters Of St. Francis Of Sarawak), Mr. Jin Soi Lai, Ms. Cathrine Demang, Ms. Margeret John Nyugem, Mr. Diye Nyanggun, Mr. Michael Rimong Danggat, dan Ms. Awine Jambing, dari tanggal 28 – 30 Agustus 2019 di Desa Tanjung Lokang Keuskupan Sintang. – Semz_Komsoskap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak