14 Simbol Liturgis di Balik Megahnya Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau (2)

5.Rosona

Rosona atau disebut juga dengan rose window alias jendela mawar adalah jendela besar yang berbentuk bulat, menampilkan bentuk bunga mawar. Jendela ini biasanya dibuat dengan teknik kaca patri warna-warni yang rumit namun indah. Rosona dengan mudah dapat kita temukan pada gereja-gereja Katedral bergaya Gothik.

Di gereja Katedral Sanggau, rosona tidak berbentuk jendela, melainkan berbentuk relief. Bentuk relief ini tidak mengurangi makna keberadaan rosona yaitu sebagai lambang Bunda Maria. Dalam tradisi kekristenan, Bunda Maria sering dilambangkan dengan bunga mawar, karena bunga mawar dilambangkan untuk keperawanan dan keindahan. Secara khusus, dalam gereja Katolik yang melambangkan Bunda Maria sebagai bunga mawar yang tidak berduri atau bunga mawar yang ajaib.

Lambang bunga mawar juga bisa ditemukan dalam doa kesayangan umat Katolik yaitu doa rosario. Untaian manik-manik rosario menjadi bunga mawar; rangkaian doa, agar bersama Bunda Maria, kita dapat mengenangkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus Kristus, Sang Penyelemat Dunia.

6. Plafon Berbentuk Salib Hati Kudus Bercahaya

Pada bagian tengah atap gereja Katedral, digunakan kaca mika sebagai penutupnya. Kaca mika tersebut berbentuk salib besar yang memungkinkan cahaya matahari langsung dapat masuk kedalam gedung gereja. Di tengah sabil kaca mika, terdapat bulatan berbentuk hati yang melambangkan Hati Kudus Yesus. Dengan desain ekologis go green ini, gereja Katedral Sanggau tidak perlu menggunakan lampu penerangan dalam perayaan Ekaristi di siang hari.

Pada bagian samping atap kaca mika dan bulatan hati kudus, kita dapat melihat plafon gereja Katedral Sanggau yang terbuat dari kayu. Kayu tersebut disusun membentuk garis dengan formasi tertentu. Susunan kayu plafon ini membuat atap kaca mika Salib Hati Kudus terkesan bercahaya dengan unik dan indah. Oleh karena itu, gereja ini bukan hanya berbentuk salib ketika kita memandangi langit-langitnya. Bentuk plafon gereja Katedral ini mau melambangkan, dari salib Hati Kudus Yesus terpancar cahaya kemuliaan Tuhan yang menaungi setiap umat yang berdoa di dalam gereja Katedral Sanggau.

7.  Panti Imam

Panti imam atau pelataran imam merupakan suatu areal yang dikhsuskan untuk pemimpin liturgi. Panti imam ini dibedakan dengan areal/wilayah  umat. Secara anggun, panti imam ditempatkan lebih tinggi dari pada wilayah umat agar perayaan kudus yang dilaksanakan dapat terlihat dengan jelas dan menjadi pusat perhatian seluruh umat yang hadir (PUMR. 295).

Selain itu, panti imam juga melambangkan gunung. Tempat manusia berjumpa dengan Allah; Musa mendapat sepuluh perintah Allah di gunung Sinai (Kel 19), Elia merasakan kehadiran Tuhan di gunung Horeb (1 Raj 19) dan seturut tradisi, ketiga murid Yesus menyaksikan kemuliaan Allah di gunung Tabor (Mrk 9).

Di gereja Katedral Sanggau, panti imam dibangun atas tujuh tingkat anak tangga. Di tingkat yang paling tinggi diletakkan altar,  lambang Kristus sendiri. Ketujuh anak tangga ini melambangkan ketujuh sakramen yang mengalir dari kurban altar Kristus.

8.  Altar

Pusat dari bangunan gereja adalah Altar. Altar alias meja perjamuan Tuhan merupakan tempat untuk menghadirkan kurban Salib Kristus dengan menggunakan tanda-tanda sakramental (PUMR.296). Gereja Katedral Sanggau menempatkan altar berukuran 150 x 410 centimeter. Daun dan kaki meja altar terbuat dari kayu belian yang kokoh. Di atas altar yang melambangkan puncak Kalvari, dipersembahkan roti dan anggur yang akan menjadi tubuh dan darah Kristus sendiri. Umat Allah berhimpun di sekeliling altar untuk bersyukur dan mengambil bagian dalam perayaan sakramen-sakramen (KGK.1130).

Di bagian bawah depan altar puncak Kalvari, terdapat pala atau selubung altar. Pala ini berukiran gambar Yesus bersama kedua murid di Emaus. Setelah ditinggikan dan wafat sebagai kurban di altar  puncak Kalvari, Yesus Kristus bangkit dan menampakkan diri kepada kedua murid di Emaus. Melalui perayaan Ekaristi, kita diajak untuk bertemu dengan Tuhan Yesus sendiri yang telah bangkit. Altar adalah lambang Kristus sendiri yang hadri di tengah himpunan umat “bertindak sebagai imam, altar dan kurban” (KGK.1383, lbr 7).

Seturut tradisi suci, pada bagian bawah altar, biasanya ditempatkan relikui atau peninggalan fisik, barang suci milik santo dan santa. Di altar gereja Katedral Sanggau, kita dapat menemukan empat relikui St. Paulus dari Salib, St. Gabriel dari Bunda berdukacita, St. Gemma Galgani dan St. Pius dari Petrarcina.

Keempat relikui suci ini ditempatkan pada bagian bawah alta. Relikui ini mengingatkan kita akan teladan hidup dan pengurbanan para kudus. Santo dan santa ini mengambil bagian dalam kurban altar Kristus. Bersama dengan para kudus, kita diajak untuk berdoa memohonkan keselamatan bagi seluruh umat Allah.

9.  Mimbar

Mimbar alias ambo merupakan tempat untuk mewartakan sabda Tuhan melalui bacaan-bacaan Kitab Suci, mazmur tanggapan, serta Pujian Paskah. Melalui mimbarm bacaan kitab  suci direnungkan dalam homili. Doa umat juga dapat dibawakan melalui mimbar. Sabda Allah diwartakan melalui mimbar dan menjadi pusat perhatian umat selama Liturgi Sabda (PUMR. 309).

Mimbar gereja Katedral Sanggauter terbuat dari kayu belian. Kayu belian ini berdiameter 70 cm dan tingginya 110 cm. Di bagian tepinya, kita dapat melihat pahatan empat pengarang injil yaitu: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Para kudus ini dapat dikenal dari nimbus (awan) berbentuk lingkaran bercahaya di sekeliling kepalanya. Melalui mimbar ini, injil kabar gembira keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus dikumandangkan bagi umat beriman.

10. Tabernakel

Tempat di belakang altar, ditempatkan tabernakel. Tabernakel diambil dari bahasa Latin: tabr (kemah) dan narkel (kudus). Maka tabernakel adalah kemah/tempat kudus di mana Sakramen yang Mahakudus disimpan. Tabernakel menjadi lambang menetapnya Kristusdalam rupa Hosti Kudus, seperti menetapnya Roh Tuhan di dalam Tabut Perjanjian Musa (Kel 25:8).

Tabernakel gereja Katedral Sanggau terbua dari tembaga. Berbentuk segi  empat dengan empat  menara di tiap sudutnya dan mahkota salib pada puncaknya. Di bagian kiri dan kanannya, kita menemukan dua patung malaikat (kerub) yang menjadi gambaran tabut perjanjian Allah dengan Israel umat-Nya (Kel 2:18-20).

Seturut  ulah kesalehan yang berkembang sejak Gereja perdana, tempat penyimpanan Sakramen yang Mahakudus sering dikaitkan dengan makam Yesus. Dalam upacara adorasi (penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus), umat pergi ke makam untuk menghormati Yesus yang dibaringkan di dalam makam (DKUL. 141). “Kunjungan kepada Sakramen yang Mahakudus adalah bukti syukur terima kasih, tanda cinta dan pemenuhan kewajiban umat beriman untuk menyembah Kristus yang wafat bagi kita,” (KGK. 1418).

11. Dua Relief

Di dinding sebelah kiri dan kanan tabernakel, kita dapat menemukan dua buah relief. Relief pada dinding bagian kanan menggambarkan Allah Tritunggal; Bapa, Putera dan Roh Kudus, sedangkan relief pada dinding sebelah kiri menggambarkan mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan (Yoh 6: 1-14). Kedua relief ini berhubungan sangat erat dengan Sakramen Mahakudus yang di simpan dalam tabernakel. Melalui mukjizat penggadaan roti, Yesus mempersiapkan kita untuk menyambut Roti hidup; yaitu diri-Nya sendiri. “Barang siapa makan dagin-Ku dan minum darah-Ku dia memiliki hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6: 54). Sakramen Mahakudus adalah jaminan paling aman dan tanda paling jelas bahwa harapan besar akan surga baru dan dunia baru akan terpenuhi (KGK. 1405).

