Romo Andre OP Ajak Umat Banyak Berdoa untuk Panggilan

Paroki Keluarga Kudus Kota Baru Pontianak menandai  55 tahun hari Minggu Panggilan se-dunia dengan menggelar misa dan aksi panggilan untuk mendorong anak-anak dan orang-orang muda dan bahkan menyadarkan orang tua akan pentingnya panggilan suci ini, yang saat ini jumlahnya terus menurun.

Romo Andreas Kurniawan OP

Hari Minggu Panggilan se-Dunia ke-55 tahun ini jatuh pada 22 April 2018. Paroki Keluarga Kudus mengusung tema: “Zaman Now Masih Mau Berjubah?”.

Selama beberapa dekade, umat Katolik di seluruh dunia berkumpul setiap tahun pada Hari Minggu Paskah IV, mereka bersatu dalam doa, memohon kepada Tuhan menganugerah panggilan suci karena betapa mendesak kebutuhan untuk menanggapi panggilan Ilahi tersebut.

Romo Astanto, CM, Romo Alex, Pr, Romo Barces, CP

Perayaan Ekaristi dirayakan secara konselebran oleh tujuh imam, yaitu: Romo Yulianus Astanto Adi CM, Romo Andreas OP, Romo Alek Mingkar Pr, Romo Barces CP, Romo Jauhari Atmoko CM, Romo Kebry CM dan Romo John Wahyudi OFMCap.

Romo Andreas Kurniawan dari Ordo Praedicatorum/Ordo Pengkhobah  sengaja diundang untuk memberikan renungan guna mendorong orang muda dan juga menyadarkan orang tua dari paroki itu melalui sharing  pengalaman tentang berbagai tantangan yang dihadapi namun tetap setia dengan panggilan sebagai imam.

Romo Barces, CP, Romo Jauhari, CM, Romo John Wahyudi, OFMCap

Romo Andreas mengatakan, tidak mudah untuk mendengarkan suara Tuhan di zaman yang serba canggih ini. Banyak orang cenderung asyik mendengarkan suara-suara lain. Sehingga tidak heran, untuk menjawab panggilan Tuhan pun menjadi sulit.

“Banyak suara-suara yang lebih menarik yang didengar melalui aneka platform media sosial seperti smartphone, Handphone, dll, sehingga suara Tuhan yang lembut menyapa tidak terdengar lagi,” ungkap Romo Andreas.

Romo Andre saat berdialog dengan anak-anak tentang panggilan

Maka dari itu katanya lagi, untuk mampu mendengarkan suara Tuhan, kita memerlukan relasi yang mendalam dengan Dia Sang Gembala yang baik.

“Saat ini gereja kita masih kekurangan imam yang melayani umat, maka umat juga diminta untuk berdoa agar semakin banyak kaum muda yang bersedia menjawab panggilan Tuhan sebagai imam, bruder maupun suster,”ungkap Romo Ekonom Keuskupan Agung Pontianak ini.

Menurut data statistik Keuskupan Agung Pontianak, tercatat ada 97 pastor, 317 suster, dan 48 bruder dan ada 415.239 umat. Bisa dibayangkan begitu kontrasnya perbandingan antara jumlah pastor dan jumlah umat yang harus dilayani.

“Boleh dihitung secara kasar bahwa satu (1) pastor  harus melayani sekitar 4.281 umat. Kita butuh banyak pastor yang bisa menghadirkan Kristus dalam rupa komuni kudus sebagai jaminan untuk memperoleh keselamatan, memperoleh hidup yang kekal, sebab Yesus bersabda, Akulah Roti Hidup,”ungkapnya.

Dalam kesempatan ini pula, Romo Andre, demikian biasa di sapa, mengajak dialog beberapa anak seputar cita-cita mereka.

“Jadi pastor karena ingin jadi orang baik”, demikian komentar 2 anak, saat ditanya alasan mereka ingin jadi pastor. Komentar senada juga disampaikan 2 anak yang berpakaian suster.

“Coba anak-anak yang mau jadi pastor dan suster, angkat tangannya tinggi-tinggi”, demikian teriak Romo Andre, yang kemudian disambut riuh anak-anak yang langsung mengacungkan tangannya.

Romo Kebry, CM memperkenalkan ordo/tarekat/kongregasi yang ikut dalam aksi panggilan

Saat diajak berdialog tentang alasan mengapa mau menjadi pastor atau suster, banyak jawaban yang dilontarkan anak-anak secara polos. “Saya mau jadi Pastor, karena enak, bisa lebih dekat dengan Yesus”, demikian komentar salah seorang anak.

Pada bagian penutup kotbahnya Romo Andre sekali lagi mengajak seluruh umat untuk lebih banyak berdoa untuk panggilan.

“Gereja, khususnya Gereja lokal Keuskupan Agung Pontianak masih membutuhkan banyak imam dan biarawan-biarawati untuk karya-karya pastoral di wilayah ini”, demikian tegasnya.

Romo Astanto selaku pastor Paroki Keluarga Kudus mengucapkan terima kasih atas kehadiran para imam, bruder, frater dan suster yang telah memberi warna tersendiri di hati umat melalui kegiatan live in dan aksi panggilan yang diadakan di Parokinya dari tanggal 20-22 April 2018. Ia menghimbau kepada seluruh umat agar lebih tekun lagi berdoa dan merelakan anak-anaknya untuk menjadi imam, bruder dan suster.

Sebelum berkat penutup, Romo Kebry CM memperkenalkan ordo/tarekat/kongregasi yang ikut dalam aksi panggilan. Satu persatu mereka di perkenalkan lalu diminta maju ke depan untuk berfoto bersama.

Selanjutnya usai berkat penutup, seluruh umat diundang dan diarahkan menuju halaman samping gereja untuk mengunjungi stan-stan panggilan dari berbagai ordo/kongregasi. Umat juga diajak untuk menyaksikan pentas seni yang dimeriahkan oleh para imam, bruder, frater dan suster.

Frater Iko tetap menjadi MC

Penampilan aksi dan kreasi kaum berjubah ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari umat khususnya para OMK.

Tika salah satu OMK yang hadir berkomentar bahwa  sebelumnya ia tidak menyangka, ternyata menjadi suster itu rupanya masih bisa menari, bergoyang dan bernyanyi.

“Dulu paham saya bahwa menjadi suster itu hidupnya hanya berdoa saja, ternyata mereka juga boleh menampilkan kreasi, bakatnya melalui tarian dan lagu,” ungkapnya kagum.

Kemudian MC mengajak seluruh umat yang hadir untuk menikmati santap siang bersama di stan-stan makanan yang telah disediakan oleh tiap-tiap lingkungan yang ada di Paroki Keluarga Kudus.

 Paul- Sr. Maria Seba SFIC _ Komsos KAP

Tinggalkan Balasan