MISA SYUKUR PERAYAAN NAIK DANGO KE 33 KECAMATAN SUNGAI AMBAWANG

Masyarakat Kalimantan khususnya masyarakat suku Dayak identik dengan kehidupan bercocok tanam. Hal ini tidak lepas dari makanan pokok masyarakat yakni nasi yang berasal dari padi. Padi tersebut memberikan kehidupan serta menjadi mata pencaharian bagi masyarakat Dayak. Sehingga mulai dari pembibitan, menanam, memanen hingga menyimpan padi dilakukan dengan ritual adat yang dikenal sebagai Naik Dango. Masyarakat Dayak mempercayai bahwa padi memiliki roh atau semangat. Melalui ritual Naik Dango menjadi bagian kearifan lokal yang sudah dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Ritual Naik Dango ini juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Jubata (Sang Pencipta) atas hasil panen yang telah diperoleh oleh masyarakat Dayak.

Di Desa Lingga Kecamatan Sungai Ambawang, Kalimantan Barat pada hari Kamis, 26 April 2018 masyarakat Dayak se-Kecamatan Sungai Ambawang dan sekitarnya melaksanakan ritual Naik Dango yang ke-33. Seluruh masyarakat Dayak baik anak-anak, pemuda hingga orang tua berkumpul di Rumah Betang atau Rumah Panjang Desa Lingga untuk melaksanakan gawai Dayak tersebut. Gawai Naik Dango ke-33 ini diikuti oleh kontingen sebanyak 25 dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan di tiga Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Menurut Data yang didapat dari Panitia Naik Dango 2018, peserta yang sudah berdatangan dari sejumlah kecamatan, di antaranya Kecamatan Toho 110 peserta, Sungai Ambawang 150 peserta, Kecamatan Jelimpo 92 peserta, Anjungan 120 peserta, Sadaniang 97 peserta, Kuala Mandor B 54 peserta, Kuala Behe 62 orang, Kecamatan Kubu 115 peserta dan Sompak 150 peserta. Peserta yang hadir tersebut menggunakan transportasi bus melewati Trans Kalimantan. Ketika tiba di lokasi, peserta diminta untuk segera melakukan registrasi di sekretriat panita yang kemudian diantar ke tempat penginapan yang telah disediakan oleh panitia.

Rombongan Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pontianak juga ikut serta mengisi misa syukur Naik Dango ke-33 bersama pastor paroki RD John Rustam. Rombongan ini merupakan gabungan anggota kor paroki MRPD yang dinamakan Paduan Suara Sta. Caecilia. Para anggota Kor sebelumnya berkumpul terlebih dahulu di Gereja Paroki MRPD dan berangkat bersama-sama menggunakan transportasi masing-masing. Setibanya di lokasi, para anggota Kor menuju ke Rumah Betang Desa Lingga untuk mempersiapkan misa yang dimulai pada pukul 16.00. Misa syukur Naik Dango ke-33 ini dipimpin oleh RD John Rustam dan tiga orang imam lainnya; Pastor Gregorius Sabinus, CP., Pastor Ellenterius Bon, SVD. dan Pastor Barnabas Meriko, OFMCap. sebagai konselebran.

Misa syukur Naik Dango ini diikuti oleh para umat di Paroki Sungai Ambawang dan para anggota Kor dari Paroki MRPD Pontianak. Meskipun jumlah umat yang menghadiri misa tersebut tidak banyak, misa tersebut tetap menjadi meriah dengan nyanyian serta alunan musik inkulturasi Dayak yang dibawakan oleh para anggota paduan suara Caecillia MRPD Pontianak.

Dalam kotbah, Pastor John sempat memberikan saran untuk acara Naik Dango. Pastor John menghimbau agar perayaan Naik Dango perlu dievaluasi untuk ke depannya. Menurut Pastor Paroki MRPD Pontianak ini, Naik Dango ini menjadi suatu perayaan syukur bukan sebagai upacara kemasyarakatan yang tanpa memiliki nilai dan makna sebagai perayaan syukur. Selanjutnya, dipaparkan beberapa alasan mengapa masyarakat perlu bersyukur. Pastor John memperlihatkan beberapa item yang ada di sekitar altar, terdapat tempayan, beras, telur, sirih dan semacam sesajian yang didapatkan dari alam dan diolah oleh manusia. Inilah yang dinamakan upacara Naik Dango, atau menempatkan padi ke dalam lumbung.

“Perayaan ini dibuat setelah orang selesai panen dan padinya disimpan ke dalam lumbung, di dalam Lakau,” tutur Pastor John Rustam.

Selanjutnya, Pastor John mengungkapkan relasi Naik Dango tersebut ke dalam tarian yang disebut sebagai Tarian Panoko’ yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Dalam tarian ini, persembahan-persembahan tersebut akan dibawa atau diarak ke dalam pondok (Lakau) atau Dango yang disimpan secara khusus sebagai tempat untuk menyimpan padi.

“Kita bersyukur kepada Tuhan yang masih memberikan tanah yang baik, hujan yang cukup, meskipun terkadang-kadang berlebihan hingga terjadi gagal panen,” ungkapnya.

Pastor John menuturkan bahwa curah hujan di masa sekarang berlebihan akibat jumlah pohon yang seharusnya menahan air yang jumlahnya semakin berkurang. Hal inilah yang acapkali mengakibatkan terjadinya gagal panen. Ia menambahkan bahwa ribuan hektare hutan-hutan yang berfungsi sebagai penahan air sudah dibabat menjadi suatu perkebunan yang luas.

Meskipun Tuhan memberikan kuasa kepada manusia, bukan berarti manusia menguasai segalanya dengan semena-mena. Tujuan dari kuasa terhadap alam ini adalah agar alam dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan manusia. Menurut Pastor John, Perusakan alam semesta ini semata karena manusia merasa menjadi penguasa atas alam semesta ini, sehingga mampu berbuat semaunya. Akibatnya, terjadilah berbagai bencana alam seperti gempa bumi, longsor, gagal panen dan lain sebagainya.

Dalam misa syukur Naik Dango ke-33 ini juga turut hadir sekretaris Majelis Dewan Adat Nasional (MADN) yakni Yakobus Kumis. Sebelum berkat penutup diterima oleh umat, Sekretaris MADN ini mengapresiasi misa Naik Dango dan juga menginformasikan bahwa Presiden MADN, Bapak Drs. Cornelis, MH tidak sempat hadir karena sedang menghadiri suatu acara di moment yang bersamaan dilaksanakannya Naik Dango ke-33 ini. Yakobus Kumis juga mengapresiasi petugas liturgi terutama Paduan Suara Sta. Caecillia MRPD yang telah mengantarkan misa begitu meriah. Menurut informasi, Paduan Suara Sta. Cecillia MRPD akan mengisi tugas pada Pekan Gawai Dayak yang ke-33 pada tanggal 19 Mei 2018.

Beberapa alat perlengkapan pertanian dan lainnya yang telah dipersiapkan sekitar altar juga telah diberkati oleh Imam. Tujuan dari pemberkatan alat-alat tersebut adalah memohon kuasa dari sang pencipta agar melalui peralatan-peralatan tersebut menjadi perpanjangan kuasa Tuhan sebagai berkat agar hasil panen semakin melimpah.

Setelah misa ekaristi selesai dirayakan, properti misa lekas disimpan, meja-meja kemudian digeser untuk diletakkan aneka santapan yang disuguhkan kepada para hadirin. Acara ramah tamah ini menjadi pembuka acara malam yang segera digelar di atas panggung. Pada malam hari, jumlah massa semakin bertambah dan meramaikan pasar-pasar malam yang menjual aneka macam barang, pernak-pernik serta suguhan makanan ringan. Harapan bagi penulis pribadi, semoga dalam Gawai Naik Dango selanjutnya, masyarakat khususnya umat Katolik setempat juga meramaikan misa ekaristi sebagai bentuk syukur kepada sang Ilahi. Sehingga tidak menjadi ironi di mana perayaan misa umat tidak banyak yang hadir,namun antusias pada acara malam dan pesta pora.

(Fransesco Agnes Ranubaya, OFS)   Naik Dango

Tinggalkan Balasan