Dengan menyambut Sakramen yang Mahakudus, kita juga mendapat jaminan bahwa kelak kita akan ikut ambil bagian dalam kemulian surgawi (KGK. 1402). Kemulian tersebut digambarkan dalam relief kehadiran Allah Tritunggal Mahakudus; Bapa, Putera dan Roh Kudus.

12.  Kursi Tahta Uskup

Kursi ini melambangkan jabatan Uskup sebagai pemimpin tertinggi di suatu wilayah Keuskupan. Dalam bahasa Latin, kursi ini disebut cathedra. Kata ini kemudian lebih sering digunakan untuk menyambut bangunan gereja induk, tempat kediaman Uskup.

Kursi tahta Uskup Sanggau terbuat dari akar tunggul kayu belian. Seperti yang kita ketahui, kayu jeni ini merupakan kayu jenis terkuat dan tahan lama. Kayu ini hanya tumbuh dihutan Kalimantan dan ada yang mencapai usia lebih dari 1.000 tahun. Tahta akar-tunggul kayu belian melambangkan kekuatan, keperkasaan dan tiada habisnya penyertaan serta perlindungan Tuhan, bagi bapak Uskup Keuskupan Sanggau.

Selain itu, akar-tunggul belian ini ditempatkan pada posisi terbalik. Akar pohon yang biasanya menyerap humus di bawah tanah demi pertumbuannya, sekarang mengarah ke atas, kepada yang ilahi. Hal ini mau melambangkan rahmat tahbisan Uskup yang diterima dari Allah, dan mendapat kekuatan untuk bertumbuh-kembang juga oleh Allah.

13. Patung Yesus dan Bunda Maria

Patung Yesus dan Bunda Maria ditempatkan di dinding bagian kiri dan kanan altar. Kedua patung ini dibingkai dengan gambar burung merepati yang merupakan lambang dari Roh Kudus. Roh Kudus tersebut memberikan cahaya-Nya  yang berwarna-warni. Cahaya warna-warni ini menjadi lambang keberagaman yang terpadu dengan baik dalam satu kesatuan yang utuh dan indah.

Keberagaman merupakan hakikat dari umat Katolik Keuskupan Sanggau. Perbedaan tersebut disatukan oleh Roh Kudus yang menyatukan berbagai bahasa (Kis 2:1-13). Kesatuan dalam keberagaman ini sesuai dengan “Bhinneka Tunggal Ika” Prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

14. Kemuliaan Tuhan Karya Bernini

Karya seni yang diberi nama Gloria (kemuliaan), buah karya Giovani Lorenzo Bernini dapat kita temukan di Basilika St. Petrus, Vatikan. Karya seni ini menggambarkan kemuliaan Roh Kudus yang bersinar; dikelilingi 70 malaikat yang jaya di udara. Karya ini mewakili sebuah pandangan mengenai Gereja; umat Allah, kita semua orang-orang yang percaya.

Gereja adalah himpunan orang-orang yang percaya. Dia digambarkan sebagai sebuah jendela, tempat Allah mendekat dan datang menuju ke dunia kita. Jendela itu menerima terang Roh Kudus yang menghidupkan imannya. Namun, Gereja baru dapat menjadi himpunan umat Allah yang sejati ketika ia mengijinkan Tuhan ‘melalui’ dirinya. Umat yang diterangi oleh Allah harus menjadi penuntun, pembagi terang bagi mereka yang belum percaya. Melalui karyanya, Bernini mengajak kita semua yang telah mendapat terang, menjadi pembagi pembagi terang bagi saudara-saudari yang lain. Seturut teladan Santo Paulus, “hendaklah kasihmu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik” (Rm12:9).

Gereja Katedral Sanggau yang baru dibangun itu selain terbangun megah, gereja itu juga dapat sekaligus memberikan katekese kepada setiap umat yang datang dan berdoa dalam gereja Katedral tersebut. Sebuah hadiah telah Tuhan berikan kepada Umat Sanggau. Letak bangunan pas ditenah kota menjadi sorot pandang setiap orang yang melewatinya.

Sumber: Berdasarkan Buku Karya Agung Allah di Tengah Umatnya

By. Samuel

Tinggalkan Balasan