Sat. Nov 16th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Berani untuk punya harapan, Ujar Pastor Andreas Kurniawan,OP Misa Jumat Agung di Katedral Pontianak

Proses Penciuman Salib Tuhan Yesus Kristus

Tepat jam 15.00 WIb di Gereja Katolik Santo Yoseph Katedral Keuskupan Agung Pontianak telah berlangsung acara misa Jumat Agung dengan begitu meriah.  Umat yang hadir dalam misa Jumat Agung inipun tidak sedikit,  sekurang-kurangnya ada 4000an umat dari lantai basemen sampai lantai atas semua full terisi.

Dalam perayaan Misa Jumat Agung ini,  pagi harinya diawali dengan Tablo kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus oleh OMK Paroki Santo Yoseph Katedral Keuskupan Agung Pontianak yang sukses dan meriah.

Kita ketahui bahwa hari Jumat Agung adalah sebelum Minggu Paskah, ini adalah hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafat-Nya di Golgota untuk menebus dosa manusia.

Dalam perayaan Misa Hari Jumat Agung ini,  dipimpin oleh RD. Alexius Alex sebagai Pastor Paroki Katedral dan didampingi oleh Pastor Andreas Kurniawan, OP yang sekaligus memberikan Homili pada Jumat itu, (19 April 2019).

Suasana Jumat Agung di Gereja Santo Yosef Katedral Pontianak

Sejenak marilah kita menyediakan sedikit waktu untuk mendengarkan homili yang dibawakan oleh Pastor Andreas Kurniawan, OP saat misa Jumat Agung di Katedral tanggal 19 April 2019. Begini bunyinya; “Tentunya membuat kita putus asa, membuat kita juga serba salah apalagi yang harus kita lakukan. Hari ini kita bersama sama dengan gereja juga merayakan wafat mengenang sengsara Tuhan. Tentunya penderitaan yang dilakukan yang dijalankan oleh Tuhan kita Yesus Kristus menyedihkan dan kita melihat sepertinya tanpa harapan,”katanya.

Pastor Andreas Kurniawan, OP tengah memberikan Renungan/Homili

“Banyak sekali kekecewaan yang dialami oleh Tuhan Yesus tapi bagaimana Tuhan Yesus tetap terus sabar mengajarkan kepada kita satu demi satu apa yang harus kita ikuti, apa yang harus kita teladani untuk bisa ikut Dia sampai meraih kehidupan kekal. Bagaimana kemarin peristiwa kamis putih kita juga diajar Tuhan Yesus meninggalkan kenangan yang luar biasa, kasihnya tanpa batas mau membasuh kaki murid-muridnya,”ujarnya.

“Padahal Dia seorang guru, atasan, bagaimana dengan rendah hati mau menjalani hidup, meninggalkan kenangan lagi kepada para murid, kenangan akan daku, ingat meskipun banyak tantangan, banyak perjuangan mengulang kembali perjamuan terakhir sakramen ekaristi yang dia tinggalkan. Tapi lagi lagi, jatuh lagi dan jatuh lagi. Para murid kita dengar hari ini bagaimana kalau kita bayangkan sebagai Tuhan Yesus,”ulas Pastor Andre.

“Pertama-tama Yudas Iskariot yang menjual , kecewa pasti, pedih pasti, tiga kali petrus juga menyangkal yesus sebagai Gurunya. Tuhan Yesus juga sedih. Murid-murid yang sudah mengalami diajarkan baik-baik, melihat mukjizat demi mukjizat. Kemuliaan Tuhan dan diajarkan lagi yang terakhir perjamuan malam terakhir supaya tetap terus ada kasih, supaya mengenang akan Tuhan, tetapi semua kabur. Tuhan Yesus harus menjalani semuanya dengan sendiri untuk sampai pada puncaknya di Golgota, disalibkan dan hari ini kita kenangkan. Apalagi yang harus kita lakukan ? Pelajaran demi pelajaran sudah juga kita jalani, ada jika kita mau dibaptis selalu saya ingatkan, apakah sudah selesai? Belum, masih panjang lagi. Para murid jalani jatuh dan bangun. Kita pun pasti jatuh dan bangun untuk ikut Tuhan Yesus. Penderitaan lahir dan batin yang dialami Kristus, itu menunjukkan betapa berat, betapa jahatnya, betapa kejamnya dosa yang dilakukan oleh kita manusia,” katanya.

RD. Alexius Alex Pastor Paroki Santo Yoseph Katedral Pontianak

“Kita tetap terus berjalan dan tetap harus terus bersabar, bertahan untuk menebus dosa-dosa kita. Apa yang harus kita lakukan setelah ini? Tuhan Yesus tidak pernah tinggal diam, Ia ada untuk kita lagi. Kemarin dia memberikan pelajaran, hari ini dia juga tidak berhenti memberikan pengajaran kepada kita. Kalau kita sedih, kalau kita berduka, kalau kita kecewa, kalau kita dikhianati, ada yang meninggal juga sedih, seakan-akan ditinggalkan. Hari ini kita mengenangkan sengsara Tuhan, wafat Tuhan tapi tidak hanya berhenti sampai disini, dengan iman kita percaya akan kebangkitan Tuhan Yesus, caranya bagaimana? Setiap orang pasti akan menjalankan dari lahir sampai akhir dan pasti akan juga mengalami bagaimana orang yang dikasihi, orang yang dicintai juga akan berakhir. Mengingatkan tentunya orang-orang yang kita kasihi yang sudah dipanggil,”tambahnya.

Dalam dalam homilinya, Pastor Andre teringat dengan pengalaman konkret yang ia alami saat seminari dulu; “Ketika seminari selesai untuk liburan pulang ke rumah, lalu sebelum pulang ke rumah tentunya karna Ibu saya sakit. Ibu saya sudah mencari-cari saya terus di rumah sakit. Setiap orang yang jalan laki-laki di depan dia, di pintu dekat kamar sedang terbaring, pasti dia panggil nama saya,” ceritanya.

“Itu diingatkan suster yang merawat dan juga saudara-saudara saya yang selalu mengingatkan beliau saat panggil nama saya. Ya akhirnya saya dari seminari pulang ke rumah. Sampai di rumah kemudian saya dibawa ke rumah sakit, ya berjumpa dengan Ibu yang sudah tidak sadarkan diri. Singkatnya satu malam bersama-sama kita berdoa dan malam itu ayah saya bersama dua adik saya untuk berdoa bersama,”ulasnya.

Yang pasti kami berdoa Rosario tak pernah berhenti, terus malam itu sambil mengantuk ya tetap kami sama-sama untuk terus berdoa, karena ICU kamarnya penuh jadi kita bergantian untuk memberi bantuan pernapasan yang alatnya dipakai secara manual. Ini yang tidak pernah bisa saya lupakan,” katanya.

“Tetap terus bersama-sama dengan ayah saya untuk berdoa kepada Bunda Maria. Inilah yang Tuhan Yesus juga ajarkan kepada kita, kata-kata terakhir sebelum Dia mengatakan “aku haus, selesailah sudah,” imbuhnya.

Suasana Umat yang hadir dalam Misa Jumat Agung di Katedral Pontianak

“Berikutlah pesan warisan yang terakhir lagi untuk orang-orang yang dicintai, muridnya yang dikasihi. Inilah Ibumu, Ibu inilah anakmu. Sahabat-sahabat yang terkasih, tidak perlu kita khawatir, tidak perlu kita bersedih, tidak perlu kita putus asa ketika kita menjalani penderitaan, kedukaan, pengkhianatan, kegagalan. Tuhan Yesus berikan kita lagi seorang Ibu supaya kita tetap terus bersama dengan Bunda Maria Ibunya, untuk bisa melihat harapan, untuk bisa kita terima kekuatan, untuk bisa kita lewati satu demi satu perjalanan hidup kita yang menyedihkan, yang mengecewakan, yang membuat kita sulit untuk kita mengerti, janganlah kita berputus asa, tetap terus kita berani, kita punya Bunda Maria inilah Ibumu,”imbuhnya.

“Jangan kita lupakan hingga berakhir nanti, kita juga pegang doa, pengharapan, doa-doa kita kepada Bunda Maria yang kita sudah pernah ucapkan lewat butir-bulir Rosario. Kita tetap terus berani berharap,”pesan Pastor Andre.

Pastor Andreas Kurniawan,OP dan RD. Alexius Alex

“Sahabat-sahabatku yang terkasih, mengenangkan wafat Tuhan kita Yesus Kristus, tidak hanya berhenti sampai disini tetapi kita tetap terus berani berdoa dan berdoa, berani berharap, itulah sebabnya dalam tahap bagian perayaan kenangan sengsara Tuhan, kita diajak untuk bisa mendengarkan sabda Tuhan. Liturgi Sabda yang tadi kita dengar, juga belajar untuk mendengar Tuhan mau bicara apa lewat mengenangkan sengsara Tuhan. Kisah sengsara Tuhan dibacakan itu kita juga mau diajak untuk berani punya harapan dengan iman memasuki tahap yang kedua penghormatan salib, penyembahan salib, dan dikuatkan dengan komuni kudus, dan berani untuk tetap terus sampai puncak Golgota, tidak hanya sampai Golgota, sampai nanti kehidupan yang kekal,” tambahnya.

Usai homili, kemudian dilanjutkan dengan penciuman Salib dan pembagian komuni dari lantai bawah sampai dengan lantai atas. Dalam perayaan misa hari Jumat Agung, semua umat diajak untuk hening dan misa juga tidak ditutup dengan lagu, sebagai penghormatan pada kematian Tuhan Yesus Kristus sang penebus dosa dunia.-Semz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak