HUT Ke-55 Tahun SMA St. Paulus: Mengenang Br. Rufinus V. Dal, Bapak Pendidikan Kongregasi Bruder MTB (28-10-1890 – 08-01-1934)

Mempelajari kesuksesan di balik peristiwa sejarah dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk menyusun rencana di masa depan. Dengan kata lain, sejarah amat berguna untuk menjalani hidup di masa kini dan menyusuri kehidupan di masa yang akan datang. Dalam artikel ini, penulis ingin membagikan profil seorang Misionaris Belanda, yakni Bruder Rufinus V. Dal. Bruder dari Kongregasi Maria Tak Bernoda ini dikenal dengan sosok yang gigih memperjuangkan pendidikan bagi masyarakat di bumi Kalimantan Barat. Ia merupakan sosok teladan di balik hadirnya SMA St. Paulus Pontianak yang tetap eksis memberikan pelayanan di bidang pendidikan bagi kaum muda dalam usianya yang ke-55 tahun. Berikut kami sajikan  kisah perjalanan panggilan Br. Rufinus V. Dal:

Masuk Kongregasi MTB : 28-10-1890

Kaul Pertama : 24-08-1907

Kaul Kekal : 04-09-1909

Berangkat Ke Indonesia : 02-09 1911

Kembali negeri Belanda : 26-04-1924

Meninggal dunia di RS Breda :08-01-1934

Tugas- tugas :

Guru dan studi di negeri Belanda : 1911-1924

Guru HCS Singkawang : 1924-1926

Guru HCS Pontianak : 1926 -1932

Guru kelas persiapan calon bruder : 1932

Bruder Rufinus lahir di Tilburg pada tanggal 28 Oktober 1890, kemudian dipermandikan di Gereja St. Dyonisius di Goirl-Tilbrug dengan nama Arnoldus Josephus Maria. Nama panggilannya “Noutje.” Nama orangtuanya Bernandine Mannaerts dan Bernardus Van Dal.

Bruder Rufinus adalah anak sulung dari delapan bersaudara, semuanya laki-laki. Dari 8 bersaudara, tiga orang masuk bruder MTB di Huijbergen, yaitu Br. Rufinus, adiknya Sjef (Br. Winfridus) yang ditunjuk berangkat karena sakit maag harus dioperasi. Yang ketiga, adiknya yang nomor 7 yaitu Gerard (Br. Borromeus) yang berkarya di Kalimantan Barat dari tahun 1946 sampai 1971.

Ayahnya mempunyai toko roti yang sekaligus juga warung kopi dan tempat penginapan yang sederhana, dimana petani-petani dari sekitar Sungai Bergse Maas dapat menginap, supaya  keesokan paginya dapat menjual kentang, apel, pir dan sayuran di pasar.

SMA Santo Paulus Pontianak didirikan oleh Yayasan Santo Paulus Pontianak pada tahun 1963. Masih berdiri kokoh dan eksis dalam pelayanannya.

Ketika Noutje diberikan sepatu kayunya (klompen) yang pertama, sudah ada beberapa adik lagi, Sjefke, yang kemudian menjadi Br. Winfridus, Jan, yang pernah untuk beberapa tahun menjadi tentara “huzar” dan juga pemain sepak bola dalam kesebelasan “Willem II.”

Maka baik sekali kedua anak pertama Noutje dan Sjef, berturut-turut dalam tahun 1906 dan 1907 meninggalkan rumahnya untuk pergi belajar menjadi seorang bruder. Pada tanggal 24  Agustus 1907 si Noustje menerima jubah  dan diberikan nama Bruder Rufinus. Pada tanggal 4 September 1909 Kaul Pertama dan Kaul Kekal diikrarkannya pada tanggal 2 September 1911.

Sesudah Kaul Pertamanya Br. Rufinus meneruskan studinya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) St. Fransiskus di Bergen op Zoom dan memperoleh Ijazah Guru pada tanggal 20 April 1911. Pada tanggal 24 Agustus 1915 beliau memperoleh Ijazah “Hoofd Alte” dan kemudian pada tanggal 8 Agustus 1923 menerima Ijazah Bahasa Prancis. Setelah memperoleh ijazah, Br. Rufinus langsung ditugaskan sebagai guru di Sekolah St. Maria di Huybergen. Sesudah satu tahun mengajar di St. Maria, beliau ditugaskan di SD do Hoogstraat di Bergen op Zoom. Kemudian ia pun memperoleh Ijazah “Hoofd Akte” pada tahun 1915. Br. Rufinus terus menjadi guru SPG St. Franciscus di Bergen op Zoom sampai akhirnya pindah ke Breda pada tahun 1917. Ia mengajar di dalam gedung yang pada waktu itu boleh disebut megah di Lapangan Dr. Jan Igenhousz. Di antara siswa-siswanya ada juga adiknya yang bernama Gerard, yang kemudian menjadi Br. Borromeus. Dikisahkan bahwa “Tak pernah,” kata Br. Borromeus ia, “abangku Rufinus memanggil aku dengan namaku sendiri di dalam kelas. Jika ia memanggil saya untuk menetibkan kelakuanku (dan hal ini sering perlu karena saya bukan “anak manis”) maka ia panggil saja; “Hai kamu!” atau “Camkanlah lu!”. Sesudah mengajar di SPG itu Br. Rufinus kembali mengajar di SD St Aloysius, Sekolah Latihan siswa SPG yang baru selesai dibangun di Breda.

Karena kesehatannya mulai terganggu, maka bulan April 1920 beliau dipindahkan ke Huijbergen dan mengajar di SD Sta Maria. Dalam bulan Desember pada 2 Januari 1922 beliau terpaksa berbaring karena sakit maagnya dan harus dioperasi di Bergen op Zoom. Sesudah pulih, Br. Ruffinus dipindahkan kembali ke Breda di SD St. Aloysius pada tahun 1923. Kendati maagnya lemah namun beliau dipilih untuk Misi di Kalimantan Barat pada tanggal 11 Januari 1924. Tahun itu Bruder MTB akan membuka komunitas di Pontianak, Sekolah Hollandsche-Chinese School (HCS) dan asrama.

Pada tanggal 26 April 1924 Br. Ruffinus bertolak naik kapal laut “Johan de Wit” bersama Br. Bertrandus, Edmundus dan Gonzaga ke West Borneo (Br. Hieronimus 1 tahun kemudian). Br. Ruffinus ditempatkan di Singkawang dan mengajar di dalam gedung sekolah yang sangat sederhana dan kecil, yang dahulu disumbangkan oleh Paroki St. Dyonisius di Tulbrug, di mana Rufinus dilahirkan. Pada tahun 1926 beliau pindah ke Pontianak. Seperti saudara-saudaranya Rufinus berbakat musik, suaranya merdu dan sebab itu  menjadi pemimpin koor gereja dan sebagai dirigen.

Akhir tahun 1931 penyakit maag kronis yang diderita Br. Rufinus kambuh. Oleh karena itu ia terpaksa pulang ke Negeri Belanda dan tiba di Huijbergen bulan April 1932 untuk berobat. Br. Rufinus yang dikenal oleh para saudaranya sebagai sosok bruder yang ramah, baik hati itu meninggal dunia di RS Breda pada tanggal 8 Januari 1934.

 

 

Sumber: Dokumen Kongregasi Bruder MTB

By. Semz

Tinggalkan Balasan