Tahbisan 2 Imam Passionis di Paroki Beduai : “Menjadi Imam Harus Siap ‘Mati’ Agar Dombanya Hidup ,” Kata Mgr. Mencuccini CP

Aura nan sakral ritual adat Dayak setempat turut mengiringi upacara pentahbisan imam baru di Paroki Salib Suci Beduai keuskupan Sanggau pada tanggal 10 Agustus 2018 yang lalu. Tahbisan imamat Congregatio Passionis Iesu Christi (Kongregasi Pasionis) ini diawali dengan ritual upacara adat Bapomang. Tradisi Bapomang (upacara memohon berkat dari Tuhan) sebelum mengawali sebuah perayaan atau pesta besar sampai saat ini masih dipertahankan, sebagai salah satu bentuk upaya merawat khazanah para leluhur. Biasanya tradisi ini dipakai masyarakat Dayak sanggau khususnya dalam beberapa upacara besar seperti pernikahan, pesta panen dan menyambut tamu agung. Ritual Bapomang ini dipimpin oleh tetua adat yang disebut tukang Pomang. Tukang Pomang ini memiliki peran yang sangat penting selama proses ritual berlangsung. Dengan duduk bersila menghadap sejumlah sesaji berupa; daun sirih, kapur sirih, buah pinang, lemang, irisan daging babi dan ayam, telur ayam, beras ketan, beras putih dan tuak, Pomang memimpin upacara dengan mulut komat-kamit melantunkan doa kepada Tuhan.

Menurut Pastor Agustinus Kraeng CP, prosesi ritual adat yang dilakukan pada awal pembukaan upacara pentahbisan imam ini merupakan simbol ucapan selamat datang kepada seluruh tamu undangan. Dan seraya memohon berkat Tuhan agar merestui seluruh rangkaian upacara pentahbisan dari awal hingga berakhirnya nanti. Pastor Kepala Paroki Salib Suci Beduai ini juga menjelaskan lebih lanjut bahwa sebelum memasuki gereja, calon imam akan disambut dengan tarian tradisional penyambutan yang diiringi dengan tabuhan gong yang semakin menambah sakralnya dan semaraknya ritual adat Bapomang.

Diakon Yosep dan Diakon Aga mengikuti Ritual menginjak telur yang dipimpin oleh seorang Pomang. Ritual ini sebagai simbol damai sehingga siapa saja yang menginjakan kakinya di tanah Beduai ini akan dipenuhi dengan rasa yang damai, tidak takut dan khawatir (Vincent).

Ketika calon imam tiba di depan gerbang masuk gereja, tukang Pomang segera  mengibau seekor ayam kampung di hadapan calon imam seraya membacakan doa-doa dalam bahasa daerah setempat. Prosesi adat kemudian dilanjutkan dengan tahap terakhir yaitu menginjak telur yang dilakukan di sebuah nampan oleh calon imam baru. Ritual menginjak telur merupakan simbol yang menandakan suasana damai. “Ritual menginjak telur merupakan simbol damai sehingga siapa saja yang menginjakan kakinya di tanah Beduai ini akan dipenuhi dengan  rasa yang damai, tidak takut dan  khawatir,” ungkap Pastor Agustinus Kraeng CP.

Dua Diakon yang menerima tahbisan imamat yaitu Diakon Aga Saputra CP dan Diakon Yoseph Wasito CP. Diakon Aga mengambil motto tahbisan, “Ajarlah aku melakukan kehendakMu” (Mazmur 143:10). Sedangkan Diakon Yoseph mengambil motto tahbisan, “Dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti” (1 Kor 1:28). Upacara tahbisan imamat ini dibawa dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Sanggau, Mgr. Julius Giulio Mencuccini CP sebagai pentahbis. Hadir pula di altar Uskup Agung Emeritus, Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap, Provinsial Kongregasi Pasionis, Pastor Niko CP dan Pastor Agustinus Kraeng CP, Pastor Kepala Paroki Salib Suci Beduai beserta puluhan imam lainnya.

Dalam homilinya, Mgr. Julius Giulio Mencuccini CP mengatakan bahwa panggilan sebagai imam adalah karunia istimewa, namun sekaligus juga merupakan tugas pelayanan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan kepada umat. Menjadi gembala yang baik bukan hanya  melindungi dombanya tetapi siap menyerahkan nyawanya. “Ini tugas yang cukup berat karena menjadi seorang gembala anda harus siap ‘mati’ supaya domba-domba tetap hidup,” ungkapnya. Hal ini dikatakan Uskup mengingat tantangan pastoral zaman sekarang yaang luar biasa. Untuk menjadi seorang imam yang  merelakan dirinya melayani Tuhan dan sesama diperlukan suatu keberanian dan tekad yang luar biasa, sebab kata Uskup, jika hanya setengah-setengah maka tidak mungkinlah dia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Berkat Uskup kepada Diakon Aga dan Diakon Yoseph sebelum menerima Sakramen Imamat (Vincent).

Uskup yang lahir di Fossacesia, Abruzzo ini juga mengatakan bahwa  dengan menerima jabatan imam bukan berarti mereka sudah menjadi suci, atau menjadi manusia super power, mereka tetap dengan kelemahan dan kemanusiaannya masing-masing. Oleh karena itu kata Uskup, imam dan umat harus saling mendukung agar gereja bertumbuh dan berkembang dengan baik. “Dukunglah imam dengan doa dan juga tegur dan ingatkan apabila mereka menyimpang dan menjauh dari Tuhan,” ungkapnya.

Sebelum mengakhiri homilinya, Mgr. Mencuccini mengajak 2 imam baru serta semua imam Pasionis yang hadir untuk menjadikan Salib Kristus sebagai tumpuan dan harapan yg pasti. “Jadikanlah Salib Kristus sebagai harapan bukan sebagai beban, sebab seperti teladan Gembala Agung kita, Yesus dengan menempuh Jalan Salib banyak orang diselamatkan,” ungkapnya. Selain menghayati salib dan sengsara Yesus, Pasionis juga meletakkan cinta kasih persaudaran sebagai  identitas dalam Kongregasi Pasionis dimana setiap anggota saling mendukung, saling menyapa, saling berbagi. Dalam kasih persaudaraan tidak ada perbedaan, semua dipanggil untuk melakukan kehendak Allah.

Sebelum berkat penutup, Pastor Niko, Provinsial Kongregasi Pasionis membacakan tempat penugasan bagi 2 imam yang baru ditahbiskan. Aga Saputra CP bertugas di Paroki Yesus Tersalib Nanga Taman, Keuskupan Sanggau. Dan Pastor Yoseph Wasito CP bertugas di Paroki Petrus dan Paulus Sekadau, Keuskupan Sanggau. Pembacaan penempatan tugas perdana imam baru ini disambut dengan tepukan tangan yang meriah sebagai ungkapan bahwa dua imam ini sudah resmi menjadi gembala yang siap melayani umat. Kemudian Pastor Aga Saputra CP dan Pastor Yoseph Wasito CP didaulat oleh Bapak Uskup untuk memberikan berkat penutup untuk yang pertama kalinya kepada orangtua, keluarga dan seluruh umat.

By. Sr. Maria Seba SFIC

Tinggalkan Balasan