In Memoriam Pastor Patrick Hartadi OFMCap

Lahir dari keluarga beretnis Tionghoa di Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya pada tanggal 26 Juli 1944, Pastor Patrick Hartadi OFMCap menyandang nama kecil Yohanes Lim Keng Siang. Dia anak ke-8 dari 11 bersaudara. Buah cinta dari pasangan Bapak Lim Gui Hau dan Ibu Huam Miau Cu ini sejak kecil sudah menunjukkan bakat-bakat bak seorang akuntan.“Dia sangat teliti, disiplin dan rapi dalam mengerjakan sesuatu,” ungkap Sr. Angelita Limas SFIC berkisah. Biarawati dari Kongregasi suster SFIC yang adalah kakak kandung almarhum ini juga mengatakan bahwa ketika masih kecil adiknya ini seorang yang rajin dan memiliki bakat bertukang.“Masa kecil Pastor Patrick biasa-biasa saja seperti anak-anak kecil seusianya, namun satu hal yang saya kagumi dari almarhum adalah dia memiliki bakat bertukang. Dia bisa membuat kursi, meja dan perabot rumah tangga lainnya, meskipun tidak pernah belajar di sekolah pertukangan,” ungkap Suster Angelita.

Keluarga Lim, demikian nama Marga Pastor Patrick, merupakan keluarga Katolik yang taat. Bapak Lim Gui Hau dan Ibu Huam Miau Cu selalu menganjurkan anak-anaknya untuk selalu berdoa dan pergi ke gereja setiap hari Minggu. Kesalehan dan kesetiaan kedua orang tua Pastor Patrick untuk mewariskan ajaran iman kekatolikan kepada anak-anaknya ini ternyata melahirkan sebuah kerinduan yang terbesit di hati pasutri ini untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada Tuhan. Menurut kisah Sr. Angelita, kedua orang tua memang memiliki keinginan bahwa diantara anak-anaknya ada  yang menjadi pastor dan suster. Biarawati  yang pernah bertugas sebagai bidan di Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang ini mengungkapkan pernah dibisiki oleh ibunya supaya ia menjadi seorang biarawati. Demikian hal serupa terjadi dengan adik kandungnya ini. Dikisahkan bahwa Patrick kecil yang pada saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kerap mendapat gurauan dari saudara-saudaranya. “Saya tidak begitu tahu persis awal panggilan Pastor Patrick. Keinginannya untuk menjadi seorang imam, karena tidak pernah terucap dari mulutnya, namun yang saya ingat adalah dulu kami sering bergurau dengan memanggil almarhum waktu itu dengan panggilan “Pastor Yohanes Lim,” ungkap suster yang kini tinggal di komunitas jompo Susteran St. Antonius Pontianak.

Misa Requiem Pastor Patrick dipimpin oleh P. Hermanus Mayong OFMCap Minister Provinsial Kapusin, P. William Chang OFMCap Vikjen Keuskupan Agung Pontianak, P. Andreas Kurniawan OP Ekonom Keuskupan Agung Pontianak P. Prasetyo CDD Pastor rekan Paroki St. Agustinus, P. Erwin OFMCap Pastor di Paroki Pusat Damai (CP:Dimas)

Berawal dari bisikan sang Bunda dan gurauan saudara-saudaranya, yang pada awalnya dirasakan biasa saja, namun seiring berjalannya waktu benih panggilan khusus ini pun muncul di hati kecil Pastor Patrik. Maka pada tanggal 1 Agustus 1964, Yohanes Lim muda mengikuti jejak sang kakak, Sr. Angelita yang lebih dulu masuk Biara dengan masuk Ordo Kapusin sebagai Novis. Sejak saat itu ia berganti dengan nama biara menjadi Frater Patrick Hartadi OFMCap. Kemudian sampailah pada jenjang tahbisan Imamat yang  diterimanya tanggal 14 Juli 1972 dari tangan Mgr. Herculanus Joannes OFMCap. Segera sesudah menjadi imam, Pastor Patrick mendapat tugas sebagai Pastor pembantu di Sanggau Kapuas.

Beberapa kurun waktu terjun di medan karya pastoral di paroki Sanggau, Pastor Patrick mendapat tugas dari Ordonya untuk studi di Universitas Salesiana di Roma hingga menempuh gelar licenciat Pedagogi (1973-1978). Setelah menyelesaikan studinya, Pastor Patrick mendapat tugas sebagai pimpinan di Persekolahan Nyarumkop tahun 1979-1982. Sebagai Pastor Paroki di Batang Tarang (1982-1983). Kemudian kembali menerima tugas sebagai Vikjen/Sekjen Keuskupan Sanggau (1983-1991). Sebagai sekretaris Provinsi Kapusin Indonesia dari tahun 1991-1994.

Kanan-Pastor Patrick Hartadi OFMCap, P. Leopold OFMCap dan P. Petrus Rostandi OFMCap (dok. Kapusin)

Pastor Patrick diminta sebagai ekonom Badan Kerjasama (BKS) Prokap tiga wilayah provinsi Kapusin Indonesia, Provinsi Pontianak, Sibolga dan Medan. Kepiawaian dan kecermatannya dalam mengelola keuangan, ia juga diminta menjadi ekonom Keuskupan Palangkaraya pada tahun 1997-2000. Setelah membantu tata kelola keuangan di Keuskupan Palangkaraya ia mendapat tugas sebagai pastor pembantu di Paroki Gembala Baik selama satu tahun. Pengalaman selama bertugas sebagai ekonom BKS Prokap dan di Keuskupan Palangkaraya, maka Ordo memberi kepercayaan kepadanya sebagai ekonom Ordo Kapusin Provinsi Pontianak sembari juga sebagai pastor pembantu di Paroki St. Agustinus Kubu Raya sejak tahun 2001-2018.

Pastor Patrick Hartadi dikenal oleh saudara-saudara dan rekan imam lainnya sebagai sosok yang sederhana, disiplin. Romo Prasetyo CDD, Pastor rekan di Paroki St. Agustinus memberi kesan bahwa kehadiran Pastor Patrick di Komunitas Pastoran St. Agustinus mengoreskan kenangan manis. “Pastor Patrick memberi banyak teladan hidup kepada saya. Almarhum adalah sosok yang sederhana, gembira meskipun mengalami sakit, lepas bebas, mandiri dan setia dalam tugas serta panggilannya,” ungkap Romo Prasetyo.

Pastor Patrick menghembuskan nafasnya yang terakhir akibat serangan stroke di Rumah Sakit St. Antonius pada 27 Juli 2018. Doa untuk menghantar jenazah almarhum ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman Katolik St. Yusuf Sei Raya Pontianak diawali dengan Misa Requiem ini dipimpin oleh P. Hermanus Mayong OFMCap Minister Provinsial Kapusin, P. William Chang OFMCap Vikjen Keuskupan Agung Pontianak, P. Andreas Kurniawan OP Ekonom Keuskupan Agung Pontianak P. Prasetyo CDD Pastor rekan Paroki St. Agustinus, P. Erwin OFMCap Pastor di Paroki Pusat Damai serta sejumlah Imam Kapusin Pontianak lainnya.

By: Sr. Maria Seba SFIC

Tinggalkan Balasan