Tue. Nov 19th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Tiga Hari Bersama Suku Punan Hovongan _ (Series 3)

  • Puttusibau-Tanjung Lokang Kamis,Tanggal 29 Agustus 2019 –Malam hari Tarian Penyambutan Tamu oleh Suku Dayak Punan Hovongan

Bayar Adat

Sebelum kedatangan rombongan Mgr. Agus bersama tamunya dari Serawak. Ternyata kepanitiaan penyambutan sudah direncanakan pada hari sebelumnya. Tetapi tiga hari sebelum kedatangan rombongan, ada orang tua yang meninggal belum 7 hari.

Berdasarkan adat yang berlaku di Desa Tanjung Lokang, maka acara penyambutan yang sebelumnya sudah disiapkan dengan terpaksa tidak diadakan, karena menghormati keluarga yang sedang berduka.

Malam acar makan malam bersama dilanjutkan dengan hiburan penampilan penari dari Suku Dayak Punan Hovongan

Kepala Dusun Pak Adrianus Tius, menyampaikan hal itu kepada Mgr. Agustinus Agus terkait masalah tidak diadakannya penyambuatan itu.

“Karena masih 3 hari baru meninggal, maka acara dan musik jenis apapun tidak boleh dimainkan. Sebab kematian orang tua itu belum sampai 7 hari,” kata Pak Tius Kepala Dusun Tanjung Lokang pada Uskup Agus.

Kalaupun mau diadakan, harus bayar adat kepada orang yang sedang berduka. Namun itupun tidak mudah karena suku Dayak Punan Hovongan masih sangat kental dengan Adat istiadat ditambah lagi mereka memang sudah tinggal ratusan tahun di tempat baru ini (Desa Tanjung Lokang adalah kediaman Suku Punan Hovongan yang baru kurang lebih  500-an yang sebelumnya mereka masih tinggal di gua-gua dihulu yang adalah rumah kediaman asal mereka ribuan tahun lampau – Sumber: Pak Agustinus Mering Punan Hovongan Tanjung Lokang tanggal 29 Agustus 2019).

Suasana malam Ramah Tamah di- Gedung Balai Desa Tanjung Lokang (Kamis, 29 Agustus 2019)

Mgr. Agus sangat paham dengan kondisi seperti itu, karena ia pun berasal dari kampung, jadi menurut kebiasaan masyarakat Dayak umumnya memang tidak dibolehkan. Tapi jika mau diadakanpun harus bersedia bayar adat.

Perhatian Mgr. Agus pada Tamunya

Dalam pertimbangan itu, Uskup Agus minta kepada Kepala Dusun, Pak Tius untuk coba komunikasikan ini kepada keluarga yang sedang berduka. Berhubung kunjungan ini tidak selalu diadakan kata Uskup Agus.

Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus

“Tolong bicarakan dengan pihak keluarga yang sedang berduka, bagaimanapun keputusannya saya akan terima. Jika bayar adat untuk ini, saya akan bayar,” ujar Mgr. Agus.

Setelah Pak Dusun bicarakan baik-baik dengan keluarga yang sedang berduka, akhirnya keputusan keluarga mengijinkan dengan bayar adat sebagai sebesar Rp. 1.200.000 oleh Mgr. Agus untuk selama kurang lebih 6 jam lamanya.

Bagaimanapun keadaannya, Mgr. Agus mencoba berikan yang terbaik untuk tamu-tamu Mgr. Agus dari Serawak- Kuching. Karena selain rekreasi dan kunjungan Pastoral, kedatangan mereka juga ingin melihat kebudayaan Punan Hovongan di Desa Tanjung Lokang.

Disambut dengan Tarian Dayak Punan Hovongan

Setelah Pak Kepala Dusun Tanjung Lokang menyelesaikan adatnya. Dalam rangka penyambutan tamu dari luar pun dilaksanakan.

Acara malam itu (Kamis, tanggal 29 Agustus 2019) acara penyambutan sekaligus ramah tamah bersama dimulai pada pukul 20.00 Wib. Acara tersebut dihadiri kurang lebih 120-an umat termasuk didalamnya anak-anak.

Malam ramah tamah itu dikemas dengan persembahan tarian penyambutan, untuk menyambut tamu dari luar Desa Tanjung Lokang.

Secara keseluruhan untuk penduduk Desa Tanjung Lokang sendiri masih tidak begitu ramai Kepala Keluarga. Pak Agustinus Mering, mengatakan untuk jumlah Kepala Keluarga di Desa Tanjung Lokang sekarang ada 115 KK. Kurang lebih 360 jiwa yang tinggal di Dusun Tanjung Lokang, dan kurang lebih 120 jiwa yang tinggal di Dusun Boong’ dengan jumlah 33 KK.

Tepat pada pukul 21.30 WIB sembari makan malam bersama, rombongan dari Sarawak-Kuching P. Jerome Juleng (Pastor Paroki Katedral Kuching), Sr. Cathrine Uming Takim, SSFS (Sisters Of St. Francis Of Serawak), Mr. Jin Soi Lai, Ms. Catherine Demang, Ms. Margeret John Nyugem, Mr. Diye Nyanggun, Mr. Michael Rimong Danggat, Ms. Awine Jambing dan Mgr. Agustinus Agus Uskup Agung Pontianak malam itu disambut dengan tarian dan musik khas Suku Dayak Punan Hovongan.

Cerita Sape’ di Suku Punan Hovongan

Musisi Dayak Punan Hovongan- P. Braon (Pemain Sape’)- Potret hitam-putih, Kamis 29 Agustus 2019/ Dusun Tanjung Lokang

Alat tradisional Sape’ juga miliknya suku Dayak Punan Hovongan dan baju manik-manik kombinasi warna hitam dan kuning. Musik Sape’ yang dimainkan ini pun bernuansa minor pentatonik khas lagu dari Suku Dayak Punan Hovongan.

Alat musik Sape’ Dayak Punan Hovongan ini asal-muasalnya memiliki 3 senar yang dimainkan berdasarkan ketukan tarian, dan tarianpun harus menyesuaikan ketukan dari penari.  Jadi antara pemain musik dan penari harus seimbang.

Catatan: tutur turun temurun Desa Tanjung Lokang (Kamis 29 Agustus 2019)

Begini tutur turun temurun dari legenda Sape’ khusus Suku Dayak Punan Hovongan;

“Seorang pemuda yang gagah yang memainkan Sape’ pertama di Suku Dayak Punan Hovongan bernama Tali Lunai (boleh dikatakan pemain Sape’ pertama di Suku mereka ribuan tahun lalu) alat musik itu ia mainkan di bukit Liong, ujung Sungai Kapuas.”

“Menurut cerita legendanya, saat Tali Lunai memetik dawai dari Sape’ itu, serentak juga para gadis dari seberang menari,” begitu kisah singkatnya berdasarkan tuturan orang tua di Tanjung Lokang.

Dari cerita singkat itu, maka sampailah pada generasi ini, alat musik Sape’ digunakan untuk penyambutan tamu, pengantin dan acara sakral lainnya. (Musik khas lainnya yang asli dari Suku Dayak Punan Hovongan adalah Gong, yang sewaktu-waktu dimainkan pada penyambutan, pernikahan dan acara sakral lainya).

Baju manik-manik

Pernah kah anda melihat baju suku Dayak Kenyah? Nah, seperti itulah baju mereka, sama persis. Tarian mereka juga lembut dan anggun (untuk penari perempuan), sedangkan penari laki-laki dengan mandau dan perlengkapannya terlihat gagah sembari dengan tarian posisi ‘kuda-kuda’ yang rendah.

Busana khasnya suku Punan Hovongan memiliki corak kuning serta kombinasi dari warna hitam dan putih. Mereka punya topi khas juga, yang mereka gunakan sewaktu ada upacara adat atau menghadiri acara yang bernuansa tradisional.

Suasana Malam Ramah Tamah di gedung Balai Dusun Tanjung Lokang

Tidak begitu lengkap cerita tentang busana suku Punan Hovongan, namun menurut cerita dari nenek moyang hingga dari orang tua, mengatakan bahwa itulah baju khas dari Suku Dayak Punan Hovongan.

Sedangkan baju untuk laki-laki dahulu menggunakan kulit binatang, seperi kulit beruang, atau binatang yang tubuhnya besar, agar kulitnya bisa digunakan untuk seragam. Setiap tanda pada baju baik itu baju untuk perempuan dan laki-laki, sekecil apapun itu, tetapi tetap memiliki arti dan makna tersendiri yang tersirat dalam penuturan cerita orang tua mereka dahulu.

Sambutan-sambutan Malam Ramah Tamah

Dalam sambutan Pak Herybertus Nyuk sebagai ketua perwakilan Pemuda Badan Pengurus Pemuda Katolik atau singkatannya ‘Bapuk’ menyampaikan rasa terima kasihnya kepada rombongan yang datang dari jauh dan bersedia datang dikampung yang terpencil ini.

“Harapan saya, semoga kita yang lahir dan dibersarkan di Tanjung Lokang ini, semakin bersatu dalam semangat gotong royong. Saling membantu dan melindungi, semoga kita semua semakin diberkati,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang berbahagia itu, Kepala Dusun Tanjung Lokang Pak Adrianus Tius juga berharap, kemajuan dan perkembangan untuk Desa Tanjung Lokang sendiri. Perjuangan akan terus kita lakukan bersama-sama, kita bertanggungjawab dengan tanah warisan leluhur kita,” katanya.

“Saya sungguh melihat bahwa Alam di Tanjung Lokang ini sungguh indah, maka kita berkewajiban untuk menjaga dan melestarikan Alam kita ini. Di sisi lain lokasi ini juga menjadi serba salah karena ini dipatok menjadi kawasan hutan lindung oleh pemerintah,” kata Uskup Agus dalam sambutannya.  

“Sedangkan, kebiasaan orang Dayak kalau berladang punya cara khas tersendiri yang mungkin ‘berbeda,’ dari suku lainnya, mau atau tidak_ kita juga serba salah,” tambahnya.

Potret memori bersama Suku Dayak Punan Hovongan

Sejalan dengan itu, Mgr. Agus juga menyampaikan rasa kagumnya kepada masyarakat Tanjung Lokang, karena medan yang dihadapi oleh orang-orang Punan Hovongan bukanlah medan yang biasa.

“Tapi memang luar biasa ya, kalau orang tidak punya pengalaman untuk melewati sungai ini, tak akan mungkin bisa dilewati. Tapi bagi suku Dayak Punan Hovongan – terlebih Desa Tanjung Lokang, jalan yang kami lihat tidak mungkin dilewati menjadi mungkin bagi kalian,” tandasnya.

Mgr. Agustinus Agus / Uskup Agung Pontianak, Kamis, 29 Agustus 2019

Hari kedua, Kamis 29 Agustus 2019 – usai rekreasi, ditutup dengan acara ramah tamah bersama umat. – Semz_KomsosKAP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak