Mon. Nov 18th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Enam Suster SFIC Pontianak Merayakan Hidup Membiara 60,50 dan 25 Tahun

“Sumber hidup kita berasal dari Tuhan, tergantung dan melekat erat dalam persatuan yang mesra hanya dengan Dia. Ibaratkan ranting tergantung pada pokok. Jika ranting lepas dari pokoknya maka ia akan mati. Demikian halnya dengan panggilan kita sebagai biarawan/biarawati,”ungkap Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus Pr ketika memimpin perayaan Ekaristi hidup membiara enam Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (SFIC).

Para jubilaris bersama Uskup, para Imam, Pemimpin Umum SFIC dan Dewan Pimpinan Provinsi Indonesia.

Prelatus asal Lintang Kapuas-Sanggau ini memberi pesan kepada seluruh biarawan/biarawati dan imam yang hadir secara khusus para jubilaris bahwa dalam menjalani panggilan khusus ini kita harus konsekuen dengan sumber atau pokok dari mana kita berasal.“Kita ini adalah ranting-ranting yang hanya bisa hidup dan berkembang jika tetap konsekuen melekat pada pokok utama kita yakni Yesus. Setiap religius dalam karya, tindak tanduk, dan tutur kata hendaknya bertindak konsekuen sesuai dengan darah yang mengalir dalam dirinya dari pokok utama, agar ia tetap hidup,”ungkap Mgr. Agus.Hadir pula di altar turut dalam konselebrasi, Uskup Agung Emeritus Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap, Pastor Gabriel Marsel OFMCap, Pastor Leo OFMCap, Pastor Julius Lingga OFMCap, Pastor Josep Jawa OFMCap, Pastor Robert OFMCap dan Pastor Isac MSA.

Perayaan syukur atas kesetiaan yang telah dirajut dalam komitmen pribadi untuk membaktikan seluruh hidup demi Kerajaan Allah seumur hidup ini berlangsung meriah pada 27 Oktober 2018 di aula Persekolahan Suster Pontianak. Berikut nama para  jubilaris yang berbahagia;

Sr. Accursia Widyarti SFIC merayakan 60th hidup membiara

Sr. Emiliana Kimlan SFIC merayakan 50th hidup membiara,

Sr. Albina Indok SFIC merayakan 25th hidup membiara

Sr. Yasinta Rita SFIC merayakan 25th hidup membiara

Sr. Sesilia Yiyi SFIC merayakan 25th hidup membiara

Sr. Anusiata Sapina SFIC merayakan 25th hidup membiara

Para suster jubilaris dari kiri-kanan: Sr. Yasinta SFIC, Sr. Anunsiata SFIC, Sr. Albina SFIC, Sr. Sesilia SFIC, Sr. Emiliana SFIC dan Sr. Accursia SFIC (duduk berkursi roda).

Usia boleh beranjak tua, namun semangat jangan lapuk oleh perjalanan usia. Demikian ungkapan yang kiranya menggambarkan kisah panggilan enam suster jubilaris SFIC ini. Inilah kesaksian hidup yang membuat bangga bahwa di zaman modern seperti ini masih ada sekelompok kaum berjubah yang dengan gigih berjuang memeluk dan menghayati hidup membiara sebagai panggilan yang membahagiakan. Kendati harus diakui bahwa merekapun mengahadapi kesukaran dan tantangan.

Sekelumit kisah menarik para suster dalam kiprahnya mengarungi medan pastoral dan karya  misi selama 60-50 dan 25 tahun diungkapkan oleh Suster Pimpinan Umum SFIC Sr. Adriana Toni SFIC. Suster yang kini tinggal di Generalat SFIC-Tagaytay City Philipina ini hadir memberi semangat kepada para suster SFIC di Provinsi Indonesia, secara khusus bagi para  jubilaris.

Suster Pimpinan Umum SFIC Sr. Adriana Toni SFIC.

Dalam sambutannya Suster General mengatakan bahwa dia mengenal Sr.Accursia Widyarti SFIC yang sepanjang perjalanan panggilannya aral melintang di pembinaan Postulan dan Novis dan di Dewan Pimpinan Umum dalam tiga periode selama 12 tahun. “Saya mengenal Sr. Accursia karena saya adalah salah satu Novis yang pernah dibinanya di Novisiat,”ungkap Biarawati asal Paroki Balai Sebut Keuskupan Sanggau ini. Meskipun fisik suster sekarang sudah lemah di usia yang ke-82 ini, namun beliau masih menghasilkan buah-buah bagi Kongrgasi, berperan aktif dalam formator.“Sr. Accursia saat ini masih memberi pelajaran kepada para Postulan dan Novis,”ungkap Sr. Adriana.

Sr Emilia Kimlan SFIC yang merayakan 50 tahun hidup membiaranya sepanjang perjalanan panggilannya bertugas di karya pendidikan sebagai guru dan kepala sekolah. Dan sekarang suster sudah pensiun namun masih menjadi penanggungjawab kamar cuci. Keempat suster yang merayakan 25 tahun ini masih sangat  energik, penuh semangat.

Sr. Albina sekarang ini bertugas sebagai Pemimpin Komunitas dan Pembina Asrama Paroki Pusat Damai-Keuskupan Sanggau. Sr. Yasinta saat ini bertugas di Toraja-Sulawesi sebagai guru. Sr. Sesilia bertugas di Paroki Fransiskus Assisi, Tebet Jakarta. Dan Sr. Anunsiata sebagai perawat di Rumah Sakit St. Vincentius Singkawang.

Prosesi penyalaan lilin dan pembaharuan janji kaul-kaul kebiaraan.

Mewakili para pestawati, Sr. Accursia mengisahkan bahwa ketika masih menjadi Pemimpin Umum di Veghel, ia mengungkapkan keprihatinannya bahwa panggilan di sana sudah tidak ada lagi. Bahkan generasi sekarang tidak mengenal lagi siapa itu suster/biarawati. “Ketika di Belanda saya pernah bertemu dengan dua anak kecil. Mereka heran melihat saya kemudian nyeletuk, “kamu ini apa? Kami harus menyebut kamu apa?,”ungkapnya sembari berharap bahwa pengalaman seperti itu jangan sampai terjadi di sini. “Saya mengundang remaja putri yang hadir di sini, mari menjawab panggilan Tuhan. Tidak menutup kemungkinan juga bagi Anda yang sudah bekerja,”ungkapnya seraya berkisah bahwa ia juga sudah sebagai guru ketika memutuskan untuk masuk biara.

Sr. Irene selaku Provinsial juga dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan semua unit karya asuhan para suster SFIC yang turut  terlibat menyukseskan kegiatan ini. Suster Irene berharap bahwa dengan peristiwa penuh syukur hidup membiara para jubilaris menjadi teladan bagi para suster muda termasuk dirinya untuk tetap memelihara komitmen untuk setia kepada pilihan yang dilakoni.

Setelah berkat penutup acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan hiburan yang dibawakan oleh para suster Postulan dan Novis, suster Yunior dan Medior. Juga Mgr. Agustinus Agus Pr turut mempersembahkan suara emasnya dengan tembang-tembang andalannya.

By. Sr. Maria Seba SFIC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak