Santo Paus Yohanes XXIII, Saudara Kita dalam Ordo Fransiskan Sekuler

Spritualitas Ordo Fransiskan Sekular dikenal sebagai ordo yang lahir oleh Santo Fransiskus Assisi. Santo ini dikenal sebagai santo yang tidak hanya hadir dengan cara hidup yang sederhana saja tetapi lebih dari itu adalah bagaimana setiap orang yang datang boleh merasakan sensasi yang berbeda.

Sensasi seperti apa? Mari kita dengar sedikit cerita dalam sejarah Gereja Katolik yaitu Santo Paus Yohanes XXIII, saudara kita dalam Ordo Fransiskan Sekuler yang diambil dari Sumber: (1) Marion A. Habig, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS; (2) Cyprian J. Lynch OFM [Editor], A POOR MAN’S LEGACY; dan (3) Wikipedia.

Santo Paus Yohanes XXIII, terlahir dengan nama Angelo Giuseppe Roncalli (lahir di Sotto il Monte, Italia, 25 November 1881 – meninggal di Vatikan, 3 Juni 1963 pada usia 81 tahun). Menjabat Paus sejak 28 Oktober 1958 hingga 3 Juni1963. Ia sering disebut “Paus Yohanes Yang Baik” dan juga dihargai oleh gereja Anglikan dan Protestan berkat jasanya untuk menyatukan gereja yang pecah.

Fransiskan Kalbar

Ketika diangkat sebagai Paus, Roncalli telah berumur 77 tahun dan sama sekali tidak diunggulkan selama konklaf. Dengan umurnya yang sudah lanjut, Roncalli dianggap hanya akan memerintah dalam waktu yang singkat, oleh karenanya pada masa itu sering dianggap hanya sekadar paus transisi saja.

Namun, kepemimpinan Paus Yohanes XXIII ternyata banyak mengejutkan Gereja Katolik dan dunia pada umumnya. Di antaranya adalah diadakannya  Konsili Vatikan II yang menghasilkan reformasi atas doktrin-doktrin Gereja Katolik dan ditingkatkannya rekonsiliasi antar umat beragama, suatu hal yang pada waktu itu tidak terbayangkan muncul dari kekuasaan tertinggi Tahta Suci.

Walaupun masa pemerintahannya hanya singkat saja (sekitar 5 tahun lamanya), Paus Yohanes XXIII dianggap sebagai salah satu Paus terbesar yang pernah ada dalam sejarah Gereja Katolik.

Pada 1963, sebelum wafatnya ia menerbitkan ensiklik “Pacem In Terris” atau “Damai di Dunia”

Paus Yohanes XXIII juga adalah seorang seorang yang sungguh-sungguh rendah hati dan seorang pengikut saleh dari Kristus dan ‘si Kecil Miskin dari Assisi’. Sejak berusia muda Sri Paus ini sudah menjadi seorang anggota Ordo Fransiskan Sekular (OFS). Pada  waktu memulai studinya untuk menjadi seorang imam pada usianya  yang masih muda. Pada waktu sudah menjadi Paus, beliau dicatat menyebut OFS sebagai “pasukan tentara perdamaian Ordo Sekular dari Santo Fransiskus (The Pope Speaks, 9 [1964]; trans. Austin Vaughan. Our Sunday Visitor, Inc.).

Pada tahun 1959, ketika Paus Yohanes XXIII memberikan pidato sambutan kepada para saudara dina sehubungan dengan peringatan 750 tahun disetujuinya Anggaran Dasar/Peraturan Hidup para Saudara Dina, dengan penuh sukacita Sri Paus mengenang saat  beliau mengucapkan progesi sebagai anggota OFS: “dari masa muda kami pada waktu berumur 14 tahun, pada hari pertama bulan Maret 1896 …… Kami berterima kasih kepada Tuhan untuk rahmat ini yang datang berbarengan namun membahagiakan, dengan tindakan kami untuk memulai kehidupan gerejawi [tonsura].” Kepada para saudara dina yang hadir beliau berkata: “Akulah Yusuf (Giuseppe], saudaramu!” Kata-kata ini diambil dari kata-kata Yusuf di Mesir kepada para saudaranya (lihat Kej 45:4). Dari sepuluh orang kudus yang dikanonisasikan oleh Paus Yohanes XXIII, lima orang adalah anggota keluarga besar Fransiskan, yaitu Bruder Charles de  Sezze [OFM + 1670], Bruder Fransiskus Maria dari Comporosso [OFMCap. + 1866] dan tiga orang anggota OFS yang kemudian mendirikan kongregasi mereka sendiri.

Kesucian hidup pribadi orang kudus ini, terlihat misalnya, ketika pada tahun 1907 Pater Roncalli yang masih muda menulis definisi tentang kesucian: “Menyangkal diri sendiri di segala waktu; menghindarkan pada diri sendiri dan dari pandangan luar, segalanya yang dipandang pantas untuk dipuji-puji oleh dunia; menjaga dalam hati kobaran cintakasih murni kepada Allah, jauh melampaui kelemahan perasaan-perasaan duniawi; memberikan segalanya dan mengorbankan segalanya demi kebaikan bagi orang-orang lain; dan dengan kedinaan dan kepercayaan, dalam kasih kepada Allah dan sesama, mentaati hukum yang ditetapkan oleh Yang Ilahi; dan mengikuti jalan yang memimpin jiwa-jiwa  terpilih untuk memenuhi misi hidup mereka – dan setiap orang mempunyai misi sendiri-sendiri – ini adalah kesucian, dan semua kesucian tidak lain tidak bukan adalah ini. Hidup kemiskinan dan kedinaan Injil dalam semangat Santo Fransikus terbukti nyata dalam wasiatnya yang dibuatnya pada tahun 1954, ketika beliau masih menjabat sebagai Patriarkh Venezia. Dalam wasiat itu antara lain beliau mengatakan: “Dilahirkan miskin, saya bahagia untuk mati miskin.”

Paus Yohanes XXIII meninggal dunia di usia 81 tahun lebih sedikit dengan nama Maria di bibirnya, pada tanggal 3 Juni 1963. Sebagai seorang anggota OFS, proses memperjuangkan pernyataan kudusnya berada di tangan Postulator Jendral Fransiskan.

Paus Yohanes XXIII dibeatifikasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 3 September 2000 dan diangkat menjadi Santo bersama Paus Yohanes Paulus II oleh Paus Fransiskus pada tanggal 27 April 2014. Gereja tidak menetapkan pesta orang Kudus ini tanggal 3 Juni (hari kematiannya) sebagaimana lazimnya, melainkan tanggal 11 Oktober, yaitu tanggal pembukaan Konsili Vatikan II. Evangelical Church di America memperingatinya pada tanggal 3 Juni, dan Gereja Anglikan Kanada serta Episcopal Church – USA memperingatinya pada tanggal 4 Juni. Santo Yohanes XXIII  memang bukan sekadar milik Gereja Katolik Roma, tetapi milik seluruh umat Kristiani, dan milik kita semua yang selalu berusaha untuk menjadi pembawa damai.

Bagaimana? Menarik bukan? Memang kadang rencana Tuhan tidak satupun manusia yang bisa mengetahui karya keselamatan Tuhan. Bagaimana Tuhan memakai manusia, sampai pada bagaimana Tuhan menggunakan tangan manusia untuk karya kemuliaan Tuhan yang luhur.

By. Semz

Tinggalkan Balasan