Mon. Oct 14th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Teologi Demonologi dan Eksorsisme harus……

Tanggal 19-23 September 2019 merupakan kesempatan yang sangat luar biasa untuk umat Katolik di Indonesia. Sebab pada hari itu adalah sejarah pertama kalinya diadakan Konferensi Eksorsisme di Indonesia. Ini merupakan momen yang pertama kalinya, yang harapannya bisa dilaksanakan seterusnya.

Konferensi ini memiliki tema “The Power of Christ Resurrection”yang dilaksanakan  di The Qubu Resort, pada Q- Hotel Convention Centre, Pontianak tanggal 19-22 September 2019, yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Pontianak (The Archidiocese Of Pontianak) bekerjasama dengan STKIP Pamane Talino Ngabang.

Ketua Koordinator umum adalah P. Johanes Robini Marianto, OP dan didampingi oleh P. Mingdry Hanafi Tjipto, OP sebagai ketua Konferensi Eksorsisme.

Mari kita simak secuplik sambutan dari panitia secara keseluruhan yang penulis ambil dari buku panduan Conference On Exorcism, begini bunyinya;

“Berbicara tentang eksorsisme sejak awal kita harus selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh Kongregasi Ajaran Iman bahwa pembicaraan mengenai “demonology, eksorsisme dan pelayanan” tersebut, harus ditempatkan dalam kerangka kata-kata St. Yohanes Krisostomus, sebagaimana dikutip dalam dokumen itu, yaitu:

“It would therefore be incorrect to hold that Christianity, forgertful of the universal Lordship of Christ, had at any time made Satan the privileged subject of its preaching, transforming the Good News of the Risen Lord into a message of terror. Speaking to the Christians of Antioch, Saint John Chrysostom declared: ‘It certainly gives us no pleasure to speak to you of the devil, but the teaching which this subject gives me the opportunity to expound is of the greatest use to you.”

            [“Adalah salah apabila kekristenan dianggap melupakan di dalam pewartaannya pesan utama kekristenan, keilahian Tuhan Yesus, dan menempatkan atau bahkan menggantikan si Setan sebagai pesan penting di dalam pewartaan tersebut, sehingga menggantikan Kabar Baik Kebangkitan Tuhan menjadi kabar, yang menebarkan ketakutan. Mengutip kata-kata St. Yohanes Krisostomus, yang berbicara kepada umat Kristen di Antiokhia, beliau mengatakan bahwa bukan hal yang menyenangkan bicara tentang setan kepadamu (orang Kristen), namun pembicaraan mengenai setan itu sangatlah berguna untuk diuraikan oleh kami.” Lih. ‘Congregation of the Doctrine of the Faith, Christian Faith and Demonology’, dalam L’Osservatore Romano, English Edition, July 10, 1975, pp. 6-10].

            Teologi Demonologi dan Eksorsisme harus mendasarkan pada dokumen ini sehingga perspektifnya menjadi jelas; bukan menggantikan Kabar Gembira ke kabar ketakutan, melainkan hanya dilakukan demi untuk mengetahui hal-hal yang penting dalam perjalanan ke Tuhan, yaitu perjuangan rohani.

Tanpa bicara mengenai setan akan membuat kita lupa bahwa setan adalah antagonis kehidupan rohani. Selain itu, perjuangan rohani adalah jalan kemartiran baru, di mana mengalahkan diri dan setan adalah kesaksian tanpa darah.

            Kita bisa belajar banyak, misalnya, di dalam kehidupan St. Antonius Pertapa, kelihatan sekali ketika ia berjuang melawan setan dan menghadapi ajaran filsafat zamannya, yang dilihat sebagai tipuan setan, dengan tegas Antonius mengatakan “Saya ini seorang Kristen!” Di lain tempat, ia mengatakan “Saya adalah hamba Kristus!”

            Kedua pernyataan ini adalah pengakuan iman, yang dilakukan oleh para martir di hadapan para penyiksa mereka. Pengakuan iman inilah, yang menyebabkan para martir akhirnya dibunuh karena menolak menyembah berhala di hadapan imperium Romawi.

            Sekarang, di mulut hamba Allah, St. Antonius Pertapa, kesaksian iman, yang diucapkan dan diakuinya ketika berlawanan dengan setan, merupakan jalan perjuangan rohani, yang kurang lebih sama seperti yang diucapkan para martir suci.

            Lebih lagi, usaha bertapa, yang dilakukan oleh St. Antonius Pertapa, bagi kita merupakan persiapan untuk menjadi martir. Berkali-kali St. Antonius Pertapa “turun gunung” dengan harapan menjadi martir. Namun atas kehendak Allah yang berbeda, berliau tidak dimartir, dan menjadi orang suci sampai akhir, sehingga dinamakan martir putih (atau, martir tanpa menumpahkan darah).

Sejak saat itu, kemartiran tidak hanya identik dengan pencurahan darah per se, melainkan sebuah perjuangan rohani dan usaha pertobatan terus-menerus, yang dilihat sebagai jalan kemartiran lain tanpa mengeluarkan darah.

            Justru karena tulisan riwayat hidup Bapa Pertama St. Antonius Pertapa itulah kita bisa melihat bahwa perjuangan rohani (spiritual combat) yang di dalamnya memuat perjuangan melawan setan, adalah bagian dari kesucian dan kemartiran putih.

Suasana hari Pertama tanggal 20 September 2019 di Qubu Resort Keuskupan Agung Pontianak

Dilihat dari sisi ini, maka topik Demonologi dan Eksorsisme bukanlah sesuatu yang dilihat berdiri sendiri dan terpisah dari sebuah kerangka luas, yaitu perjuangan (hidup) rohani menuju Tuhan, dan bahkan jalan kemartiran.

            Konferensi Eksorsisme yang pertama terjadi di Indonesia ini adalah sebuah wadah untuk mengingatkan bahwa pembicaraan tentang Setan jangan dijadikan topic terpisah dari konteksnya yang lebih luas; yaitu perjuangan rohani menuju Tuhan (spiritual combat). Kalau kebalikannya terjadi, maka kita akan melihat pembicaraan tentang Eksorsisme dan Demonologi jatuh ke ketertarikkan semata-mata akan hal gaib dan itu sama saja membicarakan kegaiban dan ilmu gaib yang justru ditolak oleh Gereja Katolik.

Setan hanyalah bagian kecil dari sebuah pembicaraan tentang perjalanan rohani atau perjuangan rohani (spiritual combat) di samping topik lainnya (misalnya Tingkatan hidup rohani, askese, keutamaan religi dan moral, dan sebagainya). Maka dalam kerangka Teologi kita harus menempatkan Teologi Eksorsisme dan Demonologi pada teologi spiritual (spiritualitas) atau dogma (ajaran Gereja). – Panitia Konferensi Eksorsisme.”

Dengan adanya artikel pengantar ini, kita tahu bahwa, semakin jelas- ternyata begitu pentingnya kita sebagai pengikut Kristus untuk terlibat dan belajar secara langsung terkait ‘dunia lain’itu. Semz_Komsoskap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak