Jl. Arif Rahman Hakim No.92 Pontianak email@kap.or.id +62 561 732382

Perayaan Cap Go Meh Bawa Pesan Kebhinekaan untuk Persatuan dan Kesatuan Indonesia

Perayaan Cap Go Meh di seluruh Indonesia tak sekedar  untuk mengakhiri Perayaan Imlek, melainkan menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia bersatu dalam keberagaman. Setidaknya inilah yang terpotret oleh Redaksi  Komsos KAP yang juga turut menyaksikan Perayaan Cap Go Meh yang berlangsung di Jalan Gajah Mada Pontianak, Selasa (19/2/2019).

Perayaan Cap Go Meh tak hanya sekedar atraksi seni budaya, melainkan simbol rakyat yang saling menghargai dalam perbedaan

Perayaan Cap Go Meh identik dengan pembangunan budaya yang kental, bukan hanya etnis Tionghoa saja yang merayakannya. Masyarakat dari beragam daerah di Indonesia pun turut berpartisipasi dan memeriahkan  festival Cap Go Meh.

Hampir sama seperti imlek, kegiatan bersedekah, bersiturahmi bersama keluarga dan bersembahyang di rumah ibadah juga dilakukan saat perayaan Cap Go Meh.

Bedanya Cap Go Meh lebih banyak diwarnai dengan beragam hiburan dan pertunjukan, seperti pertunjukan Barongsai, Liong dan pertunjukan budaya lainnya.

Selain parade budaya, Perayaan Cap Go Meh juga identik dengan makanan khas, beberapa di antaranya adalah kue keranjang dan lontong Cap Go Meh.

Kue Keranjang bermakna syukur, keberkahan dan  keselamatan.

Sedangkan lontong Cap Go Meh melambangkan asimilasi dua budaya. Bentuk memanjang lontong merupakan simbol umur panjang dan keutuhan. Telur pindang yang dimasak melambangkan keberuntungan dan kaldu santan kunyit yang mewakili emas adalah simbol kekayaan.

Mengutip pernyataan Budayawan Tionghoa, Ardian Cangianto bahwa tujuan Cap Go Meh itu adalah melepaskan sekat-sekat sosial. Sekat  itu dilepas supaya bisa bergabung, membaur. Apalagi di tahun politik ini, masyarakat kita masih terkotak-kotak, akibat pilihan yang berbeda.

“Kita dianggap mereka semua yang terkotak-kotak itu datang merayakan Cap Go Meh. Saat Anda mau merayakan, maka  harus melepaskan atribut diri Anda  itu siapa,”ujarnya.

Begitu juga waktu di Pemilu nanti, lanjut Ardian Cangianto, saat masuk dalam bilik suara, maka keluar dari bilik  suara, sekat-sekat  itu harusnya sudah dilepas, karena kita semua adalah Indonesia.

“Beda pilihan tak boleh merusak persatuan dan kesatuan bangsa,” tandas Ardian Cangianto.

PM

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: