Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Mgr. Pius Riana Prapdi : “Cara Mewartakan Kebangkitan Kristus adalah Menjadi Pribadi Yang Mudah Mengampuni “

Hal itu dikatakan Mgr. Pius Riana Prapdi (Uskup Keuskupan Ketapang) dalam renungannya pada Perayaan Paskah Inkulturasi di Gereja Katolik Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila Pontianak, Minggu (28/4/2019).

Mgr. Pius mengatakan, Yesus menghendaki kita menjadi pribadi yang tidak menyimpan kejelekan orang lain. Pribadi yang tidak membicarakan kejelekan orang lain.

Prosesi penyambutan Uskup, para imam, dan petugas liturgi lainnya  dengan tarian adat Dayak oleh Sanggar Pamaraya

Lihatlah contoh, lanjut Mgr. Pius. Yesus tidak menyalahkan atau marah ketika murid-murid yang meninggalkan diri-Nya, lari tunggang langgang saat Dirinya memanggul salib dengan penuh siksaan dan hinaan, mulai dari Yerusalem sampai bukit Golgota.

Dikatakan oleh Mgr. Pius, Yesus juga tidak marah ketika Thomas menyatakan ketidakpercayaannya akan kebangkitan-Nya. Malahan, kata pertama yang diucapkan Yesus ketika berjumpa dengan murid-murid-Nya adalah: “Damai sejahtera bagi kamu”

Tarian Tionghoa oleh siswa SD juga ikut dalam prosesi penyambutan

Kata Mgr. Pius, Yesus tidak mengingat-ingat kesalahan dan kejelekan para murid-Nya. Yang berlalu, sudahlah biarlah berlalu, tidak usah dingat-ingat lagi.

“Itulah kehebatan hati Yesus yang tidak dendam tetapi penuh kasih pengampunan,” tandas Mgr. Pius.

Oleh karena itu, lanjutnya, para rasul diutus mewartakan berita kebangkitan Kristus dengan cara menjadi pribadi yang pengampun. Kita pun saat ini sebagai pengikut Kristus diminta untuk mewartakan berita kebangkitan-Nya dengan cara yang sama.

Dalam keberagaman budaya dipersatukan dalam perayaan iman

Misalnya, ujar Mgr. Pius memberi contoh, isteri gampang memaafkan suaminya, suami gampang pula memaafkan isterinya. Orang tua mudah mengampuni anak-anaknya, anak-anak juga mudah mengampuni orang tuanya. Uskup mudah mengampuni imam-imamnya, dan juga imam-imam mudah mengampuni Uskupnya. Imam mudah mengampuni umatnya, dan umat pun mudah mengampuni imamnya.

Koor gabungan dari berbagai paroki di Pontianak menyemarakan Perayaan Paskah Inkulturasi dalam Budaya Jawa

Menurut Mgr. Pius, Yesus tidak saja mengajarkan bagaimana kita harus saling mengampuni, tetapi Dia sendiri mempraktekkan apa yang Dia ajarkan.

“Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Pungkas Mgr. Pius mengutip perikop Injil Yohanes.

Silahkan sekarang menghitung, ucap Mgr. Pius kepada segenap umat yang hadir. Lebih banyak membicarakan kejelekan orang atau lebih banyak memberi ampun dan melupakan kejelekan orang lain.

Musik Karawitan Wijaya Laras yang mengiringi Perayaan Paskah Inkulturasi

Mgr. Pius menegaskan, tidak perlu menghitung harus berapa banyak kita memberi ampun kepada orang lain, karena kita semua sudah diampuni oleh Tuhan, bahkan tidak terhitung. Bukankah dalam Doa Bapa Kami, kita selalu berjanji kepada Tuhan : Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.

umat yang hadir dalam Perayaan Paskah Inkulturasi

Ini kan janji? Tanya Mgr. Pius. Doa ini mau mengatakan kepada Tuhan : kalau saya tidak mengampuni saudara-saudara saya yang bersalah kepada saya, jangan ampuni saya, Tuhan. Itu kan artinya? Tanya Mgr. Pius lagi kepada segenap umat.

Kita berjanji mengampuni orang lain , seperti Tuhan sudah mengampuni kita. Itulah Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus, dan kita doakan setiap hari. Sekali lagi, berapa kali kita sudah mengampuni sesama kita setiap hari?

Kehadiran kita sebagai pengikut Kristus, kata Mgr. Pius, hendaknya menampakkan belas kasih Allah baik melalui keluarga, paroki, komunitas, kelompok asosiasi dan gerakan lainnya.

 persembahan yang dibawakan oleh umat dengan balutan busana dari berbagai suku

Menurut Mgr. Pius, hidup penuh belas kasih Allah adalah hidup tanpa menyimpan dosa orang lain. Tidak menyimpan kejelekan orang lain, apalagi membicarakannya dengan orang lain.

“Hidup penuh belas kasih Allah adalah hidup tanpa menyimpan iri hati dan dendam. Hidup penuh belas kasih adalah tutur kata, perbuatan dan sikap yang menunjukkan memberi perasaan damai, bukan kata-kata yang mengancam, bukan kata-kata yang membuat resah dan gelisah orang lain,” tandasnya.

Dalam misa yang berbalut budaya Jawa ini, Mgr. Pius Riana Prapdi didampingi oleh Pastor John Rustam, Pr (Pastor Paroki MRPD), Pastor Pius Barces, CP (Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak), Pastor Yustinus Andijatmiko, Pr (Pastor rekan Paroki Menjalin), Pastor Rusellapides, OAR (Pastor yang dipersiapkan untuk Paroki Ledo), dan Pastor Ellentarius Bon, SVD (Pastor rekan Paroki Bunda Maria Jeruju Pontianak).

Pastor John Rustam, Pr saat membagikan komuni 

Saat memasuki halaman gereja, Uskup, para imam, dan petugas liturgi lainnya diarak dengan tarian adat Dayak persembahan dari Sanggar Pamaraya dan tarian adat Tionghoa. Dan ketika masuk di dalam gereja, rombongan disambut dengan lagu pembukaan oleh koor gabungan dari berbagai paroki di kota Pontianak dengan iringan musik nuansa Jawa, karawitan Wijaya Laras pimpinan Kanjeng Raden Tumenggung Erwan Suparlan Adiningrat S.Sn.,M.Pd yang sudah kerapkali mengiringi Perayaan Paskah Inkulturasi budaya Jawa di Pontianak.

Perayaan Paskah Inkulturasi budaya Jawa ini tidak hanya dihadiri oleh umat yang berasal dari suku Jawa saja. Banyak juga umat dari suku-suku lain yang hadir, seperti : Dayak, Batak, Flores, Tionghoa, dll. Semuanya dipersatukan dalam perayaan iman.

Usai Misa, seluruh umat yang hadir diajak untuk santap siang bersama. Makanan yang disajikan pun juga khas Jawa. Tampak umat sangat menikmati makanan yang disajikan sembari diiringi oleh musik dari karawitan Wijaya Laras.

Sugeng Paskah – Selamat Paskah!

PM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *