PLS-PMS Beraroma Retret SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak

Untuk ke sekian kalinya, belum lama ini SMA St. Fransiskus Asisi Pontianak mengadakan kegiatan pembinaan mental peserta didik yang sering dikenal sebagai pembinaan mental dan spiritual. Kegiatan ini merupakan rangkaian pengenalan lingkungan sekolah. Hari pertama masuk untuk kelas X diberikan materi PLS, berupa pengenalan kurikulum dan lingkungan sekolah. Selanjutnya, diadakan kegiatan pembinaan mental dan spiritual yang diadakan di Bandol, kecamatan Banyuke Hulu, Kabupaten Landak. Peserta belajar yang mengikuti kegiatan ini lebih dari 150 orang.

PMS dalam konteks Asisi setali tiga uang dengan retret. Retreat dari dua kata bahasaInggris‘re’ dan ‘treat’. Kedua kata itu bermakna masing-masing. ‘Re’ berarti mengulang atau mengembalikan, sedangkan ‘treat’ berarti perlakuan. Jadi, retreat adalah suatu kegiatan agar orang dipulihkan kembali atau memperbaharui hidup seseorang (bdk. Mrk 6:30-34;45-46). Kegiatan ini dilaksanakan tiga hari dan dua malam. Kegiatan ini diadakan dalam (indoor) dan di luar ruangan(outdoor). Sebelum mengikuti kegiatan ini, peserta didik dibekali dengan beberapa hal di antaranya, budaya disiplin, budaya ‘ngantri’ dan tolong menolong.

Beberapa materi yang menjadi titik berat menurut penulis sebagai berikut. Pertama, menjadi pribadi yang unggul dan efektif. Pribadi unggul merupakan kemampuan memimpin diri sendiri dan orang lain, agar menjadi pribadi yang lebih baik dan mudah mendapatkan kesuksesan. Peserta didik diingatkan agar berhati-hati dengan “tawaran dunia”, di antaranya bahaya merokok, meminum minuman keras, obat-obat terlarang, narkoba dan pergaulan tidak sesuai dengan norma dan adat kita.

Pribadi unggul diperlukan oleh bangsa ini, Indonesia. Pribadi unggul dengan kecakapan dan kesadaran pribadi unik menjadi dambaan keluarga. Maka sekolah harus bisa mengasah peserta didiknya agar keunggulan komparatif yang diperlukan oleh negara ini dapat terbentuk dan ditemukan. Pribadi unggul berkarakter merupakan keinginan manusia Indonesia yang tidak lama lagi akan memasuki usia kemerdekaan emas pada tahun 2045.

Kedua, diberikan materi perubahan. Model perubahan di antaranya merencanakan, mengerjakan dan mendapatkan hasil diinginkan. Jika ingin berhasil dalam memahami perubahan, perlu memulai dari hal-hal yang sederhana, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari saat ini dan jangan menunda-nunda. Pekerjaan yang ada harus diselesaikan hari ini, tidak ditunda untuk hari esok.

Inovasi dihasilkan oleh pribadi inovatif. Inovasi merupakan hasil kreatifitas anak bangsa. Inovasi perlu asah dari generasi kita, perlu dinyalakan, dibangkitkan dari peserta didik kita. Berbagai inovasi dapat berupa hasil temuan yang istimewa, kebaruan danproduk baru. Kita dapat belajar dari Thomas Alfa Edison yang ribuan kali gagal dalam mencoba dan akhirnya berhasil dan sukses menemukan bola lampu.

Thomas A. Edison dalam blog.sribu.com disebutkan bahwa,”ada pekerjaan yang harus dilakukan hari demi hari sebelum kita bahkan bisa menjadi seorang yang jenius. Genius adalah 1% inspirasi dan 99% keringat. Dengan demikian, jenius sering terjadi kepada orang berbakat yang telah melakukan semua pekerjaan rumahnya.”

 Ketiga, membangun karakter peserta didik. Memperbaiki karakter dimulai dengan mengubah pola pikir, sikap dan perilaku, kebiasaan serta karakter. Tanamlah gagasan-petiklah tindakan, maka tanamkan tindakan-petiklah kebiasaan, tanamlah kebiasaan, maka petiklah watak, tanamkanlah watak, maka petiklah nasib. Empat penentu sikap dan perilaku dalam kehidupan, yaitu kesadaran diri, imajinasi, hati nurani, dan kehendak bebas. Dalam membangun karakter perlu ditanamkan sikap bahwa anda adalah apa yang anda bayangkan dan anda pikirkan saat ini, apa yang anda pikirkan, itulah anda yang sesungguhnya. Nilai-nilai yang diperoleh dari hal ini, berupa kerja sama, menghargai pendapat orang lain, tidak egois, dan berani.

Karakter dalam “id.wikihow.com berasal dari bahasa Yunani, kharakter, artinya mengukir dengan tongkat. Berapa pun usia atau pengalaman Anda, membangun karakter adalah proses pembelajaran seumur hidup yang melibatkan pengalaman, kepemimpinan, dan dedikasi terus menerus untuk tumbuh dan dewasa. Mulailah membangun karakter saat ini juga. Membangun karakter membangkitkan kesuksesan. Karakter baik akan lebih manjur apabila diajarkan melalui contoh atau edifikasi dari orang-orang dewasa, termasuk guru kepada anak atau peserta didiknya”.

Keempat, menjadi siswa unggul dan berprestasi. Karakter siswa unggul dan berprestasi di antaranya mampu memanajemen diri, mau berubah dari sekarang, mampu membangun karakter positif, mengetahui prioritas, disiplin dalam tujuan dan fokus pada tujuan. Kegiatan outdoor, berupa kegiatan pancar drum, ekstraline, take a bottle, sarang buaya dan tower bendera.

Unggul berprestasi dengan karakter dan cara-cara elegan, bukan instan, diharapkan oleh orang tua dan negara ini, maka sebagai guru dan orang tua kita perlu menyiapkan peserta didik yang sanggup berprestasi unggul dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai ke Indonesiaan, beradat, beradab, memertahankan adat ketimuran kita, Indonesia. Bukan menjadi pribadi dengan budaya lain, tak jauh menyimpang dari budaya dan adat masyarakat kita.

Kelima, aksi para siswa memainkan peran dalam bentuk pementasan drama parody. Semua peserta belajar terlihat bahagia, karena mereka bisa menampilkan diri sendiri, bangga, dan berani. Sementara itu, sesi kesebelas diisi dengan misa penutup.

Percaya diri dan berani tampil ini, sesuai dengan misi kami sebagai guru dalam kerangka mendidik peserta belajar kami, agar nanti dapat bersaing dengan bangsa lain. Kita tidak mau dicap sebagai bangsa lembek, mental tempe oleh bangsa lain. Tetapi kita harus menjadi pribadi yang berani tampil di jajaran depan perjuangan, inovasi, dan gagasan. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis, tidak semua isi dari tulisan ini disampaikan oleh fasiltiator PLS-PMS kala itu. Mudah-mudahan berguna bagi bangsa.

Adrianus, S.Si., M.Pd – Waka Humas, SMA – Santo Fransiskus Asisi Pontianak.

Tinggalkan Balasan