Mon. Oct 14th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Presiden Dayak dan Uskup Agung Menanggapi Pekan Gawai Dayak Ke-34

Uskup Agung Pontianak (Mgr. Agustinus Agus) Memberkati Simbol Hasil Panen Bagi Orang Dayak

Tepat pada tanggal 18/05/19, telah berlangsungnya Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak ke-34 yang bertempat di Rumah Radakng, Jl. Sutan Syahrir, Pontianak. Misa berlangsung pukul 17.00 WIB yang pimpin langsung oleh Mrg. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak dan didampingi oleh 7 orang Imam. Misa ini juga dihadiri oleh segenap umat katolik dari 9 Paroki di Keuskupan Agung Pontianak, dan seluruh masyarakat Dayak yang berdomisili Pontianak maupun yang sudah datang dari luar kota.

Suasana Umat yang menghadiri misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak yang Ke XXXIV

Dalam Misa Pembukaan Gawai Dayak ini Mrg. Agustinus Agus dalam khotbah nya mengatakan ” Misa ini merupakan ungkapan syukur Kepada Tuhan, atas hasil panen padi. Sebenarnya Misa ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur, atas kelimpahan berkat dan rahmat melalui rezeki yang telah diperoleh dari hasil menanam padi masyarakat Dayak,” kata Mgr. Agus.

Dalam Misa pembukaan Gawai Dayak ini dikemas dengan kemasan yang tidak biasa bagi masyarakat umumnya. Kali ini Misa pun dirangkai dengan nuansa  adat seperti nyangahant (doa syukur orang Dayak Kanayant kepada Jubata alias Tuhan), lagu-lagu berbahasa Dayak, dan tarian adat dayak.

“Bagi saya, selama dalam perayaan Misa Pembukaan ini tidak merubah inti dari Misa itu sendiri, ya..tidak masalah. Inikan bentuk ungkapan syukur, selama lagu-lagunya baik dan adat istiadat yang dilakukan juga sama tujuannya yaitu Mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan, semuanya tidak apa-apa. Lagian inikan misa khusus pembukaan Gawai Dayak, ya..memang tidak semua Misa boleh seperti ini. Tapi untuk sekarang, karna hal ini baik dan tidak mengubah Inti misa itu sendiri, tidak apa-apa.” ungkap Mrg. Agustinus Agus menanggapi Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak Ini.

Suasana Tarian Persembahan

Setelah selesai Perayaan Misa Pembukaan, diadakan acara ramah-tamah. Uniknya, makanan yang dihidangkan adalah makanan khas daerah. Masing-masing Paroki yang ada di Keuskupan Agung Pontianak kompak menghidangkan makanan dari berbagai daerah di Kalimantan Barat khususnya makanan daerah Sekadau, Sintang, Menjalin, Kapuas Hulu yang ciri khas nya adalah kerupuk basah, Ambawang, Pahauman juga menyediakan makanan khas yaitu Siga, dan Bengkayang. Seluruh umat dari berbagai daerah khususnya masyarakat dayak di Pontianak, turut mencicipi makanan ini. Makanan khas masyarakat dayak ini sudah jarang dimasak dan dihidangkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya pada acara-acara tertentu saja seperti Gawai Dayak ini.

Suasana Misa Pembukaan Pekan Gawai Dayak yang ke XXXIV

Misa pembukaan ini juga turut dihadiri oleh Presiden Dayak Drs. Cornelis. “Harapan saya, untuk masyarakat Dayak kususnya orang muda Dayak adalah supaya mampu menjadi generasi yang cerdas, pintar, dan berani! Orang Muda Dayak juga harus mampu bersaing dengan memanfaatkan kreatifitasnya,”ujarnya.

“Jangan hanya menjadi orang yang konsumtif tetapi juga harus mampu menjadi produsen yang menciptakan dan memberikan produk melalui kreatifitas yang baik. Banyak yang bisa dilakukan dalam bidang seni dan budaya ini. Bagi yang bisa memahat, buat karya kemudian jual hasil pahatan kalian, bagi yang bisa merajut kembangkan. Semua memiliki harga jual, apa pun bisa di jual tergantung bagaimana kita memanfaatkan peluang yang ada. Itulah yang harus kita wujudkan dalam diri Orang Muda Dayak,” ujar  Cornelis sebagai Presiden Dayak.

Cessi Carmelin (Volunteers Komsos KAP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak