Paroki Santo Antonius Padua Mendalam Adakan Misa Inkulturasi untuk Pembukaan Upacara Adat Dange

Tanggal 21 April 2018 Paroki Santo Antonius Padua Mendalam melangsungkan Misa  Inkulturasi untuk pembukaan upacara adat yang dinamai Dange.

Dange memiliki makna yang sama dengan gawai yang dilakukan oleh suku Dayak lainnya yang ada di Kalimantan Barat. Namun Dange adalah upacara adat yang selain untuk mengucap syukur pada Tuhan atas hasil perladangan, juga untuk mengumpulkan saudara-saudara untuk berkumpul.

Tarian diiringi oleh Sape’ (alat musik petik tradisional Suku Kayaan) serta bunyi tabuhan Gong ala Suku Kayaan mengantar para Uskup dan para imam serta petugas liturgi lainnya memasuki gereja.

Misa dipimpin oleh Uskup Sintang Mgr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap didampingi oleh tamu spesial yaitu Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus dan RD. John Rustam Pastor Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) beserta beberapa imam yang turut hadir dalam perayaan tersebut.

Ritual Syukur Panen Bermakna Sakral dan Tradisi Budaya Dayak Kayaan

Memelihara tradisi yang telah diwarisakan oleh para leluhur, menjadi nilai sakral bagi suku Dayak Kayaan yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu. Upacara syukuran atas berkah dan rahmat yang telah dilimpahkan oleh Tipang Tenangaan (Tuhan-red), dalam bentuk upacara adat yang dinamai Dange.

Suku Dayak Kayaan Mendalam merupakan suatu  kelompok suku dari 3 suku kecil, yang berdiam di sekitar sungai Mendalam kecamatan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat.

Suku Dayak Kayaan Mendalam ini berada di 3 desa, yakni desa Padua, desa Teluk Telaga dan desa Datah Dian. Wilayah perkampungan suku Dayak Kayaan Mendalam ini terdiri dari kampung sungai Ting, kampung Tanjung Karang, kampung Teluk Telaga dan kampung Datah Dian.

Adapun tiga suku yang berada di Mendalam yaitu; Umaa’ Pagung, Umaa’ Suling dan Umaa’ Aging. Sudah menjadi tradisi bagi suku Dayak Kayaan Mendalam untuk melakukan ritual syukur setiap tahun. Ritual Syukur yang mereka lakukan bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan, berterima kasih pada Alam dan meminta berkat untuk usaha tahun berikutnya.

Jadi dalam upacara Dange’ Kayaan sangat tersimpan banyak makna sakral serta tradisi budaya Dayak Kayaan yang patut dilestarikan sehingga dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung, menyaksikan secara langsung upacara Dange’Kayaan, “

Uniknya pada Suku Dayak Kaayan dalam perayaan Dange, yang memimpin perayaan Dange dilakukan oleh perempuan dalam membacakan doa (bahasa Kayaan) didampingi oleh ibu-ibu lainnya dengan memegang tali kuning yang melingkari benih dan akar yang dibuat menjulang ke atas (akar pohon yang menjulang ke atas memiliki makna, sebagai manusia kita mesti menanam kebaikan untuk hidup kekal setelah masa manusia lewat). Uniknya lagi, dalam upacara Dange ini segala perayaan lebih didominasi perempuan ketimbang laki-laki.

Kilas Cerita Dange

Upacara Dange seperti yang dijelaskan sebelumnya , merupakan simbol satu kesatuan dari upacaya Rohani pada masanya. Dahulu, Dange ini dilakukan secara khusus alias masih menggunakan cara yang lama. Tetapi, sejak Tahun 1987 Almarhum Pastor Ding, SMM yang bertugas di Paroki Padua Mendalam, banyak menerjemah Ibdat Misa dalam bahasa Kayaan, dan seterusnya lalu digabungkanlah upacaya Dange sekaligus Misa karena masuknya pengaruh Gereja Katolik. Maka misa inkulturasi untuk Pembukaan Upcara Adat Dange sekarang sudah menjadi sebuah kebiasaan setiap tahunnya.

Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, yang  saat itu masih Uskup Sintang, sudah terbiasa mengikuti upacara seperti ini.

“Budaya tidaklah bertentangan dengan ajaran Katolik, bukan gelap menuju terang tetapi dari samar-samar menuju terang,” kata Uskup Agus.

Sebagai Pastor Paroki St. Antonius Padua Rm. Yohanes Sumadi, SMM mengaku senang bertugas diantara Suku ini. Selain disambut dengan baik oleh warga setempat, ia juga diperlakukan dengan sangat hormat. Karena setiap bulan ada misa dalam bahasa Dayak Kayaan, maka kebiasaan memimpin jadi sedikit tahu bahasa Kayaan, katanya.

Perayaan Dange kali ini kedatangan tamu yang adalah saudara Kayaan dari Serawak Malaysia. Ada belasan orang datang turut ikut memeriahkan kebersamaa perayaan Dange.

Setelah pemberkatan penutup misa syukur Dange, acara dilanjutkan dengan atraksi penutup yang dilakukan oleh delapan ibu-ibu dengan mengenakan topi delapan bulu burung, dan  menari mengeliligi kurban persembahan yang dibentuk seperti altar. Dengan topangan delapan kayu (Posisi Akar menulang keatas)  yang dibagi menjadi menjadi empat setiap sisi. Kemudia sisi kedua ditopang dengan dua kayu yang dipersilangkan.

Semua umat yang ada di dalam Gereja  termasuk para pastor dan Uskup menuju halaman depan yang sudah disediakan. Semua dimulai dengan nyanyian Pembuakaan Pesta Gawai Dange.

Acara selanjutnya adalah makan siang bersama dan menampilkan pertunjukkan tarian, musik dan lagu yang semua dalam ciri khas daerah. Jadi, sebelum upacara penutup, umat yang menghadiri misa tidak boleh pulang. Sepanjanga acara, setiap orang menampilkan kebolehan mereka dalam menampilkan nuansa tradisi.

Prosesi terakhir, sekitar pukul 16,15 WIB, ritual penutup dilakukan bersama. Semua undangan, Uskup Agus, Uskup Samuel, OFM.Cap, Pastor Paroki Rm. Sumadi, SMM, Wakil Bupati Kapuas Hulu Antonius L.Ain Pamero, S.H, dan tamu Kayaan dari serawak memegang tali kuning yang melingkar lalu diiringi dengan nyanyian syukur Dange penutup, dan mohon perlindungan Tuhan.

Sambil menyanyikan lagu penutup,  semua orang yang hadir di oleskan minyak yang bercampur arang pada pipi yang menandakan bahwa setiap orang sudah menyelesaikan upacara Dange.

Bagi suku Dayak Kayaan, Dange merupakan upacara adat yang tertinggi dan sakral dalam deretan upacara lainnya. Upacara tersebut dilaksanakan usai panen padi yang jatuh sekitar bulan April-Mei setiap tahunnya.

Semz_Komsos KAP

Tinggalkan Balasan