PERAYAAN JUMAT AGUNG DI GEREJA MRPD PANCASILA PONTIANAK

Untuk mengenang secara total Kisah Sengsara Tuhan Yesus, umat Katolik MRPD Pancasila merayakan ibadat Jumat Agung yang dilaksanakan di Gereja Paroki Maria Ratu Pencinta Damai Pontianak pada tanggal 30 Maret 2018 secara khidmat. Ibadat Jumat Agung ini dipimpin oleh Bapa Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, Pastor John Rustam dan Pastor Pio Kristi. Sebagaimana perayaan ibadat Jumat Agung pada umumnya, segala macam bentuk atribut musik ditiadakan sesuai liturgi.

Lihatlah kayu salib, tempat Yesus yang tergantung menebus dunia 

Secara lebih jauh, ibadat Jumat Agung sendiri tidak hanya sekedar memperingati momen tahunan, tetapi juga merayakan suatu misteri yang sangat penting. Santo Agustinus menjelaskan perbedaan antara perayaan sebagai anniversary dan perayaan sebagai misteri. Perayaan sebagai anniversary diungkapkan sebagai perayaan tahunan untuk memperingati suatu kejadian tanpa ada nilai religius yang berarti. Sedangkan perayaan sebagai misteri diartikan sebagai perayaan namun dilaksanakan secara misteri melalui sakramen di mana maknanya dipahami dan diterima dengan penuh iman dan bakti. Maka dari itu, ibadat Jumat Agung harus dimaknai pula dengan iman dalam sakramen yang menghadirkan Kristus sendiri di tengah-tengahnya.

Jumat Agung sendiri disebut juga sebagai hari laku tapa dan tobat dengan kewajiban berpantang dan berpuasa bagi seluruh anggota Gereja. Selain itu, Jumat Agung juga disebut sebagai Puasa Paskah karena termasuk di dalam tri hari Paskah. Puasa Paskah sendiri dibedakan dengan hari-hari puasa Prapaskah (40 hari). Puasa Paskah sudah dimulai sejak Kamis malam, hingga menjelang Sabtu malam Paskah.

Selain itu, Gereja melalui ibadat Jumat Agung berusaha merenungkan kesengsaraan Kristus, menghormati salib, merenungkan luka-luka Kristus, luka dari lambung-Nya yang tertikam, serta pengorbanan-Nya di salib bagi dosa-dosa manusia. Sebagai bentuk duka kita pada kematian Kristus, maka dalam liturgi tidak dirayakan perayaan Ekaristi, namun komuni kudus dibagikan kepada umat hanya dalam ibadat Pengenangan Sengsara Tuhan.

Mgr. Agustinus Agus dalam kotbahnya bertanya kepada umat mengenai alasan penggunaan Injil Yohanes untuk pembacaan Kisah Sengsara Yesus Kristus. Di dalam Injil Yohanes dituliskan secara rinci bahwa Kristus harus mengalami sengsara dan kematian. Tokoh-tokoh agama yang ada di dunia menyelamatkan hidupnya melalui ajarannya. Tetapi Tuhan Yesus justru menyelamatkan manusia melalui sengsara dan kematian. Hal ini berhubungan erat dengan ajaran iman Katolik yang memiliki rumusan-rumusan dalam doa Aku Percaya. Bagian yang pertama adalah percaya kepada Allah Bapa Pencipta langit dan bumi. Tuhan menciptakan manusia pertama yakni Adam dan Hawa dalam keadaan sempurna, penuh kebahagiaan di Taman Firdaus. Tetapi selanjutnya, Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa bukan hanya menyangkal sang pencipta tetapi mengkhianatinya, ingin melebihi sang pencipta. Setiap orang yang menyangkal sumber hidupnya akan mendapatkan kutukan dan ini terjadi pada Adam dan Hawa.

“Kita mengetahui kisah Malin Kundang yang sukses, tetapi ketika ia menyangkal ibunya sendiri, sumber hidupnya, dan ini terjadi pula pada Adam dan Hawa,” ungkap Mgr. Agustinus Agus dalam homili.

Kutukan itu berakibat bahwa kebahagiaan yang selama ini didapatkan secara gratis, sekarang harus diraih dengan berjuang keras. Dapat dikatakan pula bahwa mereka tidak akan bisa mendapatkan hal itu, karena mereka akan mati pada akhirnya. Dalam Kitab Suci, Adam dan Hawa merasa terancam ketika dipanggil oleh Allah dan kemudian bersembunyi karena merasa tidak mempunyai apa-apa lagi.

Pada akhirnya, Tuhan tidak tega melihat ciptaan-Nya terus menerus sengsara dan mati. Meskipun Tuhan tidak punya kewajiban dan tanggung jawab apapun untuk menyelamatkan manusia tetapi karena belas kasih-Nya, maka Dia ingin menyelamatkan umat manusia supaya bebas dari sengsara dan kematian. Oleh karena itu, Yesus turun ke dunia untuk mengalami sengsara, kematian untuk kemudian mengalami kebangkitan. Ini mau menggambarkan bahwa apabila Tuhan tidak mencintai manusia, maka manusia hingga saat ini akan tetapi mati binasa.

“Semua tindakan yang dilakukan manusia ini didorong, dimotivasi karena takut sengsara dan takut mati,” tegasnya saat mengutip perkataan dari ahli Teologi.

Karena didorong oleh rasa takut untuk sengsara dan takut mati, orang mulai melakukan berbagai cara. Misalkan untuk memperoleh uang yang banyak, mendapatkan jabatan dengan berbagai cara. Tetapi kenyataannya meskipun telah memperoleh uang yang banyak, jabatan yang tinggi, istri yang cantik, suami yang ganteng, tidak juga menjamin kebahagiaan seperti Adam dan Hawa di taman Firdaus. Banyak orang bahkan mencari kebahagiaan dengan cara yang salah. Ada yang menggunakan narkoba, zat-zat adiktif juga tidak memperoleh kebahagiaan. Maka, jika Tuhan Yesus mau menebus umat manusia melalui kesengsaraan manusia yang tidak dihentikan oleh siapapun selain dengan cara penebusan-Nya. Sehingga, apabila manusia ingin diselamatkan, maka ia harus percaya pada Kristus maka hidupnya akan mengalami kehidupan yang kekal. Namun, semua itu tidak didapatkan secara gratis sehingga perlu diperjuangkan.

Hubungan tulisan Santo Yohanes dengan Injil yang dibacakan pada hari ini dalam Jumat Agung memiliki alasan yang penuh makna. Santo Yohanes sendiri merupakan murid kesayangan Yesus Kristus, maka ia tidak mau melihat Yesus menderita. Jika melihat injil Matius, Markus dan Lukas terdapat beberapa tulisan yang menarik untuk dibaca mengenai Kristus. Misalkan, Di Taman Getsemani Tuhan Yesus berdoa kepada Tuhan agar cawan itu segera lewat dari pada-Nya. Yesus pun suatu ketika merasakan putus asa ketika mengalami penderitaan. Jika membaca Injil Matius dan Markus ada perkataan “Elloi, Elloi Lama Sabaktani”, sementara pada Injil Yohanes tidak dituliskan. Dalam Injil versi selain Yohanes, Yesus merasa ditinggalkan dalam penderitaan di kayu salib. Hal ini berarti sangat dalam bahwa sengsara akan dialami oleh siapa saja, tidak ada manusia yang takkan mati namun harus tetap dihadapi.

Penghayatan dalam Kisah Sengsara ini mau menyampaikan pesan bahwa tak seorang pun didunia ini akan mengalami kemudahan. Hal ini dibenarkan oleh sabda Kristus bahwa setiap orang yang ingin mengikuti Dia harus memikul salib-Nya. Banyak orang awalnya mau dan bersedia memikul salib-Nya tetapi akhirnya menyerah juga. Belajar dari teladan Kristus yang tidak lelah memikul salib, sekalipun terjatuh hingga tiga kali tetapi Dia tetap bangkit hingga sampai tujuan-Nya. Ketika mengalami pencobaan yang berat, ingatlah Yesus yang tidak pernah berhenti menyerah hingga akhir. Sehingga pada bagian doa Aku Percaya selanjutnya, percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, persekutuan para Kudus, pengampunan dosa serta kebangkitan badan dan kehidupan kekal akan menjadi darah daging sebagaimana penghayatan terhadap Allah sang pencipta, setia pada sang pencipta.

Dalam ibadat Jumat Agung terdapat upacara penciuman salib sebagai tanda penghormatan Kristus yang tersalib. Saat mencium salib, umat juga memberikan kolekte pada sebuah kotak yang nantinya akan diberikan kepada Tahta Suci Vatican. Mgr. Agustinus Agus juga mengungkapkan bahwa dana yang dikumpulkan tersebut nantinya akan digunakan untuk kegiatan karitatif seperti bantuan-bantuan pada wilayah yang terkena dampak perang baik untuk rumah sakit, sekolah-sekolah, obat-obatan, hingga asrama. Sehingga penghormatan penuh pada Kristus yang tersalib melalui perayaan Jumat Agung dapat diwujudnyatakan melalui amal dan derma.

Pastor Paroki MRPD Pancasila, RD John Rustam mengatakan bahwa kedatangan Bapa Uskup di Gereja MRPD tersebut adalah inisiatif dari Bapa Uskup sendiri. Pastor John juga berharap jika misa Krisma selanjutnya boleh dilaksanakan di Gereja MRPD sehingga menjadi semangat besar bagi umat untuk mengembangkan Gerejanya dengan penuh tanggung jawab.

Bapa Uskup sebelum memberikan berkat penutup juga memberitahukan kepada umat bahwa ke depan akan dilaksanakan sensus umat. Bapa Uskup mengharapkan dengan dilaksanakannya sensus umat dapat membantu Gereja Katolik untuk menciptakan database guna memperoleh data yang tepat dan akurat untuk menyalurkan bantuan-bantuan yang tersedia kepada Gereja-Gereja Katolik Lokal yang membutuhkan bantuan dana baik dari Vatican maupun KWI. Dana tersebut merupakan bentuk solidaritas dan kekeluargaan Gereja Katolik di Indonesia dalam membangun setiap paroki menjadi semakin baik dari hari ke hari.

(Fransesco Agnes Ranubaya, OFS)

Foto: Yohanes Kurnia Irawan

Tinggalkan Balasan