Mon. Oct 14th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Adat ‘Ngampar Bide’ Pekan Gawai Dayak Ke-34

Suasana Upacara Adat pembukaan Pekan Gawai Dayak XXXIV di Pontianak

Minggu, 19/05/19 merupakan Acara Adat Ngampar Bide Pekan Gawai Dayak ke-34 bertempat di Rumah Radakng Jl. Sutan Syahrir Pontianak. Acara ini dihadiri oleh seluruh masyarakat Dayak Kalimantan Barat khususnya masyarakat Dayak di Kota Pontianak. Acara Adat ini di awali dengan Nyangahant (doa ungkapan syukur orang Dayak kepada Jubata/Tuhan.)

Dalam sambutan pembukaan Bapak Joseph Odilo Undun mengatakan; “Bahwa di pekan Gawai Dayak yang ke-34 ini masyarakat diharapkan mampu untuk memperkenalkan budaya Dayak hingga ke Mancanegara. Masyarakat juga duharapkan menjaga dan melestarikan budaya Dayak di Kalimantan Barat, jangan sampai hilang,”katanya.

“Karena banyak yang ingin memperkenalkan Budaya Dayak, tapi bukan orang Dayak itu sendiri. Hal ini secara tidak langsung menghilangkanciri khas orang Dayak itu sendiri. Jadi sebagai orang Dayak kita harus mampu dan berani mengangkat Adat dan Budaya Kita. Jangan malu mengaku sebagai orang Dayak. Karna diluarsana banyak yang bukan orang Dayak tapi mengaku Dayak,” Pungkasnya.

Tak lepas dari Adat Ngampar Bide, Bapak Sekundus selaku Ketua Pekan Gawai Dayak ke-34 juga menyampaikan harapan dalam kata sambutannya; “Perlu saya ingatkan dan saya tekankan kepada kita semua, bahwa di Kalimantan Barat ini tidak hanya orang Dayak saja yang tinggal disini. Tetapi juga Suku Bangsa yang lainya,”katanya.

Suasana Pembukaan dengan Memegang Tempayan sebagai Simbol Persatuan

“Tetapi perlu kita ingat, bahwa orang Dayak itu tidak mau disakiti, nah..karena kita tidak mau disakiti, maka kita juga tidak boleh menyakiti orang lain. Kita harus patuh terhadap aturan, takut terhadap Adat dan menjaga Sopan Santun kita. Jangan mengaku orang Dayak, kalau kita tidak tau aturan,” ujarnya.

“Kita bukan orang yang berani tapi kita juga bukan orang yang takut dalam mempertahankan kebenaran. Kita menjaga sopan santun dan Adat Istiadat kita, untuk itu kita takutnya kepada Adat karna kita menghormati Adat kita orang dayak. Jadi, pesan saya untuk kita semua ; Supaya kita jangan membuat keributan selama Gawai Dayak ini berlangsung, jangan membuat hal-hal yang merugikan kita, kita bersama-sama menjaga keamanan dan menghargai Suku dan budaya yang lainnya,” tambah Bapak Sekundus.

Gawai Dayak ke-34 ini akan berlangsung dari tanggal 20-26 Mei 2019. Dengan Adat Ngampar Bide ini, maka Pekan Gawai Dayak resmi di buka.

Selama Adat Ngampar Bide palangok Kilah (Panglima Kilah) juga menjelaskan unsur-unsur Adat yang terkandung dalam proses Ngampar Bide ini. “Saya mohon ijin untuk menyampaikan Adat Istiadat kita, yaitu Adat ‘Karimawant Sakayuk’ (Bangkule Rajakng) yang dikenal dengan Dayak Mempawah. Sebelum kita mengatakan ‘Ngampar Bide, kita harus matik dulu (menyampaikan ijin ke leluhur Kita)kemarin diadakan di bukit rel di batu layang dan sekaligus menanam ‘pantak baharu’ disitu. Nama ‘pantak’ nya adalah ‘pantak binuah’ (satu darah Dayak Sekalimantan Barat) setelah itu kita lanjut di Rumah Radakng,”ujarnya.

“Adat Ngampar Bide ini dilakukan di teras Rumah Radakng lengkap dengan lauk pauk hasil peliharaan masyarakat Dayak selama bercocok tanam ‘padi’, lengkap dengan darah Babi, dan ‘Tampayant Satangah’ (Kendi berisi Tuak/minuman khas Dayak). Adat ini bukan merupakan penyembahan berhala, karna ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan. Jangan pernah bilang orang Dayak menyembah berhala, karna sebelum ada Agama, orang Dayak sudah tau cara menyembah Tuhan. Yaitu dengan cara Adat Ungkapan Syukur kepada Tuhan. Ini tidak berbeda dengan yang kita lakukan di rumah ibadat, hanya cara nya saja yang berbeda, tetapi tujuan kita tetap sama, yaitu; Bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan atas hasil panen padi,” Jelas panglima Kilah.

Cessi Carmelin Volunteer KOmsos KAP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak