“Satu Hadiah Desain Gambar Gereja Unik Yang Mengandung Satu Keinginan dan Permohonan,” kata Mgr. Giulio Mencucini.

Berawal dari hadiah yang diberikan pada tanggal 13 Maret 2008, jati diri umat se-Keuskupan Sanggau mulai diwujudkan dan hasilnya adalah gereja Katedral unik-artistik yang menggabungkan antara agama barat dengan arsitektur seni serta kepercayaan suku Dayak. Menurut sejarah, gereja Katedral Sanggau yang pertama tidak dibangun untuk digunakan sebagai gereja Katedral, melainkan dibangun untuk Gereja pusat paroki di kota Sanggau. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan umat, ketika wilayah Kewedanan Sekadau yang mencakup juga wilayah Kabupaten Sanggau menjadi Keuskupan, maka gereja paroki Sanggau itu berubah menjadi Gereja Katedral.

“Sejak saya menjadi Vikaris Jendral dan kemudian menjadi Uskup pertama Keuskupan Sanggau, tidak pernah masuk dalam program Keuskupan ide untuk membangun katedral baru karena gereja Katedral lama masih dianggap baik dan banyak umat juga merasa terikat secara emosional dengan gereja yang lama. Dan lebih-lebih saya merasa resfect serta menaruh hormat terhadap pastor Franz Xaver Brantscheen, OFMCap yang telah membangunnya,”ungkapnya.

Uskup Keuskupan Sanggau ini berkisah, bahwa pada tanggal 13 Maret 2008, saat ia merayakan HUT ke-62, sebagai kenangan, Monsinyur diberikan satu hadiah yang tidak langsung dibuka. “Pagi hari sesudahnya baru saya membuka bungkus hadiah itu dan di dalamnya saya menemukan satu surat, satu desain gambar gereja dalam bentuk tiga dimensi. Isi surat tersebut menyatakan bahwa, “Umat Keuskupan Sanggau mohon agar Bapak Uskup membangun Gereja Katedral baru, dan kalau suka, inilah desain gambar gereja baru itu dan kami umat siap membantu,”pungkasnya.

“Sesudah itu saya berbicara dengan Pastor Franz Xaver Brantschen, OFMCap dan beliau menyetujui rencana itu dengan berkata bahwa wajar dibangun gereja yang baru, karena gereja yang lama sudah hampir 45 tahun digunakan. Gereja yang lama juga merupakan gereja yang ketiga di Kota Sanggau. Gereja yang pertama dibangun tahun 1928, yang kedua tahun 1938 dan gereja yang ketiga dibangun pada tahun 1965. Beliau hanya memohon agar kerangka besi gereja lama (yang dibawa dari negeri Belanda) sebaiknya dipakai untuk membangun satu gereja di Kampung. Kini kerangka gereja Katedral lama sudah menajdi kerangka untuk gereja di Paroki Bunut sebagai kenangan “In memoria!,” demikian Uskup Mencuccini mengakhiri kisahnya.

 

By. Samuel

Tinggalkan Balasan