Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Kebangkitan Kristus Membuktikan Pengampunan Allah dari Dosa Manusia

RD. Alexius Alex Pastor Paroki Gereja Santo Yoseph Katedral Pontianak

Minggu pada tanggal 28 April 2019 merupakan hari minggu yang dalam gereja Katolik ditandai dengan hari pengampunan atau dalam bahasa lain disebut dengan dengan perayaan Pengampunan Ilahi. Karena kematian Tuhan Yesus membuktikan bahwa Ia mati tidak dengan sia-sia, untuk itu Tuhan Yesus kembali bangkit sebagai bukti kehariman Allah atas manusia.

Sore pada minggu itu, tepatnya pada misa ke 4 pada pukul 16.30-18.00 yang dipimpin oleh RD. Alexius Alex yang dihadiri kurang lebih sebanyak 2000an umat. Sebab jika ditinjau dari isi Gedung Gereja Katedral dari lantai bawah sampai dengan lantai yang atas sudah terisi dengan full alias penuh.

Artikel ini merupakan isi dari apa yang RD. Alexius Alex kotbahkan pada misa minggu tanggal 28 April 2019. Mari sejenak kita mendengarkan isi renungan yang diulas oleh Pastor pada perayaan minggu Kerahiman Ilahi minggu itu.

“Saudara saudari terkasih, salah satu ciri jemaat perdana, jemaat awal yakni bentuk berupa rasul diajak, dibimbing, dipelihara dalam persekutuan hidup dalam persekutuan membangun kebersamaan. Persekutuan yang kemudian diterjemahkan dalam kehidupan Jemaat dengan tujuan hidup dan sasaran yang diinginkan sesuai dengan ajaran kasih yang sudah ditinggalkan.

Dalam perayaan Ekaristi, komuni itu juga mau mengingatkan tentang persekutuan dalam peribadatan, menjadi hal yang penting bagi segenap umat, karena dalam persekutuan terdapat sikap-sikap solidaritas, saling melayani, saling memperhatikan, membangun kesetiaan, termasuk juga menerima pengajaran, yang kuat membantu yang lemah, yang lemah dikuatkan oleh mereka yang kuat dalam kehidupan bersama dalam persekutuan.

Setiap orang diperhatikan dan memperoleh bagian di dalamnya. Apa yang tadi kita dengar dalam bacaan yang pertama, kesaksiaan jemaat perdana, cara hidup mereka telah mengagungkan banyak orang, meskipun jumlahnya sedikit tetapi dari kehidupannya membuat orang terkagum-kagum. Banyak pemerintas seorang Kristen dari dulu hingga sekarang demikian dikagumi karena cara hidupnya berbeda karena mereka meyakini suatu ajaran yang benar, mereka tidak mau ikut-ikutan kebiasaan orang banyak atau yang lain. Mereka tampil beda karena sungguh-sungguh mau menghayati iman mereka.

Kalau kita dengar berita di Sri Langka, orang Kristen umat Katolik khususnya, meskipun jumlah mereka itu 10% dari seluruh penduduk yang ada, tetapi keberadaan mereka dikagumi. Mereka menjadi kelompok pemersatu dari sekian banyak kelompok suku yang ada. Mereka tidak membeda-bedakan status sosial. Mereka tidak membeda-bedakan agama, suku, semua ada. Mereka dihormati karena menjadi pemersatu di negara itu, meskipun kita dengar beberapa waktu yang lalu mereka menjadi korban bom bunuh diri pada hari raya dimana umat Kristiani merayakan imannya dengan sungguh-sungguh agung.

Suasana dilihat dari sudut atas yang diambil oleh Tim Komsos Keuskupan Agung Pontianak

Semoga mereka mati dan bangkit bersama dengan Kristus. Persekutuan itu harus menjadi kekuatan orang Kristen. Kalau sudah tidak menghendaki persekutuan, siap-siaplah untuk kemudian tercerai-berai, siap pula untuk tidak mampu menghadapi berbagai kesulitan, berbagai tantangan. Tetapi kalau kita membawa persekutuan dalam kebersamaan, segala bentuk tantangan, kesulitan, godaan itu akan bisa diatasi. Bangsa Indonesia sedang diuji kesatuannya, kita tahu bahwa dalam keragaman bangsa kita banyak orang memanfaatkan untuk kemudian memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Orang Kristen, Gereja, kita berada diposisi mendukung kesatuan, 100% Indonesia, 100% Katolik. Yang kini tampak juga dan terwujud dalam cara berpikir kita, termasuk cara berpikir dalam politis bahwa kita membangun kebersamaan, bersama dengan yang lain, kita terlibat dalam kehidupan bersama untuk kesejahteraan bersama. Ketika kita menggunakan hak pilih kita, kita memilih orang yang benar, orang yang peduli, orang berpikir untuk kebaikan kesejahteraan orang banyak, orang yang berperilaku baik dan seterusnya, itu adalah pilihan kita karena kita menghendaki supaya dalam kebersamaan semua orang mengalami kebahagiaan kesejahteraan tanpa pandang bulu.

Saudara saudariku yang terkasih, dalam bacaan yang kedua, kita mendengar tentang kesaksian Yohanes dalam penglihatan. ia melihat bahwa anak manusia yang sebelumnya menderita kemudian wafat, bangkit ia dimuliakan. Ini merupakan penglihatan bagaimana putra Allah yang menjadi pedoman bagi para pengikut-Nya. Ia membangun rasa keyakinan para pengikut-Nya, dilihat sudah mengalami pengkhianatan, Ia adalah Kristus sendiri menjadi dasar iman kepercayaan kita. Wafat, namun kemudian bangkit, dimuliakan, itulah Mesias.

Dia datang menyelamatkan, Dia yang datang untuk memperkenalkan tentang Allah yang penuh belas kasih, Allah yang maha rahim, Allah yang peduli akan nasib manusia yang berdosa, Allah yang tetap membangun persekutuan bagi manusia, ciptaan-Nya. Meskipun manusia tidak setia, Tuhan tetap setia dan dengan demikian persekutuan tetap terjalin. Saudara saudariku terkasih, kebangkitan Kristus semakin membuka dengan jelas maksud Allah tentang kehidupan manusia.

Manusia yang tidak berdaya memperoleh kekuatannya karena percaya akan Kristus yang bangkit. Apa yang kita dengar dalam bacaan Injil, dalam persekutuan para murid, mereka yang berkumpul di situ Yesus hadir. Damai sejahtera bagimu, itu perkataan yang berkali-kali diucapkan Yesus kepada para murid, supaya damai sungguh-sunggh nyata, sejahtera itu sungguh-sungguh nyata, itu diucapkan sebagai sabda yang berbahagia bagi para pengikut Kristus. Dan yesus menebus mereka dengan roh kudus supaya dengan kekuatan roh kudus para murid mampu melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan, membawa damai. kita diutus utk membawa damai, kita diutus utk membawa kabar sukacita, kita diutus utk memberi pengharapan, kita diutus utk menyampaikan berita2 benar, itulah tugas kita. Tugas ini kita peroleh, kita dapatkan setelah kita menerima sakramen pembaptisan.

Dalam sakramen pembaptisan kita terangi roh kudus, roh kudus itulah yang memampukan kita utk memberi kesaksian, jangan takut karena Tuhan menyertai kita. roh kudus menaungi kita maka meskipun kita disakiti, meskipun kita dianiaya, meskipun kita dibenci, meskipun gereja kita dibakar, dibom, meskipun banyak diantara kita yang menderita kemudian dibunuh. roh kudus bekerja, roh kudus tidak pergi meninggalkan kita, roh kudus tidak tertidur ketika kita berjuang, roh kudus ada hadir di dalam hidup kita karena pembaptisan yang telah kita terima dan membuat kita ambil bagian dalam persekutuan.

Maka saudara saudari yang terkasih kehadiran Allah yang kita rayakan pada hari ini menjadi bagian dalam pelayanan iman kita , terkait dgn pengampunan sejatinya ketika Tuhan mengampuni kita maka kita juga mau mengampuni orang yg bersalah kepada kita. ketika tuhan memberikan kepada kita kabar2 sukacita hendaknya kita juga melakukan hal yang sama. apa yang telah dilakukan oleh yesus berasal dari bapaknya kemudian disampaikan kepada kita utk dilakukan, lakukanlah itu. maka dengan demikian dari dulu sampai sekarang , alpa dan omega, tetap sama siapa yang mewartakannya, kita, kita sekalian.

Demikianlah bunyi homili dari RD. Alexius Alex pada misa minggu Kerahiman Ilahi tertanggal 28 April 2019 di Paroki Gereja Santo Yoseph Katedral Pontianak. Semoga dengan renungan yang telah diulas tadi, iman kita semakin menjadi kuat dan semakin percaya bahwa pengampunan selalu membawa kebenaran.

-S_Komsos KAP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *